
”Mas aku takut,” lirih Ara menggenggam erat tangan Reno.
Reno tersenyum tipis.
”Kamu pasti kuat, ” ucap Reno.
”Kamu kuat! Berjuang ya sayang, ” ucap Reno menatap Ara
Ara menatap Reno yang juga sedang menatapnya, lalu tersenyum manis.
Brankar yang di Ara tempati kini mulai masuk kedalam ruangan operasi.
Yups, sekarang Ara akan menjalani operasi sesar di karenakan ada dua bayi dalam perut Ara
”Yaallah, selamatkanlah Ara dan juga bayinya, ” lirih Reno menatap ke atas.
Ara yang sudah berada di ruangan untuk melahirkan. Dokter dan beberapa suster sudah datang ke dalam ruangan tersebut.
"Apa saya harus keluar?" tanyaku pada seorang Dokter di sana.
"Jangan, Pak! Sebaiknya anda di sini menemani istri anda, dia sangat membutuhkan anda," larangnya. Tentu saja aku menurutinya, apa lagi melihat Ara yang sedang kesakitan.
"Sayang, kamu harus kuat! Aku akan tetap di sini," ucapku mengelus kepalanya. Tanganku yang satu tak pernah ia lepas, ia bahkan mencekramnya kuat, hingga terasa sangat perih.
"Ara takut! S--sakit!" ucap Ara lagi.
'Ya Allah, permudahkanlah.'
Beberapa menit terdengar suara tangisan bayi pertama.
Oeeeeek... Oeeeeek
4Menit kemudian tangisan bayi kedua
Oeeeeek... Oeeeeek
POV Reno
"Alhamdulillah, anak kita lahir dengan sehat dan selamat. Keduanya sangat tampan, melibihi diriku," ucapku lalu mengecup lama kening Ara. Akhirnya, penantian yang selama ini aku nantikan terwujud, akhirnya anakku lahir.
"Anak kita dua?" tanya Ara walaupun suaranya sangat melemah. Aku mengangguk, dan menggenggam tangannya erat.
"Iya, sayang. Anak kita kembar," jawabku.
Ara tersenyum lalu menangis haru, lebih tepatnya menangis bahagia. Perjuangan yang cukup lama melahirkan, kini sudah mendapatkan hasil. Dua anak sekaligus, ah aku sangat bahagia.
"Selamat ya, Buk. Anak Ibu lahir dengan sehat, lucu, dan sangat tampan. Mereka hanya berbeda lima menit saja," ucap dua seorang suster yang tiba-tiba memasuki ruangan. Masing-masing membawa satu orang bayi yang sangat mungil.
"Aku udah azanin mereka," ucapku menahan senyum. Ah, rasanya sangat bahagia.
Aku pun mengambil alih bayiku. Aku menggendong bayi pertama, dan Ara menggendong bayi kedua. Sangat mirip, ya begitulah, kan kembar. Hehe.
POV Author
“Ara bagaimana?” tanya mama pada Papa Nando
“Mereka lagi ada di dalam.”
Mama Dewi, Papa Nando dan Marvel dan Risa, Tania dan Gino berada di luar ruangan untuk menunggu Ara melahirkan
Oeeek … oeeek …
“Selamat Reno anakmu kembar laki-laki.” Dr. Tiffany mengucapkan selamat pada Reno atas lahirnya anak Reno dan Ara
Dokter keluar dan menemui keluarga Ara
"Ara telah melahirkan bayi kembar laki-laki dengan selamat."
"Alhamdulillah," ucap semua yang ada di sana dengan bersamaan. Sedangkan Ian masih berada di dalam ruang bersalin menenangkan istrinya yang lemah.
Perawatan kelas VVIP yang digunakan oleh Ara. Tak mengherankan sebab mereka memang orang yang memberikan sumbangan terbesar untuk rumah sakit bersalin ini.
"Selamat, kamu telah melahirkan bayi kembar laki-laki." Reno berbisik pada Ara yang tengah dibersihkan oleh para perawat. Ara hanya mengangguk saja.
Ceklek!
Pintu terbuka, menampakkan Mama dan Papa dengan senyum yang tak pernah pudar, Mama segera menghampiri kami.
"Ara, terima kasih udah memberikan cucu yang sangat tampan ini. Maaf, kalau Mama tidak sempat menemani kamu melahirkan kedua jagoan ini," Ara tersenyum menatap Mama..
"Gapapa, Ma. Ara seneng Mama datang ke sini," ucap Ara.
"Namanya siapa? Udah di kasih nama?" tanya mami menatapku. Aku menggeleng, disertai nyengir kuda.
"Anak pertama, Bryan kasih nama Kiano Nathanio Willy, dan ...," aku menggangtung ucapan, lalu menatap Ara.
"Eum ... Ara akan namain anak kedua kita, Kenzo Nathanio Willy, gimana?" Aku tersenyum menanggapinya. Willy? Tentu saja harus ada kata itu, namaku harus ada pada kedua anakku.
"Kiano Nathanio willy, dan Kenzo Nathanio Willy, selamat datang di keluarga kami. Terima kasih, telah hadir di kehidupan Mama dan Papa." Ucapku. Tuhan, terima kasih telah menghadirkan kedua buah hati ini ke dalam rumah tanggaku dan istriku.
__ADS_1
"Thank's, sayang," lagi-lagi aku berucap, lalu tersenyum menatap Ara penuh kebahagiaan. Lengkap sudah keluarga kecilku.
****
Gimana? Kedua anak mereka lahir we, tampan lagi:v hehe.
***
"Permisih Mbak cantik, ruangan orang yang baru melahirkan, dirawatnya di mana ya?" tanya Bara, dengan gaya cool dan sok gantengnya.
"Atas nama siapa, Mas?" tanya balik si mbak, yang menjadi resepsionis.
"Atas nama siapa, gengs?" tanya Bara, ke teman-teman segengnya yang datang.
"Mene ketehe, lo enggak nanya sama Tania tadi," ucap Galih.
"Nama siapa nih, ciwi-ciwi?"
"Ribet banget kalian, tinggal sebut namanya Arabell Sofyani atau namanya pak Reno. Atau juga pasien yang baru melahirkan bayi kembar laki-laki, dengan proses sesar!" ucap Mita, menatap malas ke arah Bara.
"Nah cekep, pinter emang jodoh gue," ujar Galih, dengan senyum yang memuakkan.
"Jodoh-jodoh, pala lo pe'ang!"
"Nama itu, Mbak. Arabell Sofyani , yang baru melahirkan bayi kembar laki-laki. Dengan cara sesar, ada?" tanya Bara, mengikuti saran Mita.
"Tunggu sebentar, ya," ucapnya, "Oh iya, ini ada. Silahkan keruangan 107, lantai satu."
"Oke, thanks Mbak cantik."
"Udah buruan, enggak usah nebar gombalan lo," ujar Zaki, menarik baju Bara, menjauh dari sana. Diikuti yang lainnya. Lainnya ... kira-kira ada enam atau tujuh orang yang datang, termasuk Thiar, Zaki, Galih, dan Bara.
"Satu kosong ... berapa tadi?" tanya Bara, sontak menghentikan langkah semuanya.
"Umur lo berapa, sekarang?" tanya Galih, dengan nada agak sewot.
"23."
"Baru 23, tapi udah pikun! Kamar satu kosong tujuh, Bang Joni!" ucap Zaki, menoyor kepala Bara.
"Pantes aja lo enggak punya pacar, orang lonya yang pikun. Bisa-bisa baru kemarin kalian jadian, tapi besoknya lo lupa," cerocos Galih.
"Etdah, Galihhh Kubur. Jangan bawa-bawa status napa."
"Ya Tuhan, kalian kalau kumpul beneran kayak cewek. Ngalah-ngalahin malah. Buruan lanjut jalannya!" cetus Nadia.
"Siap Neng." Dan mereka kembali berjalan, sampai di depan ruangan yang bernomor 107. Itupun mereka saling tunjuk, siapa yang akan mengetuk.
"Seberani-beraninya gua, gue juga masih punya malu. Di dalam pasti banyak keluarganya, malulah gue," ucap Bara, tapi tanpa sadar tangannya mengetuk-ngetuk pintu. Sedangkan yang lain, sudah memandang Bara malas.
"Meluleh gue! Ck, itu lo udah ketuk, paok!" sarkas Thiar, dan Bara cuma memasang cengirannya.
Saat pintu terbuka, mereka yang tadinya tegang langsung menghembuskan nafas lega. Karena cuma Tania yang membukanya, dan bukan pak Reno.
"Pak Reno ada di dalam? Banyak orang, 'gak?" tanya Bara, berurutan.
"Enggak banyak juga, cuma ada keluarga Ara orang tua pak Reno, juga Risa sama suaminya. Sama ...." Tania menggantung ucapannya, kemudian menyengir.
"Pak Gino?" tebak Thiar, sambil tersenyum kecut.
"What! Pak Gino juga ada di dalam?!" tanya Mita heboh.
"Gebetan gue ada di dalam?" lanjut Nadia bertanya.
"Kenapa pada heboh, sih? Ya wajar lah kalau pak Gino ada di sini. Secara, pak Gino sama pak Revano temenan," ujar Thiar, dan mereka semua ber oh saja.
"Pak Rektor, ada di dalam?"
"Yaiyalah! Kan Tania bilang, kalau orang tuanya pak Reno ada di dalam, dan pak Rektor orang tuanya pak Reno," ujar Galih sewot.
"Gue cuma nanya, Galihh. Cuma mastiin!" ucap Bara, kesal.
"Hem, kalian mau masuk? Atau tinggal di sini?" tanya Tania.
"Mau masuk sih, tapi muat kagak?"
"Tenang, di dalam luas kok," ucap Tania.
"Tenang aja Bro, ruangan VIP. Orang kaya mah bebas, Boss!" seru Zaki.
"Masalahnya sih bukan itu, kita takut masuk karena ada ... dua dosen sama pak Rektor," sahut Nadia, diangguki yang lainnya.
"Aelah, santai aja kali. Mereka enggak segalak di kampus. Tapi kalau kalian buat rusuh, ya baru," ujar Tania.
"Nah, justru itu yang gue takutin. Kan mulutnya Galih sama Bara, ceplas-ceplos! Jangan sampai mereka bicara yang enggak-enggak," celetuk Mita dengan tampang watadosnya.
"Busyet, tajem banget tuh mulut, Mit. Lo buat hati gue—"
"Ekhem," dehem Zainal, yang langsung menghentikan ucapan Galih.
"Pak," sapa mereka semua, sok kalem.
__ADS_1
"Kenapa tidak masuk?" Mereka semua gelagapan, sedangkan Tania menahan tawanya.
"Katanya mereka takut, Pak," ujar Tania, langsung mendapat pelototon semuanya.
Abang Hendra mengerutkan kening. "Takut? Takut sama siapa? Saya atau Reno atau Gino? Mereka tidak makan orang loh, padahal," candanya, tapi cuma disambut dengan cengiran canggung mereka.
"Sudah-sudah, silahkan masuk. Mereka berdua tidak akan memakan kalian, saya mau keluar dulu. Permisi," pamit abang Hendra , kembali mereka cuma tersenyum. Tapi setelah abang Hendra berlalu, barulah mereka bernafas lega.
"Memang enggak bakal dimakan, Pak. Tapi itunya loh," imbuh Reni
"Udah ah, ayo masuk," ajak Tania lagi, dan tanpa persetujuan, Tania langsung menarik tangan Nadia dan Mita, dan Reni untuk masuk.
"Tan-Tan, jangan narik-nari—. Eh, Pak," sapa Nadia, saat melewati pak Gino dan pak Revano.
"Kita enggak diajak masuk, juga?" gumam Bara, padahal mereka sudah ada di dalam. Ya walau cuma di dekat pintu.
"Kalian masuk," suruh pak Gino. Biarpun Bara cuma bergumam, tapi masih bisa didengarnya.
"Ha ha, makasih Pak," ujar Zaki, sambil tertawa hambar, dengan volume sangat kecil. Dalam hatinya, merutuki mulut ceplas ceplos Bara.
"Gimana, kabar kalian berdua? Udah lama kita enggak ketemu, 'kan? Eh tiba-tiba, kita dapat kabar kalau lo mau lahiran. Risa juga, kandungannya udah besar," cerocos Mita.
"Ya enggak gimana-gimana. Jangankan kalian, kita aja enggak kepikiran bakal secepat ini," ucap Risa, di iyakan Ara.
"Saya balik duluan, Mbak. Ada kerabat yang datang di rumah, mau jengukin Ara. Tapi katanya, besok mereka akan ke sini," ucap mama Dewi, menyerahkan Kiano yang digendongnya tadi ke pak Reno. Karena nenek Ara juga menggendong, Kenzo
"Titip salam saja, saya ya. Karena tidak bisa ketemu sekarang," ucap nenek Ara.
"Iya, tidak apa-apa. Lagian Ara juga masih butuh bantuan banyak. Ya, kalau Reno sendiri, takutnya dia tidak bisa ngurusin istrinya," ujar mama Dewi, sontak membuat pak Reno menghela nafas ... sabar. Karena hampir atau tinggal sedikit lagi, bakal dijelek-jelakkan di depan mahasiswanya.
"Mama pulang dulu, ya. Jangan banyak gerak, jahitan di perut kamu belum kering. Kalau ada apa-apa, bisa minta tolong saja."
"Iya, Ma."
"He, jangan biarin Ara terlalu banyak gerak. Awas kalau sampai kamu ketahuan!" ancamnya, pak Reno mengangguk dengan senyum dipaksakan. Marvel dan pak Gino? Jangan tanyakan reaksi mereka, andaikan tidak ada orang lain di situ, mungkin mereka sudah tertawa lepas plus ngakak.
"Saya pulang dulu, ya. Kalian santai-santai aja, jangan takut cuma karena ada dosen kalian," ucap mama Dewi lagi, dan kembali disambut dengan senyum kalem geng rusuh itu.
Tak lama setelah mama Dewi pergi, Papa Nando uga pamit untuk pulang sebentar, nenek Ara bersama abang Rizal ,Karfel dan Refan untuk pergi mengemasi barang-barang Ara sekaligus baju bayi itu.
Biarpun begitu, suasana masih saja kalem. Padahal pak Gino dan Marvel , sibuk mengobrol. Sedangkan pak Reno juga, cuma sibuk dengan kedua anaknya.
"Sst, berasa kayak di kelasnya pak Reno sama pak Gino gak, sih?" bisik Galih, kepada ketiga temannya.
"Jangan nyari perkara," gumam Zaki.
"Diem aja, Ga," tambah Thiar.
"Hening kek kuburan," gumam Bara, langsung mendapat pukulan di perutnya. Dan pelakunya, Zaki dan Thiar.
"Din, kita pulang dulu, ya. Sudah mau malam, sebentar atau besok kita ke sini lagi," ucap Marvel, membuat Risa kesal. Dirinya belum puas mengobrol sama teman-temannya, apalagi cara mereka mengobrol kurang lebih seperti, berbisik.
"Ya sudah, gue pulang dulu Ra," kata Risa, lalu cupika-cupiki dengan Ara Tania, Mita, Nadia, dan Reni. Dan pergi menghampiri Kiano dan Kenzo cuma sekedar berpamitan, juga dengan pak Reno.
"Abang pulang dulu, besok baru ke sini lagi. Gue pulang dulu Ren. Jagain adek sama ponakan gue, awas aja kalau sampai lecet!" ucap Marvel sengaja menggoda temannya itu. Sedangkan pak Reno cuma memandang Marvel malas, lalu mengangkat kedua alisnya.
Saat di dekat Zaki, Marvel tersenyum kecil, dan juga dibalas senyuman kecil dari Zaki. Marvel dan Risa sudah pergi, tapi keadaan masih saja hening. Sepertinya, Galih dan Bara betul-betul menutup rapat mulutnya.
Pak Gino yang mengerti situasi, lantas berdiri dan melirik Tania. Lewat lirikannya berkata, 'saya keluar, jangan dekat-dekat sama laki-laki itu!' Dan Tania cuma menjawab 'oke,' lewat gerakan mulutnya.
"Hem, keluar Bro. Mereka canggung, kalau lo ada," bisik pak Gino, yang pura-pura memegang pipi Kenzo. Lalu berlalu keluar.
Tersisi pak Reno, yang sepertinya tidak menanggapi perkataan pak Gino. Malah semakin mendekatkan dirinya ke Ara. Dan yang terjadi, perempuan-perempuan itu terdiam sepenuhnya.
Ara memiringkan sedikit kepalanya, melihat ke arah pak Reno. Memasang senyum manisnya. Dengan lirikan matanya, mengisyaratkan pak Reno untuk keluar dulu. Namun yang didapat, cuma gelengan pak Reno.
"Mas, enggak mau nelepon Indra? Tadi katanya Indra yang nanganin meetingnya, 'kan? Enggak mau nelepon, nanya kabar gitu?" rayu Ara dengan senyum manisnya lagi.
Pak Reno terdiam sesaat, pasalnya dia juga melupakan itu. Dan Indra tak memberi kabar apa-apa. Tapi kemudian pak Reno menggeleng lagi.
"Udah sering," alibinya.
"Oh. Tapi kata mama, Mas enggak pernah tuh sama sekali ninggalin meeting. Biarpun lagi sakit. Dan baru sekarang Mas ninggalin. Emang Mas enggak khawatir?" Ara masih kekeh, merayu pak Reno agar keluar dari kamar itu dulu.
Pak Reno berdehem, kemudian menatap Ara dengan senyum gemasssnya. Istrinya itu memang bisa mencari berbagai cara, agar dia menurut. Memang Ara benar, dia sama sekali belum pernah menyerahkan meeting ke orang lain. Tapi, bukan berarti dia tidak mempercayai Indra sekarang, dia cuma mau memastikan apakah meetingnya berhasil?
"Baiklah, oke-oke. Tania, tolong jaga Ara sama anak saya juga. Jangan biarkan Ara banyak gerak, dan jangan terlalu ribut," ujarnya, dan diangguki Tania.
"Kalian semua juga, jangan ribut!"
"Iya, Pak," jawab semuanya, seadanya.
Saat mendekat ke pintu, pak Reno beralih menatap keempat laki-laki yang masih setia duduk, dengan mulut tertutup rapat.
"Terutama kalian berempat, jangan macam-macam!" desisnya tajam, keempatnya hanya bisa mengangguk patuh. Lalu setelah itu, pak Reno benar-benar keluar. Juga barulah mereka bernafas lega. Bahkan Bara sampai mengelus dadanya, saking mencekamnya suasana tadi.
"Muka lo dari tadi kenapa, Bar? Mau kentut?" celetuk Zaki, seenaknya.
"Jangankan coba kentut, mau nafas aja susah," ucap Bara, merosotkan dirinya duduk ke lantai.
"Sama Men, gue mau nelan ludah aja kayak mau nelan biji kedondong," tambah Galih, ikut merosotkan dirinya duduk ke lantai.
__ADS_1
Sorry for typo. 🙏