
Kejadian di kampus tadi, biarlah menjadi sejarah, atau bahan gosipan para mahasiswa/i tukang ghibah. Yang penting dirinya tidak dicap, dosen cabul, karena sudah menciumi mahasiswinya. Toh, Ara istrinya, dan orang-orang tau itu.
Check up, ya saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Akan menemui dokter Tifani, untuk check up kehamilan Ara, sekaligus akan melakukan USG.
Sesampainya di rumah sakit, pak Reno menggandeng tangan Ara, membawanya berjalan, menaiki lift, hingga ke ruangan dokter Tifani.
"Selamat sore, calon Ayah dan Ibu," sapa dokter Tifani.
"Sore juga, Dok," balas mereka berdua.
"Bagaimana keadaannya, sehat?"
"Alhamdulillah, sehat Dok."
"Bapak duduk dulu, saya akan periksa ibunya dulu," ucap dokter Tifani.
"Baik, Dok. Emm, bisa USGin Dok? Saya mau lihat, bayinya kembar atau enggak?" tanya pak Reno, agak kikuk.
"Bisa, Pak. Sebenarnya dari awal USG, saya memang menemukan yang agak ganjil. Tapi saat itu masih dua minggu, jadi tidak terlalu kelihatan. Baiklah, Ibu bisa naik berbaring ke situ."
Seperti sebelumnya, selesai memeriksa keadaannya, dokter Tifani memulai mengolesi gel dan menekan alat USG ke perut Ara, dengan mata yang melirik-lirik ke layar monitornya.
"Nah, bisa kita lihat di sini Bu, Pak."
Dilihatnya layar monitor itu, di sana terlihat seperti dua janin.
"Benar kembar, Dok?" tanya Ara, sedangkan pak Reno senyum-senyum seperti orang aneh.
"Betul, Bu."
Singkatnya saja ....
Sekarang mereka dalam perjalanan pulang ke rumah, sedari tadi pak Reno senyum dan senyum, tanpa mempedulikan tatapan aneh, dari Ara
"Hay semua, apa kabar? Wah, udah lama nih gue enggak live Ig." Dan bukan Ara namanya, kalau tidak pernah punya niat jahil. Sekarangpun, dia sedang siarang live instagramnya. Hoho, jangan lupakan kalau wajah suaminya yang sedang tersenyum, dia ikut sertakan.
Baru sepuluh detik, sudah ada beberapa yang bergabung, melihat siaran langsung Ara. Dan ikut menyertakan komenanan bawel sama rempongnya.
'Mukanya pak Revano deketin lagi, dong.'
'Bujubusyet, itu pak Reno senyum, 'kah?'
'Demi apa?! Pak Reno senyum?!'
'Ganteng parah!'
"Iya, kalian enggak salah lihat. Emang dia senyum, dari tadi senyum mulu. Udah persis orang rada, aneh," ucap Ara seenaknya.
'Ganteng gitu lo bilang, aneh.'
'Masa suami sendiri dibilang aneh, Ra.'
Sedangkan pak Reno, yang sadar tengah menjadi topik pembicaraan, langsung melirik ke arah Ara, seketika dia langsung menghentikan senyumnya, kembali memasang wajah jutek, judes, datar, dingin, dan lain sebagainya.
'Yah, suruh senyum lagi dong, Ra.'
'Masih belum puaaaaas gue!'
'Senyum lagi dong, Pak.'
"Senyum lagi katanya tuh," ledek Ara, sambil cekikikan.
"Kebiasaan, kamu Ra," ucap pak Reno sambil berdecak, dan cuma ditanggapi kekehan Ara.
"Haha, Mas yang dari tadi senyum-senyum persis orang aneh. Aku dicuekin," kata Ara, dengan wajah cemberut di akhir kalimatnya.
"Namanya orang senang, gimana dong?"
"Ya-ya, senangpun enggak usah segitunya juga."
"Hemm." Cuma begitu balasan pak Reno, dan kembali fokus menyetir tanpa berbicara apa-apa.
Setelah itu juga, Ara mengakhiri siaran langsungnya, dan kembali diam juga.
***
Enam bulan kemudian ....
Sudah enam bulan terlewatkan, artinya sekarang kandungan Ara telah menginjak, delapan bulan. Dan mengenangi kabar kuliahnya, sejak kandungannya menginjak lima bulan, Ara memang telah mengambil cuti. Mungkin sampai dia melahirkan atau kapan-kapan.
Mengenai Risa , empat bulan yang lalu dia dinyatakan hamil. Artinya, sekarang kandungan Risa baru menginjak, empat bulan, dan Risa juga telah mengambil cuti.
Tinggallah Tania yang masih kuliah, mungkin nanti dirinya yang akan duluan tamat. Dan sekarang, hubungannya dengan pak Gino masih romanti-romantis saja, juga tanpa diketahui orang-orang kampus.
Lalu hari ini, aktivitas mereka cuma bersantai di rumah. Di usia kandungan Ara yang sudah memasuki detik-detik akan melahirkan ini, dia sangat sering mengalami kontraksi atau kedua bayinya yang menendang-nendang. Tapi mereka belum tahu atau tepatnya, memang tidak mau tahu dulu, jenis kelamin bayi kembar mereka.
Kamar bayi, baju bayi, mainan bayi, bahkan tempat bermain pun sudah disiapkan. Itu semua kerjaan para calon nenek dan kakek, padahal Ara dan pak Reno yang akan memiliki anak, tapi para calon nenek dan kakek itu yang sibuk.
Tapi, maklumin sajalah. Namanya juga cucu pertama.
Pagi ini saja, mama Dewi dan nenek Ayu pagi-pagi sekali datang, dengan menenteng beberapa belanjaan. Yang Ara yakini, itu semua baju bayi. Walaupun belum tau jenis kelaminnya, tapi sepertinya mereka tetap keukeh membelikan baju bayi laki-laki atau perempuan. Dan katanya, kalau tidak seusai, baju-bajunya bisa disumbangkan atau dikasih ke anak Risa atau Tania nanti.
"Bayinya sering banget nendang-nendang, ya?" tanya mama Dewi, sambil mengelus perut Ara yang sudah sangat membuncit. Bahkan kata Tania, perut Ara seperti mau meledak saja.
"Hampir setiap jam, mereka nendang-nendang," ucap Ara .
"Dulu juga nenek saat ngandungin ibumu , nendang terus," ucap nenek Ara juga.
"Iyatuh, Mama juga waktu hamilin suami kamu, kayak gitu juga. Selalu nendang," lanjut mama Dewi.
"Ini Mama sama nenek, beliin baju lagi?" tanya Ara dan cuma diangguki keduanya.
Ara menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. Hey, satu lemari yang ukurannya agak besar, itu sudah hampir penuh gara-gara kerjaan abang-abangnya, dan mertuanya.
"Ara 'kan udah bilang, baju-bajunya udah banyak. Enggak usah dibeliin lagi,ucap Ara sambil terkekeh mengingat kerempongan mertua dan abang-abangnya itu.
"Jaga-jaga, Nak. Kalau kebanyakan, 'kan bisa didonasikan ke yang membutuhkan," ucap mama Dewi, disetujui nenek.
__ADS_1
Nah, kalau sudah begini, Ara bisa apa?
"Ehiya, Renodi mana?" tanya mama Dewi
"Masih tidur Ma," jawab Ara seadanya.
"Ya ampun itu anak, masa jam segini dia belum bangun!" Mama Dewi bersiap berdiri, ingin menghampiri sang anak yang katanya masih berkutak dengan kasur, selimut, dan bantal. Tapi ditahan oleh Ara
"Mau kemana?" tanya Ara.
"Mau bengunin anak itu, masa belum bangun-bangun!"
"Enggak usah Ma, Mas Reno baru tidur kira-kira jam ... tiga subuh. Pekerjaannya banyak, mana semalam Ara juga rewel mau ditemani tidur," ucap Ara menarik mertuanya untuk duduk kembali.
"Jam tiga? Memang gila kerja sih, itu anak!" omel mama Dewi
"Udahlah, ini juga baru jam tujuh. Marvel saja kalau tidak ada urusan penting, dia baru bangun jam sembilan kalau tidak dibangunin," ucap nenek, terdengar seperti ... membela cucu menantunya.
"Iya Ma, nanti juga bangun," tambah Ara.
Mama Dewi cuma bisa mengangguk pasrah, dalam hatinya berkata, 'untung kamu punya mertua sama istri yang baik, Ren .'
"Kamu mau makan, apa?" tanya mama Dewi, mengalihkan pembicaraan.
"Lho, Mama sama nenek kapan datangnya?" Orang yang baru dibicarakan, ternyata sudah ada di tangga dengan wajah khas, orang yang baru bangun tidur.
"Sudah dari tadi, kamu yang tidurnya kayak kebo. Masa kita datang tapi, kamu enggak bangun-bangun," omel mama Dewi lagi, sedangkan yang diomeli cuma menggaruk kepalanya.
Tanpa membalas omelan sang mama, pak Reno langsung pergi menyalimi mertuanya dan nenek yang masih memandangnya kesal.
"Selamat pagi anak Ayah," sapa pak Reno, sambil mengelus dan mendekatakan kepalanya ke perut Ara. Memang sudah hampir menjadi rutinitasnya setiap bangun tidur, mengelus perut Ara dan menyapa calon anaknya.
"Ya sudah, Mama pergi masakin sarapan dulu," ucap mama Dewi, yang mungkin tak mau mengganggu suasana romantis mereka.
"Lho, enggak usah masak Ma. Ada mbok Mina yang bakal masak juga," ucap pak Reno, dan seperdetik kemudian, satu lemparan bantal sofa melayang ke arahnya.
Buk.
Tepat sasaran.
Tepat mengenai kepala pak Reno.
"Kalau ngomong itu disaring dulu, Ren ! Mentang-mentang mbok Mina kamu gaji, jadi seenak jidatnya kamu merintah sana-sini!" omel mama Dewi.
Sedangkan yang kena lempar, cuma mengusap-usap kepalanya dengan ringisan. Sungguh tak berperasaan mamanya itu.
"Sakit Mah," ucap pak Reno, masih meringis.
"Makanya!"
"Udah-udah, ayo kita pergi masak Mbak," sela bunda Hilma, diangguki mama Dewi, lalu mereka berdua berlalu pergi ke dapur.
"Sakit, Sayang," adunya, Ara cuma memandang malas suaminya. Masa cuma kena lempar bantal seempuk beguti, sakit.
"Jangan lebay deh, Mas," ucap Ara, tapi tetap mengelus kepala suaminya yang terkena lempar.
"Mama enggak berperasaan banget sih, sama anaknya," kata pak Reno, dengan mendudukan dirinya di samping Ara .
Pak Reno menyengir. "Sayang ada yang mau Mas omongin sama kamu," ucap pak Reno, menghadap dan menatap Araserius.
"Apa?"
"Sebenarnya Mas ..., gimana ngomongnya, ya? Mas ... mau pergi ...."
"Pergi kemana? Mau pergi ninggalin Ars? Pergi sama perempuan lain, Gitu?!"
"Astaghfirullah, bukan itu Sayang," desah pak Reno, dengan wajah meringis melihat wajah garang Ara.
"Terus, apa?!"
"Oke-oke, Mas bilang. Mas akan keluar negri besok, ada pekerjaan Mas yang harus diurus. Jadi jangan salah paham, oke? Mas ada urusan pekerjaan, bukan pergi karena perempuan," ucap pak Reno dengan cepat.
"Sebentarnya berapa hari? 'Kan Aralagi hamil besar, masa Mas ninggalin Ara ," cicit Ara. dengan mata yang berkaca-kaca. Entahlah, walau sudah 8 bulan, tapi mood Ara masih kadang tak beratur.
"Lima atau seminggu. Mas juga enggak mau ninggalin kamu, tapi pekerjaannya Mas itu enggak bisa ditunda-tunda," jelas pak Reno, menghapus air mata Ara yang sudah menetes, dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Seminggu?" tanya Ara
"Itu waktu yang paling lamanya, Sayang. Paling besar kemungkinan, empat atau lima hari Mas di sana."
"Emang, di mana?"
"Singapura," jawab pak Reno, diiringi suara helaan nafas Ara.
"Berangkatnya besok? Terus belum siap-siap?" tanya Ara lagi, dan diangguki pak Reno.
"Belum."
"Ya sudah, nanti Ara yang bantu kemasin barang-barang yang mau Mas bawa," ucap Ara.
"Makanan sudah siap, ayo makan!" panggil nenek, dari dalam, meja makan.
"Ayo pergi makan," ajak pak Revano, membantu Ara berdiri dan menuntunnya berjalan.
Mereka mulai makan dengan tenang, di tengah-tengah makan mereka, pak Reno berdehem. Untuk mengawali pembicaraan.
"Ma, Bund. Reno mau nitipin Ara sama kalian," ucap pak Reno, membuat mama dan nenek mertuanya itu mengerinyitkan dahi, bingung. Sedangkan Ara mendengus, memangnya dia apa pake dititipin segala?
"Kamu mau kemana?" tanya mama Dewi.
"Reno ada kerjaan ke luar negri, Mah. Agak lama, seminggu mungkin. Jadi Ara mau Reno titipin ke kalian," jelas pak Reno.
"Berangkatnya kapan?" tanya mama Dewi lagi.
"Besok."
"Kenapa baru bilangnya sekarang?"
__ADS_1
"Reno juga baru tau semalam, dari Indra Mah. Ini emang mendadak," kata pak Reno.
"Ya sudah, biar Ara tinggal sama Mama saja. Kalau sama nenek mu nanti tambah sibuk. Di sanakan ada Risa yang lagi hamil juga," ucap mama Dewi.
"Enggak apa-apa, 'kan ya Mbak?"
"Enggak apa-apa, tapi kalau nanti Ara ngerepotin, bawa ke rumah saja langsung," ucap nenek Ara
"Ih, nenek!" rengek Ara.
"Lho, nenek enggak salah, 'kan? Kamu memang kadang ngerepotin, iya gak Ren ?" goda nenek, dan diangguki pak Reno sambil terkekeh.
"Emang iya Ara ngerepotin?" tanya Ara dengan wajah sendunya.
"Eh-eh, udah enggak usah dengerin Sayang. Kamu enggak ngerepotin kok, justru Mama senang kalau ada teman di rumah nanti," bela mama Dewi , sambil mengelus pipi Ara
"Tapi ...."
"Mas juga cuma bercanda, Sayang. Maaf, ya? Ini makan lagi," kata pak Reno, dengan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Ara.
Sedangkan nenek , cuma terkikik dengan kebaperan cucunya, yang memasuki tingkat akut.
***
"Bajunya segini emang udah cukup?" tanya Ara sambil membolak-balikan pakaian pak Reno, yang berada di koper.
"Sudah lebih dari cukup, Sayang. Nanti Mas bakal beli juga di sana, udah kamu pergi istirahat," pintanya, sambil memeluk Ara dari belakang, tangannya mengelus perut Ara.
"Mas di sana jangan banyak tingkah, mentang-mentang Ara enggak ada. Jadi Mas keganjenan sama cewe-cewe bule sama seksi di sana!"
"Lho-lho, kenapa malah bahas perempuan?"
"Siapa taukan? Apalagi ... badan Ara kayak gini, kaki bengkak, badan gendut, sekarang cuma bisa pake daster saja. Dan di sana pasti banyak yang cuma pake tank-top, baju ngetat, badannya bagus," ucap Ara dengan wajah ditekuknya.
"Enggak bakal Sayang, benaran. Jangan banyak pikiran kayak gitu, enggak baik," ucap pak Reno, mulai ke jiwa-jiwa posesifnya.
"Tapi emang benar, 'kan? Kalau badan Ara udah kayak ... gini," lirih Ara, nyaris tak terdengar.
***
Saat ini, Ara dan Reno sedang duduk santai di depan televisi, tentunya sambil menonton. Nonton apa? Apalagi kalau bukan berita, breaking news, acara terfavorit Reno.
Yah, setelah acara beres-beres barang yang akan dibawa Reno, dan juga sedikit cekcok masalah perempuan, badan gemuk pasangan seksi, dan daster pasangan baju ngetat.
Selang beberapa menitan mereka tinggal duduk sambil nonton, bell rumah berbunyi. Ya, sejak dua bulan yang lalu, pak Reno memang memasang bell rumah. Katanya, kalau ada tamu, mereka enggak usah capek-capek ngetuk atau teriak seperti, Marvel setiap datang.
"Masuk aja!" teriak Reno. Lagian siapa juga yang bertamu sore-sore begini? Pengantar makanan? Tapi mereka enggak pesan-pesan apa-apa. Palingan yang datang pak Gino atau keluarga yang lain.
Beberapa detik setelah Reno menyeru, masuk seorang perempuan dengan jalan bak model kelas atas, dengan wajah yang memang sesuai menjadi model. Wajahnya cantik, badannya bagus. Sangat berbeda dengan penampilan Reya saat ini.
Reno yang awalnya memandang seperti berpikir, tapi sedetik kemudian dia menampakan wajah cengo.
"Halo, Baby!"
Mampus.
Tidak salah lagi.
Orang ini.
Dia ....
"Vanesha?!" pekik tertahan pak Reno. Sedangkan Ara diam, mengamati.
"Iya, ini gue! Enak ya! Mentang-mentang gue pergi selama empat tahun, lo enggak pernah lagi hubungun atau sekedar nanya kabar gue!" ujar perempuan yang bernama Vanesha itu, dengan menggebu-gebu.
"Kapan balik?" tanya pak Reno.
"Kipin bilik?! Tadi pagi! Gue balik, tapi lo enggak tau?! Padahal gue udah ngedeem lo seratus kali, tapi enggak perah lo respon," ujar Vanesha masih menggebu-gebu.
"Enggak gue lihat," balas pak Reno, disertai gelengan dan wajah polosnya.
Vanesha merengut, kemudian melirik ke arah Ara. Tiba-tiba ide cemerlang muncul di otaknya.
'Bermain-main sedikit enggak apa-apa kali, ya?' batinnya.
Dengan hitungan detik, Vanesha langsung duduk di samping pak Reno, sambil bergelayut manja.
Sontak saja, aksi dari Vanesha itu membuat pak Reno kaget, bukan main. Apa lagi saat melihat mata Ara yang sudah memerah, menahan tangisnya.
Baru saja mereka membahas wanita-wanita seksi, cantik, dan sekarang ....
Ya Tuhan, andaikan Vanesha bukan keponakan papanya, sudah pak Reno lemparkan dia sekarang. Eh tunggu, keponakan Papanya? Artinya, Vanesha adalah sepupu pak Reno?
"Nes-Nes, lepas! Atau saya lempar kamu kembali ke luar negri!" gertak pak Reno, mengancam.
Mendengar gertakan dan bahasa pak Reno yang memakai ... saya-kamu, langsung saja Vanesha melepas gelayutannya dan langsung beridiri. Melihat tatapan tajam dari pak Reno, dia menelan selivianya susah. Ternyata, sepupunya itu belum berubah juga galaknya.
"Siapa?" tanya Ara, dengan mata berkaca-kaca.
"Ah, apa siapa? Siapa apa?" tanya balik pak Reno, yang tak jelas.
Ara mendengus. "Dia siapa?" tanya Ara tanpa pergerakan.
"Oh, dia sepupu Mas, Sayang. Jangan salah paham, dia betu-betul real, sepupu Mas," ucap Reno, sambil menendang-nendang kaki Vanesha, menyuruhnya mengiyakan.
Vanesha yang tak mau kena amuk sepupunya, langsung menganggukan kepala disertai cengirannya.
"I-iya, gue eh, saya eh, aku sepupunya Reno," ucap Vanesha, tergagap.
"Nah iya, dia sepupunya Mas Sayang. Dia keponakannya papa," tambah Reno, mengelus kepala Ara menampakan senyumnya yang semanis mungkin.
Vanesha memandang sepupunya, atau yang notabenya kakak sepupunya itu dengan geli
Sorry for typo🙏🙏
Semangat berjuang buat ngehibur bumil, Pak🤣🤣
__ADS_1
Warning, mungkin tinggal beberapa part lagi, ini akan ending. Jadi ... buat para pembaca atau penggemar dua pak Dosen, babang Marvel, dan RTA (Risa, Tania, dan Ara ), thanks buat semuanya.
Note; Jangan pada demo🙏🤣🤣