
Sejak kejadian dua hari yang lalu, di mana mereka bertemu dengan Aldi. Ara dilarang pergi-pergi keluar, kecuali saat pergi kuliah. Yups, siapa lagi yang larang kalau bukan pak Suami Ara.
Saat mengetahui kejadian itu, dari Marvel. Reno langsung menelepon Ara , menanyakan keadaannya. Padahal jelas-jelas Marvel bilang, kalau Ara tidak apa-apa, tidak lecet tersentuh sedikit pun. Tapi Reno tidak menghiraukan ocehan Reno , malah mengomeli Marvel, sampai-sampai Marvel merasa kupingnya panas.
Jangan tanyakan kenapa bisa, Marvel muncul tepat saat Aldi mau melayangkan tamparan ke arah Risa . Karena, sejak Ara izin ingin keluar, Reno langsung menghubungi Marvel untuk mengikuti Ara.
Marvel yang saat itu sedang enak-enaknya rebahan, hanya bisa mengumpat dan mengoceh sendiri.
" Ara seperti di penjara yang bebas, tau Mbok. Masa dilarang keluar-keluar, kecuali ke kampus doang!" curhat Ara kepada mbok Mina.
"Mungkin den Reno , nggak mau kalau kejadian kemarin terjadi lagi Non. Ambil sisi positifnya, Non. Artinya, den Reno khawatir terjadi sesuatu yang tidak-tidak sama Non. Apa lagi den Reno jauh sekarang," ucap mbok Mina.
"Tapi bosen juga lama-lama, dikandang ini mulu," ucap Ara membuat mbok Mina terkekeh.
"Itu hpnya, bunyi Non. Dari den Reno mungkin," ucap mbok Mina.
"Ya udah, Ara angkat telepon dulu ya Mbok."
Drrrt... Derrrt
"Lagi apa?" tanya Reno disebrang telepon.
"Nggak ada. Bosen tau, di rumah mulu," rengek Ara terdengar suara Reno yang terkekeh.
"Mau gimana lagi. Kalau kamu keluar, terus ketemu lagi sama mantan kamu itu, bagaimana?"
"Tapi bosen tau ka di rumah terus. Emm ngomong-ngomong, kaka jadi pulang besok?"
"Iya, kalau tidak ada halangan. Udah kangen ya?" goda Reno .
"Enggak tuh. Karena kalau kaka sudah pulangkan, saya bisa keluar-keluar lagi," ucap Ara mengelak.
"Gitu? Saya pikir, kamu rindu sama saya. Padahal Kan, saya rindu sama kamu," gombalnya.
"Elleh, sudah jago gombal nih ceritanya," goda Ara dengan cekikikan.
"Haha, serius loh. kaka rindu sama kamu," ucap Reno dengan nada serius.
"Ya ya, rindu nyusahin saya. Kangen buat saya kesal, kayak gitu kan?"
"Kerjanya su'udzon terus sama suami, astaga."
"Kebiasaan kaka kan emang gitu."
"Haha, tapi benar nggak kangen sama kaka ? kaka beneran kangen loh."
"Kaka disana ke sambet apaan? Dikit-dikit gombal, dikit-dikit ketawa. kaka sehat kan?" cerocos Ara
"Kesambet apa ya? Mmm, kayaknya Mas kesambet cintanya perempuan cantik yang lagi, kaka telpon."
"Ini kaka Renren bukan? Perasaan ka Reno , nggak kayak gini," ucap Ara , tapi tidak bisa di pungkiri kalau dia sedang senang.
"Bukan," ucap singkat Reno.
"Terus siapa?"
"kaka Reno , suaminya kamu," goda Reno.
"Beneran ke sambet Reya rasa, kaka mah." Ara geleng-geleng kepala, juga senyum yang tak pernah lepas.
" kakak matiin dulu, jangan keluar-keluar rumah."
"Gendut nanti Ara kalau di rumahnya mulu, kerjanya cuma makan, tidur, nyantai. Juga cuma bantuin mbok Mina masak atau beres-beres, itupun cuma sekali-kali. Setiap Ara mau bantuin, malah dilarang. Katanya, mbok tidak mau makan gaji buta. Karena kerjanya cuma sedikit, padahal kan banyak banget yang mbok kerja. Ara bantuin nya juga cuma sedikit," curhat Ara panjang lebar, dibalas cuma suara cekikikan dari Reno.
"Reya lagi curhat loh 'Kka masa cuma diketawain!" ucap Ara kesal.
"Maaf-maaf, haha. Kamu bicara lancar banget, pake text emang?"
"Ish. Enggak! Tadi katanya mau di matiin, ya udah matiin. Assalamualaikum!" salam Ara sedikit ketus.
"Waalaikumsalam," jawab pak Reno dan memutuskan tali cinta, emm telepon maksudnya.
Telepon terputus, Ara memegangi dadanya. Jantungnya berdetak sangat cepat, sepertinya dia harus periksa ke dokter, sepertinya jantungnya bermasalah akhir-akhir ini.
ππππππ
Hari ini Reno akan kembali ke Jakarta, karena acara seminar telah selesai di selenggarakan. Setelah beres packing pakaiannya yang tak seberapa, dilanjut dengan check out dari hotel tempatnya menginap beberapa hari ini.
Sekitar sepuluh menit, Reno berhenti di depan sebuah toko. Mungkin untuk membeli oleh-oleh. Walaupun jarak antara Jakarta pusat dengan Bandung terlalu jauh, tapi tidak enak kalau pulang dari bepergian tidak membawa apa-apa.
Sekitar tiga jam 'empat puluh empat menit menempuh perjalanan. Pak Reno sudah sampai di depan rumahnya, di depan pagar rumah lebih tepatnya.
Pip ...pip calon mantu, eh.
Ting ... ting .... Suara klakson mobil Reno , pak Doni yang kebetulan sedang duduk santai sambil ngopi di dekat pagar, langsung berdiri membuka pagar. Mempersilahkan tuang rumah, masuk.
"Udah sampai 'Den," sapa pak Doni sekedar basa-basi.
"Iya Pak, Ara ada di dalam kan?"
"Ada Den," ucap pak Doni.
"Ya udah, Reno ke dalam dulu," ucap pak Revano di angguki pak Doni.
Reno memarkirkan mobilnya di garasi, dan mengambil barang-barang bawaannya lalu berjalan ke arah pintu rumah.
"Assalamualaikum," salam Reno dengan membunyikan bell rumah.
"Waalaikumsalam." Terdengar suara serak, seperti orang yang baru bangun tidur.
Ceklek ....
Pintu terbuka, terpampang wajah Ara yang kucel dengan rambut acak-acakan juga mata sayu. Kentara sekali kalau dia baru bangun tidur.
Reno terkikik kecil, melihat penampilan Ara "Suami pulang dari kerja, masa nggak di sambut atau di salamanin," ucap Reno, Ara yang mendengar suara yang tak asing, suara yang dia rindukan selama empat hari ini, langsung membulatkan mata dan sejurus kemudian dia langsung menyalimi tangan Reno.
__ADS_1
Reno terkekeh, dan langsung memeluk Ara . Ara yang belum siap dengan situasi dan kondisi, eak ... hanya mematung di pelukan suaminya.
" Kaka kangen," ucap Reno .
Menelan ludahnya dengan susah payah, yang datang benar-benar suaminya atau bukan? Ara pikir, suaminya cuma ditelepon saja berani berbicara seperti itu.
"Baru bangun tidur?" tanya Reno dengan melihat muka dan rambut Ara bergantian. Ara cuma mengangguk, mengiyakan.
"Pantas rambutnya berantakan," ucap Reno dengan menahan tawanya, karena wajah terkejut campur salting Ara.
"Jujur banget. Itu apa?" tanya Ara menunjuk barang bawaan suaminya.
"Ow, ini ambil, kaka mau ke kamar dulu, nyimpan pakaian."
"Juga, rambut kamu beresin. Udah seperti orang gila yang salah alamat," ucap Reno meledek.
"Istri sendiri di bilang orang gila!"
πΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Duduk santai, dengan menonton tv ditemani cemilan dua toples dengan jus. Sebenarnya menonton tv, bukan kemauan Ara, melainkan paksaan dari sang suami. Maka dengan berat hati, Ara menerima permintaan suaminya.
"Cari film kali kaka , jangan berita mulu. Heran, kenapa yak, cowo-cowo suka banget nonton berita atau bola? Seruan juga nonton, drakor," ucap Ara dengan terus mengunyah cemilannya.
" Kaka juga suka heran, kenapa ya cewe-cewe suka banget nonton begituan? Seruan juga nonton berita," ucap Reno dengan mengikuti gaya bicara Ara. Seketika Ara langsung mengangkat remot yang tergeletak di meja.
"Mau apa?"
"Mau remot mulut kaka,suka banget buat orang darah tinggi!"
"Tinggi darahnya berapa senti meter?" tanya Reno semakin menjadi.
"Seratus di kali seratus, di tambah mulut ngeselin kaka , di bagi muka datar Mas!" ucap Ara asal, karena sudah benar-benar kesal dengan orang di dekatnya. Jam nonton Drakor Nya sudah di ganggu, di tambah membuat dirinya kesal tingkat ubun-ubun.
"Lho, kan kaka nanya baik-baik. Kenapa jawabnya gitu?" Lagi-lagi Reno menampak 'kan tampang watadosnya.
" kaka ngeselin!" Ara berdiri dan berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya dengan melirik sinis ke arah suaminya, yang sedang menahan tawanya.
Suami kampret!
"Cuma nanya kan, hey jangan marah dong," ucap Reno menyusul Ara yang sudah sampai di tangga.
Ara tidak menjawab, hanya menggembungkan pipinya dengan menatap nyalang Reno . "Cuma bercanda Ra " ujar Reno kembali mensejajarkan langkahnya dengan Ara.
"Bercandanya kaka buat orang darah tinggi!" sungut Ara . "Maaf, cuma bercanda juga. Lagian seru buat kamu kesal," ucap Reno masih dengan tampang ngeselin nya.
"Seru buat kaka , saya sengsara!" ucap Ara masih dalam mode kesalnya.
"Oke, kaka minta maaf. Sudah, tidak usah ngambek gitu, tambah jelek soalnya." Ara bersiap memukul sang pelaku, tapi entah keberuntungan atau kesialan yang berpihak padanya. Saat ingin bergerak, kakinya tersandung di kakinya sendiri atau bisa di bilang 'kesandung kaki sendiri.'
Lalu ... dugh, Reya jatuh, jatuh tapi tidak sakit. Emang nggak sakit, kan dia jatuhnya di badan Reno, Ara yang langsung reflek memeluk tubuh Reno , sedangkan Reno berdiri kaku, terkejut lebih tepatnya.
"Ra , kamu tidak apa-apa kan?"
"Bentar, jantung saya belum tenang."
"Jatuh di tangga?" Ara bertanya ke dirinya sendiri, kemudian dia mengintip di samping badan Reno , lalu .... "Astaga, maaf ka . Ara enggak sengaja meluk, suer," ujar Ara dengan menaik 'kan jari berbentuk 'v'.
"Nggak sengaja sampai nggak nyadar, ke enakan meluk saya atau bagaimana?"
"Beneran nggak sengaja tau! Reflek gitu Ara meluknya!" ucap Ara ngeggas.
"Ah, masa nggak nyadar?"
"Au! Balik lagi ngeselin nya kan, orang beneran Ara cuma reflek. Kalau bukan reflek, ogah Ara meluk-meluk kaka ," ucap Ara dengan gaya songongnya.
"Ceh, padahal banyak loh diluar sana yang mau meluk saya. Cuma kamu saja yang tidak berminat, apa jangan-jangan kamu 'lesbi lagi," ucap Reno dengan gaya di buat merinding.
"Mulut kaka astagah! Nenek sama ayah abis mimpi apa lagi, sampai-sampai jodohin anaknya yang cantik kinyis-kinyis gini sama orang kayak, kaka "
"Cantik kinyis-kinyis, pd! Lebih kinyis-kinyiz ayam yang di goreng mbok Mina," ucap Reno lalu melenggang kembali ke depan tv.
" Ara nggak kuat ya Allah, serasa mau mati aja gue," gumam Ara dengan menatap nyalang ke arah suaminya, yang sudah kembali asik nonton berita tanpa mempedulikan perasaan Ara yang lagi campur aduk teraduk-aduk. Nulis apa sih author nya ini?
ππππππ
"Boleh ya?" Entah sudah rayuan ke berapa ratus, Ara berikan agar di izinkan keluar. Tapi, tidak ada hasil sama sekali. Reno tetap keukeh tidak mengisinkan Ara keluar, kecuali dengannya.
"Tidak boleh Ara !"
"Ya udah, kita keluar sama-sama!"
"Saya cape Ara ."
"Ya udah, izinin Ara keluar ya? Atau Ara ngajak bang Marvel atau bang Revan deh, boleh ya ya?" Tetap mendapat gelengan kepala Reno "Lebih baik, kamu nonton atau tidur. Lebih enak juga," ucap Reno.
Ara mendengus kasar. " Ara udah tidur tadi, mau buat Ara gendutan apa, kerjanya cuma makan tidur!" ucap Ara dengan kesal.
"Padahal banyak loh, orang yang mau tetap di rumah tapi tidak bisa. Nah kamu, di suruh tetap tinggal di rumah tidak mau."
"Saya sama mereka-mereka itu, beda kali. Mau ya ya ya? Cuma jalan-jalan ke mall kok, nggak kemana-mana," ucap Ara masih tetap di pendiriannya.
"Tetap Ara , kalau kalian ketemu lagi dengan dia. Terus ngalakuin hal lebih, bagaimana?" Ara cemberut, memonyongkan bibirnya dengan muka ditekuk.
Reno menghembuskan nafas, "Maaf, bukan maksud kaka larang-larang kamu. Tapi kalau terjadi sesuatu yang diluar kehendak kita, kaka nggak bakal maafin diri kaka sendiri. Karena nggak bisa jaga dengan baik amanah ayah, nggak bisa jaga istri kaka dengan baik." Reno merengkuh tubuh Ara , dibalas pelukan pula oleh Ara.
Masa dibalas tabokan, nggak jadi romantis dong.
"Maaf, Ara cuma bosan di rumah terus," lirih Ara.
"Ya udah, kamu siap-siap. Kita keluar," putus Reno . Tapi Ara menggeleng, "Nggak usah, kaka istirahat aja. kaka capek kan, empat hari nggak istirahat. Keluarnya besok-besok aja lah," ucap Ara melepas pelukannya, dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Reno.
"Beneran tidak mau?" Ara menggeleng sedikit ragu. "Kamu siap-siap lah, kita keluar. Tapi sebentar
Saja ya." Ara menatap suaminya dengan pandangan bertanya.
__ADS_1
"Kenapa? Tidak mau?" tanya Reno
"Benar? Katanya kakak capek, bukan 'php kan?" selidik Ara dengan memicingkan mata.
"Kamu pikir, saya main-main?" Reno geleng-geleng kepala, dan menarik Ara ke depan kamar mandi.
"Masuk, bersih-bersih, ganti baju. Terus, mukanya dikasih senyum biar dilihat bahagia sama orang nanti," ucap Reno tanpa intropeksi dirinya yang sangat jarang senyum.
π»π»π»π»π»π»
Bagi semua perempuan baik yang tua maupun muda, pergi ke mall dan belanja adalah hal yang paling menyenangkan. Tapi tidak dengan laki-laki, itu adalah hal yang paling dibenci oleh mereka. Dimana harus mengikuti perempuan berbelanja, menghabiskan uang mereka, di tambah kaki yang pegal-pegal karena jalan. Tapi demi sang pujaan hati, mereka rela melakukannya.
Eak ....
"Baju ini cocok gak sama saya?" Ara menunjukan 'kan dress berwarna peach selutut dengan lengan panjang merenda.
"Iya." Reno selalu menjawab seperti itu, selebihnya dia hanya melihat-lihat kanan kiri.
Mereka melewati pakaian dalam wanita, Reno pura-pura sibuk dengan ponselnya, dari pada melihat pakaian haram dimatanya.
Mata Ara tertuju ke arah lingerie, yang bergelantung manja di tempatnya. Seketika ide jail muncul di otak Ara dengan berjalan santai. Ara pergi mengambilnya.
"Ini cocok juga gak?" tanya Ara . Reno yang memang dari tadi hanya selalu bilang 'iya', juga mengiyakan hal itu tanpa melihatnya.
"Lihat dulu, cocok gak?" Ara mendesak, karena Reno tidak melihat-lihatnya.
"Iya ba β." Reno langsung memelototkan matanya, dan memalingkan wajahnya ke samping dengan muka memanas.
Ara tertawa terbahak-bahak, tanpa menyadari keberadaannya. "Makanya, kalau ditanya itu lihat dulu. Jangan langsung jawab," ucap Ara di sela-sela tawanya.
Reno yang malu, tapi tidak mau kalah, juga beralih menggoda Ara "Bagus, lebih bagus lagi kalau kamu pakai nanti," ucap Reno berbisik, disertai seringai sinis. Ara menelan ludahnya kasar, salah, dia salah sudah main-main dengan sang 'king devil .
"Bagaimana, setuju?" Ara cepat-cepat menggeleng, dan langsung menyimpan lingerie itu kembali di tempatnya.
"Saya pe -pergi bayar, ini dulu. Tu -tunggu disini oke?" Setelah mengatakan itu, Ara langsung meluncur ke kasir. Meninggalkan Reno di tengah-tengah pakaian dalam wanita.
ππππππ
Setelah puas berbelanja juga mengitari mall, sekarang mereka sedang berjalan ke arah parkiran. Tempat mobil Reno di parkir.
Tidak ada yang berbicara, mereka sama-sama terdiam. Ara yang sesekali melirik ke arah suaminya, dan kembali melihat kedepan. Reno sendiri, hanya berjalan dengan wajah datarnya dan kedua tangan yang di masukkan ke saku celananya.
"Kenalin dong Dek, sama kakaknya." Tiba-tiba ada perempuan yang nyeletuk.
"Saya," tunjuk Ara kedirinya sendiri. Ketiga Perempuan disitu mengangguk, dengan kedipan mata centilnya ke arah Reno
"Mau di kenalin sama dia?" tunjuk R Ara lagi ke arah Reno.
"Namanya dia siapa Dek?"
"Kalian tinggal di mana Dek?"
"Boleh minta nomor telepon, kakaknya gak Dek?"
Ketiga pertanyaan terlontar dari ketiga perempuan itu, secara bersamaan. Ara mendumel dalam hati, dengan senyum manisnya, Ara angsung bergelayut di lengan Reno.
"Mereka nanya tuh 'Kak, jawab gih," ucap Ara dengan sandiwaranya.
"Kamu saja yang jawab," balas Reno dengan nada datarnya.
"Namanya 'sayang,' tinggalnya di 'hatiku, dan nomornya 'hanya kamu yang di hatiku.' Maaf ya mbak-mbak, dia ini suami saya bukan kakak saya!" sembur Ara dengan menatap garang ketiga perempuan di depannya.
"Adeknya lucu ya, hehe," ucapnya tak percaya.
"Adeknya nggak mau kali, kalau kakaknya kenal sama perempuan centil macam kau!" tambah perempaun nomor 'dua.
"Tenang aja Dek, kita ini bukan perempuan gituan kok. Jadi kita bisa kenalan ya, sama kakaknya," tambah perempuan nomor 'tiga.
Ara mendengus, dengan menatap mereka tajam. "Sayang, bilang kek. Kalau sa -aku ini istri, bukan adik!" ucap Ara mencengkram kuat tangan suaminya.
"Kita pergi yuk, kasian 'Baby' di tinggal di rumah sendirian," ucap Reno dengan merangkul mesra pinggang Ara, Ara yang di perlakukan begitu secara tiba-tiba, tentu saja kaget. Beruntungnya dia tidak teriak, apa lagi tadi Reno bilang apa? Baby? What what what!
"Oh, beneran istrinya. Maaf ya, kita nggak tau." Dan mereka langsung saling menarik, menjauh dari Ara dan Reno.
Setelah ketiga perempuan itu menghilang entah kemana, Ara langsung melepas rangkulan tangan Reno dari pinggangnya. "Nggak usah nyari-nyari kesempatan dalam kesempitan!" tuding Ara langsung berlari ke arah mobil.
"Pintunya bukain Pak, am ka !" Ara menatap kesal ke arah suaminya, yang tak kunjung membuka pintu mobil.
"Bentar dulu, saya mau klarifikasi soal ucapan kamu tadi. Maksud kamu bilang 'saya nyari kesempatan dalam kesempitan, itu apa?" tanya Reno.
Ara cuma cengengesan, dengan menggelengkan kepala bodoh, "Nggak usah di masukin ke hati, cuma berjanda tadi. Sumpah."
"Tapi sudah terlanjur saya masukin ke hati, atas dasar apa kamu nuduh saya nyari kesempatan dalam kesempitan?" Ara menggeleng, dan berkata, "Jangan marah kaka , jangan Baper lah!"
" Ara , kita ketemu lagi," ucap Aldi yang tiba-tiba muncul bagaikan om pamvir.
"Mau ngapain lagi, lo?!" Nada bicara Ara sudah naik seratus oktaf eh, kebanyakan, 'tujuh oktaf.
"Wis, santai. Jangan marah-marah," ucap Aldi dengan muka sok gantengnya.
"Ada masalah apa lagi, Anda sama Ara ?!" tanya Reno datar juga terkesan dingin.
"Lo lagi, lo lagi. Cih! Sebenarnya lo siapa sih, hah?!" bentak Aldi tak tahu malunya.
"Ck. Anda pikun atau kenapa? Saya sudah bilangkan, kalau saya ini suaminya Ara !" Reno merangkul lagi, pinggang Ara dengan menatap tajam Aldi.
"Haha! Ara udah nikah? Nggak mungkin! Cinta Ara cuma buat gue, asal Anda tahu!"
"Tapi kenyataannya memang begitu, saudara Aldi Dinandra Wijaya!" tekan Reno dengan masih dengan sikap tenangnya.
"Lo tau nama lengkap sama marga keluarga gue? bagus, bagus! Artinya lo tau, siapa gue kan? Saran gua, lebih baik 'Anda menjauh dari Ara . Kalau Anda tidak mau terjadi apa-apa dengan keluarga dan diri Anda sendiri!" cecar Aldi dengan gaya sombongnya.
Reno berdecih dengan tersenyum remeh. "Anda pikir, Anda siapa barani mengusik ketenangan keluarga saya, ha! Bahkan hanya satu jentikan pun, keluarga Anda yang akan hancur! Bukan keluarga saya!" cecar balik Reno.
"Lo! Siapa ha! Punya apa lo, mau ngehancurin keluarga gua!" Aldi sudah tersulut emosi level 10.
__ADS_1
"Coba tanya sama bapak Wijaya, saya siapa? Pasti beliau tau. Saya heran, bapak Wijaya saya kenal dengan kesopanannya juga kedisiplinannya. Tapi kenapa anaknya ... ck, seperti ini!" Reno terdengar merendahkan Aldi, itu membuat Aldi semakin tersulut emosi.
Sebelum dia melakukan hal yang membuat dia dan keluarganya malu, Aldi langsung pergi dari hadapan mereka dengan tangan mengepalkan tangan..