
Aku tau mas, aku sangat tau bagaimana perasaan Tania selama ini, ini keterlaluan mas kenapa kamu tidak melepaskan saja Deby memilih Mamanya. Tania itu mama nya lho," terang Rika
Gino mencengram kuat bahu Rika lalu menatap tajam Rika
"Kamu mau tau alasan nya mengapa aku mempertahankan Deby bersamaku? supaya Tania berlutut kembali padaku ! kamu mengerti itu? Hah!"
Bruk!
Dengan rasa emosi Gino mendorong Rika hingga terjatuh kelantai.
"Akhhh, mas ...!" jerit Rika meraba perut nya yang terasa sakit.
Gino menyadari kesalahannya.
"Rika, maafkan aku. Aku khilaf melakukan nya, "
"Gino kamu sangat keterlaluan sekali, darah!" kaget Hani sambil mendekati Rika yang terlihat kesakitan.
"Aaa!" teriak Rika.
"Sayang," ucap Gino, menaruh kepala sang istri di pahanya.
"Sa-sayang ... pe-perut ... ak-aku ... sakit," lirih Rika yang menahan kesakitan, setelah mengatakan itu kesadarannya pun hilang.
"Sayang ... sayang kamu bertahan yah, aku bakal bawa kamu ke rumah sakit!" ucap Gino, dan segera menggendong Rika ala bridel stay, lalu menyuruh sopir mereka ke rumah sakit.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Gino terus-menerus memandangi dan sesekali mengelap darah yang keluar dari kening Rika. Gino tak tahan melihat darah yang keluar terus-menerus dari perut sang istri.
"Pak cepetan!" ucap Gino, lalu supirnya tersebut pun segera menancap gas dengan kecepatan penuh.
Tak lama, akhirnya Gino sampai dirumah sakit. dirinya segera menggendong kembali Rika memasuki rumah sakit tersebut. tim medis segera datang, setelah Gino berteriak, mereka semua segera membawa Rika ke ruang UGD.
Gino tengah menunduk takut. ia takut jika terjadi sesuatu dengan istrinya sekaligus dengan calon anaknya. di saat ia menunduk, ada sebuah tangan kekar menepuk bahunya, membuat ia mendongak dan mendapati Yoga yang menepuknya, sekaligus bersama Darma dan Darsa.
"Yang sabar yah ... gue yakin Rika baik-baik ajah," ucap Yoga dan hanya diangguki kepala oleh pria itu.
__ADS_1
Setelah menunggu 30 menit, akhirnya dokter pun keluar, membuat ke'empat pria yang menunggu, langsung menghampiri dokter tersebut.
"Gimana keadaan istri saya Dok?" tanya Gino
"... pertama-tama saya minta maaf ... alhamdulillah pasien Nyonya Rika selamat, dia hanya butuh istirahat saja ... namun bayi yang berada di kandungan pasien ... mengalami keguguran," jelas Dokter tersebut, membuat semuanya kaget.
"Ap-apa ... dok?" tanya Gino, tak percaya.
"Saya minta maaf ... kalo begitu saya permisi," ucap Dokter tersebut, berlalu pergi meninggalkan ke'empat pria yang sedang terdiam.
Gino menutup matanya, lalu ia segera memasuki ruangan Rika untuk memastikan keadaan sang istri baik-baik saja. Gino bernafas lega, saat melihat Rika yang belum sadar, namun bagaimana jika nanti Rika sadar dan tahu jika kandungannya keguguran?, pasti ia akan sangat terpukul.
Darsa, Darma, dan Yoga hanya menunggu di luar ruangan, karena mereka bertiga tahu, jika saat ini Gino dan Rika butuh waktu berdua saja. Gino menduduki bangku yang berada di samping brankar sang istri, lalu mengambil tangan Rika yang sudah di infus, dan menggenggamnya erat.
"Untung ... kamu gapapa," lirih Gino, mencium lama tangan sang istri.
"Eughh," lenguh Rika, membuat pria itu menoleh dan mendapati mata Rika yang sepertinya sedikit lagi, akan terbuka.
"Sayang," lirih Rika, menatap manik mata suaminya lekat.
"Iyah, kenapa ... ada yang sakit?" tanya Gino khawatir.
"Kenapa perut aku kempes?" tanya Rika membuat pria itu terkejut. ia sudah menduga, pasti Rika akan menanyakannya.
"Ka-kamu ... belum makan kan? ... ya udah, aku beliin makanan dulu yah!" ucap Gino ingin pergi, namun Rika segera menahannya dengan menarik tangan suaminya itu.
"Aku lagi nanya ... jangan ngalihin pembicaraan!" ucap Rika, dengan penuh penekanan.
"Cepet jawab! ... kenapa perut aku kempes, Gino!" bentak Rikai karena sedari tadi Gino hanya diam.
" Gino jawab!" bentaknya lagi.
Darsa, Darma, dan Yoga yang mendengar teriakan Rika pun segera memasuki ruangan tersebut, dan mendapati Gino yang sepertinya sedang takut dan Rika yang sedang menahan air matanya.
"Kamu kenapa Rika ?" tanya Darma.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang nanya ... aku kenapa? ... dan kenapa Gino gak mau jawab?" tanya Rika, sembari menatap pamannya itu.
"Ayah ... aku kenapa?" tanya Rika kepada Darsa, karena Darma pun tidak menjawab pertanyaannya.
"Yoga, gue kenapa? ... pliss, jawab!" pinta Rika, yang sudah muak karena tak ada yang memberitahukan dirinya kenapa.
"Jawab! ... kenapa kalian diem ajah hah?!" teriak Rika, membuat ke'empat pria tersebut kaget, bukan main.
Gino menahan air matanya, lalu ia langsung memeluk sang istri erat, sangat erat.
"Ka-kamu ... keguguran," lirih Gino menitikan air matanya.
Rika yang mendengarnya pun membulatkan matanya sempurna, lalu segera mendorong tubuh sang suami, agar tak memeluknya.
"Keguguran? ... gak ... ini gak mungkin ... aku gak ... mungkin keguguran, aku gak mungkin keguguran kan? ... gak ... enggak!" teriak Rika menjambak rambutnya frustasinya.
Gino yang melihat itu pun segera memeluk kembali sang istri, dengan erat.
"Sayang ... jangan kaya gini," ucap Gino, namun Rika mendorongnya kembali. saat ini, dirinya tak ingin di peluk, ia tak terima jika dirinya keguguran.
"Gak ... aku gak mungkin keguguran ... kamu bohong ... gak, ini gak mungkin ... gak usah bohongin aku, ini gak lucu!" ucap Rika, dengan berderai air mata.
"Sayang ... ini beneran, aku gak bohong ... ini udah takdir, kamu harus ikhlas!" ucap Gino namun mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
"Gak ... aku gak bakal ikhlas!" ucap Rika, dan segera melepaskan selang infusnya dan berlari. Gino langsung saja mengejar sang istri.
"Sayang, berhenti!" teriak Gino, namun dihiraukan oleh wanita itu. ia tetap berlari, dirinya tidak akan terima jika ia keguguran, apalagi ini anak pertamanya.
Hap!
Gino memeluk sang istri dari belakang dengan erat, agar Rika ak dapat berlari lagi. Rika memberontak, namun Gino semakin mengeratkan pelukannya. ia tahu, saat ini pasti Rika sulit untuk menerimanya, sama seperti dirinya, tapi mau seperti apa lagi?, semua adalah takdir.
"Stop ... kamu gak boleh kaya gini," ucap Gino membuat Rika berhenti memberontak, lalu Gino segera melepaskan pelukannya dan membalik'kan tubuh sang istri, untuk mengahadapnya.
"Sayang ... aku tahu, kamu pasti kecewa ... tapi, mau kaya gimana lagi ... kita harus ikhlas, mungkin itu bukan rezeki kita," ucap Gino menangkup wajah sang istri
__ADS_1
"Gak semudah itu ... aku baru saja membayangkan menjadi ibu, tapi apa? ... aku harus menghilangkan bayangan aku itu!" ucap Rika kembali meneteskan air matanya.
Gino segera memeluk sang istri erat, agar emosi istrinya itu mereda. ia takut, jika Rika terlalu emosi, mentalnya akan tersakiti, apalagi Rika bilang sendiri, ia tidak ikhlas.