Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 55. Ara Marah sama Reno


__ADS_3

Malam yang dingin. Bintang bertaburan di langit angkasa menemaniku duduk di ujung balkon ini. Menyaksikan indahnya kota dari atas sini. Sendiri.


Miris. Mungkin itu yang cocok untukku saat ini. Rindu dan ego, sulit untuk memutuskan antara mana yang harus dipilih. Namun ujung-ujungnya ego tetaplah sang pemenang, tak tahu pasti sampai kapan dapat bertahan menyendiri.


Apa aku seperti pengecut? Mungkin. Biarlah, hanya itu yang tepat menurutku. Menjauh dari hidup mereka, atau mungkin tak usah kembali.


Dering ponsel membuatku menoleh pada meja di balkon ini. Terhitung sudah puluhan kali atau mungkin ratusan kali berbunyi. Memperlihatkan nama sosok yang kurindui saat ini.


Tetap menatap pada layar ponsel tanpa berniat menggapainya.


Reno is calling.


Panggilan terputus, kemudian kembali memanggil lagi. Begitu seterusnya.


Tetesan air mata kembali jatuh namun tak kuusap, membiarkan deraian itu mengucur untuk menghilangkan rasa kecewa. Sesak.


Kembali menatap pada ramainya kota diiringi panggilan masuk itu terus berulang.


Sesuatu yang mengganjal di sini. Entah apa, tapi rasa itu seakan membuatku ingin berpaling pada ponsel itu, ingin mendengarkan suaranya yang lembut. Rindu? Mungkin.


Meski begitu tapi aku takkan menemui. Biarkan aku menjauh menghilangkan sakit hati yang kupendam. Membiarkan angan-angan di masa lalu pergi menghilang untuk selalu bersamanya. Tak mungkin lagi. Hati ini terlalu sakit saat mengingat tak satupun dari mereka yang ingat aku. Di rumah sakit sering sendiri, pulang sendiri. Perih mengingat itu.


Kecewa.


Kuusap ujung mata sebelum berbalik dan melangkah mendekati ponsel. Kembali panggilan darinya masuk, lalu mati lagi.


Kuusap benda pipih itu.


1.231 pesan.


565 panggilan tak terjawab.


Nada panggilan masuk kembali terdengar. Apa? Apa yang harus kulakukan?


Perlahan kugeser tombol hijau itu. Hening, tak ada yang berbicara di ujung sana sampai suara Isak itu terdengar. Kenapa ... menangis? Bukankah memang tak peduli?


Masih teringat jelas di otakku tatapan tajam itu menusuk ke mataku. Dan itu hanya karena gadis itu. Gadis yang datang entah dari mana, merenggut semua perhatian orang yang kucinta. Aku ... benci!


"Araaaa...."


" Ara di mana?"


Aku diam mendengarkan. Tak berniat bersuara atau menjawabnya. Sakit, di sini masih sakit. Kecewa.


"Ara ." Kembali suara bergetar itu terdengar.


Kuletakkan ponsel itu di atas meja. Membiarkan air mata ini mengucur dengan sendiri tanpa ada yang menghalang. Bicaralah, agar rindu yang membuat bodoh ini hilang segera.


"Ara , pulang, Reno ... sayang Ara ...."


Sayang? Bodoh! Aku tak percaya.


"Ara ...!"


Kusandarkan tubuh pada bangku ini, mengadah menatap pada bintang di langit sana.


"Hei." Suara itu melembut, tetapi masih terdengar getaran di dalamnya.


"Pulanglah! Kenapa pergi hah ...! Apa yang ada dalam pikiranmu! Pulanglah ... pulang ...." Terdengar tangis di ujung sana semakin bertambah.


Kenapa, Reno? Apa tak cukup membuatku tersiksa makanya menyuruhku pulang untuk memamerkan kemesraan dengannya? Naif! Kamu memang naif Reno!


"Ara , ... I love you ... selalu."


Dasar bodoh! Sudah kubilang aku takkan percaya!


"Dimana sekarang? Reno jemput."


Apa yang ada di otaknya?!


"Ara -"


"RENO GILA! GUE, BENCI, LO!"


Hening.


Panggilan terputus.


"Ah! Reno bodoh!"


Brak!


Ponselku terhempas dan menimbulkan suara yang nyaring.


"Ah, pecah!"


Segera kuhampiri ponsel yang tergeletak menggenaskan itu. Sial, layarnya pecah total. Gara-gara Reno!


Setelah mengambil ponsel itu, aku bangkit dan meninggalkan balkon. Berjalan menuju koper yang masih di lantai. Mencari jaket di antara gulungan kain itu.


Setelah mendapatkannya, aku segera melangkah ke luar dari apartemen ini.


***


Kueratkan jaket pada tubuh saat dingin malam menerpa. Kendaraan yang lalu lalang di jalan membuatku tak takut untuk melangkah sendirian. Menoleh kiri dan kanan, mencari minimarket terdekat. Seingatku dulu saat dengan Bang Rey, ada minimarket tak jauh dari apartemen.


Benar, tak jauh dari tempatku berdiri sudah terlihat apa yang kucari. Segera mempercepat langkah. Sesekali berlari.


Tapi tiba-tiba dari arah berlawanan ada seseorang yang berlari ke arahku. Tak sempat mengelak, aku terjatuh dengan tangan sebagai penyangga tubuh di jalanan. Tongkatku terlempar.


"Maaf." Tangan itu terulur membuatku mendongak.


"Eh?"


"Ara ?"


Reno ? Belum sempat aku bersuara, riuh dari depan sana membuat cowok ini keliatan panik.


"Lari," ujarnya.


"Ha?"


Riuh itu semakin mendekat, memperlihatkan segerombolan cowok-cowok yang membawa kayu dan alat-alat tajam lainnya.


"Sini Lo!" teriak salah satu dari mereka.


Aku menoleh ke kiri dan kanan. Siapa?


"Lari, Ra !" Reno berujar panik, menuntunku untuk berdiri.


Sementara di kejauhan sana segerombolan cowok tadi terlihat berlari ke arah kami.


"Ta-"


"Naik!" Cowok itu berjongkok di depanku.


"Jangan lari Lo!"


Teriakan dari belakang sana membuatku sadar akan yang dimaksud adalah Reno. Karena panik segera aku naik pada punggung pemuda ini.


Reno berlari dengan aku yang berada di gendongannya. Sesekali aku menoleh ke arah belakang. Segerombolan tadi masih mengikuti.

__ADS_1


"Cepat, Ren !" Kutepuk-tepuk bahu pemuda itu.


Terdengar dengusan darinya. Tapi laju larinya memang bertambah. Sedangkan segerombolan cowok-cowok di belakang sana masih terlihat berlari ke arah kami. Panik? Tentu saja!


Jalan yang dilalui Reno semakin mengarah pada kegelapan. Tepat pada gang yang terlihat di depan, cowok itu berbelok memasuki gang tersebut. Gang yang sempit dan di apit oleh dua bangunan kiri dan kanan, cahaya jalan hanya terlihat remang.


Ku perhatikan lagi ke belakang. Cowok-cowok yang membawa senjata tajam tadi terlihat di pinggir jalan yang kami lalui tadi. Mereka berhenti, menatap pada arah kami dan lurus pada jalanan besar di depannya. Mungkin, karena di sini gelap jadi cowok-cowok itu tak melihat kami.


Kupikir mereka akan lurus, tapi sekarang cowok-cowok itu berjalan ke arah kami.


"Wa, mereka ke arah sini."


Dewa menoleh sejenak ke belakang, tepat pada segerombolan tadi.


"Kita ngumpet."


Dengan berlari, Reno membawaku ke arah balik dinding yang terdapat tempat sampah dan barang-barang bekas lainnya.


Cowok itu menurunkanku di balik dinding dan tong sampah besar ini.


Terdengar derap kaki yang saling bertautan ke arah kami.


"Kemana pergi mereka?!" Terdengar suara tepat di sebelah kiri kami yang kuyakini adalah suara dari gerombolan tadi.


"Tadi ke arah sini, Bos." Yang lain menyahuti.


"Cari!"


Reno meletakkan Tunjuknya pada bibir seakan menyuruhku untuk tak bersuara. Aku mengangguk. Cowok itu semakin mendekatkan tubuh saat salah satu dari mereka terlihat berjalan di depan sana.


Terdengar umpatan kecil keluar dari mulut Reno . Mata cowok itu memejam. Aku hanya diam tak bergerak sedikitpun karena posisi ini sangat aneh menurutku. Bahkan, bau sampah yang busuk sudah di gantikan oleh bau wangi dari pemuda ini.


"Wa." Aku memanggilnya lirih.


Mata yang semula terpejam itu perlahan terbuka. Menampakkan sepasang mata yang terlihat tajam meski di kegelapan malam. Tangannya terulur untuk mengusap kepalaku kemudian membawa dalam pelukan.


"Sstt, tenang aja."


Aku mengangguk.


"Bos, mereka gak ada." Kembali terdengar suara dari gerombolan itu.


"Begok! Cari lagi!"


"Bos, gue rasa mereka pergi ke jalan lurus deh, Bos."


Dari sela-sela dinding dan tong sampah ini, aku melihat sosok yang dipanggil bos itu mengangguk dan melambaikan tangan pada yang lain untuk pergi.


Benar, mereka semua pergi berbalik ke arah jalan besar tadi.


"Ren , mereka udah pergi."


***


"Gimana bisa sampai di kejar-kejar?"


Dua mangkok bakso telah ada di depan kami. Memang, setelah gerombolan tadi pergi, Reno membawaku ke jajanan bakso pinggir jalan sebagai permintaan maaf telah membawaku dalam masalahnya. Tadinya aku menolak, tapi cowok dengan hodie hitam ini memaksa.


Reno menarik satu mangkok bakso ke depannya.


"Cuma iseng," jawabnya.


"Iseng sampai dikejar pakai alat tajam gitu?"


"Merekanya aja yang lebay."


"Emang kamu apain?"


Cuma? Apa maksudnya ia pernah melakukan hal lebih?


"Gak usah dipikirin," ujar Reno.


Aku mengangguk, kemudian mulai menyendokkan bakso ke dalam mulut.


"Ngomong-ngomong, ngapain lo sekitaran sini? Bukannya rumah Lo jauh dari sini?"


"Dan lagi, pakai tongkat."


Aku berhenti memakan bakso, beralih menatap padanya. Mata tajam itu kembali terlihat. Aku menghela nafas.


"Cuma nyasar aja."


Aku kembali melanjutkan makan bakso. Sesekali menatap pada jalanan di depan.


"Hmm biar nanti gue antar pulang."


"Gak usah, aku tinggal di apartemen gak jauh dari sini kok, bukan di rumah."


"Sendiri?"


Aku menggangguk.


"Biar gue temenin."


Sontak aku terbatuk. Cowok itu menepuk-nepuk punggungku kemudian menyondorkan air putih dan segera kuminum.


"Gak usah, aku berani tidur sendiri kok."


Kening Reno terlihat mengerut.


"Maksud gue bukan nemenin tidur, tapi nemenin pulang ke apartemen lo," ujarnya yang berhasil membuatku malu. Aku pikir nemenin tidur.


Aku tersenyum dan mengangguk menatap padanya. Kembali melanjutkan makan yang sempat tertunda.


Tak lama, kami selesai makan. Cowok itu berjongkok di depanku, segera aku naik pada punggungnya. Tadinya aku ingin berjalan saja, tapi Reno bilang biar cepat sampai. Ya sudah, lagian lebih enak digendong.


"Ren ."


Ia berdehem seraya terus melangkah.


"Kamu baik ya."


Reno diam.


"Gak kayak Zain, masa aku minta gendong aja dibilang manja? Kembaran macam apa dia. Ya, kan, Reno?"


"Hmm."


"Kamu tau, Ren ? Mereka gak peduli sama aku, mereka pilih kasih, mereka cuma peduli sama gadis itu, Ren . Mereka semua lupain aku."


Kuusap air mata yang turun tanpa dikomando itu.


"Reno juga, Kamu tau, kenapa kaki aku jadi gini? Itu karena Reno, dia lebih milih nganter gadis itu pulang dari pada aku, ."


"Nenek dan kakek gak pernah jenguk aku saat di rumah sakit, sampai pulang pun mereka gak peduli sama aku."


Hening. Cowok itu hanya diam saat aku berceloteh tentang apa yang aku alami.


Kusenderkan kepala pada bahunya, menatap pada sepasang mata yang terlihat tajam itu dari samping. Ini perasaanku saja atau bukan? Ia terlihat marah.


"Brengsek!" Umpatnya seraya menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Aku segera menegakkan kepala. Apa ia marah padaku?


"Ren , kalo kamu capek gendong aku, turunin aja."


Reno tetap diam.


"Kamu ... marah sama aku?"


Langkah kaki Reno berhenti. Kepalanya menoleh padaku, memperlihatkan kembali mata tajam yang indah itu.


Ia tersenyum. "Gue gak marah."


"Aku kira kamu marah."


Ia kembali tersenyum sembari melanjutkan langkah yang terhenti menuju apartemen Bang Rey.


Sampai di depan apartemen aku segera membuka pintu.


Saat pintu terbuka, Reno kembali melangkah dengan aku yang masih di gendongannya.


"Turun di sofa aja."


Reno mengangguk kemudian melangkah ke arah sofa.


"Makasih," ucapku.


"Sama-sama, gue numpang ke kamar mandi dulu, boleh?"


"Boleh, di sana."


Reno mengangguk kemudian berjalan pada kamar mandi yang aku tunjukkan. Aku merebah pada sofa, menghadap pada langit-langit ruangan ini sembari terpejam. Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka bahagia saat aku pergi?


"Gue pulang dulu."


Aku mengangguk pada Reno. Cowok itu pergi. Ku perhatikan jam yang menunjukkan pukul 10.26.


Aku segera bangkit dari sofa, beranjak menuju kamar dan membuka jaket yang masih kupakai.


Brak!


Sontak aku berbalik saat mendengar pintu yang dibanting.


"Siapa?"


"Reno ?"


Hening. Bodoh! Kenapa aku tak mengunci pintu sebelumnya. Bagaimana kalau itu maling? Oh, God.


Perlahan aku membuka pintu kamar dan berjalan ke pintu luar.


"Gak ada orang, pintunya juga ketutup."


Kuedarkan pandangan sekali lagi. Tetap sama, tak ada orang. Segera kukunci pintu apartemen.


"Hei."


Deg!


Jantungku berdegup kencang. Siapa di belakangku? Kurasakan tangan itu mulai memeluk diriku. Hembusan nafasnya terasa menyapu tengkuk.


"Ara ..." Tubuhku merinding saat sesuatu menempel pada leher disertai dengan nafas yang berat.


"Ara ...."


Reno?


"Lepasin!"


Aku memberontak tapi sosok itu menguatkan pelukan dan melempar tongkat yang aku gunakan.


"Sayang ...."


Kenapa aku merasa ada yang aneh padanya?


Kuhempaskan ia sekuat tenaga. Berhasil! Ia terhuyung. Aku memegang pada pintu untuk menyanggah diri.


Reno perlahan mendongak. Matanya memerah.


"Ara ... mari habiskan malam ini bersama." Cowok itu berjalan ke arahku dengan sempoyongan.


Dia mabuk?


"Gak!"


Kulempar vas bunga yang berada di tepi pintu.


Prang! Vas itu pecah.


Terlihat seringai dari sudut bibirnya.


"Gak Reno, sadar!"


Air mataku mengucur. Berjalan sembari memegang pada dinding cepat-cepat untuk menghindarinya. Tidak!


"Mau kemana, Sayang ...?"


Tubuhku melayang saat ia mengangkatku ke pundaknya. Tubuhku terasa terbalik.


"Reno! Lepas!" Kutendang-tendang udara agar ia melepaskanku.


Aku meringis saat punggung terasa sakit berbenturan dengan sofa.


"Nikmatilah, Sayang."


Tangisku kian pecah mengisi ruangan ini saat tubuh itu menimpaku. Tidak!


"Sadar Reno!"


Kutangkup pipinya. Matanya terlihat sangat merah. Ia menatapku lama.


"Ara !"


"Ara !"


Aku mengerjab saat membuka mata. Reno ? Dia berjongkok di tepi sofa.


Aku segera duduk dan menatap sekeliling. Kemana Reno?


"Hei, mimpi buruk?"


"Ha?"


"Tadi, Lo nangis-nangis waktu gue di kamar mandi, mimpi buruk?"


Aku menghela nafas. Ternyata yang tadi hanya mimpi. Aku mengangguk.


Setelahnya cowok itu berpamitan untuk pulang. Aku memijit pangkal hidung yang terasa pusing. Kenapa aku mimpi seperti itu? Menyeramkan.


👋🙋Hai readers,


Semoga suka cerita nya.

__ADS_1


Tinggalkan jejak like dan koment bawelnya.


__ADS_2