Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 45.Kisah Masa lalu Ara 3


__ADS_3

“Maaf,” ucap Reno.


Aku bersidekap membelakangi Reno dan duduk ditepi ranjang. Lagian, udah tau aku paling takut sama yang namanya hantu masih aja jail mau ngprank. Kan nggak lucu!


Reno turun dari ranjang dan berjongkok di depanku. “Maaf,”


Aku tepis tangannya yang menggenggam tangan ini.


“Nggak lucu!” ketus ku.


Kualihkan pandangan agar tak menatap wajahnya yang manis. Takut luluh.


“Maafin Reno. Kalo Ara maafin, Reno janji bakal ngabulin keinginan Ara ,” ujarnya.


Beneran?


Kualihkan pandangan kearah Reno. Dia mengerjab, lucu lucunya.


Kuangkat jari kelingking. “Janji?”


Reno menautkan jari kelingkingnya dengan kelingkingku dan berkata, “Janji!”


#Pov_Author


“Kalau gitu Reno masih ingat dengan janji kita waktu kecil?” tanya Ara.


“Janji yang mana?” tanya Reno.


“Janji waktu di atas bukit!” jawab Ara kesal.


*Flashback on*


Terlihat dua orang anak kecil yang berbeda gender berusia sekitar enam tahunan sedang berjalan ditanah luas berumput hijau. Mereka menuju ke pohon rindang yang sedikit berbukit didepan mereka.


Mereka adalah Reno kecil dan Ara kecil. Reno kecil menenteng plastik yang berisi makanan untuk mereka bagikan kepada kucing-kucing liar yang tinggal disekitar perbukitan itu.


Ara mereka sampai dibawah pohon, kucing-kucing disekitar perbukitan itu langsung mendekat seakan telah menjadi kebiasaan bagi mereka.


Reno kecil membuka plastik makanan yang ditentengnya sedari tadi. Mereka langsung membagikannya kepada kucing-kucing tersebut. Sesekali mereka tertawa ketika melihat kucing-kucing tersebut saling berebutan.


Ara melihat kucing-kucing tersebut selesai makan, Reno kecil dan Ara kecil berbaring dibawah pohon rindang itu. Mereka merentangkan tangan dan menatap satu sama lain lalu tertawa. Kucing-kucing tersebut juga ikut berbaring didekat Reno kecil dan Ara kecil.


“Ara ,” panggil Reno kecil sambil menatap langit biru yang terlihat indah.


Ara kecil mengalihkan pandangannya ke arah Reno kecil, “Iya Renren,” ujar Ara kecil


sesekali mengusap kucing yang berada di atas perutnya.


Reno kecil mengalihkan pandangannya dari langit kearah Ara kecil, sekarang mereka saling menatap.


“Apakah Ara mau bersama Reno selamanya?” tanya Reno kecil.


Ara kecil mengangguk, “Tentu, Ara ingin bersama Renren selamanya.”


“Kalau begitu jadilah istri Reno,” ujar Reno kecil.


“Kenapa harus jadi istri Renren?” tanya Ara kecil penasaran.


“Kata mama Reno, suami dan istri akan bersama selamanya sampai maut memisahkan,” ucap Reno kecil dengan polosnya.


“Woah, benarkah?” tanya Ara kecil berbinar.


Reno kecil mengangguk dan duduk dari baringnya diikuti oleh Ara kecil.


“Ara mau jadi istri Renren!” ucap Ara kecil dengan semangatnya.


Tapi sedetik kemudian Ara kecil terlihat bersedih dan menunduk.


“Tapi ... bagaimana caranya jadi istri Renren?” tanya Ara kecil sambil mungusap kucing berwarna putih yang ada dipangkuannya.


“Reno tau, kita harus menikah,” ujar Reno kecil.


Ara kecil mengangkat wajahnya menatap Reno kecil, “Menikah?” beo Ara kecil sambil mengerjab lucu.


Reno kecil mengangguk, “Iya, menikah. Suatu saat Reno akan menikahi Ara ,” ucap Reno kecil.


Ara kecil tampak berbinar, “Janji?” tanya Ara kecil sambil mengangkat jari kelingkingnya.


“Janji!” tegas Reno kecil sambil menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Ara kecil.


*Flashback off*


Reno terdiam saat bayangan dimasa kecilnya terlintas diingatan.


“Kapan?” tanya Ara sambil meraih tangan Reno.

__ADS_1


Reno menggenggam tangan Ara dan ikut duduk di tepi ranjangnya.


Reno terkekeh, “Emang Ara pengen nikah sama Reno?” tanya Reno.


“Iya,” gumam Ara namun masih terdengar ditelinga Reno.


“Kita kan masih sekolah,” jawab Reno sambil mengusap rambut indah Ara.


“Ya udah pacaran aja dulu,” ucap Ara penuh harap.


Reno mengangguk. Sungguh! Reno akan melakukan apapun demi kebahagiaan Ara . Apapun akan ia lakukan untuk membuat Ara tersenyum, bahkan ia siap memberikan nyawanya demi Ara.


“Jadi ... kita pacaran?” tanya Ara .


Reno tersenyum sambil mengangguk.


“Yey! Akhirnya!” teriak Ara.


Reno tersenyum melihat Ara. tampak bahagia, itu yang ia inginkan, kebahagiaan Ara.


Namun, di satu sisi dia takut, takut ia akan meninggalkan Ara suatu hari, takut Ara akan menangis disaat kepergiannya. Ia berharap, selama ia bisa bernafas ia ingin menghabiskan waktunya bersama Sasa, membuat gadis itu behagia dan tersenyum.


POV Arabell


"Bosan"


Satu kata yang terus berkeliaran di otakku. Duduk sendiri, seorang diri, tanpa orang yang menemani, ditambah lagi hampir seluruh meja cafe diisi oleh orang-orang yang bikin jiwa pacaran ku meronta-ronta. Ayang beb mana sih? Katanya cuma bentar? Jangan-jangan aku ditinggalin? Jadi janda dong! Huwa ...!


Sekarang aku lagi di cafenya papa Reno 'om Nando '. Yah, karena berhubung om Nando lagi ada urusan diluar negeri jadi untuk urusan cafe diserahkan pada Reno.


Berakhirlah dengan begini, seorang bidadari cantik yang duduk sendiri menunggu pujaan hati menyelesaikan urusan cafe. Kalau mengurus pernikahan mah nanti. Hehe


Ku alihkan pandangan keluar cafe. Banyak kendaraan yang berlewatan menyusuri hari nan malam. Begitulah kehidupan, tak ada henti-hentinya berlalu, terus berjalan tanpa kenal waktu.


Aku terkesiap saat pelayan cafe menghampiri dan menawarkan menu disini. Aih, pelayannya ganteng, kelihatannya masih muda. Ku gelengkan kepala saat pikiran-pikiran buaya merasuki relung hati. Ingat Ara ! Ayang beb! Ingat!


“Mau pesen apa mbak?” tanya pelayan cafe dengan semyum manis nan aduhai.


“Oh, saya nggak pesen apa-apa, saya lagi nungguin calon suami eh Reno maksudnya.”


“Pak Reno anak pak Nando ?” tanyanya.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


“Mbak pacarnya ya?”


Pelayan itu pamit berlalu setelah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Kulihat dia berbicara pada rekannya yang lain. Sesekali mereka melihat ke arahku. Apa-apaan itu? Jangan-jangan pelayan tadi tukang gosip?


Aku tak ambil pusing tentang itu. Ku rogoh ponsel didalam tas untuk menghilangkan rasa bosan. Kubuka aplikasi berwarna oranye '*******', aku suka membaca cerita-cerita di aplikasi itu.


Bukan hanya untuk sekedar membaca, tapi mengambil hikmah-hikmah yang tersirat disetiap cerita, juga bisa menambah wawasan tentang kepenulisan sekaligus menghilangkan rasa bosan, contohnya disaat-saat sekarang.


“Ahem,”


Kualihkan pandangan kearah sumber suara. Eh, ayang beb udah duduk aja. Kusimpan kembali ponsel ku kedalam tas.


“Lama ya?” tanyanya.


“Nggak kok,” jawabku sambil tersenyum.


Walaupun lama, tapi tak tega rasanya untuk bilang pada yang beb. Aku tak mau hanya karena aku nanti Reno merasa bersalah.


“Maaf ya, lama,” ucapnya menunduk.


Tuh 'kan?


“Ara nggak apa kok, Renren,”


Reno mengangkat wajahnya, masih terlihat raut bersalah dari sorot matanya.


“Ya udah, sebagai gantinya malam ini bawa Ara jalan-jalan,” ucapku.


Reno mengangguk sambil menarik pergelangan tangan ini menuju kemotornya.


Deg!


Lagi, dan lagi jantung ini berdetak tak karuan saat Reno memasangkan helm dikepalai ini. Aku terdiam menatap wajahnya yang terlihat sempurna di mataku. Hidung mancung, mata indah, dan bibir pink-nya yang terlihat menggoda. Ku gelangkan kepalaku untuk mengusir bisikan-bisikan yang merapuh kan iman.


“Udah, naik,” ujarnya.


Segera aku naik keatas motor Reno. Tapi ... kenapa Reno belum menjalankan motornya. Udah dua menit lho?


”Renren, kenapa belum jalan?”


“Pegangan,” ujarnya.

__ADS_1


Kuturuti ucapannya.


“Bukan disitu tapi disini,” ucapnya seraya melingkarkan tangan ini di pinggangnya.


Jadi deg degan, emang sih udah sering, tapi setelah status yang berbeda ini aku merasa lebih gugup.


Reno terkekeh, “Jantungnya neng,” ucapnya setelah itu Reno tertawa sambil menjalankan motornya.


Mandadak mukaku terasa panas. Aku malu.


Ku senderkan kepala ke bahunya saat terasa lelah. Rasanya masih sama,


Nyaman.


Samar-samar kudengar suara Reno memanggil. Kubuka mataku. Woah, indahnya. Ternyata aku tertidur saat diperjalanan.


Mataku tak henti-hentinya melihat lampu kerlap-kerlip dipasar malam ini. Aku memang jarang kepasar malam. Bahkan, aku 'tak ingat kapan terakhir kalinya.


“Ayo, turun,”


Eh, aku tak sadar masih memeluk pinggang Reno. Segera aku turun, kubuka helm dan memberikannya pada Reno.


Kurasakan kehangatan saat Reno menggenggam tangan ini. Kami berjalan sambil bergandengan. Kuedarkan pandangan pada sekeliling. Woah, banyak sekali makanan disini.


“Ara mau makan dulu atau main?”


Kualihkan pandangan pada Reno sambil mengetukkan jari telunjuk sebelah kiri pada dagu sedangkan tangan kanan masih digenggam Reno. Aku ingin makan, tapi ... aku juga ingin main? Jadi, apa yang harus kupilih duluan? Aku bingung.


“Jangan bingung, kita makan dulu.”


Reno mengelus kepalaku. Reno selalu suka mengelus kepalaku, apa aku terlihat seperti kucing sehingga dielus-elus? Atau karena mengelus kepala orang itu enak? Bagaimana rasanya?


Kuangkat tanganku keatas kepala Reno, kuelus kepalanya, kupejamkan mata untuk merasakan sensasinya. Mmm ... rasanya seperti ... rambut?


Kubuka mata kembali, kulihat muka Reno memerah. Oh, apakah aku terlalu kasar mengelus kepalanya? Baiklah, ku elus lagi kepalanya, tapi kali ini aku melakukannya lebih lembut. Rasanya tetap sama, rambut.


Kuturunkan tanganku dan beralih menatap Reno yang terlihat lebih merah.


“Ciee ... ciee ... kakak cowoknya blussing kepalanya dielus,”


Kualihkan pandangan kearah sumber suara yang ternyata berasal dari anak-anak. Menurutku umur mereka sekitar delapan tahunan. Aku tersenyum kearah mereka.


“Lihat, pacar kakak blussing,” ujar salah satu dari mereka.


Kualihkan pandangan kearah Reno, dia memalingkan wajahnya kearah lain sambil menggaruk tengkuknya.


Kualihkan kembali pendangan kearah anak-anak itu. Salah satu dari mereka mendekat dan menyuruhku untuk berjongkok untuk menyesuaikan tingginya.


Ia berbisik, “Kalau wajah pacar kakak merah, itu tandanya dia minta dicium.” Anak itu mengangkat jempolnya setelah selesai berbisik, selanjutnya anak-anak itu pergi sambil melambaikan tangannya.


Benarkah? Reno minta dicium?


“Renren,” panggilku.


Reno menoleh, “Ap—”


Cup


Uh, apa yang aku lakukan? Kututup mulutku saat setelah aku mencium pipi Reno. Bukan! Bukan mencium! Tapi itu ketidak sengajaan saat Reno menoleh.


Apa yang harus kulakukan?! Aku ingin kabur tapi takut tersesat. Ah! Mukaku panas, aku malu! Segera kupeluk Reno, mencoba untuk menutupi rasa malu dengan bersembunyi ditubuhnya. Disini ramai, sungguh aku malu.


“Renren, Ara malu,” lirihku.


Kenapa Reno hanya diam?


“Renren,”


Kurasakan Reno memelukku dan mengusap kepala ini, “Tidak apa, bukankah kita sudah pacaran?”


Kuanggukkan kepala sebagai jawaban. Tapi ... rasa Maluku tetap ada, bukan pada Reno tapi pada para pengunjung pasar malam yang sedang menatap kami.


“Ayo kita lanjut,”


“Renren, Ara pulang dulu,” ucapku saat setelah sampai didepan rumah Reno.


“Hati-hati,”


Ku anggukkan kepala dan mulai melangkah kearah rumahku. Setelah sampai di pintu pagar rumah, kembali aku menoleh pada Reno, dan melambaikan tangan, Reno hanya tersenyum. Entahlah rasanya aku tak ingin berpisah darinya walau sedetik.


Ku lanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti, keningku mengkerut saat melihat mobil didepan rumah. Bukan mobil bang Hendra , juga bukan mobil bang Refan , terus ini mobil siapa?


Aku tak mau ambil pusing dan langsung melangkah kerumah, mungkin saja bang Hendra ada tamu.


Sampai Dirumah

__ADS_1


Saat sampai diruang tamu, air mataku lolos saat melihat seseorang yang tengah duduk disofa. Dia ... dia yang kurindukan ... dia .


__ADS_2