Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 88. Jangan Cuekin Saya


__ADS_3

"Ra , tolong โ€”."


"Tolong, kita lagi di kampus Pak! Bukan di rumah, jadi status Bapak saat ini adalah dosen saya! Bukan suami saya!"


"Ara ! Salah? Emang salah kalau saya khawatir? Ini bukan soal status atau apa, tapi ini soal perasaan Ara ! Saya takut, saya khawatir Reya!"


Brak!


Kedua orang yang tadi tengah sibuk bersitegang, lantas menoleh ke arah gebrakan itu.


"Aaa, bangun Tania bego! Berat lo, ih."


"Mana pula gue berat, lo juga ngapain pake acara jatoh segala."


"Lo yang nyender di badan gue, jadi enggak bisa nahan gue."


"Makanya, bilang-bilang kek kalau lo enggak bisa."


"Bodo dah, berdiri cepat sih!"


"Ck, iya."


"Ekhem!" Deheman dari si pemilik ruangan itu, sontak membuat buku kuduk Tania dan Risa meremang.


"Aduh, maaf Pak. Tadi kita lewat, terus enggak sengaja kesandung, terus ya ja -jatuh," alasan Risa.


"Benar Pak, kita enggak nguping kok," tambah Tania.


"Yang bilang kalian nguping siapa?" tanta pak Gino, yang sudah berada di samping mereka berdua.


"Enggak ada, ya siapa tau pak Reno mikir gitu kan," ucap Tania.


"Ya udah ya Pak, kita pergi dulu. Maaf tadi, kita beneran enggak sengaja jatuh kok."


Lalu Tania dan Risa langsung berlari, meninggalkan ketiga orang yang sedang bermasalah itu. Pak Gino sendiri, menelan ludahnya.


"Maaf soal tadi Ra, sumpah enggak ada maksud buat narik kamu," ucap pak Gino dengan melirik sana-sini, jangan sampai ada mahasiswa/i yang melihat interaksi mereka.


"Niat minta maaf gak? Atau minta maafnya sama siapa emang? Kenapa pake lihat kesana-kesini," ucap Ara tanpa dosanya.


"Untung adeknya Keral, kalau bukan ...." Pak Gino menggantung ucapannya.


"Mau ngapain kalau bukan adek nya Marvel ?!" Bukan Ara yang bertanya, tapi Reno.


"Ck. Bercanda elah, jangan pake urat kali. Udah kalian selesaiin, saya pergi dulu. Maaf sekali lagi Ra " ujar pak Gino, dan juga pergi meninggalkan ruangan itu. Tidak lupa, pintunya dia tutup.


"Hem, saya permisi Pak. Masalahnya nanti selesaikan di rumah," ucap Ara


"Ara , saya โ€”."


"Nanti Pak, di rumah saja. Saya lagi enggak ada semangat, maaf Pak." Setelah mengucapkan itu, Ara keluar dari ruangan suaminya.


"Ara !" Sekitar langkah ke sepuluh, dari ruangan Reno . Dua mahkluk hidup itu, muncul lagi.


"Ada apa?" tanya Ara malas.


"Hehe, enggak ada. Gimana masalahnya, udah selesai belum?" tanya Tania.


"Masalah? Kalian beneran nguping?!"


"Hehe, iyap. Sebenarnya enggak mau sih gue, tapi si Tania pake ngancem bakal 'ngambek'. Kalau enggak di turutin," ujar Risa apa adanya.


"Ya, belum bahas apa-apa."


"Jadi belum selesai?" tanya Tania.


"Belum, ah udah. Enggak usah di bahas, masuk kelas yuk."


"Kuy, moga cepat selesai. Eh, ngemeng-ngemeng pak Reno ternyata dingin-dingin khawatir ya," ucap Tania dengan membayangkan percakapan Ara dan Reno , yang sempat dia dengar.


"Gue bilang, enggak usah di bahas!" sentak Ara


"Enggak usah di bahas Tan, lo sih."


"Ya maaf, kan gue cuma mengutaran isi pikiran gue."

__ADS_1


***


Sepulang dari kampus, tepatnya sekarang Reno dan Ara sudah berada di kamar. Apa yang mereka lakukan, cuma saling diam dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Ara yang sibuk dengan buku pelajaran, juga buku novel di tangannya. Reno yang sibuk dengan handphone -nya, sekali-kali mencuri pandang ke arah Reya.


"Emm, Mas," panggil Ara .


"Kenapa?" tanya Reno , dengan senyuman kecilnya.


"Bukan apa-apa, cuma mau nanya. Ini tugasnya kapan di kumpul?"


Seketika senyum kecil itu langsung hilang. "Pertemuan berikutnya," jawab Reno singkat, sambil memutar-mutar ponselnya.


Hening lagi, Ara kembali fokus ke novelnya. Sedangkan Reno , terdengar beberapa kali menghela nafas kasar.


"Ara, bikinin saya kopi dong," pinta Reno atau bisa di bilang untuk memancing pembicaraan.


Namun, ekspetasi di patahkan oleh realita. Ara hanya berdehem sebagai jawaban, dan berjalan ke luar kamar. Reno berdecak kasar, oh ayolah, ini bukan diri Reno banget. Yang dulunya sangat irit bicara, orangnya pantang menyesal. Tapi saat bersama Ara , itu hilang. Ya walaupun, cara berbicaranya masih irit, atau kaku.


"Ini." Ara datang, dan meletak 'kan secangkir kopi di meja belajar.


Nanti tumpah lho, Ra ....


"Cemilannya mana?"


"Bentar." Tidak ada perlawanan seperti biasa, yang akan berakhir pertengkaran tiada habisnya. Sekarang Ara hanya menurut saja. Reno menggaruk kepalanya yang tak gatal, memikirkan berbagai cara agar Ara mau sedikit mengomel.


Lalu, Yap. Satu ide terlintas dalam benaknya, mudah-mudahan itu akan berhasil.


Reno udah mulai bucin, ye ....


"Ini."


"Pijitin saya, ya?" Lagi-lagi Ara cuma mengagguk, dan melaksanakannya.


Oh tidak, jangan pikir ini rencana Reno Bukan, ini. Tapi tunggu saja sebentar, ya walaupun agak beresiko baginya.


"Sebelah sini Ra ."


"Hmm."


"Sudah?"


"Sudah, terima kasih," ucap Reno .


"Mbok Mina ada di bawah?"


"Enggak ada, tadi keluar mau beli 'pel' katanya," ucap Ara se adanya.


'Bagus, kesempatan,' batin Reno bersorak. Entah apa yang dia rencanakan, tapi doakanlah semoga berhasil.


"Saya turun dulu," ucap Reno , Ara cuma mengangguk tanpa menatap yang berbicara.


Di bawah, tepatnya di dapur. Reno sedang berdiri, sambil memegang bawang merah juga pisau di tangannya.


"Ayo kita mulai," gumamnya dengan seringai sinisnya.


Dengan teletan, Reno membuat sesuatu yang sudah tertanam di pikirannya. Saat mengiris tomat, entah sengaja atau tidak, pisau mengenai jari telunjuknya. Hingga terjadi sedikit luka kecil, dengan darah yang keluar.


"Akh!" pekiknya dengan keras, tentu saja yang sedang bersantai di lantai atas, sontak berlari keluar kamar dan menuruni tangga.


Reno sedikit meniup lukanya, dengan menahan perih yang tak seberapa. Ya, memang tak seberapa.


"Ya ampun Mas! Lagi ngapain sih?! Kenapa teriak? Itu, itu tangannya berdarah?" todong Ara dengan berbagai pertanyaan.


"Ke iris." Dan dengan muka meringis di buat-buatnya, Reno kembali mengambil pisau. Tapi langsung di tepis oleh Ara.


"Mau ngapain lagi? Itu tangannya, berdarah lho! Sini ih." Ara menarik paksa Reno untuk duduk di kursi, sambil pergi mengambil perban juga obat.


Sedangkan Reno tersenyum lebar, rencananya berhasil. Ya rencana, itu lah rencananya. Membuat dirinya kesakitan, hanya demi mendapat omelan dari mulut Ara.


Memang benar kata orang, cinta membuat orang lupa diri. Sampai melukai diri sendiri pun, di lakukan.


Eh tunggu, 'cinta? Hemm, sepertinya belum.

__ADS_1


"Tangannya!"


"Mau ngapain sih, ke dapur?!"


"Masak," jawab santai Reno , dengan di sertai ringisan. Tapi kali ini, bukan ringisan pura-pura, memang benar-benar ringisan. Karena obat merah, yang di tuangkan Ara ke tangannya.


"Kan bisa nyuruh Ara , Mas! Kalau sudah begini ... Ara rasa enggak guna sebagai istri!" ucap Ara dengan mata berkaca-kaca.


Reno mengedipkan matanya beberapa kali, apa kali ini dia salah mengambil keputusan? "Lho-lho, kenapa nangis. Hey, jangan nangis dong Ra."


"Mas kalau mau makan, atau di masakin apa bilang, jangan masak sendiri. Kayak gini kan."


"Maaf Ra, soalnya dari tadi kamu diam terus. Mas pikir kamu enggak mau," alibi Reno kembali ke dramanya.


"Siapa bilang? Mas enggak nanya kan? Enggak bilang dulu kan? Ara pikir Mas cuma mau turun minum, atau nonton. Jadi Ara enggak gubris, kalau tau bakal kayak gini. Ara enggak bakal diam-diam, terus!" emosi Ara dengan air mata yang menetes.


Reno tersenyum kaku, antara senang juga marah pada dirinya sendiri. Karena ide bodohnya, membuat sang istri menangis.


"Sudah, jangan nangis ya. Mas enggak apa-apa kok, cuma luka kecil gini. Udah ya," ucap Reno dengan menghapus air mata Ara , yang masih saja terjatuh.


"Ta -tapi harusnya โ€”."


"Udah ya, kamu enggak salah. Mas yang salah, karna enggak bilang-bilang," kata Reno dengan memeluk Ara.


Apa-apa meluk ya, sekarang ....


"Lain kali Mas bilang, Mas salah. Gara-gara ini, buat kamu nangis. Maaf ya, dan juga maaf soal di kampus tadi," ucap Reno


"Udah, jangan nangis. Mas minta maaf," sesalnya, dan melepas pelukannya.


"Nangisnya udah, ah."


"Mas mau masak apa, tadi?" tanya Ara dengan menunduk 'kan kepalanya, sambil menghapus air matanya.


"Bukan apa-apa, sudah jadi juga. Cuma di kasih tomat, sebagai penambah rasa."


"Biar Ara lanjutin," ucap Ara.


"Enggak usah, biar Mas aja."


"Enggak! Ara yang masak, Mas duduk aja."


"Okeh, tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Jangan cuekin saya, lagi."


"Emang kenapa kalau saya cuekin?" goda Ara. yang sepertinya sudah kemabali ke habitat aslinya.


Reno menggeleng, sambil mengulam senyumnya. Dengan satu tarikan ....


Grep.


Lagi Ara berada dalam pelukannya, dengan senang hati Ara membalas pelukan suaminya. Yang hangat, dan menenangkan baginya.


Tapi setelah menormalkan 'keterjantungannya' ....


"Serasa sunyi, kalau kamu tidak lagi cerewet," ucap Reno di ikuti kekehannya.


"Benar cuma itu? Bukan karna tidak ada yang di buat kesal?"


"Dua-duanya," ujar Reno , tanpa dosanya.


Sorry for typo. ๐Ÿ™


Hayo, ternyata si duo kamp*et yang nguping. Tapi sialnya, jadi jatuh mereka.


Itu Reno dapat ide, dari mana coba? Pake acara ngiris tangan, ya walaupun mungkin enggak sengaja. Tapi tetap gitu, perih. Ih, merinding ....


Reno , apa-apa peluknya ya sekarang ....


๐Ÿ‘‹๐Ÿ™‹Haii readers,


Semoga suka cerita nya.

__ADS_1


Tinggalkan jejak like dan komen bawelnya.


๐Ÿ™๐Ÿ’•Terimakasih


__ADS_2