
Kesedihan yang amat dalam yang pernah aku rasakan, tidak bisa kah kamu membuka matamu? Di sini aku ... serasa kehilangan. Tidak ada lagi suara omelan, cerewet, dan wajah kesalmu. Sekarang hanya tinggal, wajah pucat dengan mata yang terpejam. Tidak bisa kah kamu bangun, sekarang?
~Reno.
Sudah tiga hari ARa ada di ruang ICU, belum juga ada tanda-tanda akan sadarnya Reya. Orang-orang silih berganti menjenguk, dan masuk ke ruangan itu. karena tidak bisa banyak orang yang masuk, cuma dua orang paling yang bisa masuk.
Reno sendiri tidak pernah absen ada di rumah sakit, walau orang-orang sudah sering kali menyuruhnya pulang namu ... tetap tidak membuahkan hasil. Reno tetap keukeh dengan pendiriannya, ingin terus menjaga Ara
Bahkan tugas kampus, cuma dia kirim lewat email. Urusan kantor juga, cuma di serahkan ke sekretaris sekaligus asistennya.
"Ren , lo pergi makan dulu deh. Dari kemarin lo enggak pernah makan," ucap Marvel.
"Enggak nafsu," balas Reno singkat. Marvel menghela nafas, dari kemarin dia dan yang lainnya menyuruh Reno makan dan istirahat. Namun tidak di idahkan sang empu.
"Setidaknya biar sedikit aja, Ren . Roti atau apalah," ucap Marvel, lagi-lagi cuma mendapat gelengan Reno.
"Entar lo kurus, pipi jadi tirus. Enggak ada lagi gantengnya." Reno cuma terdiam, tidak ada nafsu membalas ucapan Marvel.
"Oke, gue pergi dulu. Mau jemput Risa ," ucap Marvel menyerah.
Harus tau kalian, hubungan Marvel dan Risa memang semakin dekat. Berawal dari minta nomor, hingga game truth or dare. Sedangkan Tania dan pak Gino, tetap seperti biasa. Sikap Tania masih ketus, entah apa masalahnya dengan sang dosen.
Reno berdiri dari duduknya, dan perlahan memasang baju. (Baju yang dipakai orang kalau mau masuk ke ruangan, ICU memang). Dipandanginya Ara yang masih terbaring, dengan infus dimulut dan tangan.
"Kamu kapan bangun? Mas kangen, kangen masakan juga omelan kamu, kangen semuanya. Udah tiga hari kamu enggak bangun-bangun. Memangnya kamu enggak kangen juga sama, Mas? Bangun ya, kamu cuma salah paham," ucap Reno bergumam sendiri. Sering kali menjadi aktivitasnya selama Ara terbaring, berbicara dan menangis sembunyi-sembunyi. Tapi biarpun begitu, tetap yang lainnya tau kalau dia telah menangis.
"Kamu tidak kasihan sama Mas, Dek? Mas enggak bisa makan dengan enak, selalu ingin memuntahkan makanan yang masuk ke tenggorokan Mas. Kalau kamu dengar, Mas minta maaf sama kamu. Tolong maafin Mas, kamu bangun ya."
__ADS_1
Setelah itu, Reno tinggal diam. Memandangi wajah Ara , dengan perasaan pedih. Detik itu juga, air matanya kembali menetes. Rasa bersalah dan rasa sakit hatinya, bersatu.
Saat mendengar suara pintu terbuka, Reno dengan cepat menyeka air matanya. "Habis nangis?" tanya mama Dewi , saat melihat wajah basah anaknya.
"Enggak," ucap Reno menggeleng, dengan tangan yang masih setia memegang tangan Ara.
"Biar kamu bilang 'tidak', tetap Mama tau. Anak cengeng Mama ternyata udah kembali," ucap mama Dewi, membelai rambut anaknya.
"Apaan sih, Ma."
"Jujur, Mama marah karna kamu tidak bisa menjaga Ara . Tapi melihat kamu seperti ini, Mama jadi ikut merasakan yang kamu rasakan sekarang. Seperti kata mertua kamu, 'ini takdir'. Kita sebagai manusi tidak bisa menghindar," nasehat mama Dewi.
"Memang salah, Reno kok."
"Jangan nyalahin diri sendiri, Nak. Kamu pergi makan deh, kalau Ara bangun. Terus liat ke adaan kamu seperti ini, pasti bakal marah. Pergi makan ya?"
Mereka berdua keluar, dan diluar sudah ada Tania, Risa , Marvell, dan pak Gino. "Nih gue beli makanan, makan sana. Heran udah gede, masih dipaksa makan dulu, baru mau," ucap Marvel dan langsung mendapat cubitan dari Risa.
"Haha, ada-ada aja kamu Vel.Ya udah, Mama tinggal dulu. Titip bayi besar, Mama," ucap Dewi..
"Siap Mam, kita bakal jagain," ucap pak Gino.
Reno makan, walau cuma sedikit. Rasanya tidak terlalu bernafsu, dengan makanannya sekarang. "Di kampus pada heboh nyariin lo, Ren. Di tambah jadwal lo enggak pernah masuk ngajar bersamaan, dengan Ara yang juga enggak pernah masuk," ucap pak Gino.
"Benar Pak, bahkan orang sekelas pada nyecer kita berdua dengan pertanyaan tentang Reya. Juga Faris," ucap Tania sedikit bergumam saat menyebut nama, Faris.
"Saran Gue, besok lo muncul deh. Biar sedetik, yang penting mereka pada enggak curiga. Dan sepertinya belum ada yang tau, kalau Ara masuk rumah sakit kan?" tanya pak Gino, ke pada kedua mahasiswinya.
__ADS_1
"Tentu Pak, kalau udah ada yang tau. Sudah di pastikan udah nyebar, dan pada ke rumah sakit ini," jawab Risa.
"Emang sampai kapan juga kalian akan main kucing-kucingan?" tanya Marvel juga.
Reno menggeleng tidak tau. " Ara belum izinin ngebongkar semuanya, entahlah. Gue juga udah bosen sembunyi-sembunyi terus," ucap Reno dengan helaan nafas berat.
"Emm Pak, Kak. Kita mau jenguk Ara dulu," ucap Risa , di balas anggukan Marvel.
Setelah itu, Risa dan Tania masuk. Di dalam, sama halnya dengan Reno. Mereka berbicara, untungnya mereka ada berdua.
"Sampai kapan lo tidur terus, Ra? Enggak kangen apa sama, kita?"
"Enggak kangen juga sama, suami lo? Pak Revano sering nangis lo, Re. Masa lo enggak mau, lihat."
Masih banyak lagi ocehan dari keduanya. Setelah selesai, mereka keluar. Seperti sebelumnya, masih ada Reno, Marvel dan pak Gino.
"Emm Pak, Kak. Kita pulang dulu," pamit Tania.
"Mau di antar?" tanya Marvel
"Enggak usah, kita naik taxi aja. Lagian deket juga," ucap Risa . "Oke, hati-hati."
Di dalam kamar rawat Ara
"Kamu kapan bangunnya Ra, kamu tidak capek tidur terus?" Revno membelai rambut dan memegang tangan Ara.
Tidak terasa sudah lima hari lamanya, belum ada tanda-tanda Ara akan bangunnya. Tapi kata dokter, keadaan Ara berangsur membaik. Walau belum sadarkan diri. Dan soal amnesia itu, dokter Seno tetap memfonis Ara akan amnesia. Tidak tau itu amnesia singkat atau amnesia permanen/selamanya.
__ADS_1
Reno membaringkan kepalanya, sudah sangat berat. Hingga beberapa detik kemudian, dia sudah tertidur, dengan tangan yang masih memegang tangan Ara. .