
"Akh,kepala ku pusing"Ara merintih dan memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing,karena menghirup terlalu banyak obat tidur yang di taruh di hidung nya oleh Yuki
Cklek
Pintu terbuka lebar dan menampakkan beberapa orang yang berniat untuk mencelakai Ara yaitu Yuli,Yuki dan Beberapa anak buah Alex Ferguson.Ara melihat ke arah pintu yang di buka dengan tajam
"Akhirnya kau sadar juga"Ucap Yuli. sembari mendekati Ara yang sedang di ikat di sebuah kursi dengan ikatan yang sangat kuat sehingga membuat lengan dan kaki Ara memerah akibat ikatan yang begitu kuat
"Emmm..eemmm(lepaskan aku)"Ara kesulitan untuk berbicara karena mulut nya yang sedang di lakban dengan lakban yang berwarna hitam(ga tau namanya) di
"Kau bicara apa?"tanya Yuli sambil mengerutkan keningnya
"Ah,,,,aku lupa, mulut mu kan sedang di lakban hahahahahah"sambung Yuli dan di akhiri dengan tawa jahat nya dan.
SREK.
Yuli menarik lakban yang ada di mulut Ara dengan kasar sehingga membuat kulit yang ada di sekitaran mulut Ara memerah
"Akh,APA YANG KAU LAKUKAN"Rintih Ara sembari membentak Yuli
Plak
Yuli menampar Ara dengan sangat keras dan membuat pipi Ara memerah.
"Beraninya kau membentak ku"geram Yuli sembari menarik kuat rambut Ara
"Akh, lepaskan tangan kotor dan busuk mu itu dari rambut ku yang wangi dan halus"ucap Ara sembari menggigit tangan Yuli dengan kuat sehingga membuat tangan Yuli berdarah dan melepaskan nya saat Yuli melepaskan rambut nya.
"Akh,sialan kau"Yuli kesal dan menampar Ara beberapa kali sehingga membuat sudut bibir Ara berdarah.
"Bawa kemari"ucap Yuli sembari menampung kan tangannya,Yuki pun memberikan Pistol ke pada Yuli
"A....apa yang kau ingin lakukan"ucap Ara sembari gemetaran dan keringat dingin yang mulai bercucuran membasahi pelipis nya
"Bukan kah senjata ini yang kau gunakan untuk mengancam ku?"tanya Yuli sembari mengelus elus pistol nya,Ara sudah pucat pasi
"Coba lihat wajahnya pucat hahaha"ucap Yuki sembari menertawakan Ara
"Lakukan saja Yul aku sudah tidak tahan mendengar jeritan nya hahaha"sambung Yuki dan tertawa jahat
"Yuki ap....apa maksud mu,bu....bukan kah kita teman?"Lirih Ara pada Yuki
"Cuih...gua ga bakal mau temenan sama orang munafik dan jalang kayak lu"ucap Yuki sembari menekan semua kata yang dia ucap kan.
Ara pun tersenyum simpul,Yuki yang melihat Ara tersenyum pun hanya bodo amat dan menyuruh Yuli untuk menembak nya
"Yuli cepat tembak dia hingga mati"ucap Yuki dan tersenyum penuh arti
"Baiklah,jika kau sudah tidak sabaran"ucap Yuli sembari menarik pelatuk tembak nya dan...
DOR
"Akh"Ara kesakitan karena lengan kanan nya di tembak oleh Yuli
"Ini untuk kau yang sudah mengancam ku menggunakan pistol"ucap Yuli Dan...
DOR
"Akh"Yuli menembak lengan Ara yang sebelah kiri
"Untuk kau yang sudah berani mengejek nama ayah ku"ucap Yuli dan....
DOR ....DOR
Yuli menembak kedua paha Ara dan tersenyum smirk melihat Ara yang kesakitan,dan ia mengambil sesuatu di dalam tas nya
"Yuli apa kau sudah gila"Ara terbelalak melihat gunting yang di ambil Yuli dan mengarahkan nya ke Ara
"Tidak,aku tidak gila,hanya saja aku ingin sekali membunuh mu dengan tangan ku sendiri"Ucap Yuli tak lupa dengan senyuman smirk nya
"Apa salah ku, sehingga kau ingin membunuh ku"tanya Ara dengan suara yang di tinggikan sehingga membuat Yuli tambah kesal dan
Gubrak
Yuli membenturkan kepala Ara ke dinding dengan keras sehingga membuat kepala Ara mengeluarkan darah
"Akh,sakit hiks hiks"Ara menangis karena sudah tidak tahan menahan sakit
"Apa kah sakit hmmm"ucap Yuli sembari mengangkat dagu Ara dengan gunting nya
"Le.... lepaskan aku"lirih Ara
"Tidak akan, sekarang bersiaplah untuk bertemu orang tuamu di neraka hahahaha"Yuli tertawa dengan sangat puas sembari mengangkat gunting nya dan ia bersiap buat menusuk Ara,namun ia sengaja melambat kan gerakan nya agar Ara merasa ketakutan.
DEKAT...
DEKAT...
DEKAT....
DEKAT..
"Kau akan menyesal Yuli"lirih Ara
"Ga usah banyak bacot,Pergilah kau ke neraka ARAAAAAA"Teriak Yuli dan ingin menusuk Ara namun tiba tiba pintu di dobrak dan sebuah tembakan mendarat di bahu kanannya
DOR
"Akh, siapa yang sudah berani menembak bahu ku"teriak Yuli dan melihat kebelakang.
"Aku yang menembak mu"ucap Marfel dengan suara dingin nya
"Mar...fel bagaimana kau bisa di sini?"tanya Yuli terkejut
"Tentu saja untuk menyelamatkan adik ku"ucap Refan tak kalah dingin nya
"Ckckck,mimpi saja,PENGAWAL"Yuli berteriak memanggil pengawal nya,namun tak ada satupun pengawal yang datang.
"Apa yang kau pikirkan,kami sudah berhasil masuk bagaimana bisa pengawal mu masih hidup"Ucap Hendra dengan tersenyum smirk.
"Yuki"Yuli memanggil Yuki,namun Yuki juga tidak datang.
__ADS_1
"Ah, seperti nya teman mu juga sudah mati"ucap Refan tanpa Rasa bersalah.
Yuli terdiam sebentar.
"Oh,jadi kalian sudah membunuh mereka semua"tanya Yuli santay
"Ya,kami sudah membunuh mereka semua"ucap Marfel tak kalah santay
"Aneh,kenapa dia begitu santay"batin Marfel bingung.
"Oh,tapi walau mereka sudah kalian habisi,kalian sudah terlambat hahahahahah"Yuli tertawa dengan sangat puas
"APA MAKSUDMU"bentak Rizal, perasaannya sudah tak enak saat mendengar kata "kalian sudah terlambat".
"Maksud ku adalah Ara adik kalian itu juga pasti sudah mati hahaha"Yuli tertawa lagi dan memperlihatkan Ara yang sudah penuh dengan darah dan juga tak sadarkan diri.
"ARAAAA"Kelima Abang Ara terkejut saat melihat Ara yang sudah sangat lemah dan tak sadarkan diri, mereka berlari ke Arah Ara,
Melihat keempat Abang Ara lengah Yuli dengan cepat mengambil inisiatif untuk melarikan diri namun dia terjatuh saat satu tembakan mendarat di betis nya.
"Akh,apa yang kau lakukan Marfel ,aku pacar mu mengapa kau menembak ku"teriak Yuli pada Marfel ,ya Marfel lah yang menembak kaki Yuli.
"Pacar??"Heran Marfel sembari berjalan mendekati Yuli.
"Ya,aku pacar mu"ucap Yuli tak tahu malu.
"Ckckck, Semenjak kau memfitnah Ara, hubungan kita sudah putus,AKU TAK SUDI MEMILIKI PACAR JALANG SEPERTI MU" Bentak Marfel berteriak di akhir kata nya.
"Mengapa kau berteriak pada ku"bentak Yuli
PLAK
"Berani sekali kau membentak ku" Marfel menampar Yuli dengan sangat keras.
"HENTIKAN Marfel ,kita kerumah sakit dulu,nanti jika Ara sudah sembuh baru lanjutkan "ucap Refan dan di angguki oleh Marfel
"Raka Riki"teriak Hendra ,Raka dan Riki yang berada di luar pun langsung masuk.
"Ada apa bos?"tanya Raka dengan Hormat.
"Bawa jalang ini ketempat Biasa"ucap Hendra dingin.
"Baik bos"Raka dan Riki pun membawa Yuli dengan kasar,Yuli tentu saja tak tinggal diam ia mencoba melawan namun tenaga nya tidak lah terlalu kuat untuk melawan Raka dan Riki di tambah lagi betis nya yang terkena tembakan
"Apa lagi yang kalian tunggu,, cepat bawa Ara kerumah sakit"ucap Hendra ,dan dengan cepat Marfel menggendong Ara ala bridal style dan membawa nya kerumah sakit tak lupa dengan Hendra ,Karfel,Refan ,dan Rizal mereka mengikuti dari belakang.
#Skip_Rumah_sakit
"Dokter, Dokter" Marfel berteriak di rumah sakit, setelah itu datang lah. 2 perawat laki laki dan Dua perempuan dan Ara langsung di bawa ke UGD.
#15_menit_kemudian
"Ara,kamu harus kuat Ara kamu kuat"batin Marfel ia mondar mandir sambil memikirkan ke adaan Ara
"Tenangkan dirimu Putra"ucap Hendra sembari memukul pelan Bahu Marfel.
Cklek
Pintu terbuka dan dokter keluar
"Tidak baik,dia kehilangan banyak darah jadi dia memerlukan kan tambahan darah, golongan darah nya AB dan masalah nya stok darah AB di rumah sakit ini tidak ada,oh ya saya lupa dia harus di operasi untuk mengeluarkan peluru yang ada di tubuh nya kemungkinan berhasil sangat kecil yaitu hanya 7%"Terang Rafael panjang lebar.
"Golongan darah saya AB,tapi untuk operasi....."Marfel ragu untuk membiarkan Ara di operasi
"Lakukan operasi nya"ucap Hendra mantap.
"Tapi kak....."ucapan Marfel terpotong
"Masih ada kemungkinan 7%,kita ber do'a saja untuk kesembuhan Ara"ucap Hendra sembari tersenyum Marfel hanya mengangguk saja meski berat baginya
"Baik kalau begitu, ikuti saya kita akan periksa dulu kesehatan mu baru lakukan transfusi darah"ucap Rafael dan berlalu pergi di ikuti oleh Marfel.
#3_jam_kemudian
Perasaan Marfel. Takut kehilangan+Khawatir+cemas capur aduk sehingga membuat nya sangat gelisah ia terus mondar mandir sambil menggigit bibir bawahnya tak lupa dengan air mata yang terus keluar,Refan sangat tau perasaan Marfel saat ini sehingga ia berdiri dan langsung memeluk Marfel tujuan nya adalah memberi semangat+kekuatanuntukMarfel, Hendra pun tak kalah khawatir namun ia tak mau memper-
lihatkan nya.
tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana dokter"tanya Marfel sangat khawatir
"Operasi nya berhasil,namun ia koma"ucap Rafael tenang
"Koma?,berapa lama dok?"tanya Marfel lagi.
"Saya tidak tahu,itu tergantung diri nya sendiri dan seberapae inginnya untuk hidup "ucap Rafael lagi kali ini dengan nada lirih.
Marfel melemas saat mendengar apa yang di katakan oleh Rafael sehingga membuat nya hampir pingsan dan terjatuh kebelakang untung nya ada Refan di belakang nya sehingga Refan dengan cepat menahan Marfel agar tidak terjatuh.
"Ini salah ku,ini semua salahku,coba saja tadi aku lebih cepat pasti Ara tidak akan seperti ini"ucap Marfel Prustasi ia me mukul- mukul diri nya sendiri, Refan pun menahan tangan Marfel agar tidak memukul tubuh nya lagi.
"Tenangkan dirimu,ini bukan salah mu....kamu sudah berusaha,ini semua salah keluarga Biadab itu"ucap Refan berusaha untuk menenangkan Marfel.
"Ini salah ku,INI SEMUA SALAH KU" Marfel berteriak dan menangis histeris
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Marfel (Tamparan nya nggak kuat ya guys)
"TENANGKAN DIRIMU MARFEL ,JANGAN MENYALAHKAN DIRIMU,INI BUKAN SALAH MU"Bentak Hendra pada Marfel ,Marfel hanya diam tak lama kemudian dia pingsan.
"Dokter apa kami boleh masuk?"tanya Rizal.
"Ya ,masuk lah,tapi jangan berisik dan membuat pasien terganggu"
ucap Rafael lalu meninggalkan tempat itu
"Bawa dia masuk"ucap Hendra ,Refan pun mengangguk dan menggendong Marfel ala bridal style,setelah masuk Refan menaruh Marfel di sofa dengan lembut lalu menghampiri Ara di tempat tidur rumah sakit (ga tau nama nya😅)
"Ara,bangun lah,apa kau tega melihat bang Marfel seperti itu,dia sangat khawatir padamu sehingga dia pingsan"lirih Hendra sembari mengelus elus kepala Ara
__ADS_1
"Ara jika kau bangun,aku akan membelikan mu es krim bila perlu orang yang menjual nya akan ku belikan, cepat lah bangun"Lirih Rizal dan memegang tangan Ara
Ceklek
Pintu di ruangan Ara terbuka dan memperlihatkan Juna yang penuh dengan keringat karena ia berlari dari parkiran menuju ruangan Ara yang berada di nomor 110 VIP
"Bos bagaimana ke adaan Ara?"tanya Juna dengan nafas yang ngos ngosan.
"Dia koma"ucap Hendra sedih.
"kau katanya mencintai Ara,lalu kenapa kau datang sangat lama?"tanya Refan sinis.
"Benar, kenapa kau datang nya lama?"tanya Hendra dingin.
"Maaf,tadi Alex Ferguson dan Anak nya melarikan diri,tapi untung saja kami berhasil menangkap nya"Juna menjelaskan mengapa ia datang terlambat.
"Cih,ganti ikatan mereka dengan rantai besi yang sangat berat"ucap Hendra dingin
"Baik"Juna menelpon Raka
"Rantai mereka dengan rantai besi yang berat"setelah itu Juna mematikan telfon nya.
"Dia kenapa?"tanya Juna saat melihat Marfel tak sadarkan diri
"Dia Syok mendengar Ara koma,jadi dia pingsan"lirih Refan ,Juna pun mengerti dan beralih menatap Ara sendu
"Sadar lah Ara,kami sangat khawatir padamu"batin Juna
"ARA"
Semua orang terkejut saat Marfel berteriak dan menyebut nama Ara.
"Hey,pelan kan suara mu"ucap Refan ketus,Marfel langsung berdiri dan menghampiri Ara.
"Apa dia masih belum sadarkan diri?"tanya Marfel lirih,dan di angguki oleh Refan.
"Cepatlah bangun sayang,aku merindukan mu"lirih Marfel dan mencium kening Ara.
Sudah satu Minggu Ara koma
dan itu tentu membuat Marfel
dan yang tambah khawatir
"Hey,apa kau masih ingin tetap tidur?apa mimpi mu terlalu indah sehingga kau tidak mau bangun lagi?,apa kau tak merindukan kami?"Tanya Marfel ,ia meneteskan air mata nya dan mengenai mata Ara.
Karena terlalu banyak menangis akhirnya Marfel tertidur di kursi samping tempat tidur Ara(ga tau nama nya apa 😂😅)
"Ara....Ara....kamu di mana dek?" Marfel terus saja memanggil Ara di sebuah tempat yang sangat indah Rumput yang hijau,bunga bunga yang warna warni,pohon pohon yang rindang,dan banyak burung,kupu kupu berterbangan
"ARAAAAAA" Marfel berteriak memanggil Ara.
"Jangan berteriak Abang,Ara di sini" Marfel yang mendengar Suara Ara pun mencari
keberadaan nya dan ia menemukan Ara di sebuah kursi panjang
"Ara kamu di sini?Ayo pulang kau sudah lama tidak pulang"ucap Marfel sembari menarik tangan Ara, namun Ara tak bergerak
"Tidak,Ara tidak mau pulang ke rumah,Ara mau nyusul ibu sama ayah aja di surga"ucap Ara sembari melepaskan tangannya dari Marfel.
"Tidak,kau belum boleh pergi ke surga"ucap Marfel sembari memegang tangan Ara.
"Ara mau sama ibu dan Ayah aja"ucap Ara sembari melepaskan tangannya dari Marfel dan pergi.
"ARAAAAAA"Marvel berteriak memanggil Ara yang sudah lumayan jauh
"Daaaaaaa,bang Marfel "ucap Ara sembari tersenyum dan tiba tiba tubuh Ara menjadi transparan lalu menghilang...
"ARAAAAAAAAAA"Marfel terbangun dari mimpinya nya sambil berteriak menyebut nama Ara.
"Iiiiis,apa an sih bang,bangun bangun langsung teriak,Ara ada di sini ga usah teriak teriak"ucap Ara kesal.
"Hah,Ara ini bukan mimpi kan"ucap Marfel tak Percaya sembari menampar nampar pipi nya pelan.
Plak
Ara menampar Marfel dengan kuat sehingga membuat Marfel meringis .
"Apa an sih Ra,main tampar tampar aja"ucap Marfel Marah
"Ma...maaf"ucap Ara sembari menunduk, melihat Ara menunduk pun Marfel langsung memeluk Ara dengan erat
"Ara, akhirnya kamu sadar juga,aku sangat merindukanmu"ucap Marfel sembari tetap memeluk Ara dengan erat,Ara pun mendorong Putra.
"Abang apa apa an sih,Abang mau meluk apa mau membunuh erat bener pelukan nya,sesak tauk"ucap Ara sembari memanyunkan bibirnya
"Kapan kamu sadar Ara?,kenapa ga bangunin Abang?,kalian Jugak kenapa ga bangunin bang Marfel "ucap Marfel kesal,karena saat Ara sadar tak ada yang membangun kan nya dari tidur
"Tadi Ara mau bangunin tapi bang Hendra ngelarang,katanya biarin aja Marfel tidur kasihan dia udah satu Minggu ga tidur"ucap Ara polos.
"Oh..."ucap Marfel hanya ber Oh ria saja,karena ia masih kesal, melihat Marfel kesal Ara pun berniat menjahili Marfel.
"Bang Marfel ,kata bang Hendra kemarin waktu Ara koma ada yang Syok terus pingsan ya?"tanya Ara dengan muka yang menunjukkan raut tidak tau.
"A...aa...enggak kok gak ada yang Syok terus pingsan"ucap Marfel merona.
"Terus muka Abang kok merah?"tanya Ara berpura pura tidak tahu,padahal sebenarnya ia tahu bahwa Marfel sedang malu.
"Aaaah...pa..panas...ya udaranya panas makanya merah"ucap Marfel Gugub
"Panas???tapi kan AC di sini idup bang"ucap Ara lagi
"A...anu..itu"ucap Marfel Gugup
"hahahahahah,muka bang Marfel lucu banget hahahahahah"Ara tertawa puas melihat ekspresi wajah Marfel yang gugup, menurut nya ekspresi wajah Marfel yang gugup plus memerah sangat lucu.
"Ara mah"ucap Marfel sedih, melihat Marfel yang sedih membuat Ara merasa bersalah
"Abang jangan khawatir lagi,Ara udah sembuh kok,dan makasih ya udah sayang banget sama Ara dan Khawatirin Ara"Ucap Ara sembari memeluk Marfel ,Marfel pun membalas pelukan Ara dengan hangat
👋🙋Haii readers,
__ADS_1
Semoga suka ya cerita nya,
Tinggalkan jejak. dan koment bawelnya.