Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 08. Awal Kedekatan Ara dan Reno


__ADS_3

"Tunggu, jangan lari kalian!" teriak Pak Rahmat.


Reno tidak mempedulikan teriakan gurunya, ia tetap berlari beriringan dengan Ara.Saat merasa sudah jauh mereka berhenti dan menoleh ke belakang, mereka bernafas lega karna gurunya sudah tidak mengejarnya lagi.


"Hosh... hosh... hosh..." suara nafas Ara yang tidak beraturan.


"Apes banget gue, ini semua gara-gara loh!" tunjuk Kevin pada Ara.


Baru saja Ara ingin membalas perkataan Reno tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, membuatnya berlari dan...


Puk!


Ara berlari terlalu cepat hingga tidak menyadari bahwa tali sepatunya terlepas membuat ia menginjaknya dan terjatuh.


"Aww!" Ara meringis mendapati sikut dan dengkulnya yang lecet dan mengeluarkan cairan merah.


"Sakit," Ara berucap lirih, matanya tampak berkaca-kaca.


Reno yang melihat Ara terjatuh dan meringis, berjalan menghampirinya.Tanpa aba-aba ia langsung mengangkat Ara ala Bride style dan membawanya untuk bersembunyi karena deruh langkah itu semakin mendekat.


"Woy! Turunin gue," ujar Ara sembari memukul dada bidang Reno.


"Bisa diam nggak!" sentak nya dan membuat nyali Ara menciut.


Reno membawa Ara ke ratefrotf sekolah dan meletakkan Ara di sebuah sofa yang memang tersediah di sana.Ia mengambil sebuah kotak P3K di samping sofa, dan duduk di dekat Ara.


Ia mengoleskan obat merah pada luka Ara dengan telaten sesekali meniupnya, setelah itu ia menempelkan hansaplast di luka Ara dan menaruh kembali kotak P3K-nya.


"Makasih," ucap Ara sembari tersenyum manis.


'Njir, senyumnya manis banget' batin Reno.


"Buat?" tanya Reno pura-pura tidak tau.


"Bantuannya!" jelasnya singkat dan padat serta melipat tangannya di depan dada.


"Ulu ulu jangan ngambek dong, nanti cantiknya ilang," goda Reno pada Ara.

__ADS_1


"Nggak!" jawab Ara.


ketus sembari menggelembungkan pipinya.


Reno yang gemas dengan tingkah Ara, langsung mencubit pipi gembul nya sedangkan sang pemilik langsung menatapnya dengan tajam.


"Ihh, jangan cubit pipi gue sakit tau," kesal Ara.


Cup!


Tiba-tiba Reno mengecup singkat pipi Ara.


"Gimana, masih sakit?" tanya Reno yang bermaksud menggoda Ara.


Blush!


Wajah Ara memerah bak kepiting rebus.


Perlahan Ara menyentuh pipinya yang merah merona itu, ia langsung berpaling takut Reno melihat pipinya yang merah bak tomat. Reno terkekeh geli melihat kelakuan Ara yang sangat menggemaskan menurutnya.


'Blush' Lagi dan lagi wajah Ara memerah bak kepiting rebus karena ulah Reno


Mendengar ucapan Reno membuat Ara segera mungkin mengubah raut wajahnya."Apaan sih, loh.Pipi gue emang kayak gini!" ketus Ara sambil menepis tangan Reno.


Ara langsung bangkit dari sofa di ikuti oleh Reno.Baru satu langkah ia berjalan tiba-tiba...


Puk!


Lagi dan lagi Ara terjatuh karena menginjak tali sepatunya.Tanpa sadar ia menarik kerah baju Reno dan jatuh bersamanya dengan posisi Ara di bawah dan Reno di atasnya dengan bibir yang menempel sempurna membuat mereka merasakan desiran aneh pada dirinya, seperti sengatan listrik yang menjalar ditubuh mereka. Saat Ara ingin melepaskan tautan bibirnya tiba-tiba Ara menarik tenguk nya dan mencium bibirnya rakus.


Ara sempat memberontak namun tenaga Reno jauh lebih kuat darinya membuat dirinya pasrah dengan apa yang Reno lakukan padanya. Saat merasa Ara sudah kehabisan nafas, Reno melepas tautannya.Ica langsung bangun dan menghirup banyak oksigen serta menatap Reno tajam setajam silet.


"Lo... dasar br******! Bibir gue udah nggak suci lagi dan itu semua gara-gara lo!" teriak Ara di depan wajah Reno dengan wajah yang memerah menahan amarah.


Reno hanya tersenyum remeh karena tidak percaya omongan Ara, soalnya setiap cewek yang pernah dia cium nggak pernah protes bahkan mereka menikmatinya.


"Cih, nggak usah sok jual mahal deh lo, gue tau lo suka'kan gue cium! Emang yah,semua cewek itu sama, murahan. Dasar bict!" cibir Reno tampa memikirkan perasaan Ara.

__ADS_1


Mendengar perkataan pedas Reno padanya, membuatnya menggepalkan tangannya. Apa yang dia tau tentang dirinya? Kenapa bisa-bisanya dia menilainya tampa mencari taunya terlebih dahulu. Ia sudah tidak tahan lagi tampa babibu ia langsung mendekati Reno dan...


Plak!


Plak!


Ara menampar Reno dua kali dengan sangat keras sampai-sampai Reno berpaling akibat tamparan nya.


"Gue bukan cewek murahan seperti apa yang lo bilang! Gue nggak kayak cewek-cewek di luaran sana, jadi jangan pernah lo samain gue dengan mereka br*nsek!" gertak Ara dengan suara parau, air mata yang kian ia tahan jatuh dengan begitu deras membasahi pipinya.


"Lo, berani nampar gue hah!" bentak Reno sambil mengangkat tangannya siap untuk menampar Ara.


"Oow, lo mau nampar gue, silahkan! Ayo tampar gue, tampar!" ujar Ara memandu tangan Reno untuk menamparnya.


Reno terdiam saat merasakan tangannya basah. Apakah dia menangis? Ia meliriknya dan benar saja mata gadis itu sembab dengan wajah yang memerah akibat tangisannya. Ada rasa iba saat melihatnya bersegukan seperti itu dan entah kenapa hatinya teriris saat melihat air mata gadis itu jatuh. Tanpa babibu ia langsung menarik Ara ke dalam dekapannya.


Ara memberontak minta di lepaskan namun Reno semakin mengeratkan pelukannya.


"Maaf, gue nggak bermaksud bikin lo nangis. Gue khilaf, maafin gue!" ucap Reno tulus sambil mengelus rambut panjang Ara


"Nggak! Lo jahat! Gue benci sama lo, benci!" balas Ara dengan suara yang meninggi sembari memukul dada bidangnya.


Deg!


Jantung Reno bergemuruh, ada rasa sakit saat mendengar gadis itu berkata membencinya. Mengapa rasanya sesak, kenapa? Ada apa dengan dirinya? Itu yang ada di benaknya. Lamunannya buyar saat merasakan bobot tubuh Ara terasa berat, ia melirik ke bawah dan mendapati wajah Ara pucat pasi. Ia menepuk-nepuk pipi Ara namun tidak ada sama sekali pergerakan darinya, terlihat jelas gurat kekhawatiran di wajah Reno, dia pingsan! Reno mengangkat Ara ala bride style dan membawanya ke UKS.


Sesampainya di sana ia meletakkan Ica di brangkar UKS. Ara di tangani oleh pihak petugas UKS, katanya gadis itu demam karena kelamaan menangis dan membuatnya merasa bersalah. Petugas UKS itu pun keluar, sebelum itu ia sudah memberikan obat kepada Reno untuk memberikannya kepada Ara saat sudah siuman.


Saat ini tinggal mereka berdua di ruang UKS.


Ia menggenggam erat tangan Ara dan mencium punggung tangannya. Tak terasa air matanya menetes melihat gadis itu terbaring dengan wajah yang pucat. Menyesal? Tentu saja, rasanya separuh jiwanya hilang saat ini. Ada apa dengannya? Dia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Ara bukan? Namun mengapa hatinya tidak tenang? Gelisah, galau dan merana menghampirinya.


"Bangun, pliss! Maafin gue Ra ," lirih Reno sembari mencium kening Ara.


(Typo bertebaran)


Happy Readers, silakan tinggalkan jejak like dan komentar👍, author mengucapkan terimakasih 🥰🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2