Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 59. Dunia Ara


__ADS_3

Pagi Senin. Akan aku pastikan hari ini adalah hari kebahagiaan. Aku tak ingin terus berlarut dalam kesedihan, meski kesedihan itu rasanya tak ingin menjauh dan terus mengikuti seiring dengan langkah kaki yang berjalan.


Setelah memastikan semua perlengkapan sekolah selesai, aku segera turun dari kamar. Walaupun jam masih menunjukkan pukul 6.25 WIB, aku tetap ingin berangkat pagi. Tentunya aku tak ingin dulu bertemu orang-orang di rumah ini. Masih canggung dan rasanya aku masih sedikit kecewa pada mereka.


Tak ingin berlama-lama, sampai di depan pintu aku segera memesan taksi online. Ini gara-gara Bang Refan, seharusnya ia tak melarangku untuk mempelajari cara menyetir. Kalau sudah begini, kan, repot.


Kaki terus melangkah ke ujung kompleks. Lumayan, biar hemat sekaligus olahraga pagi. Kan, untung.


Tin!


Aku segera menepi dari jalan setelah mendengar klakson motor dari belakang. Sedikit menoleh pada kendaraan roda dua yang membunyikan klakson. Motor itu berjalan dengan lambat di belakang.


Tin!


Tin!


Kembali menatap pada sosok yang terus membunyikan klakson motornya. Tak dikenal, juga tak diketahui. Ya jelas, orang dia pakai helm.


Tin!


“Hei.”


Aku diam. Menghentikan langkah, lantas menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada orang. Dengan siapa orang ini berbicara?


“Gue bicara sama lo, Arabell ”


Kutunjuk diriku menggunakan tangan. Orang itu menggangguk kemudian melepas helmnya.


“Lo nggak kenal gue?” Ia mengguyar rambutnya kebelakang. Persis seperti iklan sampo.


Aku menggeleng. Terus menatapnya dari atas sampai bawah. Dia terlihat seperti blasteran Indonesia dan ... apa, ya? Belanda?


Ia berdecak. “Gue Dede, ingat?”


Dede? Seperti pernah mendengar tapi lupa. Apa mungkin Dede dalam film super Dede?


Ah, masa?


Ia mendengus kemudian turun dari motornya.


“Liat gue.” Ia memutar tubuhnya dengan gerakan slow motion persis seperti model ondel-ondel di jalan raya.


“Gimana? Udah ingat?” tanyanya seraya menghentikan gerakannya.


Aku menggeleng. Lagian siapa sih? Jangan-jangan maling yang ngaku-ngaku kenal.


“Arabbell Renata ! Gue Dede teman sebangku lo waktu SMP!” Ia mengguyar rambutnya, terlihat frustasi.


Aku terkekeh. Baru ingat dia siapa. Lagian dulu perasaan dia gemuk, juga lebih pendek dariku, kenapa sekarang kurusan dan jauh lebih tinggi?


“Ngapain lo ketawa? Nggak lucu!”


Wajah kesalnya membuat tawaku makin pecah. Jadi pengen buli dia lagi. Eh


Setelah mengatur nafas karena tertawa, aku kembali menatapnya serius. Sedikit mendongak karena tubuhnya memang tinggi.


“Lo mah nggak asik, nggak pendek lagi,” ucapku dengan maksud menghalau suasana yang kembali canggung. Bagaimana tak canggung, dia diam saja selama aku tertawa.


“Kalau gue pendek, ntar lo buli lagi.” Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, “Mana Reno? Biasanya dia sama lo.”


Aku diam tak berniat untuk menjawab pertanyaannya.


“Oh, iya. Dari mana aja lo selama ini, kok nggak keliatan?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


Ia kembali menatap. “Gue ikut mommy ke Belanda, kemarin baru pulang lagi ke Indonesia.”


Aku manggut-manggut sembari mengusap dagu bawah. “Padahal lo juga nggak guna ke Indonesia,” gumamku tanpa sadar.


“Apa lo bilang?!”


Aku tersenyum menampilkan gigi-gigi padanya.


“Gue bilang lo ganteng,” jawabku asal.


Dahinya berkerut bahwa ia tak setuju dengan ucapanku barusan. Aku hanya cengengesan. Apa dia dengar?


“Ada yang aneh sama lo,” ujarnya.


“Apa?”


“Biasanya lo gak pake panggilan lo-gue.”


Aku terdiam sejenak kembali memutar otak pada kejadian semalam. Di mana Cindy memberi saran agar tak terlihat sangat manja. Aku memang minta saran padanya agar tak terlihat manja. Mungkin dengan cara ini bunda kembali memperhatikanku. Karena bagaimanapun aku tak ingin kehilangan perhatian nenek dan ayah . Aku sayang padanya.

__ADS_1


'Ubah bahasa panggilan lo, jangan Ara lagi tapi lo-gue' begitu sarannya.


“Oh, gue tahu. Pasti pengen keren, ya, kan?”


Kembali menatap pada cowok yang berdiri di depanku kemudian mengangguk. Iyakan saja.


“Mau nebeng?” tanyanya.


Aku menggeleng. “Nggak usah, gue udah pesen taksi online.” Sedikit canggung sebenarnya dengan panggilan 'lo-gue'.


“Cancel aja, lagian kita satu sekolah juga.”


“Satu sekolah?”


“Iya, gue sekolah di SMA NUSA BANGSA sekarang.”


“Dari mana lo tau gue sekolah di sana?”


Ia mengangkat-angkat dagunya ke atas. Ada apa dengan dagunya, apa keseleo?


Ia berdecak. “Seragam lo!” Tunjuknya pada seragam yang kukenakan.


Aku mengangguk kemudian mengeluarkan ponsel dari tas. Beralih memencet tombol cancel pada taksi online yang ku pesan tadi. Jika ada yang gratis, kenapa tidak?


“Ayo!” Kutarik tangannya ke arah motornya.


Bertepatan dengan aku yang baru memasuki motor Dede. Sebuah motor berlalu dengan kencang. Aku terpaku sebentar menatap motor itu. Reno. Ia hanya sendiri tak bersama Rissa. Syukurlah.


“Udah?”


Aku mengangguk setelah memastikan duduk dengan benar. Motor melaju memecah jalanan yang sudah ramai oleh anak-anak sekolah yang lain.


“Menurut lo, gue manja gak?!” tanyaku sedikit berteriak.


Dede mengangguk. Selang beberapa detik ia menggeleng. Jadi, aku manja atau tidak?


Dengan modal berpegangan pada belakang motor yang membuat jantung jedak-jeduk tak karuan seperti bertemu setan. Aku telah menetapkan, kalau aku akan membuat hari seperti semula lagi. Lagian tak ada gunanya mendendam pada keluarga sendiri. Apalagi pada bunda, aku tak ingin pandangannya padaku bertambah buruk hanya karena aku yang terlalu manja dan mungkin ... berlebihan menurutnya.


Mungkin saja mereka hanya perhatian pada Rissa karena mengingat hidup gadis itu yang sebelumnya menderita. Walau sedikit ada keraguan dalam hati tapi bukankah kita dianjurkan untuk positif thinking terhadap sesuatu.


Begitu motor Dede memasuki parkiran, aku segera turun kemudian merapikan rambut yang sedikit berantakan.


“Temenin gue ke kantor guru.”


Begitu cowok itu sudah masuk ke dalam ruang guru, aku segera melangkah menuju kelas. Tepat di depan kelas Reno, langkahku sedikit melambat, menoleh pada kelas yang dominan murid-murid kalem dan cerdas atau kutu buku. Seseorang yang tengah tertawa bersama teman-temannya menjadi fokusku saat ini. Tepat pada bangku pojokan. Reno.


“Masuk aja, Ra Mau ketemu Reno, kan?”


Aku menggeleng pada gadis yang tengah duduk pada bangku putih tepat di sebelahku. Setiap kelas memang memiliki bangku putih yang berkisar muat lima orang, bisa dijadikan tempat membaca dan nongkrong sebelum masuk kelas.


“Gue pergi dulu.”


Sebelum kaki melangkah aku sempat menoleh pada Reno yang juga menatap padaku. Pandangannya terlihat berbeda, seperti ... entahlah.


Begitu masuk ke kelas aku sudah disambut oleh senyum jahil Salsa. Bahkan, saat aku duduk senyum itu belum pudar dari wajahnya.


“Kenapa?” tanyaku.


Ia menggeleng kemudian mengalihkan tatapannya pada ponselnya tetap dengan cengir lebarnya.


“Ini, liat.” Tepat di depan mataku ponsel Salsa teracung, menampilkan sederet kata beserta foto dua orang anak kecil yang sedang bergandengan di pantai, sangat indah dengan langit sore di belakang mereka.


'Percayalah, saya tak berubah'


Entah kenapa air mataku rasanya ingin menetes. Itu aku dan Reno. Kenapa ia memposting yang seperti itu. Jika tak berubah, kenapa acuh?


“Itu lo sama Reno, kan?”


Aku mengangguk. Salsa kembali menarik ponselnya.


“Kadang gue iri sama kalian berdua, nggak terpisahkan.”


“Btw, ngapain lo minta saran biar keliatan nggak manja-manja banget?” lanjutnya.


Aku menggeleng. Gadis di depanku ini memang belum tahu tentang alasanku. Karena menurutku urusan pribadi keluarga tak sebaiknya diketahui orang lain termasuk Salsa Temanku.


“Gue pengen aja.”


Saat bunyi speker terdengar menginterupsi untuk segera membuat barisan upacara, kami segera keluar kelas menuju lapangan. Terlihat sudah banyak murid-murid lain di lapangan.


.


Belum sampai setengah acara upacara terlaksanakan, terdengar sedikit keributan di kelas sepuluh. Banyak juga yang memperhatikan ke arah kelas itu.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Salsa pada Mei yang berdiri dibarisan depan, dengan menepuk bahu gadis itu.


Mei menoleh pada kami. “Itu, kayaknya anak baru kelas sepuluh pingsan.” Mei menatap tepat di mataku, “Yang belakangan ini sering berangkat bareng Reno-mu itu,” ujarnya.


Sedikit termanggu. Rissa?


Tak berselang lama Reno sudah berlari ke arah kerumunan kelas sepuluh kemudian keluar dengan menggendong Rissa. Kenapa harus Reno?


Upacara kembali dilanjutkan dengan hikmat seperti tak terganggu dengan kejadian tadi. Sedangkan otakku terus berputar pada wajah panik Reno saat menggendong Rissa tadi. Apakah harus sepanik itu? Gadis itu hanya pingsan bukan mati.


“Sabar.” Salsa mengusap-usap bahuku. Aku menatapnya, apanya yang sabar? Memang aku kenapa?


***


Aku tersenyum menatap pada kertas yang berisi coretan tinta nilai sempurna. Bu Reni barusan membagikan hasil nilai mingguan kami dan tentunya hasil yang kudapat setara dengan usahaku. Walaupun ada satu pelajaran yang kurang kupahami dan tentunya dengan nilai yang rendah. Kembali menatap pada Bu Reni yang berdiri di depan kelas dengan mata yang seakan berapi-api. Kalau kata Salsa , mata Bu Reni punya laser yang dapat menembus kulit.


“Dion, ibu nggak mau tau kamu harus belajar lebih giat lagi!” tekan Bu Reni.


“Ibuk, Dion udah belajar giat kok, sumpah,” sahut cowok yang duduk di bangku deret ke tiga tepi pintu. Dion mengangkat tangannya ke atas kepala seakan bersumpah.


“Kalau giat, kenapa nilai MTK kamu masih jebol?!” Bu Reni kembali menggeram tertahan. Sebenarnya Bu Reni bukan galak, tapi jika menyangkut pada Dion kesabaran Bu Reni seakan menipis. Entah apa yang diperbuat cowok itu.


Dion masih santai dengan bangku yang sedikit menjungkit ke belakang.


“Ya, mau gimana lagi, Bu ... orang saya belajar giat bukan MTK ... tapi giat mencintai ibu.” Dion mengedipkan matanya membuat beberapa teman sekelas tertawa.


Bu Reni terlihat menghela nafas. Mungkin jengah dengan murid nakal seperti Dion.


“Ara ” Bu Reni menatap ke arahku.


“Iya, Bu.”


“Nilai kamu hampir bagus semuanya, hanya satu yang kurang memuaskan yaitu Fisika. Ibu harap kamu belajar lebih lagi.”


Aku mengangguk seraya tersenyum pada Bu Reni.


“Ibu saranin kamu belajar sama Reno, karena dia pasti bisa ngajarin kamu, secara Reno selalu ikut olimpiade fisika. Dan juga kalian tetanggaan bukan?” Bu Reni mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. “Begitu juga yang lain, ibu harap kalian cari orang yang bisa ngajarin kekurangan kalian, ingat! Bentar lagi kalian bakal tamat. Ibu benar-benar berharap agar kalian bisa dapat nilai bagus semua. Ngerti Dion?”


Dion kali ini mengangguk patuh.


Belajar dengan Reno? Baiklah, nanti akan kucoba. Tak masalah dengan ia yang abai padaku akhir-akhir ini. Karena aku tak, kan, membiarkan belasan tahun hilang hanya karena kejadian beberapa Minggu belakangan ini.


.


Setelah bel pulang telah berbunyi, aku segera ke parkiran menghampiri Reno dan teman-temannya. Kupasang senyum semanis mungkin pada mereka.


“Reno, gue pulang bareng lo, ya, sekalian gue mau minta ajarin Fisika,” ucapku to the point.


Reno terlihat sedikit tercengang, mungkin karena panggilanku. Tak berselang lama karena raut wajahnya sudah terganti dengan senyuman yang terlihat sayu.


“Reno minta maaf untuk minggu-minggu belakangan,” ucapnya.


Aku mengangguk mencoba menabahkan hati mengingat kejadian yang berlalu.


“It's ok. Gue nggak pa-pa, jadi bisa gue pulang bareng lo?”


“Bi—”


“Maaf kak Reno, Rissa telat, habis gurunya tadi belum bolehin pulang kalo tugasnya belum siap.” Ucapan Reno terpotong oleh gadis yang baru datang. Ia tak menatap padaku, mungkin belum menyadari aku di sini.


Aku berdehem. Rissa menoleh kemudian menunduk. Kali ini akan ku pastikan. Siapa yang lebih penting oleh Reno.


“Jadi Reno, bisa gue pulang bareng lo?” Aku menatap tepat pada mata cowok di hadapanku. Aku berharap, kali ini ia akan memilihku bukan Rissa.


Reno mengalihkan pandangannya. Kenapa?


“Maaf,” ucapnya.


Aku terdiam beberapa saat setelahnya mengangguk, kembali menahan sakit hati. Mengedarkan pandangan pada teman-teman Reno yang lain sembari memaksakan senyum kemudian berbalik badan. Sesak rasanya.


Aku sudah cukup paham sekarang. Bahwa aku memang tak lebih penting dari Rissa menurutnya. Baiklah, sudah kuputuskan. Kembali menatap pada Reno. Aku tak tahan! Segera aku berlari dan menubruk tubuhnya. Menghirup aroma yang belakangan ini sangat ku rindukan.


“Kita putus aja.”


Setelah mengatakan tiga kata yang tak pernah terpikir olehku sebelumnya, aku berlari meninggalkan parkiran menuju keluar sekolah. Berlari terus sesekali mengusap air mata yang keluar.


Aku tak tahu langkah ku. Yang terpenting berlari dan berlari. Tak sedikit orang di jalan yang mengumpati ku karena menyeberang sembarangan. Aku tak peduli.


“ARA !”


Brak!


Tubuhku rasanya terpental.

__ADS_1


Dingin, hanya dingin yang terasa menyeruak dari dada perlahan menyebar ke seluruh tubuh. Pandangan gelap. Samar aku mendengar suara Reno yang memanggil namaku, setelahnya.


__ADS_2