Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 108. Kepergok Gino


__ADS_3

Pancaran sinar matahari yang terik, menembus masuk melewati jendela dan gorden. Tapi itu tidak mampu membangunkan kedua manusia, yang masih berada di alam bawah mimpinya.


Sekarang sudah pukul 7:10, sepertinya aktivitas semalam akan membuat mereka terlambat ke kampus. Suara getaran ponsel milik Ara yang tergeletak begitu saja, di atas meja membuat sang pemilik menggeliat kecil, bersamaan dia mengerjapkan matanya.


Ara meraba-raba meja, untuk mengambil ponselnya. Setelah mendapatnya, Ara sedikit menyipitkan matanya saat terkena sinar kayar hp. Tertera nama 'Risa ' dengan emoticon 'tengkorak' di sana. Ara menggeser tombol berwarna hijau.


"Halo," ucap Ara dengan suara seraknya.


"Astaga Ara ! Lo baru bangaun? Udah jam berapa sekarang, ha?! Lo abis bangun dari tidur, atau bangun dari koma? Udah siang Raaaaa! Cepetan mandi, kita tunggu di parkiran. Bay." Setelah mengoceh, Risa langsung mematikan teleponnya. Ara tidak terlalu ambil pusing karena suara melengking Risa yang begitu sangat nyaring, karena apa? Ara sudah lebih dulu menjauhkan ponselnya sebelum, Risa mengoceh.


Ara meregangkan tangannya, masih dengan mata yang menyipit, Ara melihat jam ponselnya. Awalnya matanya cuma mengerjap santai, hingga dia tersadar dengan angka jam sekarang ini.


"Mampus!" Saat bangun, Ara merasakan area kewanit**nnya sakit, atau selangkangnya. Sepertinya Ara sedari tadi tidak sadar akan dirinya saat ini, bahkan baru sekarang dia sadar. Dia memandang ngeri pakaiannya dan pakaian Reno yang berserakan di lantai.


"Seriusan semalam gue lakuin gitu? Enggak apa-apa juga kali Ara , dia itu suami sah lo. Jangan lebay gini plis," gumam Ara dengan menggetok-getok kepalanya. Satu persatu bayangan kejadian semalam memenuhi pikirannya, astaga ... sepertinya nanti dia tidak akan fokus belajar.


Eh tunggu ... belajar?


Astaga, Ara melupakan itu. Harusnya sekarang dia sudah ada di jalan, ini masih ada di tempat tidur. "Mas bangun, kita udah telat!" Ara mengguncang-guncang bahu Reno, hanya sekitar beberapa detik. Reno sudah membuka matanya, dengan senyuman manis yang sangat manis bagi Ara.


'Astaga sadar Ara, lo telat!'


"Kita udah telat Mas, bentar lagi jam masuknya buk Hermawan. Mampus, kenapa hukum nanti!" ucap Ara dengan berusaha berjalan, dengan selimut yang menutupi badannya.


Reno terkekeh, dengan cara Ara yang berjalan ke susahan. Bukannya bantuin, malah di ketawain. Padahal dia yang sudah membuat Ara seperti itu. Hanya menggunakan box*rnya, Reno bangun menghampiri Ara .


"Kalau mau di bantuin, bilang aja, enggak usah sungkan." Dengan santainya, Reno mengangkat tubuh Ara . Membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas mau ngapain?"


"Mandi."


"Jangan! Di kamar mandi lain, Mas mandinya!"


"Kenapa memangnya, Ra? Kita udah telat loh," ucap Reno enteng.


"Justru itu, Mas di kamar mandi lain ajalah."


"Mandi aja, Mas enggak lihat," ucap Reno sambil membelakangi Ara


"Benar?"


"Hmm."


"Jangan ngintip!"


"Enggak. Kalau gini terus, bisa makin telat Ara. Mas enggak tanggung jawab kalau sampai kamu di hukum."


Setelah itu, keduanya benar-benar mandi tanpa merocoki satu sama lain. Sebenarnya ingin menjahili Ara , tapi keadaan tak mendukung.


Selesai mandi dan memakai pakaian, Ara menyisir rambutnya. Seketika dia menelan ludah kasar, serta merutuki suaminya. Di lehernya ada beberapa bekas ki*smark Reno, sunggu itu membuat Ara gelisah.


"Sudah selesai?" tanya Reno. Ara menatap pak Reno dengan menunjuk lehernya, jangan lupakan wajahnya yang di sangat kusut.


Bukannya ngasih solusi, Reno malah tertawa bagai tak punya salah. Ara meradang, lebih baik cepat-cepat dari pada harus meladeni suaminya yang menertawakannya, yang entah apa yang lucu. Di tengah-tengah sibuk memeriksa perlengkapan kampusnya, Reno menyodorkan foundation ke arahnya.


"Buat apa?"


"Itu ... buat hilang—."


"Ara sampai lupa!" Ara memekik, memotong perkataan Reno. Dengan cepat di mengambil foundation di tangan Reno, kemudian mengarah ke cermin.


"Sudah beres?"


"Mas tau dari mana emang, soal ini?"


"Hemm, google," jawab singkat Reno, dengan merapikan rambutnya.


"Tapi masih kelihatan," ucap Ara mengerucutkan bibirnya.


"Pake syal sekalian, biar enggak ada yang lihat. Atau plaster kecil."


"Plaster ... di mana?"

__ADS_1


"Tuh."


Semua sudah beres, mereka langsung pamit ke mbok Mina tanpa sarapan lebih dulu. Bagaimana ceritanya mau sarapan, kalau tinggal beberapa menit lagi, kelas Ara akan dimulai.


"Ehem. Ra , itunya masih sakit?"


"Itu apa?" tanya Ara mengerinyitkan dahi bingung. Sepertinya memang benar, otak Ara akan lemot di saat berbicara seputar itu.


"Lupakan."


Sesampainya di parkiran, parkiran dosen tepatnya. Bisa di lihat sudah ada Risa dan Tania yang menunggu mereka. "Ara turun dulu," ucap Ara dengan menyalimi Reno.


"Bisa jalan, kan?" goda Reno. Tanpa di minta, pipi Ara memerah. Sampai lupa kalau memang jalannya, dari dalam rumah sampai masuk ke dalam mobil, persis seperti orang pincang atau seperti habis keseleo.


"Jangan ledekin, Mas juga yang buat Ara seperti ini," ucap Ara menatap kesal, gemes, apa lagi malu. Reno berdehem sok cool.


"Ya udah, Ara turun dulu."


Benar saja, jalan Ara persis orang sakit kaki. Itu semua tak luput dari perhatian kedua temannya. Sedangkan Reno pamit deluan, di angguki mereka bertiga.


"Lo abis jatuh Ra?" tanya Tania. Ara menggaruk kepalanya, bingung.


"Ah nantilah bahas gituan, kita ke kelas sekarang. Lima menit lagi, bakal masuk buk Hermawan," sela Risa , menarik tangan Ara.


"Lo beneran habis jatuh Ra?"


"Nah, lo penasaran juga kan?" ucap Tania.


"Buka-bukan gitu, tau kan kalian kalau gue di larang lari?" tanya Ara berusaha mencari alasan.


"Iya sih, tapi—."


"Nanti lah bahas ginian, katanya udah telat. Ngapain tinggal ngegosip," ucap Ara sedikit mengalihkan pembicaraan.


"Benar juga, bisa kena hukum kita kalau keduluan buk Hermawan," ucap Tania. Dan mereka bertiga mulai berjalan cepat, ya walau Ara agak kesusahan, tapi itu semua demi tidak mendapat hukuman.


Yah, usaha memang tak menghianati hasil atau hasil yang tak menghianati usaha mereka. Sampai di kelas dengan selamat, walau mendapat tatapan aneh dari para penghuni kelas.


Kelas selesai, sekarang mereka berada di perpustakaan, mencari buku yang di sebut buk Hermawan tadi untuk, bahan referensi.


Di tengah-tengah kesibukan itu, Tania kembali teriangat dengan cara jalan Ara tadi.


"Beneran habis jatuh lo, Ra ?" Ara menghentikan aktivitasnya, menatap Risa dan Tania bergantian.


"Tapi gue lihat, orang keseleo'pun enggak kayak gitu jalannya," ucap Risa.


"Sebenarnya ini rahasia, sih. Enggak seharusnya gue bilang," ucap Ara sambil kembali mencari buku.


"Ya ampun, jangan bilang lo abis gitu-gituan? Bener Ra?" tanya Tania, dengan tampang menyelidik.


"Gitu-gutuan?" tanya Risa , "asaga, betul lo abis gituan?"


"Kenapa pada heboh sih, emang salah kalau gue abis gitu-gituan? Kan sama suami sendiri juga," ucap Ara dengan sangat menanggung malu.


"Gimana rasanya?"


"Pak Reno mainnya gimana?


"Pak Reno mainnya, lembut atau kasar?


"Awalnya kejadian begitu, kayak gimana ceritanya?"


"Pak Reno yang minta atau lo?"


Ara menganga, pertanyaan yang tidak pernah di sangka-sangka dirinya sebelumnya. Ternyata temannya punya pikiran yang sudah tercemar.


"Bisa diam gak?! Kita lagi di perpus!" peringat Ara , mereka berdua cuma cengengesan.


"Lo udah enggak **** lagi, sekarang nih," goda Risa .


"Lo tunggu aja, lo juga bakal kek gue dalam waktu dekat. Abang gue serius tau mau nikahin lo," ucap Ara.


"Sekarepmu kalau ngomong! Tapi kalau iya ... enggak papa sih," kata Risa dengan memegang kedua pipinya.

__ADS_1


"Dih, ngehayal lagi tuh," ucap Tania menatap malas temannya.


"Lo kapan, Tan?" goda Ara.


"Apanya kapan? Kan gue udah bilang, mau nyeleseain S2 gue dulu. Baru kepikiran buat cari pasangan atau nikah," ucap Tania sambil menduduk 'kan dirinya.


"Ke tuaan Tan. Tapi ya ... kita pasti dukung," ucap Risa.


"Tapi kalau emang udah jodoh, gimana?" tanya Ara, ikut menduduk 'kan dirinya di samping Tania.


"Kalau emang jodoh ... hmm, enggak tau lah. Yang jelas gue mau selesain S2 dulu," ucap mantap Tania.


"Semoga tercapai. Udah pada ketemukan? Kita keluar yuk," ajak Risa.


"Ayo."


Saat berjalan beberapa langkah dari perpus, ada yang memanggil Ara. . Menyuruhnya ke ruangan pak Reno.


Sesampainya di depan ruangan pak Reno, Ara mengetuk pintu, sahutan dari dalam yang menyuruhnya masuk.


"Ada apa, Pak?" tanya Ara dengan formalnya.


"Sudah makan?" tanya Reno balik.


"Belum, tadi abis dari perpus," ucap Ara.


"Belum makan sama sekali? Tadi pagi kamu enggak sarapan Ra." Reno menarik Ara untuk duduk di sampingnya.


"Mas juga sama kan? Belum makan apa-apa?!"


"Mas 'kan udah terbiasa," jawab Reno.


"Sama aja."


"Mas suruh Gino beliin dulu."


"Emang mau?"


"Siapa yang bisa nolak perintah, Mas? Selain istri Mas sih," ucap Reno, membuat Ara tergelak. Memang tidak bisa di pungkiri, dia memang kadang membantah perintah Reno.


"Pinjam hp Mas, dong."


"Ambil aja," ucap Reno dengan mencuri ciuman di bi*ir Ara , membuat sang empu menatapnya tajam.


"Pinnya masih sama?"


"Iya."


Ara mulai membuka pinnya, pertama-tama dia langsung ke aplikasi whatsapp. Tidak ada yang penting, cuma berisi pesan dari kologe bisnis, karyawan yang punya jabatan, atau dari teman-temannya.


Ara beralih ke galeri, dia menggeser satu persatu foto di situ. Dia berhenti di foto sebuah orang terbaring dan satu orang lagi yang menangis. Dan yah, itu fotonya sewaktu masih terbaring tak sadar di rumah sakit, dan yang satu lagi itu ... pak Reno. Entah siapa yang iseng mengambil gambar itu.


"Liatin apa, sih?"


"Enggak lihat apa-apa, cuma ini ...." Ara memperlihatkan foto itu, Reno menahan senyumnya juga menahan malu pasti.


"Dapat dari mana?"


"Ya di hp Mas, lah. Di mana lagi coba," ucap Ara terus menggeser, melihat semua foto di situ.


"Perasaan Mas enggak pernah simpan sama lihat," ucap Reno dengan melingkarkan tangannya di pinggang Ara.


"Bagaimana mau lihat, kalau Mas aja jarang bukan galeri," ucap Ara. , "lepas Mas, nanti ada yang lihat!"


"Enggak bakal," ucap Reno, dengan membalik 'kan badan Ara menghadap ke arahnya, dengan hitungan detik. Bi*ir mereka sudah saling berpangutan lagi.


Tapi kegiatan itu tidak terlalu lama, karena suara pintu yang terbuka begitu saja, bersamaan dengan suara orang yang masuk.


"Ini makan-an—, gue enggak lihat! Makanannya gue taro di sini, gue keluar." Pak Gino bagai orang yang kepergok warga saat maling ayam, dia langsung keluar setelah meletak 'kan makanan di meja.


Mereka berdua saling pandang, kemudian tertawa hambar.


Sorry for typo. 🙏

__ADS_1


__ADS_2