
Hari ini, Reno kembali Ke kantor nya.Setelah empat hari, tidak muncul, ada yang senang karena tidak ada penampakan kekejaman, ada sedih karena tidak melihat CEO ganteng, ada juga yang biasa-biasa saja.
Ara dan Reno berangkat bareng, itu juga paksaan dari sang suami. Selepas sampai di kampus, Ara turun di parkiran dengan tingkah seperti biasa.
Ara berjalan cepat, menjauh dari parkiran sampai di gedung fakultasnya. Menaiki lift menuju ke kelasnya.
"Jamnya siapa entar?" tanya Ara setelah mendudukan dirinya dikursi.
"Buk Hermawan, emang lo enggak tau?" tanya Risa .
"Tau, cuma lupa aja," ucap Ara menyengir.
"Bede-beda tipis itu, mah," sahut Tania.
Beberapa menit menunggu, akhirnya buk Hermawan sudah tiba di depan kelas. Melangkah tegas, juga muka tanpa senyumnya menyapa mahasiswa/i di kelas.
Di usia beliau yang sudah memasuki 'empat puluh lima', masih sangat sehat juga bugar mengajarnya.
Pelajaran berlangsung dengan adem anyem, tidak ada yang berani berbicara kecuali yang bersangkutan dengan pelajaran.
Kelas di akhri dengan seperti biasa, memberikan sedikit nasehat, dan pertanyaan tentang materi yang di jelaskan tadi.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Mereka bertiga pergi ke sebuah kafe d sebrang kampus mereka yang hommy dan gaul menurut mereka.
"Rasa mau menigoy aja gue," ucap Tania dengan menumpu dagunya di meja.
"Lo kenapa? Ada masalah?" selidik Ara di ikuti Risa.
Tania menghembuskan nafas kasar. "Nggak, nggak ada masalah apa-apa," elak Tania. Ara dan Risa menatap lekat wajah Tania, Tania yang ditatap begitu langsung menutup wajahnya menggunakan tasnya. "Jangan liatin gue gitu napa, kan gue jadi salting," ucap Tania.
"Alay, lebay!" sembur Risa dan Ara bersamaan.
"Beneran, gue aja yang perempuan kalian tatap cam gitu jadi salting. Gimana kalau yang kalian tatap laki-laki? Auto, pingsan keknya. Pantas aja si Aldi sama Zaki tergila-gila ama kalian," ucap Tania kembali memakan makanannya.
"Ck, gaya lo Tan!"
"Lha, gue serius. Suer."
"Iyain, aja deh," kata Risa
Mereka kembali menyantap makanannya dengan tenang, sampai saat Ara tersedak kuah makanannya.
"Uhhuk ... uhuk!"
"Ya Tuhan Ra, pelan-pelan makanya!" ketus Risa sambil memukul-mukul tengkuk Ara dengan Tania yang sigap mengambil air.
"Udah pelan-pelan juga gue, kesedak sendiri," ucap Ara dengan meminum sedikit-sedikit air minumnya.
"Udah?" tanya Tania, Ara cuma mengangguk sambil menyandarkan badannya di sandaran kursi.
"Uhhuk ... uhuk!" Giliran Risa yang tersedak minumannya.
"Lha, lo juga kenapa? Heran gue."
"Noh noh, lihat noh!" Risa menunjuk ke arah belakang mereka, kompak Ara dan Tania berbalik mengikuti arah telunjuk Risa .
Ara mengerucutkan bibirnya dengan tangan mengepal, juga muka di tekuk. Tania dan Risa langsung menggoda temannya, yang sepertinya sedang cembokur eh, cemburu.
Di belakang mereka, duduk Reno , pak Gino, dan dua sekretaris perempuan yang seumuran Reno dan pak Gino. Apa lagi mereka di lihat sangat serasi, itu membuat Ara semakin menekuk wajahnya.
"Ada yang cemburu keknya, nih," ledek Tania dengan pandangan tak lepas dari ke empat dosen di belakang mereka.
"Lo enggak cemburu juga, Tan?" tanya ambigu Risa.
Tania mengerinyitkan dahinya, menatap Risa . "Cemburu? Kenapa?" tanya Tania. "Ya kan, di situ ada pak Gino. Emang lo enggak ada perasaan apa-apa gitu sama pak Gino?" tanya Risa.
__ADS_1
"Gila, enggak lah!" ucap Tania ngenggas. "Emang lo, yang juga suka sama babang Ker ..., auh, sakit bego!" Tania mengadu, saat kakinya di injak Risa.
"Diem!" perintah Risa
"Maksud lo Tan, apa tadi?" tanya Ar Arayang kebetulan mendengar, tapi tidak jelas. Karna hanya fokus dengan sang suami, yang sepertinya sedang bersenda gurau dengan teman-teman kantornya, walau cuma senyum kecil yang di berikan.
"Emm, enggak kok Ra. Bukan apa-apa, Tania emang gitukan kalau ngomong. Suka seenaknya, ha ha." Risa tertawa hambar, dengan melirik sinis ke arah Tania.
"Jadi gimana, lo cemburukan? Ngaku aja deh." Risa mengalihkan pembicaraan, sedangkan Tania mesem-mesem mengejek Risa.
"Dih, enggak. Siapa yang cemburu coba!" elak Ara dengan meminum minumannya hingga tandas.
"Enggak cemburu katanya, terus kenapa gitu modelnya?" ledek Tania dengan mencubit pipi Ara.
"Sakit Tania, bagong!" Ara reflek menoyor kepala Tania kencang, entah terkejut atau kesal. Yang jelas, Tania memegang kepalanya karena sakit.
"Sakit Ara , kamp*et!" pekik Tania dan langsung menutup mulutnya, saat menjadi pusat perhatian karena teriakannya. Bahkan ke 'empat kantornya Reno yang tadinya sibuk berbincang, juga ikutan melihat ke arah mereka.
"Tania, bego!" rutuk Risa.
"Gara-gara lo nih, Ara !" Tania menyembunyikan kepalanya di bawah meja. "Lha, lo yang teriak juga! Siapa suruh nyubit pipi gue," ucap Ara tak mau di salahkan.
"Ada apa?" Reno berjalan menghampiri meja mereka, Ara kembali memasang tampang datar dengan melahap makanannya. Sepertinya, makanan yang menjadi pelampisan kekesalannya.
"Tidak apa-apa 'Pak, cuma reflek aja tadi Tania teriaknya," jawab Risa dengan memaksa Tania membangunkan wajahnya.
Reno melirik ke arah Ara , yang sama sekali tak menatap dirinya. "Cuma itu?" tanya Reno lagi, masih dengan menatap Ara.
"Iya Pak," jawab Risa lagi, dengan kaki yang menyenggol kaki Ara.
Ara menatap Risa. bertanya dengan muka polosnya. "Ck, noh." Risa emberi isyarat untuk Ara , melihat ke arah Reno. Bukannya Ara tidak tahu kalau Reno ada di dekat mereka, tapi hanya malas melihat ke arahnya.
Istri durhaka, emang si Ara . Eh, maaf Ra ....
Dengan malas, Ara berbalik menatap suaminya yang sedang bersedekap dada. "Kenapa?" Bukannya bertanya ke arah Reno , tapi Ara bertanya ke arah Risa.
Risa menggaruk kepalanya yang tak gatal, gara-gara kepolosan yang disengaja oleh temannya. "Nanti kekantor saya," ucap Reno dan langsung pamit ke pada kedua dosen perempuan itu, untuk kembali mengajar di ikuti pak Gino.
"Suami lo lah!"
Risa dan Tania berucap bersamaan, Ara melirik ke arah kedua sahabatnya dengan pandangan malas. Dan wajahnya kembali ditekuk, saat kembali terlintas di pikirannya pemandangan di depan matanya barusan, di mana kedua sekretaris perempuan itu tampak serasi dengan suaminya juga pak Gino. Ya walaupun, kalau dilihat Ara dan Reno juga sangat cocok, cuma sifat mereka saja yang tidak cocok.
๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ๐ณ
Di kantor Reno, didalam ruangannya Ara sudah sangat merasa bosan.
"Kalau Kaka masih banyak kerjaan, saya pulang duluan saja!" Ara berujar ketus, pasalnya sudah dari tadi dia di ruangan itu, belum juga ada tanda-tanda Reno beranjak dari kursi dosennya.
"Tidak, kamu harus pulang sama saya!"
"Ya udah, kita pulang sekarang!"
"Saya masih ada kerjaan, Ara."
"Ya makanya, saya pulang duluan aja. Udah bosen loh saya disini terus 'Ka !"
"Sebagai istri' saya, kamu harus selalu mendampingi saya di kampus! ..., dan juga di rumah," ucap Reno
Ara menyandarkan badannya ke tembok, sambil menghembuskan nafas kasar. Oh ayolah, apa orang di depannya ini tidak mengerti perasaan Ara saat ini? Tidak tahu kah dia, kalau Ara sedang dalam keadaan kesal dan marah padanya.
"Saya udah capek ka , saya mau cepat pulang istirahat!" ucap Ara dengan nada tidak enak di dengar.
"Kamu mau pulang sama siapa? Risa juga Tania sudah pulang kamu bilang. Terus mau pulang sama siapa? Mau naik taxi? Kalau si Aldi itu datang lagi, bagaimana? Dia pasti bakal ngelakuin hal di luar nalar kita, terus siapa yang bakal nolongin kamu nanti?! Ara , saya bilang sekali lagi. Bukannya saya mau ngekang kamu, tapi kalau terjadi sesuatu sama kamu. Siapa yang bakal ngerasa bersalah? Siapa yang bakal jadi sasaran, kesalahan?" cecar Reno dengan bertanyaan berurutan, yang tak bisa di jawab oleh Ara.
Sedangkan Ara, dia tertunduk dengan mata berkaca-kaca. Reno sepertinya, sangat marah kepadanya.
Setelah itu, sudah tidak ada lagi suara rengekan Ara yang meminta pulang. Bahkan Reno pun, tidak pernah berbicara sekalipun. Ara terus menunduk, bedanya sekarang air matanya sudah ada yang terjatuh, meluncur di pipinya dengan lembut.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang," ucap Reno setelah menyelesaikan pekerjaannya. Reya tidak menjawab apa-apa, hanya mengekor keluar dengan terus menunduk. Bahkan sampai di dekat mobil 'pun, dia tetap menunduk.
"Masuk!" titah Reno membuka pintu mobil untuk Ara . Lagi-lagi Ara tidak menjawab apa-apa, hanya menurut tanpa bicara apa 'pun.
Di dalam mobil, Ara hanya membelakangi Reno dengan terus memandang keluar jendela. Matanya sembab, walau hanya sedikit mengeluarkan air mata.
"Mau singgah beli sesuatu?" tanya Reno angkat bicara.
Ara merespon hanya dengan gelengan kepala, tanpa berbalik menatap suaminya.
Reno tidak lagi berbicara apa 'pun, hanya satu kalimat itu saja yang ada di dalam mobil, hingga sampai di rumah.
Ara turun lebih dulu, dan langsung berlari masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam. Berlari menaiki tangga, tanpa menyapa mbok Mina tidak seperti biasanya.
Sampai di kamar, Ara berjalan ke arah balkon. Tidak lupa, pintu balkon dia tutup rapat, tapi tidak dikunci.
Di situ, Ara menopang dagunya dengan kedua tangannya. Memandang kendaraan yang lewat dengan tatapan kosong. Tanpa di minta, matanya berkaca-kaca kembali.
Karena kemasukan debu ....
Ara mengucek-ucek matanya yang perih, ini akibat karna kebanyakan melamun. Setelah beres, dia kembali menopang dagunya, tapi kali ini dia mengedipkan-edipkan matanya agar tidak kemasukan debu lagi.
Dengan helaan nafas berat, Ara berbalik hendak masuk ke kamar. Tapi sepertinya niatnya urung, saat tangan kekar langsung memeluk tubuhnya.
Meski tidak melihat wajahnya, Ara sudah yakin kalau itu pasti suaminya.
"Maaf, tadi saya kelepasan Ra. Saya tidak ada maksud, untuk memarahi kamu. Tapi benar, saya tidak mau terjadi sesuatu sama kamu, Ra," lirih Reno dengan memeluk Ara , dengan tujuan menunjuk 'kan rasa bersalahnya.
Tapi enggak kayak gitu ka,Ara sesak noh ....
"Lepas -sin ka , sesak ih!" Ara mendorong tubuh Reno , namun apalah daya kekuatan Ara yang hanya secuil di banding suaminya.
"Maaf," gumam Reno.
Ara memejamkan matanya, memang di sini bukan salah Reno . Tapi dia tidak bisa melawan egonya, yang begitu kuat untuk terus diam saja.
" Kaka pergi ganti baju dulu deh, Ara mau turun siapin makan," ucap Ara dan lantas kembali ke dalam kamar, menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Lalu turun, menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Setelah kepergian Ara , Reno menarik dan menghembuskan nafas kasar, dengan mengacak rambutnya. Sungguh, tiada maksud untuk memarahi apa lagi membentak Ara tadi. Itu hanya sebatas, mengungkapkan rasa khawatir dan takutnya kalau Ara sampai kenapa-napa.
Tidak ada pilihan lain, Reno masuk kembali dan mengunci pintu balkon. Dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya, juga menenangkan otaknya.
Setelah selesai dengan ritual mandi juga memakai pakaian, yang tadi Ara siapkan. Reno keluar kamar, dengan melangkah lambat ke arah tangga.
Senyum kecil terbit di bibirnya, dilihatnya Ara yang sedang seperti berpikir 'makanan apa lagi yang kurang?' Padahal, makannya sudah lebih cukup jika hanya untuk mereka berdua.
"Sini makan, kaka . Ngapain di tangga berdiri, jadi pajangan." Suara Ara yang memanggilnya, membuyarkan lamunan nya.
Segara ia turun, dan mendudukan dirinya di kursi. Seperti biasa, Ara mengambilkan nasi serta lauk untuknya.
"Kamu tidak makan?" tanya Reno, Ara menyengir kecil dan langsung mengambil makanan ke piringnya.
Setelah selesai makan, Reno mengajak Ara jalan keluar namun Ara menolaknya.
"Mau pergi jalan-jalan?" tanya Reno menawarkan, tapi Ara mantap menjawab dengan gelengan.
"Saya mau istirahat, capek."
'Capek tubuh, pikiran, apalagi hati,' batin Ara.
"Ya sudah istirahat, nanti saja kita jalan-jalanya," ucap Reno. Tidak menunggu lama, mata Ara sudah terpejam di ikuti dengan selimut yang naik ke tubuhnya. Dengan setengah sadar, Ara bisa merasakn benda kenyal menyentuh dahinya dan bisikan seseorang.
"Maaf, kalau saya selalu membuat kamu kesal juga sedih."
๐๐Haii readers,
Semoga suka dengan ceritanya.
__ADS_1
Tinggalkan jejak like dan komwelnya.
๐๐Terimakasih