
Kini air hujan telah mengguyur semua tubuh Rika. Rika tengah berada di taman dengan air mata dan air hujan yang turun secara bersamaan. Yoga hanya bisa melihat Rika dari kejauhan, ia tahu kini perasaan Rika itu seperti apa, walaupun dirinya seorang laki-laki.
"Kenapa Yaa? ... kenapa kamu belain Erina? ... padahal kamu tahu aku emang belum bisa mengontrol emosi aku ... tapi, kamu menyalahkan aku tentang ini?" ucap Rika sembari menggigit bibir bawahnya, karena ia ingin berhenti menangis, namun ia tak bisa.
"Gue benci sama lo Erina ... akting lo bagus banget, sampai-sampai suami gue terpedaya sama omong kosong lo itu!" ucap Rika sembari mengepalkan tangannya kuat.
"Ahk ... gue benci ... gue benci sama lo ... dan aku kecewa sama kamu Yaa, kamu lebih milih Erina daripada aku!" teriak Rika mengacak-acak rambutnya, Yoga pun segera berlari dan menghampiri sahabatnya itu, lalu memeluknya erat.
"Rika... lo gak boleh kaya gini, jangan karena Gino ... lo jadi lemah!" ucap Yoga, sembari memper'erat pelukannya.
"Lepas Gaa ... lo gak tau perasaan gue itu kaya gimana, lo gak tau perasaan gue yang udah di kecewain sama orang yang gue sayang ... gue udah terlalu cinta sama Gino ... tapi, dia bikin gue kecewa Gaa!" ucap Rik, dan kembali memberontak dari pelukan sang sahabat.
Yoga pun melepaskan pelukannya, lalu menatap lekat manik mata itu.
"Denger yah ... gue yakin, masalah yang lo alami sekarang, cuma akal-akalannya, lo tau sendiri kan ... kalo dia juga cinta sama Gino dan hampir ajah bikin lo cerai ... jadi, lo tau pasti maksud gue apa," ucapan Yoga, membuat Rika diam.
"Percaya sama gue ... gue bakal bantu lo ... inget, masalah lo ... masalah gue juga," ucap Yoga, dan diangguki oleh wanita itu.
"Makasih yah, lo emang sahabat gue yang paling baik!" ucap Rika, tersenyum.
"Sama-sama ... sekarang lo ke rumah gue ajah yah, ganti baju di sana dan istirahat di sana, supaya pikiran lo lebih tenang," ucap Yoga.
Lalu keduanya pun segera bangkit dan berlalu dari taman tersebut.
Di sisi lain, kini Gino tengah melamun memikirkan kejadian di mana ia menampar istrinya sendiri, bahkan membentaknya. Erina pun memutar bola matanya malas.
"Aelah ... Rika ajah di pikirin mulu," batin Erina, lalu memikirkan bagaimana caranya ia mengalihkan pikiran Gino dari Rika.
"Gino, aku capek ... aku boleh minta tolong gak, anter aku ke kamar tamu?" ucap Erina, yang membuat lamunan Gino buyar.
"Eh iyah ... ayo, aku anter!" ucap Gino, lalu segera mendorong kursi roda milik sahabatnya itu.
Tak terasa malam hari telah tiba, namun tidak ada tanda-tanda Rika pulang. Gino semakin khawatir pada istrinya itu, ia takut jika terjadi sesuatu dengan istrinya. Erina menghembuskan nafasnya kasar, saat melihat Gino yang hanya mondar-mandir tidak jelas.
"Gino ... ayo makan, nanti kamu sakit loh kalo telat makan," ucap Erina, dengan nada yang lembut.
"Aku yakin ko ... kalo Rika baik-baik ajah, kan ada Yoga!" lanjut Erina.
Lalu Gino pun mengangguk dan segera duduk di kursinya, lalu melahap makanan yang sudah ia masak. Erina tersenyum smrik, saat melihat Gino yang begitu menurut dengannya.
"Rencana gue berhasil," batin Erina, sembari melahap makanannya juga.
Di kediaman Darma, kedua orang tengah menunduk, karena melihat paruh baya itu marah, sebab Yoga dan Rika sudah menceritakan kejadian tadi siang, kejadian satu minggu ini, di mana Gino yang selalu merawat Erina, sampai-sampai seperti tak memperdulikan istrinya.
"Paman ... udah dong, jangan marah-marah ... Rika bisa ko menyelesaikan ini semua dengan baik, aku cerita sama paman, supaya aku lega ... bukan gini yang aku mau, paman malah marah-marah gak jelas," ucap Rika.
"Rika ... paman gak rela kalo kamu di sakitin kaya gitu ... Gino sudah keterlaluan sama kamu, paman saja tidak pernah menampar kamu ... tapi, kenapa dia berani sekali menampar kamu kaya gitu?" ucap Darma.
"Iyah, aku ngerti ko ... tapi, aku yakin Gino menampar aku karena khilaf," ucap Rika, yang membuat Darma menghembuskan nafasnya kasar.
"Ya udah paman ... kalo kaya gitu, aku sama Yoga pergi dulu," ucap Rika, dan bangkit dari duduknya, lalu menyalami tangan pamannya itu, di susul oleh Yoga.
"Janji yah ... kalo kamu menyelesaikannya dengan kepala dingin," ucap Darma dan diangguki oleh keponakannya itu.
Setelah itu Yoga dan Rika pun berlalu pergi, meninggalkan Darma yang hanya bisa menghembuskan nafasnya sekaligus geleng-geleng kepala. menurutnya, rumah tangga keponakannya itu sangat rumit.
Kini Gino tengah terduduk di sofa ruang tengahnya, dengan memainkan ponselnya. Erina tersenyum, saat melihat Arya yang sudah tak memikirkan Rika lagi, akhirnya rencananya akan selesai dalam waktu yang tak lama lagi.
Erina pun mendorong kursi rodanya memasuki kamar tamu, yang berada di bawah dan segera menutup pintu. Erina segera bangkit dan meloncat-loncat tidak jelas di tempat tidur. sebenarnya ia tidak mengalami patah tulang, namun ia telah menyuap dokter yang menanganinya minggu lalu, dengan sejumlah uang.
"Mudah bagi gue!" ucap Erina tertawa, namun tak terlalu kencang, ia takut jika Gino mendengarnya.
"Gue udah gak sabar deh ... liat kehancuran rumah tangga Gino dan Rika" ucap Erina, lalu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
*Via Telfon On*
📱"Halo Erina ... gimana?, asik gak?" tanya Juwita, dari seberang sana.
📱"Asik banget ... gue yakin rencana gue kali ini bakal berhasil seratus persen," ucap Erina tertawa, yang membuat Juwita terkekeh.
📱"Hebat juga yah lo ... gue kasih dua jempol deh!" ucap Juwita.
__ADS_1
📱"Iyah makasih ... jangan lupa kasih tahu Haira," ucap Erina, lalu Juwita pun mengiyakannya dan sambungannya pun di tutup.
*Via Telfon Of*
"Hidup ku bahagia," ucap Erina, sembari berguling-guling di tempat tidur.
"Ah ... gue ke ruang tengah lagi lah ... mumpung Rika gak pulang, gue bisa lah mencuci otak Gino, biar dia lebih memperhatikan gue!" ucap Erina, lalu segera beranjak dari tempat tidur dan kembali menduduki kursi rodanya.
"Eh Erina ... kamu mau kemana?" tanya Gino saat melihat Erina yang ingin menuju pintu depan.
"Aku mau cari udara segar ajah ... aku bosen gak bisa ngapa-ngapain ... soalnya kan, aku gak bisa jalan," ucap Erina menunduk.
"Ya udah .. kamu gak boleh sendiri, jadi ... aku temenin yah," ucap Gino, lalu menghampiri sahabatnya itu.
"Eh jangan ... aku gak mau ngerepotin kamu terus, " ucap Erina, namun mendapatkan gelengan kepala dari pria itu.
"Aku gak merasa di repotin ko, jadi ... ayo!" ucap Gino dan segera mendorong kursi roda Erina, keluar rumah untuk mencari udara segar yang seperti di katakan oleh Erina.
"Wah kebetulan banget ... angin malam nya lagi enak kaya gini," ucap Gino yang menikmati angin sepoi-sepoi.
"Kan aku mah emang selalu tau ... angin yang enak di malam apa ajah," ucap Erina, yang membuat Gino terkekeh.
"Kamu ini bisa ajah," ucap Gino, sembari mengacak-acak rambut sahabatnya.
"Ihh ... jangan di acakin dong, jadi jelek kan!" ucap Erina, lalu merapikan rambutnya.
"Ulu lu ... sini aku rapiin, biar cantik lagi," ucap Gino lalu mensejajarkan tubuhnya dengan kursi roda Erina, lalu Gino pun merapikan rambut sahabatnya itu. Erina tersenyum, saat melihat wajah Gino yang begitu dekat dengannya.
Cup!
Erina mencium pipi Gino, yang membuat pria itu terdiam, sedangkan Erina terkekeh pelan.
"Maaf yah ... aku gak sengaja, tadinya cuma mau nampar pipi kamu, karena ada nyamuk ... eh, malah ke cium," ucap Erina.
"Alasan ajah lo!" ucap Rika tiba-tiba, lalu menatap Gino dan Erina dengan malas. sebenarnya Rika dan Yoga sudah bersandar di mobil sedari tadi, namun keduanya ingin melihat modus Erina pada Gino
"Enak gak ... di cium sama cewe cantik?" tanya Rika, menghampiri suaminya dan Erina yang hanya diam, lalu di ikuti oleh sahabatnya itu.
"Kalian berdua kenapa sih? ... gue tadi itu gak sengaja," ucap Erina, yang memulai dramanya, membuat Yoga dan Rika memutar bola mata malas.
"Ratu drama mulai lagi nih!" sindir Yoga.
"Jaga mulut kamu yah ... Erina bukan wanita yang suka berbohong, dia selalu jujur ... yah walaupun dia pernah bikin saya dan Anjani hampir bercerai ... tapi, saya yakin dia khilaf," ucapan Gino, membuat Rika tertawa, namun terkesan menyeramkan.
"Waw, khilaf? ... hebat khilafnya!" ucap Rika, sembari bertepuk tangan.
"Tadinya aku mau minta maaf sama kamu ... tapi, setelah tadi aku ngeliat kedekatan kamu sama Erina, kayanya aku berubah pikiran deh!" ucap Rika, sembari menatap suaminya itu.
"Oke, aku tau maksud kamu ... aku sadar, di sini yang salah itu aku, karena aku telah menampar kamu ... jadi maafin aku yah," ucap Gino, namun Rika memutar bola matanya malas.
"Kamu sadarnya itu doang?" tanya Rika sembari melirik sinis wanita itu.
"Memang kesalahan aku cuma itu ... jadi, kamu gak sulit kan buat maafin aku?" tanya Gino
"Bukan cuma itu ... kesalahan kamu itu banyak Yaa ... selama satu minggu ini kamu udah nyuekin aku, karena mengurusi Erina, seakan-seakan Erina itu istri kamu ... bukan aku!" tekan Rika
"Rika.... jangan kaya gitu dong, sama suami sendiri," ucap Erina, yang mencari muka.
"Gak usah ikut campur lo ... jalang!" bentak Rika, menatap tajam wanita itu.
"Rika" bentak Gino, membuat sang empu menoleh.
"Aku udah bilang sama kamu ... jangan hina Erina seperti itu!" ucap Gino, yang masih saja tak terima, jika sahabatnya itu di hina.
"Kenapa ... gak terima? ... kamu akan lebih gak terima ... kalo kamu melihat kebenarannya!" tekan Rika, lalu ia menghampiri Erina.
Seminggu kemudian,
Saat dalam persidangan. Gino memberikan beberapa ajukan banding supaya hakim bisa mempertimbangkan dengan matang-matang.
Gino menatap tajam kearah Tania, begitu pula dengan Tania. Lalu beberapa saat para penuntut umum berbisik lalu menuju hakim mengemukakan pendapat mereka.
__ADS_1
Suasana semakin di buat tegang karena belum di perjelaskan hasilnya.
"Baiklah, dari semua yang di ajukan . Kami sudah mengamatinya, dan yang pantas mendapatkan hak asuh Deby Natsyaputih adalah, Nyonya Tania Gevilya, demikian sidang kami tutup!" seru ketua hakim
Tuk
Tuk
Tuk
"Mama, Deby enggak sama Papa lagikan?" tanya Deby
Tania memeluk anaknya erat sambil menggeleng "tidak sayang, kamu akan sama Mama terus," kata Tania
Gino tampak kesal dengan keputusan itu. Ia menerjang kursi lalu Hani mendekatinya bermaksud untuk menenangkan putranya itu.
"Ini semua gara-gara Mama!" tunjuk Gino lalu pergi begitu saja.
Hani melirik sinis pada Tania dan rombongannya. Lalu mengikuti putranya yang sedang emosi itu.
"Selamat ya Tania kamu memang pantas mendapatkan hak asuh anak kamu ini," kata Dian
"Sekarang, kita pulang aja?" usul Om Irfan
"Aku berencana untuk mengajak kalian makan siang di kafe," ceplos Aditya
"Itu ide tidak terlalu buruk, kebetulan juga lapar. Benarkan?" tanya Tante Dian
"Baiklah, ayo kita ke kafe dulu. Papa rasa Aditya sedang mendapatkan keuntungan hari ini," kata Om Irfan.
Pemberitahuan sedikit.
Mengenai Aditya.
Aditya adalah anak angkat dari om Irfan dan juga Tante Dian. Orangtuanya sudah lama meninggal, Aditya dulu pernah menyelamatkan keluarga om Irfan sehingga mereka mengangkat Aditya sebagai anak mereka. Dulunya, semasa Aditya masih sekolah SMA ia tinggal dirumah om Irfan tapi setelah Berkuliah ia juga sambil bekerja sehingga ia bisa membeli apartment dan tinggal disana selama ini. Pekerjaan nya adalah penakluk hati wanita---
Bukan deng!
Bekerja sebagai kuasa hukum.
_________________________
Kehangatan terjadi didalam suasana makan siang hari ini. Lalu, diam-diam Aditya tidak mengindahkan tatapannya dari Tania yang begitu memperhatikan anak perempuan nya. Walaupun di usia Tania yang terbilang masih muda-- 20 tahun, ia sudah sangat menunjukkan sikap seorang ibu yang berpengalaman.
Ada rasa kagum bersemanyam di hati Aditya saat ini .
"Papa lihat kamu terus memperhatikan Tania apa kamu menyukainya?" Ledek om Irfan
Hal itu membuat Tania melihat mereka bergantian. Lalu Tante Dian menambahi. "Kalau suka katakan saja, keponakan Tante memang sangat memikat pria," ledeknya
"Tante," lirih Tania yang merasa tidak enak.
"Tidak usah malu, kalian bukan anak ABG ... om setuju jika kalian bersama, selama ini om melihat adanya kebahagiaan terpancar dari mata kalian," kata om Irfan
Tania dan Aditya hanya diam saja.
"Sudah lah Pa, jangan menggoda mereka. Biarkan semua berjalan sesuai dengan keinginan mereka, tapi besar harapan kami kalian berdua memiliki hubungan yang serius," kata Tante Dian
___________________________
"Kamu enggak mau gendong Tama?' tanya Rika heran . Biasanya Gino akan menggendong anak mereka itu.
"Aku sedang pusing Rika, jangan mneganggu diriku. Bisa?!" tekan Gino di akhir kalimatnya.
"Apa semua ini. Karena Mas, kalah ... dalam persidangan? Mas, wajar dong Deby di asuh sama ibunya. Tania itu ibunya mas, kenapa kamu egois sekali, kenapa kamu tidak terima kenyataan aja. Lagian ya Mas, kan ada Mama,papa kamu, terus Vanya sama aku dan Tama anak kita," jelas Rika
"Harus berapa kali aku bilang kepadamu Rika, selain mencintai mu aku juga mencintai Tania, tidak mudah untuk ku membiarkan dia pergi begitu saja dariku, bagaimana pun caranya Tania harus kembali ke tanganku," tekad Gino
"Aku yakin Tania tidak pernah memikirkan hal itu, bahkan dia menahan setiap hinaan kamu terhadap nya selama ini, apakah dia mengemis kembali dengan mu? Aku rasa tidak, Mas. Lupakan saja dia, biarkan dia memilih hidupnya itu," kata Rika
"Lama lama kamu membosankan juga ya? Jika kamu terus membela Tania dan membenarkan dia didepan ku lagi, kamu akan ku tinggal !" Ancam Gino
__ADS_1
Hal itu membuat Rika terdiam.