Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 99. Amnesia


__ADS_3

"Ren , di luar ada teman dosen lo," ucap Marvel Reno yang baru bangun, lantas mengucek-ucek matanya.


"Siapa?"


"Mana gue tau, yang gue kenal cuma pak Sutanto. Yang lainnya kagak," ucap Marvel lagi.


"Cuci muka dulu, Van. Muka lo kecel banget, liatnya."


Reno menuruti, memang matanya masih berat. Setelah membasuh wajahnya, Reno keluar. Ada enam orang dosen yang datang, salah satunya pak Gino. Ada juga dosen yang dari fakultas sebelah.


"Sudah lama Pak? Maaf tadi saya ketiduran," ucap Reno dengan menyalimi satu per satu dosen itu.


"Tidak apa-apa Pak, kita ngerti. Ini juga kita minta maaf, barus bisa jengukin sekarang," ucap pak Damar, Reno cuma membalas dengan senyuman kecilnya.


"Enggak apa-apa, kalian pasti sibuk."


"Bagaimana ke adaan, Ara Pak?" tanya pak Sutanto.


"Alhamdulillah, sudah agak membaik. Tapi ya itu, belum sadar-sadar. Padahal sudah lima hari ini dia, belum juga sadar," ucap Reno dengan dengan nafas berat, dan terdapat nada sendu di dalamnya.


"Sabar Pak, kita selalu mendoakan. Semoga Ara cepat, sadar dan sembuh," tambah pak Wandi.


"Aamiin."


"Oya, rencana. Kapan akan kembali mengajar, Pak? Banyak mahasiwi yang mencari Bapak. Rindu katanya dengan dosen, kejamnya," ucap pak Darwis terkekeh. Reno cuma tersenyum, apa segitu kejamnya dia dengan mahasiwa/i hingga di sebut dosen kejam.


"Belum tau, ya paling lambat senin depan Pak. Masalahnya kalau saya masuk mengajar dengan ke adaan begitu, takutnya malah tidak konsen."


"Enggak apa-apa, kita mengerti. Pasti sulit melewatinya, tapi Bapak harus kuat," kata pak Sandi, pak Reno mengangguk kecil. Memang sulit, sangat sulit. Cuma satu harapannya, semoga ARa cepat sadar. Walau pun akan terjadi seperti kata dokter Seno, yaitu amnesia. Tapi mudah-mudahan enggak terjadi.


Mereka berbincang-bincang sebentar, pak Damar serta pak Wandi juga pak Sutanto, silih berganti masuk ke dalam, melihat kondisi Ara. Sedangkan yang lainnya, cuma melihat dari kaca luar saja.


Sementara Risa dan Tania yang hendak menjenguk Ara terhenti melihat banyak rombongan dosen nya diruangan Ara.


"Stop Ris , itu dosen kan?" tanya Tania, menghentikan jalan mereka yang hendak ke ruangan Ara


"Eh iya, lagi jengukin Ara kali. Secarakan mereka serekan dosen pak Reno," ucap Risa.


"Keknya salah waktu kita. Jadi gimana? Mau balik, atau nunggu di sini sampai mereka pulang?"


"Nanggung lah, ke sana aja yuk. Dari pada tinggal beridiri di sini."


"Enggak takut?"


"Mereka juga manusi kali, Tan. Lagian di sana ada kak Marvel sama pak Reno, enggak bakal di makan," ucap Risa membuat Tania mendengus kesal.


"Balik aja, yuk!" ajak Tania.


"Kenapa sih? Udah tinggal lima tujuh langak juga, udah sampai. Malah mau balik," omel Risa.


"Masalahnya__."


"Kita duduk di pojok aja noh, enggak usah ikut nimbrung."


"Pasti ke situ juga kita, pergi salim atau apa."


"Percaya sama gue, enggak bakal di makan."


"Lo bego! Lo kira mereka kanibal?"


"Ya makanya, ayo." Tapi belum melangkah, suara Marvel l sudah memanggil mereka.


Tania merutuki Marvel sekarang para dosen telah beralih menatap mereka. Walau cuma sebentar, tapi seperti pak Damar dan pak Sandi menatap mereka terus. Untungnya pakaian mereka tidak kurang bahan.


"Pacar lo meresahkan Risa, kan ceritanya kita mau diam-diam," ucap Tania berengut kesal.


"Pacar peang! Nembak aja belum," ucap Risa asal.


"Acie, ternyata nunggu di tembak," goda Tania.


"Udah, ssst. Jangan ribut."


Seperti kata Tania tadi, sekarang mereka menyalimi satu-satu dosennya. Minus pak Reno dan pak Gino, karena kedua dosen itu seperti tak mau di sentuh oleh perempuan. Jadi mereka cuma mengatupkan tangan.


"Bentar-bentar kalian, mahasiswi kelas ...."


"Emm iya, Pak," ucap Risa. Mereka yang tadinya sudah mau duduk, terpaksa urung saat pak Sandi bertanya.


"Mereka temanan, Pak," ucap pak Reno, yang menangkap guratan keheranan dari rekan dosennya.


"Oh gitu, saya bingung saja tadi. Secara tidak ada yang tau kalau Ara tertabrak, tapi ini ada mahasiswi yang datang. Pak Damar juga sepertinya, heran?"


"Oh bukan, cuma memperhatikan pakaian mereka. Seperti ini bagus, tetap sopan walau bukan di kampus," puji pak Damar.


"Palingan karna di sini juga ada dua dosen, jadi menjaga kesopanan pakaian," ucap pak Gino kecil, tapi mampu di dengar jelas oleh Tania. Sontak saja, Tania melototkan mata. Ini lah alasannya kenapa, dia sangat ketus dan benci dengan pak Gino. Dari segi kelakuan hingga omongannya, selalu se enaknya.


"Dia pikir dia siapa? Enak banget nilai orang, se enaknya," gumam Tania, dan langsung di sikut Risa . Tania terus menatap sinis pak Gino, walau sudah di seret oleh Risa untuk duduk. Namun apa kata, yang di tatap pura-pura tidak tau, cuma kembali berbincang-bincang dengan yang lain.


Setelah sekitar sejaman lebih mengobrol, satu per satu pamit pulang. Tinggal 'lah pak Gino dan pak Reno, selaku dosen itu.

__ADS_1


"Woy, udah ih Tan. Itu mata enggak capek apa, sinis mulu enggak ngedip," celetuk Risa , Tania berdecak kesal.


"Lo juga Gin, apa-apa kalau ngomong di filter di sating. Biar enggak buat orang sakit, hati nanti," tambah Marvel.


"Ngomong apa? Emang benar kan, mereka emang kadang suka pakai pakaian yang enggak tertutup seperti ini," ucap pak Gino, membuat Tania naik pitam.


"Bapak kenapa se enaknya menilai?! Kita udah baik-baik pake pakaian gini, tapi Bapak malah menilai kita se akan-akan ... kita bukan perempuan baik-baik!" ucap Tania emosi, Dina mencoba meredakan emosi temannya. Pak Gino sendiri, diam dengan wajah bengongnya. Tidak menyangka kalau mahasiswinya sendiri, akan memarahinya di depan umum.


"Saya ini dos__."


"Udah diem! Ngalah aja napa, lo juga salah," ucap Marvel memotong perkataan pak Gino.


Terdengar suara monitor dengan tanda gawat dari ruangan Ara , dengan dokter dan dua orang perawat berlari ke arah mereka. Dan masuk ke dalam ruangan Ara . Semenit kemudian, keluar seorang perawat.


"Ada apa, sus?"


"Pasien kritis, kami akan melakukan tindakan medis. Yaitu mengoprasi pasien, ada gangguan di kepala pembuluh darahnya. Itu terjadi begitu saja, padahal sebumnya baik-baik saja. Kami meminta persetujuan dan tanda tangan keluarga, untuk oprasi ini," jelas suster itu, dengan menyerahkan selembar kertas persetujuan operasi.


"Kami tidak memeliki banyak waktu, mohon secepatnya," sambungnya.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok," ucap pak Reno, di setujui Marvel. Dan di situ juga, nenek,kakek serta abang Hendra yang baru tiba, juga mengangguk setuju.


"Baik, pasien akan kami pindahkan ke ruang operasi," ucap suster itu lagi.


Ara di keluarkan dari ruang ICU, dan mulai di bawa ke ruang operasi. Mereka semua berjalan di belakang suster yang mendorong brangkar Ara , dengan saling berdoa meminta keselamatan kepada sang pencipta.


"Kita doa in, semoga operasinya berjalan lancar," ucap Marvel . Dia bingung, mau menenangkan siapa. Antara Risa dan pak Reno, Risa ada Tania. Jadinya dia menenangkan temannya saja.


Reno menutup wajahnya, dengan terus merapalkan doa, agar istrinya selamat.


Sudah hampir sejam lebih mereka menunggu, tapi belum ada tanda-tandak akan matinya di atas pintu ruangan operasi itu. Ingin sekali Reno menerobos masuk, kalau saja tidak dia gunakan akal sehatnya.


Saat jam menunjuk 'kan pukul 4.29, lampu ruangan operasi mati. Mendakan operasinya telah selesai, bersamaan dengan itu juga. Tiga dokter keluar, dengan brangkar Ara yang di dorong keluar juga oleh suster.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Kita tinggal tunggu pasien sadar, mungkin malam ini akan sadar. In Sya Allah," ucap dokter Seno.


"Terima kasih ya Allah, terima kasih Dok."


"Emm, soal amnesia itu ...."


Dokter Seno menepuk pundak pak Reno dan berkata, "Apa'pun yang terjadi, kamu harus tabah. Tidak ada perubahan dari pemeriksaan saya, tetap memfonis pasien akan mengalami amnesi. Tapi doa kan yang terbaik, saja."


Pak Reno menghela nafas, dengan Marvel yang merangkul pundaknya. "Apa'pun yang terjadi, kita harus kuat," ucap Marvel. Mereka kembali berjalan ke ruang inap, ya Ara sudah di pindahkan ke ruang inap, bukan lagi ruang ICU.


"Kamu pulang istirahat gih, Nak. Sudah berapa hari kamu tidak pulang-pulang, badan kamu juga butuh istirahat. Ara juga sudah tidak apa-apa," ucap nenek.


"Iya Ren, lo pulang dulu deh. Istirahat," sambung Marvel.


Reno membuka pintu, masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Masih pucat, infus di tangan dan mulut. Dia berjalan mendekat ke arah ARa, mengecup kening Ara lama. "Mas pulang dulu, cepat sadar sayang. Mas sayang sama kamu," ucap Reno, kemudian melangkahkan kakinya keluar.


"Reno pulang dulu nek , bang ."


"Sekalian istirahat, tidur. Nanti kita kabari kalau Ara sudah, sadar," ucap neneknya Ara , Reno lagi mengangguk dan menyalimi neneknya Ara dan abang Hendra.


"Ayo," ajak pak Gino.


Di dalam mobil ....


"Udah dong, mukanya jangan dikusutin gitu. Dokter 'kan udah bilang kalau, Ara baik-baik saja dan akan sadar malam ini," ucap pak Gino, tetap fokus menyetir.


"Tapi am_amnesia, Gin."


"Takut kalau Ara enggak bakal ingat siapa-siapa? Udah, kita serahin sama Allah semuanya. Yang penting Ara baik-baik aja. All will be fine brother," ucap pak Gino lagi.


Sesampainya di rumah, mereka di sambut mbok Mina, tentunya juga dengan pertanyaan tentang Ara . Ya mereka menjawab apa adanya. Pak Reno pamit ke kamarnya, se sampainya di kamar. Dia langsung ke kamar mandi. Selesai mandi, pak Reno merebahkan badannya, dengan terus kepikiran Ara. Ya, ini baru pertama kalinya selama Ara terbaring, baru dia kembali tidur di kasur ini.


🐀🐀🐀


Entah berapa jam dia tertidur, suara dering ponsel membangunkannya. Hari memang sudah gelap, artinya ini sudah malam. Dengan mata yang masih berat, Reno mengangkat telepon.


"Halo, assalamualaikum," salam Reno dengan suara kecil, efek bangun tidur.


"Waalaikumsalam, masih tidur?"


"Masih," jawab Reno sekenanya.


"Ck. Gini lo cuci muka, terus ke rumah sakit."


"Kenapa?"


"Buruan, ARa udah sadar lagi di periksa sama dokter," ucap Marvel, mendengar itu Reno langsung menyimpan ponselnya, dan pergi mencuci mukanya. Lalu menyambar jaket dan kunci mobilnya.


Dengan kecepat yang bisa di bilang hampir di atas rata-rata, Reno membawa mobilnya ke rumah sakit. Padahal kondisinya belum memungkin 'kan, di mana dia baru bangun tidur.


Sesampainya di rumah sakit, Reno memarkirkan mobilnya dan lanhsung berlari menuju ruangan Ara . Ruangan A Ra berada di lantai tiga, jadi harus sabar. Sesampainya di lantai tiga, Reno langsung ke arah Marvel yang kebetulan masih ada di luar.


"Gimana?" Reno bertanya dengan nafas ngos-ngosannya.


"Abis olah raga malam? Bentar, lo tarik nafas buang. Ara baik-baik aja, kondisinya baik. Cuma ya ...." Marvel menggantung ucapannya.

__ADS_1


"Amnesia, Ren . Sulit bagi Ara ngenalin orang-orang, neneknya dan abang Hendra saja ... awalnya tidak dia ingat. Ya apa lagi kita, tapi kata dokter Seno, secara perlahan, Ara akan mengingat secara kecil hingga besar. Kita berdoa saja," ucap pak Gino. Reno menyugar rambutnya, ke belakang frustasi.


Pintu terbuka, keluar neneknya , abang Hendra dan Tania juga Risa. Mereka sama-sama memasang wajah sendu.


"Bagaimana, nek ?"


"Dia sedikit ingat dengan neneknya sama abang Hendra , tapi kalau Risa sama Tania ... masih belum dia ingat," ucap neneknya Ara dengan helaan nafas berat.


"Dokter juga bilang, kita jangan terlalu memaksa dia mengingat kita. Karena itu akan semakin, membuat kepalanya pusing dan saraf-saraf di otaknya .... Intinya, kalau itu terjadi akan membuat amnesia permanen," ucap Risa juga.


"Reno boleh, masuk nek , bang ?" tanya pak Reno, di angguki neneknya Ara dan Abang Hendram


Reno melangkah perlahan, mendekati Ara. Ara sendiri yang merasa ada orang yang masuk, mengalihkan pandangannya ke orang itu.


"Siapa?" tanya Ara, Reno tersenyum kecil dan miris. Hatinya sakit, istrinya sendiri tak mengenali dirinya.


"Su_maksud saya, dosen kamu," ucap Reno, hampir saja dia keceplosan. Kalau tidak cepat mengingat pesan neneknya Ara.


"Dosen?"


"Iya, kamu lupa? Apa perlu saya perkenalkan diri?"


"Emm, sepertinya. Karna saya lupa, nama Bapak siapa," ucap Ara dengan senyuman bodohnya.


"Kenalkan, saya Reno Fernandez. Biasa di panggil Pak Reno," ucap pak Reno dengan menjulurkan tangannya.


"Ara .... "


"Arabell Sofyani saya sudah tau," potong pak Reno, Ara tersenyum canggung. Demi apa, mereka seperti orang yang baru kenal saja.


"Bagaimana ke adaan kamu?" Ingin sekali dia memeluk dan menciuminya, namun apa daya ... itu pasti hanya akan membuat Ara kaget dan pasti akan menampar atau meninjunya karena sudah lancang.


"Sedikit baik, Pak. Tapi saya bingung, kenapa saya tidak ingat siapa-siapa ya? Cuma nenek dan abang yang saya kenal, yang lainnya tidak saya ingat. Padahal mereka kenal dengan saya," ucap Ara . "Salah satunya Bapak," sambungnya.


"Bapak kenal dengan saya, sedangkan saya tidak kenal Bapak. Dan dosen, emang saya kuliah di mana Pak?" Pak Reno terbengong, sampai tempat kuliahnya 'pun dia tidak tau? "Emm, kamu ingat di mana?" tanya pak Reno, dengan was-was. "Enggak Pak, bahkan saya tidak ingat saya sudah tamat Sma dan kuliah," ucap Ara,membuat pak Reno mengangguk dengan senyum getirnya. "Intinya saya enggak ingat, apa-apa."


"Jadi kamu hanya ingat dengan, nenek dan abang... kamu?"


"Iya Pak."


"Abang?"


"Emang saya punya, abang?" tanya Ara dengan bingungnya, pak Reno antar mau ketawa dan sedih. Karena Marvel yang tak di anggap.


'Tapikan saya juga, tidak di anggap suami,' batin pak Reno.


"Punya, namanya__." Perkataan pak Reno terpotong, saat pintu terbuka, masuk Marvel dan pak Gino.


"Mereka juga, siapa?"


"Tanya mereka aja," ucap pak Reno.


"Napa liatin gue kek, gitu?" tanya Marvel yang merasa horor, yang dilihat seperti ingin di telan hidup-hidup.


"Kenalan," ucap singkat pak Reno.


"Aaah iya, kenalin. Gue, Marve...Prana."


"Prana?"


"Iya, gue Abang lo."


"Ingat?" Aramenggeleng. "Enggak usah di paksa, yang penting lo tau kalau gue Abang lo," sambung Marvel lagi.


"Dan saya, Gino Praditnya. Saya dosen kamu."


"Dosen juga?" tanya Ara . "Juga? Maksudnya?" tanya pak Gino dan Marvel barengan.


"Ini, katanya dosen Ara juga," ucap Ara menunjuk pak Reno, mereka berdua mengangguk dan tertawa hambar.


"Aauu."


"Kenapa? Apa yang sakit?" tanya Reno cepat, Marvel dan pak Gino tinggal menganga, baru saja mereka mau angkat bicara, sudah di dului Reno.


"Sakit, setiap saya mau ingat, pasti bakal sakit atau pusing," ucap Ara dengan memejamkan mata.


"Enggak usah di ingat dulu, nanti tambah sakit. Kamu istirahat saja ya," ucap Reno lembut, lagi-lagi Keral dan pak Gino terbengong dengan cara temannya berbicara, apa lagi sambil tersenyum. Ternyata Ara membawa perubahan besar, ke pada pak Reno.


"Reno bukan sih?" tanya Marvel dengan tingkah bodohnya.


"Jangan-jangan itu kembarannya, atau Reno punya kepribadian ganda," duga pak Gino, tidak jauh bodohnya dengan Marvel.


"Dari pada ngomongin yang tidak jelas, mending kalian keluar!" ucap dingin Reno, dengan melangkah keluar meninggalkan pak Gino dan Marvel.


"Nah benerkan, dia punya kepribadian ganda. Sebentar-sebentar dingin, sebentar-sebentar lembut. Bingung gue," ucap pak Gino lagi.


"Udah keluar yo, entar ngamuk lagi temen lo. Dek, Abang keluar dulu," ucap Marvell pamit. Ara cuma mengangguk, masih bingung dengan kondisinya sekarang.


Sorry for typo. πŸ™

__ADS_1


Partnya udah lumayan panjang kan-kan-kan?


Huaa😭 Udah part 99 , enggak kerasa. Thanks all, sudah mendukung novellu ini dari nol.❀ I Love You So much, deh buat kalian.πŸ’•πŸ’• lope-lope banyak-banyakπŸ’—πŸ’—


__ADS_2