
Kayanya ini siapin tisu deh
***
Pada hari berikutnya, Aldo sudah jarang menemui Tania untuk sekedar mengobrol atau lain sebagainya, walaupun mereka berada dalam satu kampus bahkan satu kelas. Aldo selalu menghindarinya. Membuat Tania galau tidak karuan. Karena Tania sangat mencintai Aldo mungkin jika Aldo ingin dia mati maka Tania akan mengakhiri hidupnya demi Aldo.
Dan kali ini Tania tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa bicara dengan Aldo, ia mencari keberadaan Aldo dan ternyata dia ada di roftop sekolah.
"Do, aku mau bicara sama kamu do, aku tau kamu masih marah dan kesel sama aku di malam itu, aku pengen ngerubah semuanya. Dan kemarin malam aku siapin pesta ulangan buat ulang tahunmu tapi kenapa tidak datang? kamu kenapa sekarang berubah drastis enggak hargain usaha aku sama sekali?" jelas Tania penuh lirih.
Aldo hanya diam menanggapi Tania. Lalu ia perlahan menggenggam tangan Tania.
"Tan, sebenarnya ku sangat berat mengatakannya --" ucapan Aldo menggantung membuat Tania penasaran.
Tania mengernyitkan dahinya karena bingung. "Apa maksud kamu do?" tanya Tania.
"Kita tidak bisa seperti dulu lagi, lupakanlah aku Tania ... aku bukanlah cowok terbaik buat kamu," kata Aldo
"Kamu lagi ngeprank aku ya? jangan kaya gitu dong, ini enggak lucu tau ...,"
Aldo menggeleng.
"Pada malam kamu membuat surprise yang gagal waktu bukan lalu ... aku benar marah sama kamu, dan ku Fikir kamu emng sengaja membuat aku marah dan kesal. Sehinggaku ke club dan disana ku melakukan hubungan terlarang itu bersama wanita dan sekarang dia tengah hamil anakku, sebagai lelaki ku harus bertanggungjawab," jelas Aldo panjang lebar
Tania membendung air mata sejak Aldo menjelaskan semuanya. Bibirnya bergetar tidak tau harus mengatakan apa.
Tania meloloskan airmatanya untuk berjatuhan di kedua pipi mulusnya. Tania mendekati Aldo dan menunjuknya. "Lalu ... apa arti cinta kamu buat aku Do? kenapa kamu lakuin ini ke aku? kamu marah dan kesel sampai berbuat seperti itu, kamu gak mikirin aku do?" tanya Tania penuh dengan perasaan terluka.
"Cha, kenapa kamu harus marah seperti ini bahkan kamu sudah memiliki status yang baru'bukan? dan kurasa kamu mengerti maksudku," kata Aldo
"Apa?" lirih Tania
"Ku sudah tau kamu dengan pak Ginoitu sudah menikah , " kata Aldo
Tania terdiam beberapa detik lalu membuka suara. "kamu tau darimana?" tanya Tania
"Dari pak Gino, semalam ia mendatangiku dan memarahiku karena dia sudah pernah melihatku bersama wanita itu, dan hingga ia mengatakan bahwa kalian adalah suami-istri, sekarang kita sama-sama memiliki alasan yang kuat untuk mengakhiri hubungan kita ini," terang Aldo
"Tapi do, aku cintanya sama kamu do ... aku terpaksa menikah dengan pak Vano, dan aku juga merasa kamu juga terpaksa'kan untuk menikahi wanita yang kamu maksud, kamu bayar aja dia suruh dia gugurin kandungannya dan kamu tunggu aku pisah dari pak Gino terus kita bisa sama sama lagi," harap Tania
"Kamu gila Tania? aku tidak akan jadi pecundang, lupakanlah aku Tania, " suruh Aldo lalu meninggalkan Tania yang masih di roftop sekolah yang sepi.
Tania merosotkan tubuhnya hingga duduk dilantai ia meremas rambutnya prutasi dan juga sedih
"Kenapa semua jadi begini, aku enggak bisa do, aku cinta terlalu dalam sama kamu, aku sadar aku salah karena sekrang aku udah jadi istri orang, tapi ... aku enggak bisa bohong sama perasaan aku do,"
***
"Aku mau bicara sama kamu," kata Tania diambang pintu kamar. Sang empuh yang merasa dirinya diajak bicara langsung mengalihkan pandangan dari buku dan beridir menghampiri Tania
"Ada apa?" tanya Gino
"Kita ngobrol di ruang tengah aja," usul Tania
***
"Benar, aku yang menemui Aldo dan mengatakan semuanya, dan ku tau semuanya juga"
"Kenapa kamu tidak bicarakan padaku semua yang kamu ketahui,"tanya Tania
"Jadi kamu sudah tau?"
__ADS_1
Tania mengangguk.
"Terus?" tanya Gino
"Aku mau kita pisah, " kata Tania
Gino membelakkan matanya sempurna.
"Saya tidak bisa !"
"Kamu sudah tau'kan kalau aku itu cintanya sama Aldo bukan sama kamu, emangnya kamu mau mempertahankan istri yang masih mencintai kekasihnya?" terang Tania.
"Pernikahan kita itu suci Tania, ya walaupun saya tau kita menikah . Apakah kamu tega mengecewakan anggota keluarga kita yang sudah bahagia atas pernikahan kita ini, dan juga, kamu sudah tau Aldo akan menikah kenapa kamu tidak melupakan nya saja. Dan nikmati saja posisi mu yang telah SAH menjadi istri saya," jelas Gino
Lalu Gino berlalu meninggalkan Tania yang diam ditempatnya.
"Jujur , saya sudah mulai mencintai kamu ... mungkin ruang untuk saya belum tersedia dihatimu tapi saya yakin dan percaya kamu akan mencintai saya pada suatu hari nanti," Gino berbatin saja.
Entah bagaimana datangnya, karena sudah seringnya bersama-sama membuat Gino merasa nyaman bersama dengan istrinya-Tania itu. Walau mereka sering berjahilan satu sama lain dan itu sebuah keistimewaan baginya dalam pernikahan yang selalu mengundang tawa dan bahagia walau tanpa cinta, kini ada cinta namun baru satu pihak yang menumbuhkanya.
***
Tania mengejar Aldo yang sudah mengambil surat pindahan nya.
"Hiks, tunggu aku tidak mau kamu pergi dari hidupku, aku sangat mencintaimu, tolong jangan pergi," pinta Tania
"Tania, jangan mengejar ku lagi ... aku sebenarnya berat meninggalkanmu, tetapi keadaan dan takdir lah memisahkan kita, aku sangat mencintaimu tetapi kita tidak bisa bersama," jelas Aldo
Ia meraih tangan Tania. "Bahagialah dengan pernikahanmu, lupakan hubungan kita ... walaupun sulit, kita harus mencoba."
Lalu Aldo melepaskan genggamannya itu dan naik keatas motornya dan memakai helm.
"Kenapa kamu harus menangisi pria lain di depanku, sebegitu cintanya kamu dengan Aldo, tidakkah kau bisa melupakannya saja?" gumam pak Gino dari kejauhan. Ia hanya memantau apa yang sudah dilakukan oleh Tania bersama Aldo tadi.
***
"Tulis materi ini, besok akan test harian ...,' jelas Gino
Semua anak didiknya mulai mengerjakan materi yang diberikan oleh pak Gino , tetapi Tania tidak dia hanya sibuk melihat foto-fotonya bersama Aldo didalam ponselnya.
"Hp kamu saya sita!" pak Gino Merebut ponsel itu
"Jangan kurang ajar bapak! kembalikan ponsel saya!" teriak Tania tidak terima bila benda kesayangannya di sita.
"Kerjakan materi dari saya , atau saya akan jamin kamu akan menetap dikelas ini," ancam Gino
Tania menatap kesal dan terpaksa menurut.
***
Tania terdiam seharian penuh dia tidak bicara pada Gino, membuat Gino tidak tahan karena hanya di diami oleh Tania. Tidak ada keributan terjadi. Rasanya rindu juga.
Saat Ginoduduk disebelahnya. Tania berlalu menghindari nya. Gino menggeser tubuhnya dan begitu pula dengan Tania.
Hingga Tania hampir jatuh dari sofa untungnya Gino menangkap tangannya .
"Lepaskan!"
Bruk!
Tania terjatuh kelantai karena Gino melepas genggamannya.
__ADS_1
"Ko di lepas?!"
"Kamu yang suruh'kan?"
Tania diam sejenak. Menghindari rasa malu berlebih ia memilih untuk ke kamar. Dan diikuti oleh Gino pastinya.
"Kenapa kamu ngikutin aku Mulu, aku enggak suka!"
"Gr kamu, saya juga mau tidur makanya saya kesini,"
Tania membelakangi Gino, dan Gino menatap punggung Tania. Mereka larut dalam khayalan masing-masing.
"Aldo, aku kangen kamu. Semoga kamu muncul dalam mimpiku," harap Tania
Ginomenghela napas gusar, hanya Aldo yang ada dalam fikiran istrinya. Apa dia harus menahan rasa sakit ini , ternyata semakin bertambahnya rasa cinta ini semakin membuat hatinya sesak saja. Gino tidak bisa seperti ini terus menerus. Ia harus melakukan sesuatu.
Hap!
"Ih, apa-apaan sih, jangan peluk aku!" Tania mencoba melepas pelukan Gino namun Gino justru lebih erat memeluk nya.
"Tidur lah, atau ku benar menagih hakku malam ini?!"
Membuat Tania berhasil diam kaku, dia memutar bola matanya malas dan dia mencoba diam saja tidak memberontak lagi.
"Istri pintar, mulai malam ini dan seterusnya aku akan melakukan ini, dan untuk besok ada pertunjukan untukmu, " bisik Gino
Taniaperlahan membalikkan posisinya hingga mereka berhadapan
"Apa!"
"Besok saja, sekarang tidur." suruh Ginodan menarik tubuh Tania agar kembali berpelukan padanya.
Tania melihat Gino yang tidur pulas. Ia heran walau pun Gino sudah tidur pulas tetap saja pelukannya tidak dilepas, seolah tangan Gino dengan tubuhnya adalah lem dan sangat susah untuk bisa dipisahkan.
"Kenapa sikap dia aneh begini, ada apa sih?" gumam Tania pelan. Lalu, ia mulai mengantuk juga dan akhirnya dia tidur .
_
"Selamat pagi istri," sapa Gino dengan posisi wajah mereka sangat lah dekat.
Saat Tania membuka matanya. Ia mendorong tubuh Gino "apaan sih, bikin kaget aja,"
"Kenapa kaget? ini adalah rutinitas pasangan yang sudah sah, dan saya ingin kamu terus menatap saya dekat seperti ini," suruh Gino dengan dia yang menatap mata Tania
"Apaan si! gaje banget pagi pagi," omel Tania
Cup!
Gino berani mengecup b*b*r nya.
Tania terbelak kaget lalu Tania mengangkat tangannya untuk mendorong Gino, namun Gino cepat menahan dan menghentikan aksi Acha. Lalu Gino berani untuk m*l*m*t nya juga. Tania hanya diam saja tidak bisa menghentkkan perbuatan Gino.
5 menit kemudian.
"Mulai pagi ini dan seterusnya aku akan menagih morning kiss darimu, jika kamu menolak maka aku akan melaporkan pada Papamu, dan kamu pasti tau konsekuensinya." ancam Gino kemudian berlalu ke kamar mandi.
Tania mengumpulkan kesadarannya yang mungkin saja tadi pergi dari tubuhnya. Tangan Tania meraba b*b*r nya.
"Apa yang sedang ia fikirkan, apa dia sudah sangean sekarang? b*b*r ku ternoda, hu-hu,"
Bersambung
__ADS_1