
Satu bulan berlalu atas pernikahan mereka, kini mereka berdua akan tinggal dirumah barunya, sebelum nya mereka belum merencanakan bulan madu apalagi malam pertama, karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan mereka juga harus mengurus dan menjaga dengan baik.
Walaupun sudah sah, tetapi mereka belum merasakan malam pertama nya, karena mereka selalu di ganggu oleh abang-abangnya Ara.
Kini mereka pun sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah barunya, selama satu bulan itu Ara dan Reno menginap sementara dirumah orang tua Reno.
Selesai membereskan baju kedalam koper mereka berdua pun turun kebawah untuk berpamitan kepada kedua orang tua nya. "Mah, pah, kita pamit pulang dulu yah,"sahut Ara.
"Hati_hati yah, Ren, jaga istri kamu yah jangan sampai kenapa-napa, "ucap mama Dewi.
"Siap, Reno janji akan menjaga istri Reno "ujar Reno.
"Bimbing dia, kalo dia salah tegur dia dan jangan membuat kekerasan dalam berumah tangga, "ucap papa Nando.
"Iya pah, Reno janji akan membimbing Ara dan Reno janji tidak akan melakukan kekerasan dalam berumah tangga, "tukas Reno.
"Papah, percaya sama kamu, "sahut papa Nando.
"Yaudah Mah, Pah, kita pamit pulang yah, "ucap Ara seraya mengalami kedua orang tua nya begitu pula dengan Reno.
Setelah berpamitan mereka pun mulai menaiki mobil dan meluncur kerumah barunya. "Dadah, mah, pah, "Sahut Ara seraya melambaikan tangannya.
Papa Nando dan mama Dewi pun membalas nya dengan melambaikan tangannya. "Sampai jumpa lagi yah, "teriak mama Dewi.
πππππ
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terlihat mewah, elegan, luas, indah, dan tentunya bersih. Tak hanya itu, terlihat para bodyguard dan pelayan yang berdiri, menunduk hormat serta memberi jalan untuk majikan mereka.
Penumpang mobil itu keluar, dengan sang pria menggandeng wanita yang baru ia nikahi sebulan kemarin. Siapa lagi, kalau bukan Reno dan Arabell.
Keduanya berjalan dengan santai, namun tetap terlihat berkarisma.
Sedangkan di sisi lain, Ara hanya mampu diam dengan segala pertanyaan nya yang hanya mampu terucap di hatinya saja.
'Kayak presiden aja. Banyak banget pelayan sama bodyguardnya,' lirih Ara dalam hatinya.
'Gue aja udah ngerasa kaya nggak gini juga, lebay.' Ara merasa risih dengan perlakuan seperti itu.
Kedua mata Ara menyapu seluruh isi ruangan rumah barunya, yang mungkin akan ditinggalinya selama-lama bersama sang suami-Reno.
Seorang pelayan membawa koper milik Ara menuju ke sebuah ruangan yang terlihat sangat luas, dan Ara bisa tebak itu adalah kamar utama rumah ini.
Ara langsung membuka kopernya, setelah pelayan itu pergi, dan segera membuka sebuah lemari besar sebelah kanan.
"Jangan yang kanan, itu milikku," cegat Reno saat Ara hendak membuka lemari miliknya.
"Masukan pakaian kamu ke lemari itu," perintah Reno sambil menunjuk ke sebuah lemari besar di sisi kiri.
Ara menghela napas, dan mengurungkan niatnya membuka lemari di sisi kanan. Dengan telaten, Ara menata satu demi satu pakaiannya dengan rapi.
πππππ
Setelah selesai menata pakaiannya Ara merasa bosan, turun kebawah menuju dapur. Sementara Reno saat ini sedang mandi.
Di dapur, Ara tengah berkutat dengan peralatan masaknya. Ara memasak dua piring nasi goreng sosis untuk dirinya dan sang suami.
Setelah beberapa waktu, Ara telah selesai dan tinggal menyajikan nya. Namun, baru Ara akan memegang piring untuk memindahkan makanannya dari wajah, suara menggelegar terdengar.
"Berhenti Ara !" perintahnya dengan suaranya yang berat dan keras.
Dan, siapa lagi, kalau bukan Reno. Pria itu sudah berdiri tak jauh dari tempat Ara. Matanya melotot, rahangnya mengeras, terlihat jelas, bahwa dia sedang marah. Tapi apa sebab kemarahannya? Itulah yang ada dalam benak Ara.
"Kenapa?" Ara mengernyitkan keningnya.
Bukanya menjawab, Reno justru berteriak memanggil para pelayan yang sebenarnya sudah berdiri sambil menunduk takut, dan berada tak jauh dari tempat selama Ara memasak.
'Gawat, bisa digantung 'ni sama Tuan Reno,' batin salah satu pelayan membayangkan hukuman yang akan diberikan oleh majikanya itu.
"Tuan, maafkan kami" ucap maid menundukkan pandangannya.
"Sayang, aku yang meminta mereka untuk tidak membantuku. " rayu Ara, dengan mengelus tangan kekar Reno.
Dan para maid pergi meninggalkan mereka berdua setelah melihat aba-aba dari tangannya Ara, mereka tidak ingin mengganggu tuan dan nyonya nya.
Sementara Reno masih dengan amarahnya, karena melihat Ara yang kelihatan bersedih, akhirnya Reno mengalah mangikuti Ara yang sudah menyajikan makanannya.
"Sayang, aku hanya ingin kamu memakan masakan saja, oke" ucap Ara sambil menyimpan piring beri nasi goreng sosis buatannya.
Reno pun melirik Ara yang tersenyum padanya dan memakan dengan tenang hanya dentingan sendok dan piring, mereka makan bersama dan setelah itu Reno mengajak Ara ke kamar dan menyuruh nya untuk lekas mandi.
Sementara Reno masih sibuk dengan laptopnya, tidak melihat Ara keluar dari kamar mandi.Setelah keluar dari kamar mandi Ara pun memakai piyama dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil melihat-lihat majalah.
Matanya sudah merem melek, sampai saat dia tertidur di atas tempat tidur yang empuk.
Reno yang tadinya sibuk dengan laptopnya dihadapannya langsung menoleh ke arah Ara , saat mendengar suara tidur Ara.
__ADS_1
Reno memakaikan selimut hingga batas dada Ara. Mengelus pucuk kepala Ara sebentar, lalu dia kembali melanjut 'kan kerjaannya yang tinggal sedikit.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Reno melangkah 'kan kakinya ke kasur. Ikut merebah 'kan tubuhnya yang sudah sakit.Posisi tidurnya tidak saling membelakangi, melainkan saling berhadapan. Tapi jaraknya yang sedikit jauh, dengan guling yang berada di teng ____.
"Enghh." Ara melenguh, menarik dan memeluk guling itu.
Sepertinya sudah tidak ada lagi penghalang, karena Ara sudah mengambil alih guling itu. Ya walau 'pun bisa di bilang guling nya masih menghalangi, tapi guling nya sudah berada dalam pelukan Ara.
"Have a nice dream," ucap Reno dan ikut terlelap sambil memeluk Ara dari belakang.
πππππ
Sinar mentari pagi yang terang, menembus memasuki jendela kamar. Mengusik tidur kedua manusia yang tidurnya sangat lelap.
"Enghh." Ara melenguh, perlahan membuka matanya. Pandangan pertama kali dilihatnya adalah wajah yang sangat tampan. Dengan alis yang tebal, bulu mata yang sedikit lentik, hidung mancung. Juga bibir yang sedikit tipis.
Ara tersadar dari pamandangan nya, dan melihat sekarang dia sedang memeluk tubuh orang disampingnya. Hampir saja dia berteriak, tapi langsung dia menutup rapat mulutnya.
Perlahan dia melepas pelukannya dari tubuh suaminya. Tapi na'as, karena satu tangan Reno masih memeluk erat tubuh Ara. Jadinya dia tidak bisa bergerak.
"Lepas ... lepas," gumamnya. Ara berhasil memindah 'kan tangan Reno dari pinggangnya. Dan dengan perlahan dia bangun dan duduk dengan menghela nafas lega.
Tapi tidak lama, netra nya menangkap jam yang sudah menunjuk 'kan angka 07:10. Kali ini dia benar-benar memekik kaget, mengingat jam ini ada pelajaran dosen devil. ( yap kini Ara telah kuliah dan Reno bekerja di perusahaan ayahnya).
Tapi tunggu dulu! Ars melirik pak Reno yang sedang mengerjap-ngerjap kan matanya. Sepertinya dia terbangun karena teriakan Ara .
Ara mengelus dada, hampir saja ginjalnya lompat. Untungnya Reno masih ada di tempat tidur, baru melek malahan.
"Ren, Ren!" Ara menggoyang-goyang 'kan lengan pak Reno.
"Hmm." Reno menjawabnya dengan deheman, sambil mengucek matanya.
"Reno tidak masuk jam kerja hari ini?"
"Libur," ucap pak Reno dan meregangkan otot-ototnya sambil menguap. Ara memperhatikan pak Reno tanpa berkedip.
'Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dusta 'kan,' batin Ara berdecak.
Baru bangun saja tampan MasyaAllah, apa lagi kalau sudah mandi ... jadi Subhanalloh .
"Jangan lupa kedip, nanti ada kecoa yang masuk. Lagian saya tau saya ganteng. Tapi tidak usah seperti itu juga lihatnya," ujar Reno narsis.
"Mana bisa kecoa masuk ke mata. Lagian siapa juga yang liatin kamu. Jangan kepedean!" ketus Ara mengelak.
"Siapin baju saya!" perintahnya sebelum melangkah masuk ke kamar mandi.
"Saya juga liburkan '?" tanya Ara , Reno menghentikan langkahnya.
"Hmm," deheman Reno sebagai jawaban.
"Berapa hari '?" tanya Ara antusias.
"Hanya hari ini!"
"Ya ... saya kira seminggu," ucap Ara cemberut.
"Kamu pikir lagi libur semester?!" tanya Reno berdecak. Dan betul-betul menghilang dari balik pintu.
"Siapa tau gitukan?" gumam Ara. Dan melaksanakan perintah suaminya, untuk menyiapkan bajunya.
Kebetulan ada beberapa baju pak Reno yang di bawa tadi malam. Ara memilih kaos oblong hitam dengan celana kain selutut. Hanya pakaian luar loh ya, bukan pakaian dalam.
Setelah menyiapkan baju, Ara beralih merapikan tempat tidurnya
Ceklek.
Pintu terbuka, menampakkan Reno yang hanya memakai handuk melilit di pinggangnya, dengan rambut yang basah dan acak-acakan. Menambah kadar kegantengan seorang Reno. Eaak ....
"Baju saya mana?"
"Ara ... baju saya mana?"
"Eh ... itu," ucap Ara menunjuk tempat baju yang baru dis siap 'kan.
"Ck. Kebiasaan melamun terus!" decak Reno. Ara hanya bisa menggaruk kepalanya malu, karena sudah dua kali dia melamun karena memperhatikan Reno.
"Mau lihat saya ganti baju?" tanya ambigu pak Reno.
"Ha? Gimana?"
"Kamu mau lihat saya ganti baju? Pake berdiri di situ terus."
"Ya ... enggak lah," ucap Ara dan dengan kekuatan penuh, Ara menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi, Reno hanya menggeleng kepala.
Setelah selesai mandi, Ara dan Reno turun ke bawah untuk sarapan, yang telah disiapkan oleh maid.
__ADS_1
"Morning mba."sapa Ara ramah, dengan tersenyum manis.
"Pagi juga,non den, " ucap bibik dan para maid.
"Sini sarapan," ucap Reno.
"Iya ."jawab Ara sudah lebih dulu duduk.
Dengan telaten Ara mengambil nasi dan lauk untuk Reno.
"Nasinya mau ditambah?" tanya Ara dengan memaksakan senyum manisnya.
"Segitu saja."ucap Reno.
"Lauknya?"ucap Ara.
"Ayam kecap. Itu saja," ucapnya. Ara mengangguk.
Lalu mereka mulai makan, dengan tenang hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar.
Selepas makan Ara kembali ke kamar nya, dan Reno mengikuti nya. Reno sekarang dia cuma memakai celana selutut dengan baju kaos rumah.Reno ingin mengganti celananya. Dengan yang lebih panjang.
Ceklek.
"Aaaaa! Jangan lihat, jangan masuk dulu!" teriak Ara. Karena sekarang dia hanya memakai Tank top juga celana sepaha.
Reno berjingkrat kaget, bagaimana tidak? Baru buka pintu, suara Ara sudah sangat melengking di pendengarannya menusuk gendang telinga.
"Kamu kenapa sih teriak-teriak?!" tanya Reno dengan nada kesal, jangan lupa 'kan telinganya sudah dia tutup rapat-rapat.
"Renren di larang masuk, kenapa malah masuk sih?" tanya Ara kesal, badannya sudah dia tutupi dengan handuk.
"Mau ganti celana."
"Renren keluar dulu lah, saya juga mau ganti baju."
"Tinggal ganti saja apa susahnya?" tanya Reno membuat Ara ingin sekali melempari kepala suaminya dengan handuk yang dia pakai sekarang.
"Masalahnya saya β Aaaaa! Renren kenapa ganti celana disini sekarang sih?!" Lagi-lagi Ara teriak. Gimana tidak, Reno sudah membuka celana luarnya. Hanya menyisakan boxs*r saja.
Reno tidak menanggapi, hanya diam memakai celana jeansnya.
"Renren sudah?" tanya Ara dengan posisi membelakangi Reno dan tangan yang menutup matanya.
"Hmm."
"Huft. Renren nggak lihat tempat!" gerutu Ara .
"Apanya? Saya lihat tempat. Buktinya saya ganti celana di kamar, bukan di tempat umum 'kan?" tanya Reno dengan muka ngeselin bagi Ara.
"Nyenyenye. Renren keluar lah, saya mau ganti baju."
Tidak berbicara apa-apa lagi, Reno memakai hoodie, lalu keluar kamar. Dan Ara juga memakai memakai hoodie dan celana jeans yang robek kecil di bagian lututnya. Dengan rambut yang yang di biarkan tergerai.
Entah dia sadar atau tidak, pakaiannya sangat mirip dengan pakaian Reno. Bedanya, Ara memakai hoodie berwarna pink sedangkan Reno , hoodie berwarna cokelat.
Ara keluar setelah melihat penampilannya yang sudah perfect. Di bawah sudah ada Reno yang sedang berbincang dengan Keral, tentang bisnis. Ya gitu, orang kantoran kalau kumpul pembahasannya tidak jauh dari bisnis.
"Ayo 'Renren!" ajak Ara setelah berada tepat di samping Reno.
"Wih ... kalian janjian?" tanya Keral.
"Janjian?" beo Ara dengan kening berkerut.
"Iya. Noh baju sama celana, ck. Kembaran." Sontak Ara memperhatikan penampilan Reno , sedetik kemudian matanya terbelalak. Gara-gara acara buka celana, sampai-sampai dia tidak sadar.
"Yasudah, kita pergi dulu," pamit Reno kepada Keral.
"Ti-ati!"ucap Keral sang asisten Reno.
ππππ
ππHaii readers,
Maaf baru up lagi. sekarang Ara dan Reno sudah tinggal MP yang belum ya.
Enaknya sambil bulan madu apa gimana ya??
Iya sekarang Ara udah kuliah dan Reno bekerja di perusahaan papanya menjadi manager.
Semoga suka dengan ceritanya,
Tinggalkan jejak like dan koment nya ya .
Terimakasihππ
__ADS_1