Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 138.Punya Suami Gini Amet


__ADS_3

"Apa sesi mengobrolnya sudah selesai? Bisa kita pulang sekarang?" Pertanyaan itu sontak saja mengalihkan perhatian keduanya. Sedangkan yang berbicara cuma menampakkan wajah bertanya dengan kedua alis yang naik.


___


Stevan menyenggol lengan Ara, menaikkan kedua alisnya sebagai isyarat 'apa itu suamimu?'


"Ini Stevan," ucap Ara. Pak Reno terdiam mengamati Stevan, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan terakhir berhenti di wajahnya. Stevan sendiri yang merasa terintimidasi dengan tatapan tajam itu, melirik Ara dengan wajah bertanya.


"Mas, ini Stevan pindahan dari Singapura."


"Stevan?" tanya pak Reno. Stevan mengangguk, dan mengulurkan tangannya untuk berjabat. Perjabatan untuk perkenalan.


"Stevan Marcelo, panggil saja Stevan," ujar Stevan, dengan senyum terbaiknya.


Sedangkan pak Reno masih sibuk memperhatikan wajah Stevan, sampai senggolan Ara di kakinya, menghentikan pengamatannya.


"Reno," balas pak Reno singkat, membalas uluran tangan Stevan. Tapi cuma sebentar.


"Suaminya Ara ? Nice to meet you. Sudah lama ku mau bertemu denganmu, tapi baru sekarang bertemunya," ujar Stevan, masih dengan senyumannya.


(Senang bertemu denganmu).


"Ara ?" tanya pak Reno, kemudian melirik Ara yang sedang tersenyum kikuk. Lagi, seulas senyum sinis terbit di bibirnya.


"Oh, nice to meet you too ... here!" ucap pak Reno dengan tekanan.


(Senang bertemu denganmu juga ... di sini!)


Stevan terbengong, apa maksudnya 'di sini?' Sepertinya, perkataan orang-orang memang benar kalau suami temannya itu sangat ....


"Kita pulang, yuk? Stev, aku balik duluan. Babay!" Setelah mengatakan itu, Ara langsung menarik tangan pak Reno menjauh dari Stevan.


"Aku? Ck." Pak Reno menyeringai kecil.


"Mana enak, dia make 'aku kamu,' enggak enaklah kalau make 'gue lo.' Pokoknya gitulah," ujar Ara.


"I do not care. What is clear, I am a little more handsome than him," ucapnya, yang membuat Ara seketika menghentikan langkahnya, beralih menatap pak Reno dengan wajah cengo.


(Saya tidak peduli. Yang jelas, saya sedikit lebih tampan dari dia).


"Are you okay? Mas enggak sakit, 'kan?" tanya Ara masih dengan wajah cengonya.


(Apakah kamu baik-baik saja?)


Pak Reno memegang dahi, pipi, dan terakhir lehernya, kemudian menggeleng. "Baik, enggak panas kok," jawab pak Reno dengan wajah polos.


Ara mencebik, langsung membuka pintu mobil dan masuk, disusul pak Reno yang juga masuk.


"Kerjaan Mas udah selesai, emang?"


"Yang namanya Bos atau pemimpin, kapan pekerjaannya ada habisnya? Selesainya?" tanya balik pak Reno dengan nada sewot dan jutek.


"Cuma nanya, enggak usah jutek gitu jawabnya, kalik!"


"Persaan, Mas pernah lihat dia ..." ucap pak Reno, tanpa beralih menatap Ara.


"Ohya? Di mana?" tanya Ara.


"Singapura, waktu pergi dulu. Mungkin teman bisnis yang Mas temui dulu itu ayahnya. Kebetulan dia juga ada di sana."


"Jadi tadi, Mas cuma mastiin wajahnya? Sampai-sampai harus natap kayak gitu," ucap Ara sambil menggelengkan kepala.


"Ya. Sesuatu yang ganjal di pikiran 'kan harus di selesaikan. Kita ke kantor Mas dulu, mau ngambil berkas yang saya lupa ambil," ucap pak Reno.


"Cepetan tapi!"


Sekitaran sepuluh menit perjalanan, mereka telah tiba di kantor. Tapi yang masuk cuma pak Reno,Ara cuma menunggu di mobil. Beberapa karyawan yang mungkin sedang ada urusan keluar dan melihat Ara, menyapanya. Kebetulan Ara tidak menaikkan kaca mobil.


Tujuh menit Ara sudah menunggu, tapi pak Reno belum datang juga. Hingga suara ribut-ribut, membuat Ara menoleh dari jendela mobil.


"Saya sudah bilang Buk, tidak usah repot-repot membuat makanan untuk saya." Nada suaranya rendah, namun terdengar datar.


"Enggak repot kok, Pak. Biar saya disuruh memasak setiap detik, enggak bakal repot atuh, Pak." Nada suaranya lembut, namun terdengar centil.


Ara memicingkan mata mempertajam penglihatannya, karena memang jarak parkir mobil dengan jarak orang yang sedang berselisih itu agak jauh.


"Maaf tapi Buk! Terserah Ibu mau repot atau enggaknya, tapi bisa tidak mendengar omongan saya sekali saja!"


"Kecuali Bapaknya bilang 'mau menikah dengan abang, neng?' Yah, baru saya terima Pak."


Dengan susah payah, pak Reno menahan dirinya agar tidak muntah detik ini juga.


"Jangan menghalu Mbak Murni tapi tak semurni imannya. Pak Bos teh udah nikah, ngapain masih betah ngegodain dia? Kagak takut di amuk bini sama anaknya?!" Tiba-tiba, entah datang dari mana. Indra menyeletuk begitu saja.


"Kamu, dari mana saja, hah?! Saya sudah berapa kali juga bilang sama kamu, kalau saya keluar harus ada kamu!" sentak pak Reno, Indra berdehem lalu menyengir.


"Maaf Bos, tadi abis buang air. Mules perut saya karena nyoba makanan si Murni. Pedesnya Masya Allah, Bos!" bisik Indra, yang cuma dirinya dan pak Reno yang dengar.


"Yang nyuruh kamu makan, siapa?!"


"Tidak ada. Saya kira enggak pedes amat, karena pak Rahmat kayaknya doyan banget. Rupa-rupanya ...."


"Pak Rahmat suka pedas, wajar saja. Kamu urus dia, istri saya menunggu di mobil!" kata pak Reno.


" Ara eh, buk Bos datang juga? Kenap—"


"Bentar-bentar, kamu manggil apa tadi?" potong pak Reno, dengan tatapan tajamnya. ke Indra.


"Ap--itu, Buk Bos?" Mereka semua menoleh, termasuk si Murni.


"Saya sudah bilang, panggil Ara saja, seperti yang lain. Kita juga bukan orang asing," ucap Ara dengan senyuman.


"Oh, iya. Ra eh, enggak! Buk Bos. Iya, buk Bos. Manggil buk Bos sajalah saya, enggak enak," ralat Indra cepat, saat tatapan mata seperti elang yang siap memangsa dilayangkan pak Reno ke arahnya


"Akrab? Bukan orang asing? Perasaan kalian ... jarang komunikasi?" tanya pak Reno, dengan wajah bengong dan cengonya.


"Nah, ini lagi yang Mas enggak tahu! Kita yang ada di grup itu, sangat dekat dan dekat! Termasuk dengan Indra. Cuma Mas doang sebagai orang asing," ucap Ara mengangkat kedua alisnya meminta persetujuan dari Indra, dan Indra cuma bisa mengangguk kaku disertai cengiran meringis.


"Penyesalan kedua saya karena tidak masuk ke grup ghibah kalian!" ujar pak Reno, sambil melayangkan tinjuan yang tak sampai ke depan wajah Indra.

__ADS_1


"Kita pulang! Dan kamu ... Indraa!"


"Siap laksanakan, Bos! Saya yang urus Murni, Bos bisa pulang!" Indra dengan begitu spontan menjawab, saat suara yang indah namun galak, suara yang rendah namun datar, suara yang lembut namun dingin itu berbicara.


"Tunggu promosi kenaikan jabatan kamu, ditambah gaji kamu yang naik dua ah satu kali lipat juga, karena sudah sering menyelamatkan saya," ucap pak Reno sambil menarik tangan Ara, berjalan menjauh dari kedua orang itu.


Wajah Indra berseri-seri, sudah lama dia ingin mendengar perkataan itu keluar dari mulut Bosnya sendiri.


"Terima kasih, Bos! Saya akan bekerja keras!" serunya, begitu semangat. Sakin semangat dan senangnya, Indra bahkan tak sadar memegang tangan Murni dan melompat-lompat. Demagenya sebagai si datar asisten bos dingin, luntur sudah.


"Tapi satu ingat satu hal! Kamu tetap asisten saya!" Hati yang tadinya mekar berbunga-bunga, kembali layu seiring selesainya ucapan itu.


Pak Reno kembali berjalan ke arah Indra, sambil tersenyum smirk khasnya. "Sangat sulit mencari asisten sekompeten kamu dalam pekerjaan kantor maupun pekerjaan luar kantor. Lagipula ... istri saya dan keluarga saya sepertinya sangat menyukaimu. Kalau kamu tidak menjadi asisten saya, mungkin ... sangat sulit bertemu denganmu lagi. Mengerti?" Pak Reno berucap sambil menepuk-nepuk pundak Indra, masih dengan senyum miringnya. Indra mengangguk, biarpun kepalanya sangat kaku untuk digerakkan.


"Buk Murni?"


"Iya, kenapa Pak?" tanya si Murni dengan wajah yang dibuat malu-malu. Kembali, pak Reno berdehem meredam mualnya.


"Ini perintah sekaligus peringatan terakhir dari saya. Masakan itu ... sebaiknya kamu kasih atau buatkan saja makanan untuk anakmu. Saya terima, saya berterima kasih karena kamu sudah mau repot-repot membuat makanan untuk saya. Tapi mulai hari ini, sudahi saja. Berhenti! Kamu tahukan kalau saya sudah frustasi mengingatkan orang-orang? Dan ini juga berlaku untuk kamu! Saya tidak akan segan-segan memindahkan kamu dari kantor ini. Sekuat apapun kamu mencoba merayu saya, itu semua tidak akan berhasil! Bagi saya, selamanya cuma akan ada dia ... istri saya satu-satunya di dunia ini! Ya, saya masih punya hati nurani untuk tidak menyakiti perempuan. Andaikan kamu laki-laki dan bersikap seperti ini, kamu sudah lama saya keluarkan dari sini." Bagaikan tersambar petir, tertampar, tertikam, terjunkai dan terjungkal, Murni terdiam menunduk.


Awalnya, dirinya memang cuma iseng memperhatikan bosnya itu, tapi lama-kelamaan keisengan itu berubah dengan rasa ingin tahu. Dan rasa ingin tahu itu berubah dengan perasaan yang tak seharusnya dia memiliki ke bosnya.


"Ahya, dan kamu juga Indra ...."


"Sa-saya? Saya kenapa, Bos? Saya tidak melakukan kesalahan, 'kan?"


"Tolong kamu bagikan modal usaha untuk semua penjual di dalam kantin kantor. Jangan ada satupun yang kamu tidak kamu kasih. Minimalnya ... nanti saya kasih tahu."


"Oke, siap, Bos!" seru Indra, dengan acungan jempol serta kedipan mata sebelah.


***


Sekarang mereka berdua dan kedua anaknya, bermain di ruang keluarga. Mama Dewi sudah di suruh pulang, karena sudah sedari pagi dia ada di situ dan tidak pernah pulang.


Ara sedang memegang ponselnya, karena dari tadi bergetar karena notifikasi pesan whatsapp. Setelah membaca pesannya, Ara sontak mengulam bibirnya menahan tawa.


Stevan Marcelo


[Memang betul yang orang-orang katakan, suamimu kelihatan sangat kejam! Percaya saja, tadi aku hampir lari dari sana karena dipandangi seperti tadi itu].


[Mungkin jika aku masih dipandangi selama lima menit lagi, aku sudah benar-benar lari dari sana].


[Aku berdoa, semoga saja anak-anakmu nantinya tidak seperti ayahnya!].


[Bisa-bisa, orang-orang yang mentalnya tak kuat, bisa saja langsung buang air begitu bersitatap].


"Kenapa dia yang sewot?!"


Ara langsung mengelus dadanya, begitu hp yang ada di tangannya direbut pak Reno.


"Ampun dah, Mas! Kalau mau ambil hp orang itu, bilang-bilang dulu kenapa!" cetus Ara , langsung mengambil kembali hp di tangan pak Reno, lalu kembali duduk di dekat kedua anaknya.


"Menurut kamu, anak itu orangnya bagaimana?" tanya pak Revano, ikut duduk di samping Ara.


Ara menatap pak Reno dengan kedua alis naik. "Anak itu? Siapa?"


"Stevan."


"Mukanya! Mas cuma minta pendapat, bukannya pujian!" cetus pak Reno, dengan tampang datarnya.


"Loh, ini pendapat pribadi, bukan pujian, Revonusa!" balas Ara, sambil menggaruk keningnya yang sudah disentil pak Reno, yang entah kenapa terasa gatal.


"Kenapa emang nanya?"


"Tadi Mas belum selesai cerita. Selain pernah lihat dia di Singapura, Mas juga pernah lihat dia di wallpaper hp Vanesha ..." ucap pak Reno.


"Wallpaper hp Vanesha? Lah, kok? Mereka ada hubungan apa?" tanya Ara berurutan, dengan wajah yang jelas sangat kaget dan bingung.


Pak Reno mencondongkan wajahnya, mendekat ke wajah Ara. "Kepo!" serunya dengan kekehan, seketika Ara mendorong kepala pak Reno dengan perasaan ingin ... menabok.


"Untung suami," gerutunya, kembali bermain dengan Kenzo dan Kiano.


"Mas juga tidak tahu pasti, Mas pernah nanya ke dia tapi Vanesha cuma melerin lidah. Dia perempuan kedua yang berani sama saya," ucap pak Revano dengan wajah kesal.


"Yang pertama?"


"Mama. Dan kamu yang ketiga," jawab pak Reno.


"Kiano kegedean dikit kelihatannya, ya?" ucap pak Reno, menunjuk Kenzo , ya ... Kenzo.


"Dia siapa?"


"Kiano."


"Idih, salah orang, Pak! Masa anak sendiri enggak bisa bedain?" ledek Ara semacam menyindir, sambil mendorong kecil kepala suaminya.


"Masa? Emang cara bedainnya bagaimana? Kamu tahu darimana kalau ini Kiano bukan Kenzo ?" Pak Reno menodong dengan beberapa pertanyaan. Juga memajukan wajahnya, memperhatikan secara lekat wajah anaknya, mencari perbedaan.


Duk ...!


Tapi bukannya perbedaannya yang dia dapat malah, lemparan berupa mainan dari Kiano yang didapatkannya.


"Yayaya ..." celoteh Kiano sambil menepuk-nepuk pahanya dengan girangnya.


"Ya ampun!" Ara membekam mulutnya, antara kaget dan ingin tertawa. Sedangkan pak Reno yang menjadi korban, mengulam bibirnya dengan tampang miris.


"Nak, ini ... biarpun kita jarang kumpul, main bareng. Tapi setidaknya tidak usah marah sampai ngelempar Ayah juga, 'kan? Untung jidat Ayah enggak benjol," ucap pak Reno, "Kamu juga kalau mau ketawa, ketawa saja. Biar enggak sakit perut." Pak Reno berucap, sambil mengambil hpnya di atas sofa, lalu membuka kameranya untuk melihat apakah jidatnya benjol atau tidak.


Ara yang niatnya ingin berhenti menertawakan suaminya, ternyata tidak bisa, ketawanya tidak bisa dia hentikan. Dan akhirnya dia benar-benar ketawa, menertawakan nasib yang begitu indah yang menerpa suaminya.


"Untung benar-benar tidak benjol," gumam pak Reno, tapi masih didengar jelas oleh Ara.


"Lebay bangettt! Yakali cuma dilempar mainan sekecil itu, langsung benjol!" cibir Ara, sambil menekan jidat pak Reno yang terkena lempar Kiano tadi, membuat sang empu meringis.


Kianosudah kembali bermain, melempar-lempar mainannya ke sembarang arah. Sedangkan Kenzo merangkak ke arah ayahnya.


"Serius, kamu bedain mereka pake apa, sih?" tanya pak Reno, mengangkat Kenzo naik ke pangkuannya.


"Itu ... huruf di baju mereka ..." jawab Ara menunjuk huruf di baju Kenzo dan Kiano..

__ADS_1


Pak Reno memiringkan kepalanya, melihat ke arah baju Kenzo kemudian Kiano , secara bergantian.


"E... I?"


"Maksudnya itu, 'e*itu untuk Kenzo , 'i' itu untuk Kiano Masa enggak ngerti?"


"Bukannya enggak ngerti, Mas ngerti. Tapi, sejak kapan itu ada di baju mereka?"


Ara menatap pak Reno dengan wajah judes, pak Reno yang ditatap seperti itu cuma menampakkan wajah bengongnya.


"Dari lahir!"


"Mas, enggak pernah lihat?"


"Terlalu sibuk sama pekerjaan jadi ya ... gitu," ucap Ara dengan nada menyindir. Pak Reno cuma berdehem, menanggapi sindiran Ara yang sangat jelas mengarah ke padanya.


"A dan I, Apin dan Ipin ..." ucap pak Reno sambil tertawa hambar, karena niatnya cuma mengalihkan suasana, melihat Ara yang sudah kelihatan bad mood.


"Kenzo turun dulu ya, pergi main sama adek Kiano. Bundanya lagi ngambek, Ayah mau hibur Bunda dulu." Untungnya Kenzo menurut, dan kembali ke tengah-tengah mainannya. Biasanya kalau dia sudah menempel dengan ayahnya, sangat susah melepaskannya dari sang ayah.


Pak Reno menggeser sedikit duduknya mendekat ke Ara, tangannya merangkul pinggang Ara dan meletakkan dagunya di pundak Ara


"Laper ..." ujar pak Reno. Ara berdecak, melepas dan mendorong tangan dan kepala pak Reno menjauh sedikit dari tubuhnya.


"Jagain mereka!" Pak Reno mengangguk.


"Jagain yang benar, jangan sampai mereka bertengkar!" Kembali pak Reno mengangguk.


"Jagain yang benar, jangan main laptop atau hp!" Lagi, pak Reno cuma mengangguk. Setelah itu, Ara benar-benar pergi ke dapur.


Tapi baru beberapa detik, dilihatnya mbok Mina yang kebetulan lewat di depannya. Pak Reno tersenyum miring, jika ada kesempatan berduaan dengan Ara, kenapa tidak dia lakukan?


"Mbok sibuk?" tanya pak Reno, langsung menghentikan langkah mbok Mina.


"Tidak juga, Den. Cuma tinggal bersih-bersih saja," jawab mbok Mina.


"Kalau gitu, tolong jagain Kenzo sama Kiano dulu, ya? Saya ada sedikit urusan ..." ucap pak Revano, dan mbok Mina cuma mengangguk.


Pak Reno mengambil kesempatan pergi dengan diam-diam, saat kedua anaknya sibuk dengan mainan masing-masing. Bukan apa-apa, kalau nanti salah satu dari mereka melihatnya pergi, bisa-bisa rencananya untuk berduaan dengan Ara itu menjadi buyar. Karena bisa saja salah satunya menangis melihat dia pergi.


"Jangan pedes-pedes." Hampir saja pisau di tangan Ara melayang, dan juga hampir saja dirinya reflek memukul orang yang mengagetkannya.


"Kaget?"


Ingin rasanya Ara benar-benar memukul orang itu. Kaget? Ha ha, pertanyaan macam apa itu Juned? Sudah sangat jelas jika dirinya kaget, ini masih aja nanya!


"Enggak, cuma terkejut!" balas Ara dengan nada datar, dan pak Reno cuma menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kenapa ke sini? Anak-anak siapa yang jagain?"


"Ada mbok Mina, lagian kalau misal ada kesempatan berduaan, kenapa enggak?" balas pak Reno, mencolek pipi Ara sambil terkikik.


"Jangan sentuh-sentuh, ya!" peringat Ara dengan nada galak siap menerkam. Tapi seakan tidak mendengarnya, pak Reno berdiri di samping Ara, lalu merangkul pinggangnya.


"Lepas, gak?!"


"Kenapa, sih? Lagi PMS atau lagi ... itu? Galak amat." Kembali, pak Reno cuma menjadikan candaan segala ucapan kesal istrinya.


"Aku lagi megan pisau—"


"Ya, Mas tau kamu lagi megan pisau bukan sapu. Lanjut saja kerjanya," potong pak Reno sambil melirik ke sana ke mari, tanpa mempedulikan akan keluarnya tanduk dari kepala Ara.


"Mas lepas gak!" sentak Ara dengan suara yang sudah naik beberapa oktaf, dan itu langsung membuat pak Reno melepas rangkulannya.


"Kembali sana jagain anak-anak, mbok Mina suruh istirahat dulu, kasihan dari tadi kerja. Lagian kalau Mas di sini terus ngerecokin, bisa-bisa masakannya enggak jadi," ucap Ara, suaranya sudah kembali seperti semula.


Pak Reno menghela nafas kasar dan kesal, mbok Mina di perhatikan, lah dia? Dia juga capek dari pagi sampai beberapa menit tadi, kerja terus, tapi tidak di perhatikan.


Sungguh tak profesional!


"Ngapain masih berdiri di situ?" Pak Reno mendengus, dengan langkah malas dia berjalan pergi. Tapi baru empat langkah, pak Revano kembali berjalan ke arah Ara.


"Masaknya masih lama? Mas udah lapar, beneran!" ucapnya, sambil meletakkan dagunya di pundak Ara.


"Ya makanya jangan ganggu!" ujar Ara tanpa menoleh sedikit 'pun ke wajah ditekuk pak Reno. Dengan menghela nafas, pak Reno mengangkat kepalanya.


"Kamu balik badan dulu!" perintahnya.


"Apa?"


"Balik badan dulu."


"Mau ngapain sih? Enggak usah ganggu, katanya udah laper? Ya udah jangan banyak bicara, pergi temenin mereka main dulu!"


"Balik aja, apa susahnya, coba?!" sewot pak Reno, membuat Ara berdecak kesal bin gemes pengen ngegeprek sosok orang yang memerintah itu.


"Hmm, apa—"


Subhanallah!


Ingin rrasanya Ara berkata kasar. Bagaimana tidak, cuma mencium tepatnya cuma menyambar bi*irnya sekilas, lalu si pembuat kesal itu langsung berlari pergi bagai di kejar tawon.


"Punya suami gini amat, Ya Tuhan!"


To be continued.


Sorry for typo. 🙏


"Kaget?"


"Enggak, cuma terkejut!"


Apa bedanya ?


"Kok lama enggak up? Sibuk, ya?"


"Enggak kok, cuma lagi banyak pekerjaan aja."


Begutulah ....•_●

__ADS_1


Cute kali Pak🤣



__ADS_2