
Setelah berputar dari rumah hingga ke rumah sakit, akibat ulah Marvel yang ternyata kata pak Satpam, Marvel sudah membawa Dina ke rumah sakit. Alhasil, pak Gino cuma bisa medumel dalam hati, merutuki Marvel. Yang membuang-buang bensin saja.
Setibanya di sana, dilihatnya nenek Ara sudah datang. Mungkin di perjalanan tadi Marvel sudah memberi tahukan kalau mereka ke rumah sakit. Dan juga, perusahaan abang Hendra atau perusahaan Marvel itu melawati rumah sakit yang sekarang ini mereka tempati.
"Kalian datang, juga?" tanya nenek Ara, diangguki Tania dan pak Gino.
"Gimana keadaannya sekarang, nek?" tanya Tania juga.
"Air ketubannya sudah pecah, sewaktu perjalanan ke sini kata Marvel. Sekarang juga masih pembukaan 5, waktu melahirkannya mungkin masih lama. Mungkin masih ada 8 atau 7 jam lagi," ucap nenek Ara. .
"Masih lama ya, Bund?" tanya Tania lagi, sambil mengintip dari jendela yang tirainya sedikit terbuka.
"Iya, mungkin antara jam 10 atau 11 malam baru pembukaan penuh."
"Pembukaan penuhnya emang sampai berapa, nek?" Pak Gino juga bertanya, setelah beberapa saat cuma terdiam.
"Sepuluh. Itu kalau Risa sanggup menahan sakitnya sampai pembukaan sepuluh."
"Kalau kalian mau pulang, pulang saja dulu. Nanti baru ke sini lagi," lanjut bunda Hilma. Tania dan pak Gino saling pandang, lalu pak Gino melirik jam tangannya.
"Kalau gitu, kita pulang dulu, nek. Mau mandi. Nanti kita ke sini lagi," pamitnya.
***
Waktu bergilir, berganti begitu cepat bagi orang luar. Tapi tidak bagi Risa sendiri, baginya waktu itu berjalan begitu lambat. Sakit, perih, semuanya dia rasakan. Dia sudah mendengar betapa sakitnya saat orang melahirkan, tapi tidak menyangka bahwa sakitnya akan sangat se-luar biasa itu. Bahkan melampaui kata 'luar bisa' itu sendiri.
Hampir tiap menit, jam, dia merasakan sakitnya kontraksi. Jika bisa dibandingkan, sakitnya kontarksi mengalahkan sakitnya rambut yang ditarik langsung dari kepala, mengalahkan sakitnya kulit yang disayat-sayat.
Back.
Tadi orang tua Risa sudah datang, tapi sekitar 30 menit yang lalu mereka pulang untuk membersihkan diri. Sebenarnya Dira--ibunya Risa, ingin dia saja yang menjaga Risa, tapi nenek Ara menolak. Alhasil, mereka pulang saja dulu. Dan pak Gino juga Tania, sudah kembali ke rumah sakit sekitar setengah jam yang lalu.
Kencan mereka batal.
Marvel keluar saat dokter datang melakukan pemerikaaan, tampak guratan lelah di wajahnya setelah menemani Risa di dalam. Pak Gino menyodorkan botol yang berukuran tidak terlalu kecil, dan langsung diambil oleh Marvel dan meminumnya hingga tersisa setengah.
"Nek ? Sakitnya orang yang mau melahirkan, seperti apa? Aku merhatiin Risa dari tadi itu kayak ... sakit banget," tanya Marvel dengan mimik wajah meringis.
"Coba bayangkan, lengan kamu atau kulit-kulit kamu itu di sayat dengan pisau, tanpa obat bius apapun. Tidak sampai di situ, daging-daging kamu di korek-korek, dan dikelurkan. Bagaimana sakitnya, itu? Ini cuma perbandingan, atau bahkan tidak bisa dibandingkan dengan sakitnya saat melahirkan," ungkap nenek Ara, panjang lebar.
Setelah selesai membayangkan perkataan nenek Ara, seketikan Tania merinding sendiri. Bahkan membayangkan yang tidak-tidak, tentang persalinan. Membayangkan akan terjadi apa-apa dengan Risa nanti.
Amit-amit.
"Nanti, kamu masuk temani Risa melahirkan," ucap nenek , menatap Marvel
"Mar-Marvel yang m-masuk, nek ?" tanya Marvel gugup, sambil menelan selivianya.
"Iyalaaah, yakali gue yang masuk," decak pak Gino.
"Ya tau, tapi 'kan ... nenek tau kalau Marvel fobia lihat darah. Kan kata orang-orang kalau orang melahirkan itu, keluar dar—"
"Apa-apa? Lo fobiah darah? Seorang Marvel fobiah darah? Tapi kok, gue enggak pernah tau?" potong pak Gino, dengan berbagai pertanyaan. Marvel sendiri mengatup mulutnya, rahasia yang selama ini dia tutup rapat-rapat, sekarang terbongkar akibat mulutnya sendiri.
"Buk-kan. It-itu ... khem, i-iya emang g-gue takut darah," jawab Marvel dengan wajah meringis malu. Apalagi jelas dilihatnya, Gino maupun Tania membekam mulutnya agar tawa mereka tidak meledak.
"Sorry-sorry, haha. Gue enggak maksud ketawa, tapi ini ... haha. Sumpah ya, berapa tahun kita temenan? Kenapa rahasia sebesar ini enggak gue tau?" Pak Gino masih saja susah menahan tawanya.
__ADS_1
"Aib, lebih tepatnya," gumam Marvel sambil berdehem beberapa kali.
"Beneran kamu tidak tau?" tanya bunda nenek setelah terdiam memperhatikan putranya dibully.
"Seratus persen enggak tau, nenek. Kenapa bisa gitu, nek?" tanya Gino, yang mulai kepo.
"Dari kecil .... Eh, jadi siapa yang masuk?" nenek Ara mengalihkan pembicaraan, ketika teringat kembali dengan keadaan menantunya.
"Tapi nek ...." Marvel menampakkan wajah memelasnya, berharap dikasihani.
"Gampang, Vel Lo tatap muka Risa aja terus, mata lo enggak usah lirik ke mana-mana. Lagian ... perasaan dulu waktu mukanya Aldi bonyok, ada darahnya juga keluar. Lo enggak kenapa-napa, tuh?" ujar pak Gino, mengungkit kejadian setahun lewat beberapa bulan yang lalu.
"Itu beda. Darahnha cuma sedikit. Darahnya orang yang melahirkan 'kan banyak, kata orang. Jadi ..." ucap Marvel , menggantung ucapannya saat pintu rungangan bersalin Risa terbuka.
"Sudah pembukaan 10, kita akan memulainya. Ibunya butuh pendamping di dalam, Bapaknya bisa masuk?" tanya suster.
Dengan memantapkan hati, pikiran, jiwa dan raga. Marvel mengangguk, dan mengikuti suster itu melangkah masuk ke dalam ruangan persalinan. Yang lainnya menunggu di luar.
Sejauh ini, belum ada tanda-tanda akan kedatangan pak Reno maupun Ara. Ya, walaupun nenek Ara bilang 'tidak usah datang, karena sudah malam.' Tapi, Ara katanya sangat ingin pergi melihat Risa. Tapi sampai malam ini, mereka belum datang-datang juga.
Mereka yang di luar ruangan, menunggu dengan cemas. Tidak tau bagaimana keadaan di dalam. Orang tua Risa barusan sudah dihubungi, mereka dalam perjalanan kembali ke rumah sakit.
Sedangkan di dalam ruangan bersalin ....
"Ibu mengejan lebih kuat lagi ya, Bu? Ikuti kembali intruksi, saya," ucap Dokter yang membantu persalinan Risa.
Marvel sedari tadi memejamkan mata, berdoa dalam hati. Dia benar-benar tidak berani melirik ke sana ke mari. Apalagi mendengar rintihan Risa yang begitu membuatnya kalut. Kalau saja bisa, dia ingin sekali menggantikan posisi Dokter itu. Anggap saja dirinya kalut, cemas, khawatir, panik, serta greget.
"Ibu tarik nafas ... lalu buang. Saya hitung sampai tiga, hitungan ketiga ibu mengejan lebih kuat lagi." Mengikuti saran sang Dokter, Dina mengejan sesuai intruksi.
"Lagi, Bu!"
"Terus, Bu. Tinggal sedikit lagi, terus dorong, mengejan," ucap Dokter, kembali mengintruksi.
"Saya udah ... enggak kuat, Dok," lirih Risa mengeratkan pegangan tepatnya cengkraman di tangan Marvel.
"Kamu kuat, Ris. Jangan nyerah, dengar kata dokter 'kan tadi? Bayinya tinggal sedikit lagi keluarnya? Lebih semangat, Sayang. Bayangin, kalau nanti anak kita lahir. Wajahnya yang imut, tingkahnya yang lucu. Dan kita bisa ngebangun keluarga kecil kita dengan anak kita nanti. Terus berjuang, ya?" Keral menyemangati, menatap dalam mata Risa penuh harap dan mohon, disertai senyuman manis untuk meyakinkannya.
"Tapi aku udah enggak bisa ... aaaakh. Tolong nanti kalau aku ... huuhh, meninggal. Tolong kamu jangan ... aaaaakkh, nikah lagi! Huuhh."
"Jangan ngomong ngelantur, Ris. Kamu pasti bisa, kamu pasti selamat, kita bisa bahagia dengan anak-anak kita nanti. Kamu pasti kuat!" ucap Marvel lembut namun terdengar memaksa. Dia tau itu cuma ucapan ngelantur Risa, namun matanya benar-benar ingin menangis.
"Jawab iya atau ... ssh aaakh, enggak?!"
"Iya, aku enggak bakal nikah! Aku bakal ngerawat dan mendidik anak kita sendiri! Tapi kamu juga harus kuat, Risa! Aku—"
"Dorong lagi, Bu! Kepalanya sudah kelihatan. Lebih kuat lagi, Bu!" Suara Dokter itu, memotong ucapan Keral. Seakan tak mengingat jika dirinya takut dengan darah, Marvel Menatap ke arah Dokter dan berganti menatap Risa.
"Semangat, Sayang. Bayi kita udah mau melihat dunia, kamu harus kuat!"
"Terus dorong, Bu. Terus."
Terus-terus, sampai nambrak sapi. Eh.
"Sedikit lagi Bu, sedikit lagi."
"Aaaakhh ...."
__ADS_1
"Oeee ... oeee ...."
Suaranya emang gitu, ya?
"Alhamdulillah, bayinya selamat," ucap sang Dokter, juga suster.
"Alhamdulillah, anak kita selamat, Sayang. Kamu juga selamat. Kamu hebat. Terima kasih sudah berjuang," ucap Marvel, lalu mengecup kening Dina, yang bercucuri keringat.
Kayak ada asin-asinya gituloh.
Marvel bimbang, ingin melirik ke arah anaknya tapi ... darah? Oh, sepertinya dia tak sanggup. Kalau nanti dia tiba-tiba pingsan atau paling tidak dirinya mual? Mau di taro mana mukanya? Tidak mungkin dia menaruhnya di panji, bisa-bisa jadi sup.
"Bayi normal, berjenis kelamin laki-laki. Lahirnya pukul 11 lewat 15 menit, tanggal 22 februari. Selamat ya Pak, Bu," ujar sang Dokter.
Berbeda dengan suasana kebahagiaan di dalam ruangan, di luar ruangan sendiri mereka masih cemas. Tapu mendengar tangisan bayi tadi, cukup mengurangi rasa khawatir dan cemas mereka.
"Ren, ada gosip."
Pak Reno dan Ara baru tiba sekitar lima menit yang lalu, tanpa Kenzo dan Kiano. Tidak mungkin juga 'kan kalau mereka membawa keduanya? Secara ini sudah larut, sedangkan mereka masih sangat kecil? Masalah terlambatnya mereka dikarenakan, Kenzo dan Kiano yang kompak rewel. Kenzo yang ingin terus digendong oleh ayahnya, sedangkan Ki yang selalu ingin nempel di Ara. Alhasil, mereka berdua harus menunggu keduanya tertidur, dan menitipkannya ke mama Dewi.
Pak Reno melirik pak Gino, dengan senyum miring. "Sejak kapan Anda suka bergosip?" tanyanya dengan nada mencibir.
Pak Gino menggeplak lengan pak Reno, tidak tahu saja dia kalau gosip yang dibawakannya itu bukan gosip sembarangan.
"Mau dengerin, kagak?"
"Kalau Anda cerita, saya dengarkan. Tapi kalau Anda tidak cerita, apa yang bisa saya dengar?"
"Nyenyenye ..." gerutu pak Gino, yang cuma disambut kekehan pak Reno.
"Ya sudah, apa?" tanya pak Reno. Sebenarnya dia juga penasaran, gosip apa yang akan diceritakan si anti gosip itu?
"Gak jadi," cetus pak Gino, dan juga mendapat geplakan dari pak Reno, tapi bukan di lengan, namun di kepalanya langsung.
"Ngomong yang bener, kek!"
"Anda mengesalkan, duluan!"
"Elleh, Anda sangat baperan seperti wanita yang baru kena puber," cibir pak Reno, memilih kembali fokus ke ponselnya.
"Marvel takut darah," ujar pak Gino, tanpa menatap orang yang diajak berbicara.
"Gosipnya cuma itu?"
"Hmm."
"Oh."
Yah, begitulah jika orang dingin dengan dingin berbicara.
To be continued.
Sorry for typo. 🙏
Sekian banyaknya part, baru kali ini saya tau yang ditakuti Marvel. Ternyata dia takut darah everybody!
Pak Reno takut sama hamster. Padahalkan itu lucu•_•
__ADS_1
Keral taku sama darah. Padahal darah enggak ngapa-ngapain dia°_°
Pak Gino takut ... apa kira-kira? Mungkin, takut ditinggal pergi sama cicak yang selalu setia membuang hajat di sudut kamarnya.