
Ini salahku, andaikan aku tidak mengandalkan emosi sesaat. Mungkin ini tidak akan terjadi ... maaf.
~Reno.
Reno memandang nanar, punggung Ara yang berjalan menjauh dari tempatnya berdiri
Ara menghampiri mbok Mina yang lagi sibuk mencatat sesuatu.
"Lagi ngapain Mbok?"
"Astaghfirullah!" mbok Mina berjingkrat kaget, pulpen yang di pegang nya terjatuh ke lantai.
"Eh. Maaf Mbok, Ara kira Mbok gak bakal kaget," ucap ARa merasa bersalah.
"Ndak apa-apa 'Non. Memang Mboknya saja yang sedikit-sedikit kaget," ucap mbok Mina terkekeh.
"Lagi ngapain?"
"Ini lagi nulis bahan dapur yang sudah habis, rencananya Mbok mau keluar beli."
"Gitu ya? ARa ikut, boleh Mbok?" tanya Ara , sepertinya rasa laparnya sudah hilang.
"Boleh. Tapi izin dulu sama." Mbok Mina mengode. ARa mengikuti lirikan mbok Mina, dia menghembus 'kan nafas kasar. Dan pergi ke arah Reno yang berdiri di tangga.
" Ara mau keluar sama Mbok mina," ucap ARa. Mbok Mina yang mendengar itu terkekeh pelan, itu bukan meminta izin tapi memberi tahu.
"Mbok! Ara kesana dulu ya ... mau beli ice cream. Mbok duluan saja, nanti Ara nyusul," ucap Ara
"Yasudah. Hati-hati Non." Ara mengangguk.
Ara berjalan, tanpa melihat kanan kiri.Ara langsung menyebrangi jalan. Tapi saat ditengah jalan, ada mobil yang melintas dengan kecepatan penuh. Lalu ....
Bruk ...!
" Araaa!" Itu bukan teriakan mbok Mina, melain 'kan teriakan Reno. Yang dari tadi mengikuti mereka, walau 'pun sedang marahan. Tapi tetap, jiwa protektif dan posesifnya tetap ada.
Oke ... back to topic.
Ara tertabrak mobil, dan terpental cukup jauh dari tempatnya ditabrak. Sedangkan mobil yang menabrak, melarikan diri. Sekujur tubuhnya berlumuran darah. Dengan lemas, Reno berlari menerobos orang-orang yang sedang berkerumun.
"Ra... Ara bangun!" Sesak terasa dalam dadanya.
Dengan gemetar, Reno memangku kepala Reya yang berlumuran darah. Di situ juga ada mbok Mina yang pingsan, karna syock.
"Sayang bangun! Kamu harus kuat, bangun ya." Mata Reno berkaca-kaca.
"Dek bangun! Mas minta maaf! Sayang, maaf-fin Mas. Bangun Ra!" Reno terus menepuk dan mengguncang wajah dan tubuh ARa. Tapi Na'as, tidak ada pergerakan dari ARa.
Entah dari mana dan siapa yang menelpon Ambulance. Mobil ambulance sudah ada disana, dengan dua brangkar yang diturun 'kan dari mobil.
Dengan sisa tenaga, Reno di bantu petugas ambulance mengangkat tubuh ARa. Sedang 'kan brangkar yang satu, untuk mbok Mina yang belum sadar 'kan diri. Reno ikut di ambulance yang dinaiki Ara.
Tidak henti-hentinya dia meracau, menyuruh Ara bangun. Sedang 'kan petugas ambulance sibuk memberikan pertolongan pertama sebelum sampai di rumah sakit.
'Dokter mungkin salah, jangan terlalu merasa bersalah.' Itu kata mereka, semata-mata hanya untuk menguatkan diriku. Yang telah lalai menjaganya, aku tak pantas di anggap suami ... suami macam apa aku, yang membuat istri sendiri terbaring lemah, bahkan dokter memfonis nya akan ... amnesia.
~ Reno.
Sesampainya di rumah sakit, dengan baju yang ikut di terkena darah. Reno ikut mendorong brangkar Ara, dengan mata yang terus berembun. Sampai di depan ruang 'UGD'.
"Maaf Pak, Bapak tidak boleh masuk," intrupeksi salah satu perawat itu.
"Saya harus masuk, istri ... istri saya__."
"Saya tau Pak, tapi tetap Bapak tidak boleh masuk. Mohon pengertiannya," ucap perawat itu, dan menutup pintu.
Tinggal di luar Reno mengepalkan tangannya erat, dengan nafas memburu yang di keluarkan dari mulutnya. Dengan mata yang sudah berair.
"Akhhh!" teriak Reno guna mengeluarkan sesak di dadanya, sungguh itu sakit dan sesak. Sampai tidak sadar sedang menjadi pusat perhatian, karena teriakannya.
Reno terkulai ke kursi, dengan menunduk. Bahunya bergetar, bisa di tebak kalau dia sedang menangis. Hingga seseorang menepuk pundaknya, Reno berbalik dan mendongak. Itu Marvel .
"Kenapa bisa, begini?" tanya Marvel dengan wajah sayu nya.
Reno menggeleng. "Ini salah gue vel ini salah gue," lirih Reno, kembali menunduk terisak.
__ADS_1
Kalian pasti bertanya, kenapa Marvel bisa ada di sini? Bahkan tidak ada yang menghubunginya. Jawabannya, memang tadi Marvel sedang ada urusan di rumah sakit ini. Saat berjalan di koridor rumah sakit, tidak sengaja Marvel melihat sosok yang mirip seperti Reno. Kemudian beralih menatap orang yang terbaring di brangkar, walau wajahnya sedikit tertutupi oleh darah. Tapi insting seorang kakak, tidak akan salah. Marvel langsung mengenali kalau itu, adiknya ... Ara .
Lantas Marvel mengikutinya, sampai di dekat ruang UGD yang ditempati Ara sekarang. Ingin sekali Marvel langsung menghampiri Reno, dan memukul atau apa ... agar emosinya selesai. Tapi saat mendengar teriakan kefrustasian dari temannya, rasa emosi itu perlahan terganti oleh rasa perih. Apa lagi saat di lihatnya dengan jelas, bahwa temannya menangis. Yah menangis, setelah sekian lama ... baru sekarang Marvel melihat temannya menangis.
Andaikan situasinya sedang senang, sudah pasti akan Marvel meledeknya habis-habisan. Tapi situasinya tidak tepat.
"Maaf, maafin gue. Gue enggak bisa jagain Ara dengan, baik," lirihnya lagi. Marvel hanya menepuk terus pundak Reno
"Gue udah hubungin semua orang rumah, mereka akan kesini," ucap Marvel dengan helaan nafas berat.
"Maaf."
"Bukan salah siapa-siapa, enggak ada yang salah Reb ," ucap Marvel
"Gue berengsek, suami macam apa gue Vell?!"
"Ga ada yang berengsek! Lo suami yang baik__."
"Yang baik? Suami baik apa, yang karena emosinya membuat istri sendiri sampai kecelakaan?! Salah, gue suami paling berengsek, Vel !"
"Hey hey, sadar bego! Enggak sepatutnya lo nyalahin diri kayak gini, harusnya lo harus tegar! Ara butuh kekuatan, penguat diri! Kalau lo terpuruk kayak gini, sama aja lo buat Ara ...." Marvel tidak melanjutkan ucapannya, malah menyandarkan kepalanya di belakang Reno, dengan sesugukan.
"Enggak ada yang salah," ucap Marvel sambil meninju-ninju kecil belakang Reno.
"Adik kamu bagaimana, Bang?!" Kedua orang yang sedari tadi sibuk terisak, langsung menoleh ke arah suara itu.
"Belum tau, nek . Dokter belum keluar," ucap Marvel dengan memejamkan mata berat. nenek terisak di dekapan suaminya juga abangnya Hendra.
Plak!
Tamparan dari mama Dewi , mendarat di pipi Reno. "Kenapa ha?! Tidak bisa kah, kamu menjaga istrimu? Kenapa selalu kejadian seperti ini, Ren?! Ara itu tanggung jawab kamu, kenapa kamu tidak bisa menjaganya!" ucap mama Dewi menggebu-gebu, Reno sendiri cuma diam tak berkutik. Ini semua memang salahnya, seharusnya dia menjaga bukannya menyakitinya.
Bodoh, kata itu yang pantas di dapat kan nya.
"Udah Ma, Reno juga kesiksa Ma. Jangan tambah buat dia sakit," ucap Marvell lembut.
"Gara-gara dia tidak bisa menjaga adikmu, Marvel . Dia sudah buat istrinya sendiri, terbaring di ruang UGD!"
"Sudah takdir bu, jangan salahin Reno seperti itu," ucap . nenek Sungguh, hati Reno semakin sakit. Di mana mertuanya tidak mau memarahinya, tidak mau menyalahkannya, jelas-jelas semua ini kesalahannya.
"Bisa ceritakan kejadiannya, Ren ? Sama gue aja, gue tau mereka semua juga pengen tau kejadiannya. Tapi lo cerita ke gue aja," ucap Marvel dengan terus merangkul Reno.
Reno menarik nafas dalam, kemudian menceritakan awal mulanya hingga Ara bisa tertabrak.
Flashback On
Beberapa jam yang lalu, di kampus....
Setelah kembali dari mengajar, Reno duduk di ruangannya dengan memeriksa tugas-tugas mahasiswa. Hingga ketukan di pintu terdengar, Reno kira itu Ara . Jadinya dia langsung menyuruh masuk.
Hingga ....
"Ren " panggil orang itu, dengan suara yang berapa hari akhir ini yang membuat hubungannya dengan Ara renggang.
Reno beralih menatap orang itu, dengan memandang datar tapi ada pertanyaan di dalamnya.
"Aku_aku kesini, ingin minta maaf secara langsung. Aku enggak bisa pergi gitu aja, setelah apa yang udah aku lakuin," ucap Anis terbata-bata.
"Apa? Kamu pergi, dan enggak pernah nampakin muka lagi depan saya, itu sudah cukup!"
"Tapi aku yang enggak tenang, Ren. Plis, aku minta maaf."
"Saya sudah memaafkan kamu, tapi silahkan Anda keluar dari sini. Karena saya tidak mau, nanti terjadi salah paham lagi dengan istri saya!"
"Terima kasih, Ren . Ap_apa boleh, aku meluk kamu untuk yang ter_terakhir kalinya?" tanya Anis gugup.
"Tidak perlu, Anda bis__." Perkataannya terhenti, saat Anis langsung memeluk dirinya.
"Anis lepas!" Tapi Anis tidak bergerak, bahkan saat Reno mendorong tubuhnya. "Balas peluk aku, Ren ! Aku enggak bakal lepas, asal kamu peluk aku juga!"
"Dasar gila kamu, Nis! Lepas gak?!"
"Enggak!" Dengan berat hati, Reno membalasnya. Tapi itu cuma sebentar, tapi walau sebentar sepertinya ... terlambat.
Kedatangan Ara yang memanggilnya, sontak langsung mendorong Anis menjauh dari tubuhnya.
__ADS_1
Flashback End
Setelah menceritakan semuanya, Reno kembali tertunduk. Marvel sendiri memandang kosong, entah apa yang di pikirannya sekarang.
Sampai dokter keluar, mengalihkan perhatian mereka semua.
"Bagaimana ke adaan anak saya, Dok?"
"Bagaimana ke adaan menantu saya, Dok?"
"Bagaimana ke adaan istri saya, Dok?"
"Keadaan adik saya bagaimana, Dok?"
Tanya mereka bersamaan, dokter itu sendiri menghembuskan nafas. "Untuk saat ini, ke adaan pasien bisa di bilang baik-baik saja. Tapi, ada yang ingin saya bicarakan. Ada yang bisa ikut ke ruangan saya?"
"Lo aja Ren " dorong Marvell, Reno mengangguk. Dan berjalan mengikuti dokter yang bernama Seno, juga abang Hendra yang ikut serta.
Sampai di ruangan dokter Seno, dia mempersilahkan keduanya duduk. Dengan meminum air putih di atas mejanya, lalu berdehem.
"Akibat benturan yang keras, membuat sedikit saraf-saraf otak bergeser. Atau singkatnya, saya memfonis pasien akan mengalami ... amnesi," ucap dokter Seno. Reno menutup wajahnya gusar, abang Hendra sendiri diam menyimak. Ya sudah dia pikirkan, kemungkinan yang akan terjadi dengan putrinya. Apa lagi kepalanya yang terbentur.
"Pasien tetap di rawat di ICU, untuk tetap meninjau perubahan atau kesehatan pasien," lanjutnya.
"Untuk beberapa jam kedepannya, pasien baru bisa di jenguk. Untuk saat ini, belum bisa."
"Iya, terima kasih Dok. Kami permisi," ucap abang Hendra dan menepuk pundak menantunya yang tak berpindah sama sekali.
Mereka keluar, dengan ke adaan yang sama. Tapi bedanya, abang Hendra masih dengan penampilan rapinya. Sedangkan Reno, sudah persis gembel. Dengan rambut acak-acakan, noda darah di baju dan muka.
"Abang bisa marah atau mukul, Reno! Emang Reno yang salah, enggak bisa jagain Ara Enggak bisa jalanin pesan abah ," ucap Reno dengan memandang kosong lantai.
"Kamu tau, biarpun Abang sedih. Walaupun abang marah ... tapi tidak ada gunanya, Nak. Ini sudah takdir, jangan merasa bersalah begini," ucap Abang Hendra , menarik tangan Reno untuk berjalan kembali ke depan ruangan Ara .
"Dimana Reno yang abang sering lihat, yang selalu datar, dingin. Jujur, ini pertama kalinya bagi abang melihat laki-laki se cool kamu, nangis," ejek abang Hendra anggap saja untuk menghibur adik iparnya.
"Bagaimana abang ? Apa kata dokter?" tatang Nenek.
"Kita bicara di luar," ajak abang Hendra.Mereka cuma menurut, tinggal Marvel dan Reno.
"Menurut lo, Anis sengaja atau enggak?" tanya Marvel hanya mendapat gelengan dari pak Reno.
"Gue harus gimana, Vel ? Dokter memfo_memfonis Ara bakal amnesia. Gue harus gimana, Vel ?"
"Bro, enggak ada yang bisa kita lakuin. Dan juga jangan nyalahin diri lo sendiri, ini udah takdir! Paham kan?"
"Udah, lo pulang ganti baju. Sekalian mandi, lihat penampilan Lo. Ck, persis kek gembel. Kalau ada mahasiswa lo yang lihat, bisa viral," ucap Marvel , Reno tersenyum kecil.
"Oh ya, tadi gue lihat ada dua brangkar. Yang satu ...."
"Mbok Mina, sampai lupa. Tadi mbok Mina pingsan, syock mungkin," ucap Reno.
"Ya udah lo pulang, gue mau lihat ke adaan mbok Mina dulu."
"Enggak, gue di sini aja."
"Pulang gak, gue bilang! Penampilan lo ... ck, gue nebak. Belum ganti baju atau mandi kan, waktu pulang dari ngajar? Kemeja, jam tangan, badan lo ... bau, bau darah tapi," ucap Marvel.
"Pulang sonoh, istirahat sekalian. Gue tau lo capek."
"Enggak capek, pulangnya nanti aja."
"Betul Nak, kamu pulang mandi sekalian istirahat. Ara biar nenek dengan yang lainnya, yang jaga," ucap nenek , yang sudah datang kembali bersama yang lainnya.
"Mama minta maaf, tadi udah__."
"Emang salah Reno, Ma. Enggak usah minta maaf, emang Reno yang salah," ucap Reno tersenyum hangat.
"Ya udah buruan pulang, gue mau lihat ke adaan mbok Mina."
"Mbok Mina kenapa, juga?"
"Enggak kenapa-napa nenek katanya cuma pingsan karena shock. Ya udah, Marvel pergi lihat dulu. Dan lo ... pulang mandi!" ketus Marvel di akhir kalimatnya.
Sorry for typo. 🙏
__ADS_1