Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 112.Hamil Beneran dan. Gino Kenapa?


__ADS_3

Hampir setiap hari Reno selalu mual-mual, Ara berpikir apa dia salah memberikan makanan? Atau obat? Setiap berhadapan dengan yang berbau, Reno selalu ingin muntah. Dan yang membuat Ara bingung, Reno tidak mual saat bersamanya, saat mencium bau parfumnya.


"Kita ke dokter aja, ya?"


"Enggak mau, sayang. Mas cuma mual," ucap Reno.


"Mas! Mas udah mual beberapa hari, enggak mungkin cuma mual biasa!" Sungguh Ara sudah jengah, setiap saat mengusulkan kle dokter, Reno selalu menolak, dengan alasan yang sama.


"Mas beneran enggak apa-apa, Ra," ucap Reno, hendak menarik tangan Ara . Tapi langsung di hindari Ara .


"Enggak usah pegang-pegang! Kalau enggak mau ke dokter, Mas jangan sentuh-sentuh Ara !" sentak Ara . Dan yah, emosi Ara memang kadang tidak terkontrol. Bisa di bilang kondisinya agak labil, sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit senang, dan sedikit-sedikit sedih.


"Mas beneran enggak apa-apa Ra."


"Muntah-muntah terus, enggak apa-apa?!"


"Cuma—"


"Cuma muntah-muntah? Ya udah, enggak usah ke dokter. Dan enggak usah juga, dekat-dekat dengan Ara !" ucap Ara ketus, dan berlalu meninggalkan Reno.


Ara keluar kamar, dengan wajah di tekuk. Sunggu tidak ada mood sekarang, apa susahnya coba ke dokter? Ara jadi curiga, jangan-jangan suaminya takut jarum suntik lagi? Ihh, tampang doang kejam, ternyata penakut.


Ara duduk lesahan di karpet, benar-benar dia sangat kesal dengan suaminya. Harus berapa kali dia marah dan menyuruhnya ke dokter? Sangat keras kepala.


"Ayo ke dokter." Ara tersentak, hampir saja remot ditangannya dia lempar kan.


"Serius?"


"Dari pada Mas di cuekin," ucap Reno, dengan wajah di tekuk.


"Nah, gitu baru suami penurut!" ucap Ara semangat, dan berdiri mengecup pipi Reno sekilas. Dan berjalan ke arah kamar, mengganti pakaiannya.


Reno mengulam senyumnya, kondisi dirinya sekarang sudah seperti anak remaja yang baru kenal cinta. Tidak menunggu lama, Ara sudah kembali turun. Dan mereka langsung ke mobil, menuju rumah sakit.


Di Rumah Sakit


Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju resepsionis untuk memberi tau dokter mana dan di ruangan mana, mereka harus cek up kesehatan.


Setelah mendapatnya, mereka langsung menuju ke tempat itu. Mereka duduk di depan ruang tunggu, menunggu nama mereka yang di sebut. Jangan lupa, sedari tadi Reno membekam mulut dan menutup hidungnya.


Menunggu beberapa menit, giliran mereka yang di panggil masuk.


"Silahkan duduk Pak, Buk," ucap dokter di situ.


"Makasi, Dok."


"Ada keluhan apa, Pak?"


"Begini Dok, tiga hari ini suami saya selalu mual dan muntah. Setiap nyium bau yang menyengat, langsung mual," jelas Ara . Karena sedari tadi Reno menutup hidung dan mulutnya.


"Keluhan lain?"


"Tidak ada, Dok."


"Biar saya periksa dulu ya, Pak. Silahkan berbaring di situ," ucap dokter, menunjuk brangkar di ruangan itu.


Setelah Reno berbaring, dokter itu mulai memeriksa.


Selesai di periksa, mereka kembali duduk.


"Tidak ada yang serius, tapi ...."


"Tapi apa, Dok?"


"Saya tidak mau berasumsi ... lebih baik kalau Ibu langsung cek ke dokter kandungannya langsung," ucap dokter itu, membuat Ara tercengang, begitu 'pun Reno.


"Maksud dokter?"


"Saya tidak menemukan gejala yang aneh, tapi saya sering mendapat pasien yang seperti Bapak alami. Dan kebanyakan, hasilnya sama. Karena saya tidak mau bersumsi, lebih baik kalian ke dokter ini ...." Dokter itu memberikan kartu nama, nama seorang dokter juga.


"Dia dokter kandungan, kebetulan masuk juga hari ini. Kalian bisa ke sana periksa." Mereka cuma mengangguk dan berterima kasih, walau otak mereka masih di penuhi tanda tanya.


Mereka keluar, dengan di penuhi pertanyaan. "Maksudnya gimana, Mas ngerti?"


Reno menggeleng. "Enggak tau, ikuti ajalah," ucap Reno. Dan mereka pergi ke ruangan yang di sebutkan dokter tadi, untungnya sudah tidak ada yang mengantri, jadi mereka langsung saja tanpa menunggu.


"Keluhan Ibu, apa?" tanya dokter itu, yang bernama dokter Tifani, yang mungkin sudah berusia 'tiga pulan'.


"Bukan saya sih sebenarnya, Dok. Tapi suami saya. Tadi kita periksa ke dokter, dan kita di suruh ke sini," ucap Ara.


"Ohya? Keluhan suaminya, apa?"


"Mual-mual, Dok."


"Bisa bebaring di sana dulu, Bu? Saya akan periksa," pintanya. Ara walau bingung, tetap menurut. Kan niatnya yang mau di periksa itu suaminya, kenapa malah dia ikut di periksa?


"Saya mulai ya, Bu." Dokter Tifani sedikit mengangkat kaos Ara, dan mengoleskan gel di atasnya, lalu lalu menekan alat USG di atasnya. Mata dokter Tifani mengarah ke layar monitor, sambil menyipit. Detik kemudian dia mengangguk 'kan kepala, semacam telah mendapat jawaban dari kebingungannya.


"Bapak dan Ibu bisa lihat, ini ada seperti ... telur atau janin," ucap dokter Tifani, masih menggeser-geser alat USG di atas perut Ara.


"Telur?"


"Janin?"

__ADS_1


Reno dan Ara bertanya bersamaan, bagai orang yang sangat kebingungan. Dokter Tifani sedikit tertawa, mungkin menertawakan ke polosan keduanya.


"Iya Pak, Bu. Dan hasil lebih lanjutnya ....'


"Coba Ibu pake, test pack ini," ucap dokter Tifani, menyodorkan sebuah tes pack.


"Test pack, Dok?" tanya Ara , dokter Tifani mengangguk. Kemudian membersihkan bekas gel, di atas parut Ara. .


"Silahkan di cek di kamar mandi, cara penggunaannya ada di di buku petunjuk." Ara mengangguk, masih dengan keadaan yang sama, bingung.


"Kalau sudah lima menit, Ibu bisa keluar."


Benar, setelah lima menit. Ara sudah keluar, dengan test pack di tangannya. "Ini, Dok." Ara menyerahkan test pack itu, ke dokter Tifani.


Dokter Tifani menerimanya, dengan senyum yang menghiasi wajahnya saat melihat hasil di test pack itu.


"Selamat ya, kalian akan menjadi orang tua," ucap dokter Tifani.


Ara dan Reno saling pandang, masih bingung. "Maksudnya, Dok?" tanya mereka berdua, bersamaan.


"Istri Bapak sedang mengandung, Ibu sedang mengandung. Kalian berdua menjadi calon orang tua," ucap dokter Tifani, lebih jelas. Reno yang deluan sadar dari kepolosannya, langsung tersenyum sumringah.


"Benar, Dok?" Dokter Tifani, mengangguk. Sudah dia duga sebelumnya, mulai dari mereka di minta menemuinya, dan dafi hasil USG tadi. Usulan memakai test pack, cuma penambah saja. Anggap saja cuma masako, pelengkap rasa.


"Alhamdulillah, kita akan menjadi orang tua Ra." Reno memeluk Ara , dengan erat. Ara sendiri cuma memasang senyuman terbaiknya. Entah dia mau senang atau sebaliknya.


Selesai mengurus semuanya, mereka lantas keluar dari rumah sakit. Rasa mual Reno hilang, terganti dengan rasa senangnya.


Di dalam mobil, Reno tak hentinya tersenyum. Entah apa yang dia pikirkan, yang jelas dia sangat bahagia dengan hal ini.


Dirumahnya


Sesampainya di rumah, mulai dari Ara turun dari mobil hingga dusuk di ruang keluarga, itu semua di tuntun oleh Reno. Mbok Mina yang melihatnya sangat bingung, bukannya tadi yang sakit Reno? Kenapa pulang-pulangnya jadi Ara yang di perlakukan seperti orang sakit?


"Mas udah ah senyumnya, aneh tau dilihatnya," ucap Ara , menoyor kepala suaminya. Sumpah, memang Ara sedari tadi memandang aneh suaminya.


"Mas senang Ra, akhirnya kita akan jadi seorang orang tua. Hal yang sudah lama Mas dambakan. Mas senang Ra, Kita di percayakan menjaga anak," ucap Reno. Hati Ara serasa di cubit, tidak seharusnya dia seperti ini. Benar kata suaminya, mereka di percayakan menjaga anak, anak di dalam kandungan Ara Tapi ... bagaimana caranya dia menjadi seorang ibu, di saat masih kuliah seperti ini?


"Kamu mikirin apa? Kamu enggak senang dengan kehamilan, kamu?"


Ara menggeleng cepat, kemudian menggenggam tangan suaminya erat. "Ara senang, kita akan menjadi orang tua. Tapi masalahnya ... apa Ara bisa jadi Ibu yang baik, Mas? Apa lagi Ara masih kuliah," lirih Ara, menunduk 'kan kepalanya.


"Dengerin Mas, tidak ada yang tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik. Mas yakin, kamu pasti bisa. Dan soal kuliah kamu, itu terserah kamu Sayang. Mas dukung apa 'pun kemauan kamu. Kamu mau cuti sampai melahirkan, atau kuliah online juga ... itu terserah kamu. Mas dukung," ucap Reno, menarik Ara ke dalam pelukannya.


"Kalau kuliah langsung dulu, sebelum kandungan aku membesar? Kalau sudah membesar, Ara akan ambil kuliah online," kata Ara, melepas pelukannya dan menatap suaminya.


"Terserah kamu, Sayang. Yang penting kamu jaga kesehatan. Ingat, sekarang bukan cuma ada kamu, tapi ada baby juga di dalam perut kamu," ucap Reno, sambil mengelus lembut perut Ara.


"Kita mau kasih tau orang-orang, kapan?"


"Ara bisa bantu—"


"Enggak ada Sayang, kamu duduk istirahat. Ingatkan pesan dokter? Kami tidak boleh kelelahan!"


"Iya, tapi cuma masak. Enggak mungkin sampai kelelahan," ucap Ara mulai cemberut.


"Iya, tapi kehamilan kamu masih rentang Sayang. Dengerin Mas yah," bujuk Reno, dengan amat terpaksa Ara mengangguk.


Malam Harinya


Makan malam telah tiba, satu persatu datang dengan tanda tanya di kepala. Kenapa mereka semua di kumpulkan di sini?


"Aneh deh Ren , tumben ngajak makan malam bareng? Jan-jangan ada udah di balik batu lagi," terka Marvel.


"Mau makan ya makan, enggam usah banyak nanya!" ketus Reno, memandang Marvel sengit. Marvel berdecak, dan beralih ke arah Risa untuk bermanja.


Ah iya, Risa , Tania, dan pak Gino juga di undang. Mereka bagai perangko, yang di mana ada ini di situ juga ada ini.


Makan malam di mulai, mereka semua makan dengan nikmat. Yang membuat mereka bingung, selain Reno sih, Ara yang makannya cuma sedikit, begitu juga Reno. Untungnya mualnya tidak datang, di saat seperti ini. Bisa jijiy mereka makannya, kalau mendengar dirinya muntah.


"Kalian kompak banget makannya cuma sesendok?" Marvel angkat bicara, mendapat semburan pak Gino.


"Sesendok mata lo, lebih kali!"


"Kan cuma perantara doang, Gino! Sewot banget," ucap Marvel.


Selesai makan malam, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga. Di temani cemilan dan teh panas.


"Ngomong-ngomong, kenapa nyuruh kita semua kumpul, Rem ?" tanya papa Nando menatap putranya.


"Papa juga bingung, kan? Kita semua pun sama. Enggak biasanya Reno sebaik ini," ucap Marvel, kembali mendapatkan lemparan remot tv dari Reno.


Karena tidak tahu mau mulai dari mana, pak Reno mengelurkan sebuah amplop yang berisi foto hasil USG tadi. Orang-orang menatap bertanya, amplop itu.


"Mau bagi-bagi uang, Ren ? Tapi kenapa cuma satu amplop doang?" Lagi-lagi bantal mendarat mulus ke arah Marvell, pelakunya pacarnya sendiri. Sedangkan Reno menatap malas temannya sekaligus kakak iparnya itu.


"Bisa enggak usah banyak ngomong, gak?!" tanya Reno dingin. Marvel Mengatupkan mulutnya rapat, sedangkan Risa sudah tertawa dalam hati, menertawakan pacarnya.


"Isinya apa, Ren ?" tanga mama Dewi.


"Buka aja."


Mama Dewi mengambil amplop itu, semua kepala mencondong ke arah yang sama. Mama Dewi dan nenek nya Ara, sama-sama membukanya dan mengambil isinya. Mereka semua mengerinyit bingung, kecuali kedua wanita paruh baya itu. Mereka justru tersenyum, dan langsung berdiri dan pergi ke arah Ara , memeluknya. Bahkan Reno sudah di geser duduknya.

__ADS_1


"Bentar-bentar, ada apa sih? Itu maksudnya apa?" tanya Marvell. Sedangkan Abang Hendra,Rizal,Karfel ,Refan dan papa Nando kembali memperhatikan foto itu, beberapa saat. Kemudian senyum merekah dari kelimanya, muncul.


"Pada kenapa, sih? Sumpah gue kagak ngerti," oceh Marvel.


"Bentar-bentar ... Ara hamil?" celetuk Risa . Jangan tanya dia tau dari mana, karena dia pernah melihat foto semacam itu dari hasil USG kakaknya.


"Hamil?!" pekik Marvel, Tania, dan pak Gino.


"Ara hamil?" tanya mereka bertiga, kembali.


"Iya," jawab singkat abang Hendra..


Mereka bertiga mengangguk 'kan kepala, tanda mengerti.


"Jadi tadi kenapa kalian makan sedikit, karena ini?"


"Reno juga kenapa makannya, sedikit?"


Ingin sekali Ara tertawa sekarang, asal mereka tau. Suaminya lah yang merasa tersiksa sekarang.


"Ikutan ngidam kali," celetuk papa Nando.


"Ha! Ngidam?!" pekik para anak muda itu.


"Reno ngidam?" tanya Marvell dan pak Gino, barengan.


"Emang laki-laki bisa, ngidam?" tanya Risa.


"Banyak, papamu waktu mengandung Reno juga dia yang ngidam," ucap mama Dewi sedikit membuka aib.


"Beneran Dek, Reno gitu?" tanya Marvell seakan tidak percaya.


"He'em, setiap hari muntah-muntah," ucap Ara, dengan mengusap kepala Reno, yang sedang malu.


"Kasihannya teman gue, Gin," drama Marvell meledek.


"Iya, kasihan banget," tambah pak Gino. Reno menatap mereka datar, teman macam apa mereka?


Waktu menjelang jam 20,05. Para orang tua dan abang-abangnya Ara pamit pulang, setelah memberikan beberapa ceramah dan larangan kepada Ara . Tersisa pak Gino, Marvelll, Tania, dan Risa.


"Gue udah nunggu dari kemarin lho, Tan. Waktu itu lo mau ngomong apa sih?" tanya Risa. mengawali pembicaraan.


"Serius gue bilang sekarang?"


"Harus!" ucap Ara dan Risa barengan.


"Gue bisikin, deh."


"Tiga hari yang lalu, Thiar nembak gue. Gimana dong? Gue terima atau—"


"Demi apa?!"


"Thiar nembak lo?!"


"Apa gue bilang, Thiar itu memang suka sama lo!"


Tanpa memberi jeda, Risa dan Ara berucap bagai di kejar anjing saja.


"Jangan teriak-teriak, Ara !" peringat Reno, di balas cengiran oleh Ara. .


"Kamu juga Risa, kenapa teriak segala," ucap Marvel dan cuma di balas yang sama oleh Risa dengan ... cengiran.


"Eh, tadi siapa yang nembak sama di tembak?" tanya Marvel , mulai kepo.


"Tania di tembak Thiar," ucap Ara tanpa sensor.


"Really?"


"Hooh."


"Terus-terus, lo terima Tan?"


"Belum tau, mau nerima atau enggak sih Kak," ucap Tania, menyimpan rasa malunya dalam-dalam, karna sudah membicarakan hal pribadi di depan dosennya.


"Saran gue nih ... kalau lo suka ya, terima. Keburu dia berubah haluan," ucap Marvel, sedikit menyindir di onoh.


"Gue pulang deluan," ucap pak Gino.


"Enggak mau bareng?"


"Enggak. Emm Tania, kamu tidak apa-apakan kalau ikut sama Risa nanti?"


"Enggak apa-apa, Pak."


"Dasar pada enggak peka," gumam Marvel.


"Kalau cinta sama cemburu ya bilang," gumam Risa. .


Sorry for typo. 🙏.


Aku mau izin menghilang dulu sehari🦸‍♂️ mau istirahatin mata yang udah perih, natap layar hp mulu.


Dah babay.

__ADS_1


Jangan rindu.


Rindu itu berat.


__ADS_2