Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 132.Bagai Pinang di Belah Dua


__ADS_3

Pak Reno sudah sampai di kampus, setelah acara perdebatan kecil dirinya dengan Ara, tadi. Yang tentang, siapa yang membantu Ara menjaga si kembar hari ini. Mama Dewi yang pagi-pagi sekali mendapat telepon dari papa Nando, menyuruhnya pulang saat itu juga. Jadinya, pak Reno sibuk berpikir siapa yang membantu Ara. Tapi untungnya, Nenek nya Ara datang tepat waktu. Walaupun ada rasa tak enak pak Reno, yang selalu merepotkan mertuanya, namun akhirnya dia pasrah. Dari pada tidak ada yang membantu Ara , atau bisa juga dia tidak berangkat mengajar.


Baru beberapa langkah pak Reno berjalan dari parkiran, sudah banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan ... entah. Yang jelas itu sangat membuatnya risih. Karena semenjak dia resmi menyanding gelar ayah (orang tua), baru kali ini dia menginjakkan kaki lagi ke kampus.


Tinggal beberapa langkah dari kelas yang akan dia ajar, langkahnya sudah berhenti karena beberapa perempuan atau mahasiswi menghadang jalannya.


"Ada, apa?"


"Kita dengar kabar, Ara udah melahirkan, ya? Anak Bapak juga kembar, cowok. Selamat Pak. Ini kita mau ngasih sedikit hadiah, ya biar enggak seberapa," ucap salah satu dari yang menghadang jalannya, mewakili yang lainnya.


"Iya, terima masih. Tapi ... tidak perlu rapot-repot nyiapin hadiah."


"Enggak apa-apa, Pak. Kita ikhlas kok. Diterima ya, Pak?"


Mau ditolak, tapikan rezeki tidak boleh ditolak.


"Gini, saya ada kelas sekarang. Enggak mungkin 'kan saya balik ke mobil lagi, atau ke ruangan saya? Ruangan saya sudah saya lewati juga."


Pak Reno menghela nafasnya, mengedarkan pandangannya.


"Tania," panggil pak Reno, saat kebetulan dia melihat Tania yang sedang mengobrol.


Tania yang merasa namanya dipanggil, langsung mencari sumber suara itu. Dilihatnya pak Reno yang menggerakkan tangannya sebagai isyarat untuk ke sana.


"Ada apa, Pak?"


"Bisa saya minta tolong?"


"Bisa."


"Kamu ada kelas pagi ini? Atau masih lama masuk?"


"Oh, enggak ada Pak. Kenapa emang?"


"Bisa bantu saya, bawa barang-barang ini semua, ke mobil?" tanya pak Reno lagi, sambil menunjuk ke semua hadiah pemberian mahasiswinya, yang masih berada di tangan pemilik masing-masing.


"Semuanya, Pak?"


"Gini, maksud saya kamu ... bawa mereka ke mobil saya. Barang-barangnya taro di bagasi mobil."


Tania mengangguk. "Baik, Pak."


"Ada di sini yang masuk kelas, saya? Atau yang ada kelas pagi ini?" tanya pak Reno, dan diangguki beberapa dari mereka.


"Saya di kelas, Bapak," ucap salah satunya.


"Saya, Pak."


"Saya ada kelas juga pagi ini, Pak."


"Saya juga, Pak."


"Saya juga ada kelas pagi, Pak."


"Saya di kelas, Bapak."


Pak Reno kembali menghela nafas, dalam hatinya sunggu ingin memarahi orang-orang itu. Tidak mungkin juga dia menitipkan ke Tania semuanya, tapi tidak semua juga, karena masih ada tiga atau empat orang di situ yang tidak ada kelas pagi. Dan lagi tidak mungkin dia menyuruh mahasiswa lainnya membantu. Memangnya dirinya siapa?


"Ada apa, Pak?" Ini yang dibilang, pucuk dicinta ulam pun tiba. Pas sekali waktunya, pak Gino datang.


Pak Reno menarik lengan pak Gino sedikit menjauh dari orang-orang itu.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Enggak ada kelas jam ini, 'kan?" tanya balik pak Reno.


"Enggak."


"Bantu, Saya."


"Ha ha, bantuin bawa hadiah dari fans, Bapak? Eh bukan, fansnsnya anak, Bapak?" tanya pak Gino formal, tapi terdengar meledek.


"Saya serius, tidak bercanda, Pak. Saya ada kelas sebentar lagi. Mereka juga ada kelas. Mereka juga ngasih kerjaan diwaktu yang tidak tepat. Jadi gimana?"


"Oke. Tapi Tania?"


"Saya juga minta tolong sama dia, dia juga tidak ada kelas."


"Oke-oke, tapi ada syaratnya," ucap pak Gino, dengan senyum mautnya.


"Apa?" tanya pak Reno, pak Gino berdehem sambil melirik sekeliling, lalu sedikit mendekatkan dirinya ke pak Reno.


"Villamu yang di Bandung itu sudah selesai, 'kan?" tanya pak Gino, agak kecil.


"Sudah."


"Ehm, rencananya ... nanti gue mau ngajak Tania main ke sana, buat—"


Perkataannya terhenti, saat dengan spontan pak Reno memukul perutnya. Apalagi dengan mata melotot.


"Jangan bilang kamu mau .... Astaga, kita semua tau kalau kamiu udah mau nikah. Tapi enggak gini juga," ucap pak Reno, sambil menggelengkan kepala. Giliran pak Gino yang melotot, tak percaya dengan pikiran temannya.


"Lo yang mikir aneh-aneh! Gue cuma mau ngajakin jalan-jalan kesana, buat refreshing!" ucap pak Gino.


"Oh, bilang kek dari tadi!" sewot pak Reno.


"He! Yang motong ucapan gue, siapa? Yang sewot juga harusnya, siapa?" Sunggu pak Gino ingin menabok pak Reno, sekarang ini juga.


"Pak, mereka semua udah pergi. Jadi yang bantuin saya bawa, siapa?" sela Tania, menghampiri keduanya.


"Saya, Pak. Soalnya kalian ngomongnya lama. Mereka 'kan kebanyakan ada kelas pagi, dan bukan kelasnya pak Reno. Jadi saya suruh pergi saja," ujar Tania.


"Udah sana, pergi ngajar. Biar kita yang urus. Kunci ruangan, saya minta. Biar kita bawa ke ruangan, Bapak," ucap pak Gino.


"Mau bawa ke ruangan, saya? Nanti, yang bantuin bawa ke mobil siapa lagi?"


Pak Gino berdecak, ini seperti bukan Reno yang dia kenal. Sungguh rempong.


"Ya-ya, nanti panggil kita aja. Oke? Sudah bereskan, 'kan? Udah sana pergi ngajar," usir pak Gino. Cuma mengucapkan kata, terima kasih, lalu pak Reno melenggang pergi.


***


"Menurut lo, Gino emang udah kebelet mau nikah gak, si?" tanya Marvel, saat setelah pak Reno menceritakan permintaan pak Gino di kampus tadi.


Pak Reno mengangkat satu bahu, tanda tak tahu.


"Menurut gue sih ... iya. Dia emang udah mau nikah, apalagi umurnya yang udah hampir mau masuk 30an," ucap Marvel lagi, karena tidak mendapat balasan.


"Masih ada dua tahun baru masuk 30. Kalau dipikir-pikir, pas usianya masuk 30. Dia juga pas melaksanakan pernikahan. Ya itu kalau Tania bisa lulus S2 selama dua tahun," ujar pak Revano


"Umurnya sekarang sudah, 28 tahun. Memang sudah tidak ada waktu buat main-main, apalagi dulu, dia hampir setiap saat didesak sama orang tuanya buat nikah. Bahkan udah mau dijodohin. Kalau gue pikirin lagi, dan pikiran negatif gue yang duluan beroprasi. Kira-kira ... orang tuanya Gino bisa nunggu? Kalau Gino sih enggak diraguin, pasti bakal selalu setia nunggu, ya kecuali dia nurut dan ngikutin segala perintah orang tuanya," ucap Marvel panjang lebar, dan cuma kembali dijawab dengan hendikan bahu pak Reno.


"Susah emang berdiskusi dengan lempeng batu," cibir Marvel , dan cuma mendapat lirikan sekilas pak Reno.


"Ngerjain apa, sih? Sibuk buanget dari tadi." Keral mencondingkan kepalanya, dekat ke arah labtop yang dipakei pak Reno.


"Proyek pembangunan hotel di Jakarta Selatan."

__ADS_1


"Proyek pembangunan, lagi? Perasaan baru tiga bulan yang lalu kalian selesai membangun bendungan. Sekarang ada proyek lagi?" tanya Keral. Pak Reno cuma tersenyum kecil, disertai gelengan kepala.


"Roda kehidupan terus berputar, adakalanya yang di posisi atas sekarang, bisa berpindah ke posisi bawah, begitu juga sebaliknya. Jadi, usahakan yang sebaik mungkin disaat kita masih berada di posisi atas," ujar pak Reno, tanpa mengalihkan matanya dari layar labtopnya.


"Mengerti, Pak Dosen," ucap Keral, kemudian tertawa. Pak Reno berdecak.


"Ohya, lupa. Besok Ayah minta lo ke kantornya, eh kantor gue sih. Biar Ayah masih mantui sekalian ngisi waktu luang, tapi udah dikasi ke gue."


"Ada apa? Tumbenan Ayah nyuruh ke kantor?"


"Enggak tau juga. Tapi besar kemungkinan, ini ngebahas soal pembagian perusahaan ke anak perempuannya," ucap Marvel, langsung menghentikan tangan pak Reno dari keyboard labtopnya. Dan menatap Marvel.


"Bukannya kita udah ngebahas masalah ini dari awal, 'kan? Kalau baik gue maupun Ara, itu enggak masalah kalau semua aset maupun saham perusahaan, enggak diberikan ke kita?" tanya pak Reno, dengan raut wajah yang sudah berubah serius.


"Bagi gue, ayah, maupun bunda. Bahkan Risa! Itu enggak pantas kalau semua aset, saham, dan gedung perusahaan itu jatuh ke tangan, gue! Bagaimanapun, Ara itu anak perempuan. Anak perempuan satu-satunya!"


"Dan lo anak laki-laki satu-satunya! Bagi gue juga Ara, perusahaan yang gue pimpin sekarang, itu udah cukup. Ditambah, perusahaan papa yang juga akan diberikan ke gue juga nantinya. Itu semua udah lebih dari cukup!" balas pak Reno, sambil menghela nafas kasar.


"Dengerin, Ren. Lo udah punya anak dua, dan semuanya laki-laki. Mereka berdua pastinya nanti bakal dibagiin perusahaan masing-masing! Perusahaan lo baru membuka dua cabang—"


"Baru satu cabang," potong pak Reno, meralat.


"Iya, satu cabang. Biarpun perusahaan papa udah hampir membuka tiga cabang, tapi siapa yang tau kalau nantinya mereka kurang puas? Kurang srek kalau perusahaan yang dibagikan ke mereka cuma segitu? Ditambah lagi, tidak ada yang tau juga nanti, kalau lo punya anak lagi, dua atau tiga misalnya. Apa cukup?" jelas Marvel, begitu jelas. Tapi di beberapa kalimat terakhir, langsung membuyarkan jiwa debat pak Reno, juga membuat pikirannya berkelana kemana-mana.


"Oke, nanti gue bicarakan lagi sama Ara. Besok pertemuannya jam berapa?" putus pak Reno, dengan helaan nafas.


"Jam 10 bisa lewat bisa juga pas, asal jangan sampai setengah 11. Itu pas jam rapat yang udah ditentuin Abang Hendra dengan pemegang saham lainnya," ucap Marvel.


"Tapi misalkan anakmu juga banyak? Ada empat atau lima misalnya?" tanya pak Reno dengan wajah tanpa ekspresinya, seperti tidak merasa bersalah dengan pertanyaannya barusan itu.


"Kenzo sama Kiano dimana? Bawa ke sini dong, Ara !" ucap Marvel agak teriak, bisa juga disebut jika dia mengalihkan pembicaraan.


"Mereka lagi tidur. Pertanyaannya dijawab, Bang!" cibir pak Reno.


"Gimana, ya? Sebenarnya ini privasi, jadi sorry-sorry aja gue enggak bisa cerita," ujar Keral dengan gaya sok coolnya.


"Owwh, privasi?! Kalau saya bisa tebak, jangan-jangan kalian udah ngee ... gituin?"


"Jan terlalu ambigu! Ngegituin apa? Gak paham gua," tanya Marvel, langsung mengotak atik ponselnya, sok sibuk.


"Enggak perlu diperjelas, lah. Saya juga masih ngehargai arti hak privasi itu. Jadi sekarang udah jelas masalahnya, 'kan? nanti saya bicarakan ini dengan Ara."


"Oke. Eh, pergi ambil Kenzo sama Kiano, dong. Gue mau main sama mereka dulu sebelum pulang, Risa mungkin udah nunggu," ucap Marvel.


"Kalau sudah nunggu, ya udah pulang. Lagian mereka berdua mungkin masih tidur," ucap pak Reno, kembali fokus ke pekerjaannya.


"Ck, pelit banget lo! Mungkin mereka udah bangun, buruang Ren !" decak Marvel yang mulai kesal.


Pak Reno ikut berdecak, mematikan labtopnya, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan ke kamar untuk mengambil Kenzo dan Kiano Agar Marvel tidak lagi merempong.


Selang beberapa menit kemudian, pak Reno kembali dengan Kenzo di gendongannya, dan Kiano yang dibawa Ara .


"Kiano siniin," ucap Marvel , mengambil Kiano dari Ara.


"Kalau diingat-ingat, Abang lebih banyak gendong Kiano ketimbang Kenzo" ujar Ara


"Oya? Tapi gue enggak mikir kesitu. Enggak ada bedanya juga mau gendong Kenzo atau Kiano muka mereka enggak ada bedanya. Udah mirip pinang dibelah dua."


***


Meeting mereka telah berakhir, keputusan terakhir yang pak Reno pilih adalah memegang beberapa saham dari perusahaan. Selebihnya, semuanya sudah sah menjadi milik Marvel


Pulang kerja, walau lelah pak Reno masih menyempatkan dirinya bermain dengan kedua anaknya. Selebihnya dia kembali mengurus pekerjaan perusahaannya. Bagaimanapun saat ini beban pekerjaannya bertambah. Jadi dirinya harus pintar-pintar membagi waktu antara keluarga, dan perusahaannya.

__ADS_1


To be continued.


Sorry for typo. 🙏


__ADS_2