
Aku udah bilang sama kamu, kalau kamu mau jadi suami aku, kamu juga harus menerima Nadiya, tapi apa kamu malah nyuruh aku untuk buang Debby," tutur Tania, ya memang Viko adalah mantan pacar Tania dan mereka juga berencana untuk menikah.
Dan semua itu gagal karena Viko tidak menerima keberadaan Debby yang berperan sebagai anak Tania, iya juga pernah menyuruh Tania untuk membuang anaknya itu, dan itu membuat Tania marah dan membatalkan pernikahan itu.
Tak sama yang di lakukan Aditya yang mengakui bahwa Debby sebagai anaknya karna cacian yang ia dengar, kalau Viko malah merasa risih dengan ucapan orang yang menyebut Tania jalang dan menyebut juga Debby anak haram.
Harusnya sebagai kekasih Tania , Viko harus menerima Debby anaknya Tania namun Viko malah menolak Debby.
"Bagaimana aku bisa nerima dia, yang bukan siapa-siapanya kamu, atau bisa jadi Debby itu anak haram," ucap Viko.
Bugh!
Aditya menendang perut Viko yang telah lancang menyebut Debby adalah anak haram.
"BERANI-BERANINYA KAMU MENYEBUT DEBBY ANAK HARAM!" teriak Aditya murka.
"Tania bawa Debby ke ruang tamu," suruh Aditya yang di balas anggukan oleh Tania. Dan Setelah itu ia menutup pintu dan menguncinya agar leluasa menghajar pria brengsek ini.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Perkelahian pun terjadi di antara dua pria itu. Namun sepertinya Viko kalah dengan Aditya melihat Aditya tak memberi celah untuk Viko membalas.
Viko pun memilih kabur dari situ lewat jendela yang sudah terbuka, sebenarnya dia heran kenapa bisa ada seorang lelaki dan mengaku jadi suami Tania, mengingat Tania hanya seorang janda.
"Liat saja gue bakal balas elu," ucap Viko sebelum pergi. Setelah melihat pria itu menjauh Aditya langsung menutup jendela itu dan menguncinya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Aditya yang baru keluar dari kamar itu dan duduk di dekat Tania yang sedang mengendong Debby.
"Enggak, kamu?" tanya Tania sambil memegang pipi Aditya, yang sedikit membiru akibat tonjokan yang di beri oleh Viko.
"Ini gak papa kok," ucap Aditya sambil memegang tangan Tania dan menurukannya dari pipinya dan menggenggamnya.
"Ceritain kesaya semuanya," ucap Aditya, yang dibalas anggukanoleh Tania.
Papa?" beo Debby.
"Papa Adit," ucap Debby yang langsung memeluk Aditya, Tania kaget mendengar ucapan Debby , ingin membenarkan ucapan Debby, namun di larang oleh Aditya lewat kode matanya, karna ia juga senang di panggil papa oleh Debby.
"Kenapa hm?" tanya Aditya sambil mengelus rambut Debby. Sedang Tania hanya melihat intraksi keduanya.
"Takut," cicit Debby sambil terus menenggelamkan wajahnya di leher Aditya.
"Udah gak takut, kan di sini ada papa," ucap Debby, Tania yang mendengar itu langsung kaget karena mendengar ucapan Aditya, yang menyebutnya 'papa'
"Papa gak akan ninggalin Debby kan?" tanya Debby dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sebernanya Aditya bingung harus jawab apa, karena dia juga tidak bisa tinggal di situ tampa adanya ikatan pernikahan dengan Tania.
"Em ... sayang kita tidur lagi yuk," ajak Tania yang tau kalau Aditya tak tau jawabannya.
"Sama papa 'kan ma?" tanya Debby dengan polosnya.
"Sama bunda aja ya," ucap Tania lembut, namun Nadiya terus menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aditya. Aditya merasakan basah di lehernya, sepertinya Debby menangis.
"Loh Debby kok nangis," ucap Aditya sambil mengelus rambut Debby yang hitam pekat.
"Aku mau tidur sama papa, tapi gak di--hiks bolehin sama hiks bunda," adu Debby. Sekarang Tania merasa bersalah ke pada Debby , yang menangis karena di larang tidur bersama Aditya olehnya, bukan apa-apa masak bukan mahrom tidur bersama.
"Ya udah iya yuk kita tidur," pasrah Tania, ya sebenarnya dia yakin bahwa Aditya tidak akan berbuat maca-macam kepadanya, mengingat tadi dia menolong Tania dari Viko.
Aditya menatap tak percaya ke pada Tania, karena mau menuruti kemauan Debby yang ingin tidur bersama dirinya.
"Udah gak papa, aku percaya sama kok," ucap Tania yang dibalas anggukan oleh Aditya.
Baru mereka berdiri hendak ke kamar, tapi langkah mereka terhenti karena suara yang mengetuk pintu tidak sabaran dan juga sepertinya ada banyak warga.
Tania membuka pintu rumahnya dan kaget karna di sana banyak warga dan juga pak RT.
"Ada apa ya pak?" tanya Tania lembut.
"KAMU MEMBAWA LAKI-LAKI KAN TANIA!" ucap Warga kepada Tania.
"Emm itu pak--" Belum selesai Tania bicara, di potong oleh Aditya yang keluar sambil mengendong Debby yang menangis karena kaget dengan suara teriakn itu.
"Ada apa ini?" tanya Aditya
"INI PAK LELAKINYA, KITA BAWA AJA MALU-MALUIN KAMPUNG INI AJA!" teriak salah satu warga itu. yang di balas angguka oleh lainnya dan bersiap memegang tangan Tania.
"Tunggu dulu, saya mau nanyak dia siapanya kamu Tania, karna setaunya selama ini kamu tidak punya suami," ucap pak RT.
__ADS_1
"HALAH UDAH PAK, GAK SAH DI TANYAI, UDAH JELAS-JELAS MEREKA BERBUAT TIDAK SENONOH MALAH DI TANYAIN!" ucap pria yang ada di sana.
Sepertinya mereka salah paham terhadap Tania dan Aditya yang sedang berada di rumahnya. Mereka kira Aditya dan Tania berbuat yang tidak-tidak.
Tania bingung harus menjawab apa, karna ia juga merasa salah di sini.
"PEREMPUAN SAMA LAKI-LAKI KOK BERADA DI SATU RUMAH! TAMPA ADA IKATAN PERNIKAHAN, PASTI KALIAN BERBUAT MESUM!"
"MALU-MALUIN KAMPUNG SINI AJA TAU GAK!"
"Cukup! Kalian kalau tidak tau apa-apa jangan asal menuduh," ucap Aditya.
"Pak RT, kita gak ngelaukin apa-apa," ucap Tania.
"HALAH MANA ADA MALING NGAKU!"
"BENER TU, GAK BAIK TAU!"
"Apa saya salah, menginap di rumah istri saya," ujar Aditya lantang yang membuat mereka diam tak berkutik.
Lagi-lagi Aditya beralasan seperti itu, sungguh ini membuat Tania pusing.
"HALAH, JANGAN BOHONG SELAMA INI NADIRA ITU GAK PUNYA SUAMI!"
"IYA SAYA JUGA TIDAK PERNA MELIHAT SUAMI TANIA !"
"Tunggu!" teriak ibu-ibu yang tadi mengintip rumah Tania.
Tunggu!" teriak ibu-ibu yang tadi mengintip rumah Tania.
"Ada apa ini bapa-bapak?" tanya ibu yang memakai jilbab warna biru.
"Ini, nak Tania membawa lelaki yang bukan mahromanya ke rumahnya," jawab pak RT.
"Mas ini madsudnya," Tunjuk ibu-ibu itu ke pada Aditya. Yang di balas anggukan oleh semua orang.
"Yeee ini mah suaminya bak Tania," ucap ibu yang memakai jilbab warna biru itu.
Semua yang di sana kaget mendengar ucapan ibu itu, apakah itu benar?
Dan pak RT bersama rombongan warga itu percaya dengan omongan ibu berkerudung biru, mereka meninggalkan rumah Tania, dan Tania dan Aditya juga Debby masuk kedalam rumah tidur bersama bertiga atas permintaan Debby yang tidur di tengah mereka berdua, mungkin Debby kangen sosok ayah ya?
Aditya terbangun saat cahaya matahari, memaksa masuk ke dalam netranya, membuka mata dan menemukan Debby yang memeluk lehernya erat, ia menelusuk pandangannya mencari sesosok wanita dewasa. Yang juga ikut tidur satu ranjang dengannya.
Hanya tidur tidak melalukan apapun, dengan Debby yang menjadi pembatas antara Aditya dan Tania, membuat mereka bisa bernafas lega.
Aditya bisa mencium bau harum dari dapur, dan di pastikan itu adalah Nadira, ia pun langsung bangun dengan hati-hati agar tak membangunkan Debby yang sedang tidur.
Berjalan ke arah kamar mandi dan memulai ritual mandinya, sungguh Aditya merasa senang karena bisa tidur satu ranjang dengan Tania, ya walaupun ada Debby ditengah mereka, ia merasa menjadi suami sungguhan Tania kalo seperti ini.
Aditya keluar dengan baju yang sudah rapi, yang sudah di siapkan oleh Tania yang di ambil dari mobil Aditya, Aditya memang selalu membawa baju ganti di dalam mobilnya berjaga-jaga kalau ia tak bisa pulang.
"Selamat pagi," sapa Aditya yang sudah berada di dapur Tania dan mengagetkan Tania .
"Astaga! Huh Aditya bisa tidak, gak usah ngagetin," ucap Tania sambil terus meneruskan acara memasaknya. Sedang Aditya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, niatnya sih menyapa tapi kok malah kaget? Aneh!
"Hehe ... maaf, kamu lagi masak apa?" tanya Aditya yang sudah duduk di meja makan, sambil terus memerhatikan Tania yang belum mandi, dan berganti bajunya.
"Aku cuman masak nasi goreng, sama telur, gak papa kan?" tanya Tania sambil menghadap ke arah Aditya.
"Gak papa kok, saya juga suka sama nasi goreng," jawab Aditya. Tania yang mendengar itu tersenyum hangat, setidaknya ia bisa membuat Aditya merasa nyaman, Tania pun langsung menyajikan nasi goreng itu di depan Aditya.
"Kamu makan dulu aja, aku mau mandi terus bangunin Debby," ucap Tania.
"Tidak saya, akan menunggu kamu dan Debby," tolak Aditya yang ingin makan bersama.
"Oh, yaudah kalau gitu saya mandi dulu," pamit Tania yang langsung berlaku ke kamarnya.
Selepas Tania pergi, senyum Aditya tak pernah luntur, ia merasa memiliki keluarga kecil yang sangat ia sayangi.
Dan mengingat kejadian semalam, yang mana ia di gerebek warga karena ketauan telah berduaan dengan Aditya, ia jadi geli sendiri karena dengan mudahnya pak RT, percaya bahwa mereka berdua adalah sepasang suami istri.
Hanya bermodal mulut ibu-ibu rumpi itu, dan interaksi Debby yang sedang manja dengan Aditya, itu semua berhasil mengelabui warga.
Saat sedang asik-asiknya melamun, tiba-tiba ia di kagetkan dengan suara handphonenya yang bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Dan terterahlah nama adiknya Diva.
"Halo Div, ada apa?" sapa Aditya yang mengangkat panggilan itu.
(...)
"Apa! Mama masuk rumah sakit!"
__ADS_1
(...)
"Bagai mana bisa Diva!" sentak Aditya
"Share location sekarang! Kakak akan segera ke sana," ucap Aditya yang langsung mematikan heanponenya. Aditya beranjak dari dapur itu dan saat melewati tangga ia berpaspasan, dengan Tania dan Debby. Tania yang melihat raut wajah khawatir dari Aditya sontak bertanya langsung.
"Ada apa Aditya ?" tanya Tania sambil memandang wajah khawatir Aditya.
"Mama masuk rumah sakit, saya haru kesana," ucap Aditya , sontak Tania dan Debby terkejut.
"Bagaimana bisa?" tanya Tania.
"Saya tidak tau, ini saya akan ke rumah sakit, saya pamit dulu," ucap Aditya sambil berlalu pergi.
"Tunggu Aditya, kami ikut," ucap Tania yang menyusul Aditya ke depan rumahnya.
"Tidak usah Tania, kasian Nabila nanti kalau sendiri," tolak Aditya.
"Enggak papa, lagipula nanti Nabila pulang sore kok," jawab Tania mencoba meyakinkan Aditya.
"Ya udah masuk," suruh Aditya sambil membukakan pintu untuk Tania dan juga Debby, mereka berdua pun masuk diikuti oleh Aditya yang langsung duduk di kursi kemudi.
Mobil Aditya pun melesat jauh, dengan kecepatan rata-rata, karena ia ingat kalau dia sekarang membawa Tania dan Debby.
🥀🥀🥀
Sesampainya di rumah sakit, mereka bertiga langsung masuk dan mencari ruang IGD, tempat mamanya di periksa.
"Diva, kenapa ini bisa terjadi?" tanya Aditya yang sudah sampai di tempatnya.
"Aku gak tau kak, tiba-tiba mama ngeluh sakit di dadanya, akun dan mas Dava langsung bawa mama ke rumah sakit," jelas Diva. Aditya merasa gagal jadi anak, kemaren mamanya di culik sekarang mamanya sakit, sungguh kita tidak tau jalan tuhan itu apa?
"Udah sabar Aditya," ucap Tania sambil mengelus pundak Aditya yang sudah duduk.
"Papa gak boleh nangis, nanti Debby juga ikut sakit," ujar Debby hang langsung menghapus air mata Aditya.
Aditya terharu terhadap sikap, yang di berikan oleh Debby.
Ceklek
Pintu terbuka dan nampak lah orang yang berjas putih, yang tak lain adalah seorang dokter.
"Keluarga pesien," ucap Dokter itu.
"Saya dok," ucao Diva dan Aditya.
"Pasien bernama Mira ini, mengalami sakit jantung," ucap Dokter itu.
Deg!
🥀🥀🥀
Kini Mira telah di pindahkan ke ruang rawat, yang pastinya ruang VVIP karena tak mungkin Aditya mengambil ruang rawat umum.
Mira ditemani oleh Aditya dan Tania , sedang Debby, Diva dan Dava sedang ke kantin, karena Mira ingin bicara penting pada keduanya.
"Tania, ibu mau minta sesuatu sama kamu," pinta Mira.
"Apa bu? Kalo Tania bisa pasti Tania kabulin," jawab Tania.
"Saya pengen kamu, sama Aditya menikah," ucap Mira sambil menyatukan tangan Aditya dan Tania.
Mendengar itu Aditya dan Tania terperanjat kaget, menikah? Dengan Aditya? Mana bisa, Tania sadar diri kalau ia tidak pantas dengan Aditya.
"Hah?" beo Tania dengan alis yang disatukan.
"Tania, saat pertama kali saya ketemu sama kamu, saya langsung merasa nyaman dengan kamu, saya pengen kamu menjadi menantu saya, ibu mohon menikahlah dengan Aditya," Jelas Mira. Sungguh Tania di landa kebingungan saat ini, ia ingin sekali memenuhi permintaan Mira, namun ia tidak bisa. Sedang Aditya hanya diam saja.
"Saya tidak bisa buk," tolak Tania sambil melepas tautan tangan itu, Mira dan Aditya langsung menatap Tania . Apa yang kurang dari Aditya?
"Tapi kenapa Tania?" tanya Mira dengan nada sedih.
"Maaf saya benar-benar tidak bisa, saya mempunyai Debby kalo saya menikah, saya mau Debby juga menerima suami saya. Saya mau kehadiran Debby itu juga dianggap bukan saya saja yang dianggap dan saya juga enggak bisa menikah tampa dasar cinta," jelas Tania yang langsung berlalu pergi keluar.
" Aditya, kejar Tania," suruh Mira yang langsung dibalas, anggukan oleh Aditya.
👋Haii readers
Maaf lg fokus sama Tania, dua kawan sudah bahagia dan fokus keluarga kecil mereka, next ending kita ketemukan mereka bertiga.
Untuk Gino dan Rika udah kena karma masing masing ya Gino lagi dekat dengan Erina dan Rika kuliah d Jogja dan belum mengetahui kehamilan nya.
__ADS_1