
Salah satu gejala dari jatuh cinta adalah, selalu membayangkan wajah orang yang membuat kita menjadi senyum-senyum sendiri. Mungkin itu yang dialami Tania, setiap membayangkan wajah pak Gino, akan selalu tersenyum. Apalagi mengingat kejadian sewaktu di gedung ekskul musik, wajahnya akan memerah.
***
Sekarang sudah ada dua minggu sejak Ara di ketahui hamil, setiap hari selalu saja ada tingkah atau permintaan Ara yang membuat Reno uring-uringan. Yah, kehamilan Ara sudah menginjak satu bulan. Saat pertama kali mengetahui kehamilan Ara memang kandungannya sudah menginjak 'empat belas hari', atau sudah dua minggu lamanya.
Mual-mual Reno sudah tidak terlalu parah, cuma tinggal di pagi hari saja. Itu 'pun sudah jarang.
Perhatian semua keluarga tercurah ke Ara, setiap tidak terlalu sibuk di rumah atau di kantor. Para orang tua , abang-abangnya Ara akan menyempatkan berkunjung ke rumah Reno dan Ara. Bahkan tak jarang mereka bermalam, di sana.
Seperti yang pernah terjadi, Ara sering kali mengeluh tentang berat badannya yang sedikit-sedikit naik. Padahal baru sebulan ini dia hamil, tapi sudah kelihatan gendutan, bagi Ara . Tapi tak ayal, orang-orang dekatnya seperti ... Zaki, Thiar, Galih, dan Bara sering komplain kalau pipi Ara tambah tembem.
____
Seperti biasa, setiap pagi saat Ara ada jadwal kampus, dia akan berangkat dengan sang suami. Saat belum hamil, Ara akan berangkat dengan Reno hanya saat Reno ada jadwal mengajar di kampus saja. Selebihnya, dia menyetir sendiri. Tapi sejak hamil, sedetik 'pun Ara tidak diperbolehkan pergi atau menyetir sendiri.
Sejauh ini juga, belum ada yang mengetahui pernikahan mereka. Selain kedua sahabat Ara, keluarga Ara -Reno dan pak Gino.
"Sebentar, kamu ada berapa jadwal?" tanya Reno. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan ke kampus.
"Cuma ada tiga sepertinya," jawab Ara.
"Pulang nanti kita ke rumah mama, tadi mama telepon katanya kita disuruh ke sana," ucap Reno.
"Ara ikut aja lah, udah kangen juga sama mama."
"Baru tiga hari yang lalu juga ketemunya, masa aku udah kangen?"
"Biarin, emang kangen kok."
"Ohya, rencana kamu kapan ngambil kuliah, onlinenya?"
"Kalau gendutannya udah kentara," balas Ara . Reno terkekeh, memang Ara sangat tidak suka jika ada yang mengatakannya gendut. Mungkin karena itu, dia akan ambil langkah online saja.
"Dan soal pernikahan kita, kamu ... kapan mau ngebongkarnya?"
"Entah, nanti juga ke bongkar sendiri," ucap Ara.
"Tapi lebih baik kalau ... mereka tahu dari kita langsung. Biar enggak timbul fitnah, atau gosip-gosip yang nggak bagus," ucap Reno.
"Kalau gitu ... kita tunggu waktu yang tepat atau bersamaan dengan Ara , ngambil kuliah online," kata Ara. Reno cuma mengangguk.
Tak lama, mobil Reno sudah sampai dan terparkir di parkiran dosen. Mereka turun dari mobil secara persamaan. Dari kemarin saat turun dari mobil, Ara seperti merasa ada yang mengintip atau mengikuti dirinya. Dan hari ini juga. Tapi saat melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa.
"Ara , kamu kenapa sih? Mas perhatiin dari tadi kamu seperti orang bingung, gitu?"
"Mas merasa nggak kalau, ada yang ngikutin kita?"
"Memata-matain kita, gitu?"
"Iya, dari kemarin Ara merasa ada yang ngikutin kita," ucap Ara , masih melihat sekeliling.
"Perasaan kamu saja kali, Mas nggak ngerasa ada yang ngikutin kita," balas pak Reno. Ara mengangguk kecil, ya mungkin memang perasaannya saja.
***
Ara melangkah masuk ke dalam kelas, dilihatnya Tania dan Risa sedang sibuk dengan handphonenya masing-masing. Suasana kali ini agak aneh, bukan karena apa, saat pertama kali menginjak 'kan kaki ke dalam kelas, dia sudah mendapat tatapan ... julid atau tatapan tajam dari Mira, Nirma, dan antek-anteknya.
Tapi tidak mau ambil pusing, Ara langsung pergi ke tempat duduknya. Menghiraukan setiap tatapan dari orang-orang tadi.
"Kalian ngapain, sih?" tanya Ara, sambil men'dudukan dirinya.
"Tania diajak makan malam atau dinner sama pak Gino," ucap Risa berbisik.
"Serius?"
"Ngapain gue bohong."
"Dasar ember banget lo, Risa !" ucap Tania kesal, plus malu.
"Bukan ember namanya, tapi kejujuran dengan teman," kata Risa tanpa bersalahnya.
"Enggak salah sih kalau, lo jadi pacarnya kak Marvel. Sama-sama ember!" ucap Tania.
"Dih, bawa-bawa pacar," ucap Ara, terkekeh. Dan saat menatap ke arah tempat Mira dan Nirma, lagi-lagi dia mendapat tatapan yang sama.
"Mereka kenapa, sih?" gumam Ara.
"Kenapa,Ra?" tanya Risa.
"Mira sama sohibnya, dari gue masuk kelas langsung natap gue kek gitu," ucap Ara.
"Biasa lah, palingan lagi cari perkara. Enggak usah di ladenin," tambah Tania.
"Tapi, tatapan mereka kali ini itu beda."
"Udah, enggak usah banyak mikir. Lo lagi mengandung, enggak boleh stres," nasehat Risa.
__ADS_1
"Dengerin kata dokter, Risa. Enggak boleh stres," ledek Tania.
"Dasar teman sengklek!"
"Enggak sengklek, enggak bakal seru," balas Tania. Dan mereka cekikikan bersama, bukan cuma Tania sih yang sengklek. Tapi mereka berdua juga sama.
Setelah itu, semua terdiam. Saat ada dosen masuk. Pelajaran berlangsung, meski begitu, Ara masih mendapat tatapan tajam dari Mira dan Nirma.
Di kantin
Yah, seperti biasa. Selepas selesai kelas, mereka ke kantin. Apa lagi nafsu makan Ara yang, sebentar-sebentar lapar. Jadinya, setiap saat mereka akan ke kantin.
Di tengah asik-asiknya makan, mereka di kagetkan dengan suara gebrakan meja, bersamaan dengan sebuah foto yang dilempar ke meja mereka tempat makan.
"Dasar perempuan, murahan!" maki orang itu, yang tak lain adalah Mira.
"Cih, di luarnya aja polos. Ternyata aslinya enggak lebih dari seorang, jal*ng!" tambah Nirma.
Bersamaan dengan itu, Tania langsung berdiri dan juga menggebrak meja. Menatap mereka tajam.
"Maksud kalian apa, ha?! Siapa yang murahan? Siapa yang jala*ng?!" sentak Tania.
"Teman lo!" Dan tiba-tiba, sekitar empat gelas air tersiram ke Ara. Membasahi baju Ara, dan parahnya, baju yang sekarang Ara kenakan berwarna putih, dan kainnya tidak tebal. Tepatnya yang dikenakannya, adalah kemeja putih polos.
Terlihat jelas baju dalam Ara
"Cih, lo dibayar berapa? Sampai-sampai mau jadi jal*ngnya pak Reno?!"
Suasana kantin mendadak riuh, disaat Mira menyebut nama pak Reno dengan lantang.
"Maksud lo apa, sih?!"
"Lihat ini ..., foto ini! Kemarin gue dan Nirma ngikutin Ara dan pak Reno, kemana 'pun mereka pergi. Dan terakhir, sampai di sebuah rumah. Awalnya kita pikir, Ara cuma singgah ngambil sesuatu, tapi lama-lama enggak ada tanda-tanda kalau Ara bakal keluar. Dan tidak sengaja, gue dan Nirma melihat ke arah balkon. Kalain tau apa yang di sana? Ara dan pak Reno. Parahnya mereka lagi pelukan!"
Keterangan dari Mira, sunggu mengundang perhatian orang-orang. Semua menatap Ara seperti ... jijik. Apa lagi saat Mira memperlihatkan foto itu, di mana pak Reno dan Ara sedang berpelukan di balkon. Bahkan mereka vidio, juga.
'Ini benar? Bukan editan?'
'Gue enggak nyangka, sih.'
'Apa mereka emang ada hubungan, spesial?'
'Ish, masa Ara mau jadi jal*ng? Padahal dia 'kan kaya.'
'Dan masa pak Reno nyewa, jalang?'
Banyak lagi bisik-bisik yang tak enak di dengar, sunggu itu membuat telinga Ara , Risa , dan Tania panas. Beda halnya dengan Nirma dan Mira, mereka tersenyum kemenangan.
Risa sibuk menutupi baju Ara, sedangkan Tania masih menahan emosinya agar tidak meledak.
"Pake jaket gue aja nih, baru di cuci kemarin. Dijamin, engggak bau kok," ucap Zaki, menyodorkan jaketnya.
"Thanks, Zak," ucap Risa, dan memakai 'kannya ke Ara.
"*Masih, mau ngelak? Jelas-jelas foto dan vidio itu, asli! Ternyata ada jal*ng yang berkeliaran di kampus, ck!" cibir Mira*.
Plak!
Satu tamparan mendarat mulus ke pipi Mira, itu dilakukan oleh Risa, yang sudah ikut emosi.
"Maksud lo apa,ha?! Enggak ada jal*ng! Ara bukan jal*ng!" sentak Risa, dengan nafas tak beraturan.
Jangan tanyakan keadaan Ara, sekrang dia menunduk sambil menangis. Mungkin ini salah satu gejala, hormon kehamilannya. Hal sedikit saja, akan membuatnya sensitif.
"Mau belain temen lo?! Jelas-jelas kita ada bukti. Atau kalian juga tau dari awal, tapi mau nutupin?!"
Sudah cukup, emosi Tania sudah di ujung tanduk. Saat ingin melayangkan tamparan, tangan pak Gino yang entah dari mana datangnya, langsung menangkapnya. Di sertai gelengan kepala, bertanda 'jangan', saat Tania berbalik menatapnya.
"Ada apa, ini?" Tak ada jawaban, pak Gino melihat ke arah Ara kemudian melirik dan mengambil foto yang tergeletak di atas meja.
"Ini ada, apa?" ulang pak Gino.
"Kenapa semua, diam? Bisa jelaskan?!" Intonasi suara pak Gino, naik beberapa oktaf.
"Masa mereka bilang kalau Ara jal*ng, Pak!"
"Memang dia jal*ng! Mereka enggak ada hubungan apa-apa, dan serumah bareng!" ucap Nirma.
"Dan pelukan. Dia, apa kalau bukan, jal*ng?!" lanjut Mira, menatap penuh benci ke arah Reya, yang masih tertunduk menangis.
"Tidak seharusnya kalian mengumbarnya, di tempat seperti ini! Kalian berpendidikan, kenapa ke 'kenak-kanakan gini?!"
"Biar semua orang tau, kalau dia ...." Mira menggantung ucapannya.
"Jalang!" seru Nirma dan Mira bersamaan.
Dada Ara semakin sesak, sunggu. Sekarang dia sesugukan. Tania yang melihat itu, langsung memeluk Ara. Bagaimana 'pun, saat ini Ara sangat sensitif.
__ADS_1
Pak Gino diam sesaat, melirik ke sana-ke sini seperti mencari sesuatu. Saat objek yang dicarinya terlihat, pak Gino menghela nafas. Ya, yang ditunggunya adalah pak Reno. Sebelum sampai di sini dan menangkap tangan Tania, sudah lebih dulu dia menghubungi pak Reno untuk datang.
Bisik-bisik semakin menjadi, saat mereka melihat pak Reno yang datang sambil berlari. Tampak guratan wajah khawatir dan ... marah, entahlah.
"Untung, lo datang cepat," ucap pak Gino, sedikit kecil. Tanpa mengucap sepatah kata 'pun, pak Reno langsung menghampiri Ara.
"Ada pak Reno, Ra," bisik Tania, melepas pelukannya. Ara mendongak dengan mata sembabnya.
Pak Reno mengepalkan tangannya, meredam amarahnya agar tidak terjadi sekarang. Dalam hitungan detik, dia langsung menarik dan memeluk Ara . Jantungnya berdekup kencang, sunggu dia sangat khawatir terjadi sesuatu dengan istri dan ... calon anaknya.
Sudah tau kan, apa yang terjadi? Yap, pastinya semua orang langsung terdiam, terbengong dengan wajah bertanya bercampur tidak percaya. Bukan hanya mereka, tapi pak Gino, Tania, dan Risa juga ikut kaget. Tidak duduga sebelumnya, akan seperti ini akhirnya.
"Kamu enggak apa-apa, kan? Mereka enggak ngapa-ngapain, kamu? Mana yang, sakit?" tanya pak Reno berurutan, sambil menghapus air mata Ara.
Pak Gino berjalan mendekat, dan berbisik, "Lebih baik kalau lo bongkar sekarang, deh."
"Tapi Ara ‐‐"
"Semua udah terjadi, apalagi tadi lo meluk dia. Makin timbul gosip yang jelek kalau, enggak lo klarifikasi sekarang." Pak Reno mengangguk, dan kembali menatap Ara.
"Ris ada apa sih sebenarnya?" tanya Zaki.
"Apa yang di bilang mereka ben‐‐" Perkataan Thiar terhenti, tepatnya terpotong oleh Tania.
"Ya enggak lah, mereka itu suami istri!"
"Ha?!" pekik semua yang mendengarnya. Tania yang menyadari mulutnya yang sangat ceplos, langsung menutupnya dengan tangan.
"S--suami istri?" tanya Galih.
"Benar? Suami istri?" tanya Zaki.
"Mereka suami istri?" lanjut Thiar bertanya, juga.
"Yang bener?" sambung Bara juga.
"S-suami is-istri?" tanya Nirma gugup.
"Benar, Pak?" tanya Bara.
Pak Reno mengangguk tegas, menatap Nirma dan Mira dengan ... tatapan dinginnya. Terakhir dia melihat Ara menangis seperti ini, saat mereka bertengkar yang berakhir kecelakaan.
"Yang perlu kalian tau! Ara memang istri saya!" ucap pak Reno, tegas.
Entah dari mana, papa Nando dan mama Dewi muncul di tengah-tengah keriuhan dan keributan itu. Yah seperti yang kalian tau, Fernando adalah Rektor di kampus ini. Yang pasti ada yang mengenalinya, atau 'pun tidak.
'Itu pak Rektor, bukan?'
'Iya, baru kali ini gue lihat langaung sih. Biasanya cuma lihat di foto-foto mading.'
'Gaswat, kenapa munculnya disaat seperti ini coba.'
'Emang kenapa?'
'Yahkan, gawat kalau sampai ada yang di keluarin atau di skors.'
'Emang salah sih, mereka.'
"Yang buat ribut siapa, ini?" tanya papa Nando Sedangkan mama Dewi melirik ke arah putranya, hampir saja dia memarahi pak Reno karena memeluk wanita lain. Andai tidak dilihatnya kalau itu, wajah Ara.
"Ya ampun, Ren ! Menantu Mama kamu apakan?!" sentaknya, dan langsung mengambil alih memeluk Ara
"Bukan Reno sumpah," bisik pak Reno.
"Terus siapa?"
"Ma, tenang dulu. Kita selesain ini. Reno , bawa Ara pergi dulu, biar Papa yang ngurus," ucap papa Nando. Pak Reno mengangguk, tapi sebelum itu, lebih dulu dia melayangkan tatapan pembunuhnya ke arah Mira dan yang lainnya. Membuat suasana kantin, menjadi horor.
"Kita pergi ke ruangan, Mas," ucap pak Reno, menggenggam tangan Ara. Tapi tunggu, sebelum melangkah pergi, pak Reno melirik jaket yang melekat di tubuh Ara.
"I--itu punya saya, Pak. Pakein aja, enggak bau kok," cela Zaki, yang mungkin menangkap guratan pertanyaan dari wajah sang dosen.
Tapi seakan tidak mempedulikan, pak Reno membuka satu persatu kancing bajunya, dan melepasnya. Tampak 'lah lengan kekarnya, yang hanya tertutup baju kaos warna hitam. Mata orang-orang tak pernah beralih dari aksi pak Reno, bahkan enggak berkedip sedikit 'pun.
Pak Reno melepas jaket Zaki, dan memasangkan kemejanya. "Ini, terima kasih," ucap pak Reno, menyerahkan jaket Zaki.
"Sama-sama, Pak," ucap Zaki, agak kikuk.
"Ya udah, Vano deluan Pa, Ma," pamit pak Reno, diangguki keduanya.
Selepas kepergian pak Reno meninggalkan kantin, juga meninggalkan berbagai pertanyaan di otak penghuni kantin. Seperti ... hubungan pak Reno dengan pak Rektor, apa? Benar Ara dan pak Reno, suami istri?
Ah entahlah, memikir 'kan semua itu membuat kepala mereka seakan ingin meledak saja.
Sorry for typo. 🙏
Ahiiiie, maaf kalau enggak seperti yang seperti kalian pikirkin.🤣
__ADS_1
aaf nih, kalau baru up. Ini saja buru-buru nulisnya, untungnya idenya lancar. Wkwkwk🤣🤣