
"Assalamualaikum, anaknya Papah," ucap Marvel ke pada anaknya. Sekarang ini, Risa sudah dipindahkan ke ruang rawat. Tunggu sampai 1 atau 2 hari, baru dipulangkan ke rumah.
"Jagoannya Papah mau tidur, ya? Ngantuk?"
"Namanya siapa, Bang?" tanya Ara menatap bayi kecil mungil itu yang berada di gendongan Marvel .
"Tante nanya tuh, nama kamu siapa, Nak?" tanya Marvel ke anaknya, "Namanya—"
"Jangan-jangan lo belum nyiapin nama ya, Vel?" Kembali pak Gino menebak dengan seenak dengkulnya, juga dengan tampang watadosnya.
Marvel mendelik. Masa iya dirinya tidak menyiapkan nama? Aneh memang temannya yang satu itu.
"Vidran Naufal, ditambah marga belakangnya yang bernama 'Prana.' Jadi nama lengkapnya, Vidran Naufal Prana. Panggilannya Naufal," ujar Marvel, meletakkan kembali anaknya ke boks bayi.
"Hey, Naufal. Kamu ganteng deh. Mirip banget dia sama Risa, Kak," ujar Tania, terus memperhatikan lekukan wajah bayi itu--Naufal. Begitu juga Ara
"Masa sih?" tanya pak Gino, ikut mendekat ke boks. "Lah, iya. Jangan-jangan dia bukan anak lo, Vel?"
"Sembarangan! Enggak lihat apa, kalau matanya mirip sama gue?!" tanya Marvel, ngegas.
"Weh, santai kali, Bang. Jangan ngegas, Dina nanti bangun," tegur Ara
"Anak lo juga, nanti kaget," timpal pak Gino, tanpa rasa bersalahnya.
Marvel memijit pelipisnya dengan helaan nafas kasar. Ingin berkata kasar, namun ada mertuanya di sana. Tidak mungkin dia menurunkan citra dan harga dirinya hanya karena, ulah teman yang tak ada adab.
"Kenzo sama Kiano kalian tinggalin di mana?" tanya Marvel, mendudukkan dirinya di samping pak Reno. Ya, daripada meladeni pak Gini, yang hanya membuatnya darah tinggi.
"Sama neneknya," jawab pak Reno singkat.
"Kalau gitu ... lo enggak mau balik?"
"Ngusir?"
"Ya enggak. Cuma 'kan, nanti anak kalian bangun, terus nangis cari emaknya. Entar, tetangga mama enggak bisa tidur," ucap Marvel.
"Khem, memang balik. Tapi itu ... mau diajak balik sekarang, gak?" tunjuk pak Reno ke Ara, yang masih sibuk dengan Naufal.
"Gue bantuin."
"Dih, emang mau niatan ngusir, 'kan?
"Enggak, ya Allah. Su'udzon pake banget Anda."
"Percaya ajalah. Ya udah, sana ..." suruh pak Revano, mendorong bahu Marvel
"Hmm, Ara. Reno ngajik pulang tuh."
Ara melirik ke arah pak Reno, yang sedang mengobrol dengan ayah Risa, juga abang Hendra.
"Belum juga ada setengah jam di sini," gerutu Ara, yang memang belum mau pulang. Toh, kalau kedua anaknya bangun, pasti mertuanya menelpon, ini tidak.
"Masa enggak ngerti, Ra. Reno, mau minta bagiannya mungkin," ujar pak Gino, dengan wajah menyebalkan.
"Bagian? Apa?"
"Jatah mungk— awwh. Kenapa mukul Abang, sih? Enggak ada yang salah dengan omongan gue, perasaan?" ujar Marvel, mengusap lengan yang barusan jadi sasaran Ara..
"Ngomong ngadi-ngadi! Enggak bisa direm pula! Enggak ingat kalau di sini ada yang belum, nikah?" tanya Ara, sedikit menggoda Tania. Sedangkan Tania, pura-pura tidak dengar.
"Nyindir saya?" Pak Gino bertanya dengan wajah jutek dan judesnya.
__ADS_1
"Dih-dih. Ngerasa?" ledek Marvel, dengan kedua alis dinaik-turunkan.
Si kecil Naufal👇
****
Delapan bulan. genap delapan bulan usia si kembar sekarang. Dan sesuai rencana, Ara sudah mulai berkuliah kembali sejak sebulan yang lalu. Juga tentunya, pak Revano sudah beberapa bulan mengundurkan diri dari mengajar di kampus, kembali fokus ke pekerjaan kantornya.
Bagaimanapun, menjadi mahasiswi sekaligus ibu rumah tangga, tentu itu sangat melelahkan serta merepotkan. Untungnya, mama Dewi selalu siap membantu. Dan nenek Ara juga, tapi itu kalau Risa sedang pergi menginap ke rumah orang tuanya.
Ngomong-ngomong soal si kembar, mereka berdua sudah bisa duduk sendiri dan merangkak. Bahkan, karena sudah bisa merangkak kesana-kemari itu membuat orang-orang yang menjaganya bisa sangat kelelahan, saking aktifnya mereka bergerak.
Bangun pagi-pagi sekali, walaupun tidur kadang kemalaman. Bangun pagi, menyiapkan baju suaminya serta keperluan lain. Memasak, walau ada mbok Mina atau kadang-kadang mama Dewi yang datang membawa makanan. Tapi Ara tetap memasak.
Selain itu, jika tidak ada kelas pagi, dia sibuk mengurus kedua anaknya. Menyuapinya makan, memandikan mereka, dan jika masih ada waktu, dia bermain dulu. Jika ada tugas, dia akan mengerjakannya di kampus nanti.
Repot memang menjadi jika menjadi mama muda seperti Ara
"Baju kantornya Mas, udah aku siapin di atas meja kasur," ucap Ara sambil menyisir rambutnya.
"Besok-besok, enggak usah nyiapin."
"Kenapa?"
"Memangnya kamu enggak capek? Tiap hari nyiapin baju, Mas? Memasak? Malam kamu begadang, paginya bangun pagi-pagi sekali. Badan kamu juga butuh istirahat," ujar pak Reno. Selelah lelahnya dia, tapi dia tau Ara lebih lelah dari dirinya.
"Apa bedanya dengan, Mas? Udah biasa juga aku bangun pagi. Lagi ini hanya untuk sementara, nanti kalau mereka udah besar, apalagi kalau udah nikah. Kejadian seperti ini cuma bisa menjadi kenangan. Emm, Mas nanti jadi jemput, 'kan?" tanya Ara setelah berbicara panjang lebar.
Pak Reno menghela nafas. Memang tidak ada bedanya, dia juga sering begadang, dan bangun pagi, tapi ... sudahlah. Jika membahas soal ini terus, akan berakhir pertengkaran yang membuat si kembar bangun.
"Dih, Mas punya banyak mata-mata rupanya. Hais, jadi enggak bisa banyak gerak dong deketin laki-laki," candanya, namun seperti ditanggapi serius sang empu.
"Berani, kamu?! Jangan coba-coba? Kalau tidak mau laki-laki itu terbaring di rumah sakit!" ancam pak Reno, dan cuma disambut kekehanan Ara
"Jangan kejam gitu lah, pak suami ganteng? Eh, Pak bos terganteng dari semua planet,yang berada di dalam doa dan my heart," goda Ara, mencolek dagu pak Reno dan tertawa.
"Pak bos terganteng dari semua planet?" gumam pak Reno, yang tak merasa asing dengan julukan itu. Tapi kemudian matanya terbelalak, diikuti mulutnya. "Kamu ... Indra yang ngasih tau?" tanyanya, setelah mengingat si pemberi julukan itu.
Ara mengendikkan satu bahunya, kembali tertawa. Lalu mendekati Rafa dan Rafi yang masih tertidur.
'Pak bos terganteng dari semua planet, yang berada di dalam doa dan my heart, ' adalah julukan dari janda satu anak, penjual makanan di kantin perusahaannya, yang menggantikan penjual sebelumnya. Pernah sekali dia datang ke sana untuk membeli kopi, dengan seenak jidat dan genitnya, janda itu memanggilnya dengan panggilan itu. Saat dipanggil begitu, tanpa mengucap sepatah katapun, pak Reno langsung pergi dari sana. Antara geli sampai-sampai mual, dan kesal tambah malu karena semua karyawan yang kebetulan berada di sana sedang menahan tawanya.
"Ada gunanya juga masukin Indra ke grup ghibah. Lumayanlah bisa ngorek gosip dari kantor, yang enggak pernah Mas cerita," lanjut Ara.
Grup ghibah, yang berisikan hampir semua anggota keluarga. Cuma Indra yang sebagai orang luar. Tapi cuma pak Reno yang tak ada. Karena alasannya, dia tidak mau ikutan bergosip atau sekedar melihat yang menumbulkan dosa.
"Kalian gosipin apa lagi?" tanya pak Reno, juga berjalan menekati kedua anaknya, setelah selesai memakai pakain kantornya.
"Hem, apalagi, ya? Emm iya, katanya lagi, Mas selalu dikirimi makanan setiap makan siang, disertai surat cinta. Yang seperti ini, 'Bos ganteng, jangan lupa makan siang ya. Biar ada energi buat kerjanya. Biar selalu sehat dan fres. Pak Bos ganteng deh.' Dan katanya lagi, Mas cuma ngasih makanannya ke cleaning service, tukang bersih-bersih kantor. Suratnya Mas lemparin ke Indra,"ujar Ara panjang lebar, kembali mencolek dagu pak Reno.
"Bisa muntah Mas kalau dimakan. Liatinnya aja udah buat mual," ucap pak Reno, mengangkat kedua bahunya, bergidik ngeri.
"Kasihan atuh, Bos ganteng se planet. Ada lagi yang Indra foto yang tulisannya gini, 'jangan lupa makan, Bos. Sayang dan cinta bos banyak—"
"Udah-udah! Udah, ya?! Jangan sampai Mas muntah di sini sekarang! Indra ... butuh dikurangin gaji sepertinya itu anak!" geramnya, sambil berdiri dan berjalan pergi mengambil jas kantornya.
"Eh, jangan. Entar enggak ada lagi dong, yang bawa gosip." Ara masih kekeh meledek suaminya, yang kelihatannya sudah mulai kesal.
"Biarin! Nyesel juga Mas enggak masuk ke grup kalian, ujung-ujungnya jadi ghibahan kalian, 'kan?"
__ADS_1
"Yaaah, kalau Mas masuk dari awal ... enggak seru juga sih, karena enggak mungkin Indra mau gosipin bosnya kalau bosnya sendiri ada di situ," ujar Ara, sambil cekikikan.
Pak Reno menjentikan jarinya. "Justru itu," ucap pak Reno cepat.
Tok ... tok.
Ketukan di pintu, mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kalian sudah bangun?"
"Mama," ucap pak Reno tanpa suara, ke Ars.
Ara berdiri, berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Pagi-pagi gini udah datang, Ma? Enggak takut gitu kalau misalanya ... ngeganggu kita berdua?" tanya pak Reno, tanpa menatap ke arah mama Dewi. Karena sedang memakai dasinya.
"Ganggu, apa?!" Mama Dewi ngegas, menatap nyalang ke arah putranya.
"Sst, mereka masih tidur, Ma," ucap Ara.
"Ya Tuhan, Mama lupa. Gara-gara kamu nih, Ren!"
"Lha, kenapa jadi aku? Mama yang teriak juga. Reno dari tadi diam di sini pakai dasi. Mama yang ngegas juga," balas pak Reno, dengan wajah yang ingin ditimpuk.
"Sana berangkat, kamu! Tinggal di sini cuma naikin darah," ucap mama Dewi, melangkah masuk ke arah cucunya setelah diajak Ara.
"Hih, Mama sendiri yang mancing darah naik. Lagian aku masih mau sarapan, manja-manjaan sama istri, main sam—" Ucapannya terhenti, saat Ara membekam mulutnya.
"Mas turun makan duluan, ya? Aku mau beresin kamar dulu." Ara menarik tangan pak Reno keluar kamar, mendorong-dorong kecil belakang pak Reno menjauh dari pintu kamar.
"Tapi–"
"Nanti aku nyusul."
"Iya, tapi itu—"
"Kenzo sama Kiano mau aku mandiin dulu kalau sudah bangun, baru bawa turun."
"Itu—"
"Duluan aja, ya?"
"Jam tangan Mas, Ra. Tertinggal di meja kamu tuh," tunjuk pak Reno, lalu tangannya beralih menyentil kening Ara
"Owh, bilang dari tadi."
"Udah bilang."
***
"Ya ...."
Itu panggilan dari Kiano.
"Hei, udah bangun? Udah ganteng nih, sudah mandi pasti. Hmm, sudah harum juga nih anak Ayah," ucap pak Reno, mengambil alif Kiano dari gendongan Ara .
"Ini siapa? Kenzo atau Kiano sih, hmm? Mukanya kok samaan, ya?" celoteh pak Reno, membuat Kiano tertawa dan memperlihatkan dua gigi bagian bawahnya.
Pak Reno beralih menggendong Kenzo, setelah mengembalikan Kiano ke Ara. Memang seperti itu, jika menggendong salah satunya duluan, maka harus berganti dengan yang satunya lagi jika sudah. Ya kata pak Reno, biar tidak saling iri mereka. Apalagi, Kenzo bisa dibilang dia sangat ingin selalu nempel ke ayahnya.
To be continued.
Sorry for typo.
__ADS_1