
Hari ini Rika akan pergi sejauh mungkin dari kehidupan suaminya. kini Rika, Yoga, dan Darma tengah berada di bandara, karena hari ini wanita itu akan berangkat ke Jogjakarta dan melanjutkan kuliahnya di sana.
"Kamu yakin mau ninggalin paman? ... apa kamu gak mau menyelesaikannya saat ini juga?" tanya Darma, yang tak rela jika keponakan satu-satunya pergi meninggalkannya.
"Tenang ajah paman ... aku di sana cuma 3 tahun ko, nanti aku balik lagi," ucap Rika, lalu memeluk pamannya itu.
"Terus gue di sini sama siapa? ... masa lo tega ninggalin sahabat lo sendiri di sini," ucap Yoga.
"Lo kan cowo, jangan cemen gitu dong ... nanti kalo gue udah balik lagi ke sini ... lo harus janji sama gue, kalo lo udah ada calon istri," ucap Rika, terkekeh pelan.
"Ya udah, calon istrinya lo ajah ... kan lo minta cerai sama Gino!" ucap Yoga, dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari sahabatnya itu.
"Hehehe ... gue berjanda kali, jangan natap gue gitu dong!" ucap Yoga, nyengir kuda.
"Ya udah ... paman dan Yoga, aku pamit yah ... jaga diri baik-baik di sini, aku cuma mau mengetes kesetiaan Gino doang ko, kalo nanti dia cari aku, jangan lupa kabarin!" ucap Rika dan diangguki oleh keduanya.
Lalu Rika pun berlalu memasuki pesawat yang menuju ke Jogjakarta. sungguh Darma dan Yoga tidak rela jika Rika pergi ke sana, hanya karena Gino, padahal masalah ini dapat di selesaikan dengan mudah, jika Rika memberitahu rekaman itu, namun Rika tetap lah Rika, si kepala batu yang bagaimanapun dengan caranya ia harus berhasil membuat Gino kembali kepadanya.
Di sisi lain, Gino tengah memikirkan ucapan Rika kemarin, apa benar Rika serius dalam perceraian?, Gino mengacak-acak rambutnya frustasi, mengapa ia bisa sebegitu kasarnya dengan istrinya sendiri, hanya untuk membela sahabatnya.
Erina menghembuskan nafasnya kasar, saat melihat Gino tengah memandang dengan tatapan kosong. ia sudah tahu, jika Gino sedang memikirkan Rika.
"Gino," panggil Erina, yang membuat sang empu menoleh, menatapnya.
"Kenapa?" tanya Gino, sembari menghampiri Erina.
"Aku pamit pulang yah ... lagi pula aku kan udah sembuh, makasih udah ngerawat aku," ucap Erina, lalu ia memeluk sahabatnya itu, Gino pun mengelus rambut panjang milik Erina.
"Sama-sama ... kalo ada apa-apa hubungin aku ajah," ucap Gino dan diangguki oleh wanita itu, lalu Erina pun berlalu pergi, meninggalkan pria itu sendiri.
"Huft ... rumah ini sepi banget," ucap Gino sembari melihat-lihat sekeliling rumahnya.
"Aku salah sama Rika ... lebih baik aku pergi ke rumah om Darma ajah deh!" ucap Gino, lalu ia mengambil kunci mobilnya, namun saat di depan pintu, ia di kagetkan dengan kedatangan Yoga dan Darma.
__ADS_1
"Nih ... kamu harus tanda tangani itu, jangan sampai tidak!" ucap Darma memberikan sebuah surat, Gino pun menerimanya, namun saat ia membacanya, matanya membulat sempurna.
"Apa ini? ... Rika gak mungkin minta cerai," ucap Gino.
"Mungkin ... karena dia udah gak tahan liat lo sama Erina bermesraan ... inget Erina itu sahabat lo doang, sedangkan Rika dia ... dia istri lo bro!" ucap Yoga.
"Gak mungkin ... sekarang Rika mana?" tanya Gino, namun Yoga malah tertawa terbahak-bahak.
"Rika udah pergi ... dan itu karena lo ... sekarang tugas lo cuma tanda tangani surat perceraian itu, jangan sampai enggak ... ayo paman!" jelas Yoga, lalu keduanya pun segera pergi dari rumah itu.
"Pergi? ... pergi ke mana?" Gumam Gino, ia pun langsung mengejar Darma dan Yoga, yang baru beberapa langkah dan segera menghadangnya.
"Rika pergi ke mana?" tanya Gino.
"Lo gak perlu tau dan itu bukan urusan lo ... jadi, awas!" ucap Yoga, lalu mendorong bahu Gino.
Gino menatap kepergian kedua pria itu yang menggunakan mobil. Gino menunduk dan tanpa sadar, ia menitikan air matanya.
"Jadi, ucapan kamu itu gak main-main ... kamu pergi ke mana? ... aku gak bermaksud buat nampar kamu ... maafin aku sayang," ucap Gino, lalu mengusap air matanya.
Kini Rika sudah sampai di rumah bulenya yang berada di Jogjakarta. Rika langsung saja merebahkan dirinya di tempat tidur, sembari menutup mata, membayangkan tamparan yang pernah ia dapat dari suaminya.
"Sampai jumpa 3 tahun lagi Yaa ... maaf, aku pergi tanpa pamit sama kamu ... tapi, aku pergi itu juga karena gara-gara kamu!" ucap Rika, lalu ia tersenyum.
"Semoga kamu di sana gak sedih yah ... walaupun aku pergi ke Jogjakarta ... tapi, aku masih cinta sama kamu ko," lanjutnya.
Lalu dirinya bangkit dan mengambil ponselnya yang berada di saku roknya. Rika mencari kontak Yoga, lalu segera menelfon sahabatnya itu, untuk memberitahukan jika dirinya sudah sampai di Jogjakarta.
*Via Telfon On*
📱"Halo bro ... gue udah sampe nih di Jogjakarta, gimana ... lo baik-baik ajah?" cerocos Rika.
📱"Harusnya yang nanya lo baik-baik ajah tuh gue ... bukan lo maimunah!" ucap Yoga, yang membuat Rika terkekeh.
__ADS_1
📱"Iyah-iyah ... maksud gue itu, gue mau ngabarin lo kalo gue itu udah sampe ... terus lo sampein yah sama paman," jelas Rika.
📱"Iyah, nanti gue sampein ... jaga diri lo baik-baik di sana yah ... aku padamu!" ucap Yoga, yang membuat Rika tertawa terbahak-bahak.
📱"Nasib jomblo yah lo!" ledek Rika sembari tertawa, membuat Yoga memutar bola matanya malas.
📱"Udah ah ... perut gue sakit nih gara-gara lo, gue mau istirahat ... bay bay!" ucap Rika lalu mematikan sambungannya sepihak, membuat Yoga mengusap dadanya.
*Via Telfon Of*
Setelah mematikan sambungannya, Rika pun menyusun semua bingkai foto Gino di kamarnya, agar ia selalu ingat dengan suaminya itu. sebenarnya ia kecewa, namun rasa cintanya akan tetap ada.
"My Husband!" ucap Rika sembari mengusap bingkai foto Gino yang berada di tangannya, lalu ia letakan di atas nakas samping tempat tidurnya.
"Udah ah ... gue mau mandi, untung Jogjakarta sama Jakarta waktunya sama!" ucap Rika, dan berlalu memasuki kamar mandi.
Di sebuah bar, Erina dan kedua sahabatnya tengah menikmati minuman berbau alkohol, mereka sesekali tertawa bersama, untuk merayakan keberhasilan rencana Erina untuk memisahkan Gino dan Rika.
"Hebat lo Naa ... semoga ajah, setelah ini Gino akan jadi milik lo ... untuk selamanya!" ucap Juwita.
"Iyah dong ... bagi gue, buat rumah tangga Arya hancur tuh gampang ... gampang banget malah!" ucap Erina, kembali tertawa.
"Dua jempol lah buat lo!" ucap Haira.
Tanpa mereka ketahui, ada seseorang yang merekam kegiatan mereka bertiga. seseorang tersenyum smrik, lalu segera pergi dari tempat yang tak berfaedah itu.
▪▪▪
Pagi telah tiba, kini Rika bangun lebih awal, karena dirinya akan segera berkuliah di kampus yang berbeda. setelah bersiap-siap, ia pun segera mengendarai mobilnya yang memang ada di Jogjakarta, karena dirinya dan pamannya memang pernah pergi ke negara salah satu asean ini waktu, Rika ber'umur tahun 7-10 tahun.
"Untung gue masih bisa bahasa Jawa.. gak sia-sia dulu gue belajar bahasa sini," ucap Rika, sembari keluar dari mobilnya, lalu ia melihat-lihat kampus barunya itu.
"Rame banget ... ganteng sama cantik-cantik lagi orangnya, semoga ajah gue punya temen di sini ... biar gak bosen!" ucap Rika, sembari berjalan melihat-lihat, sebelum ia memasuki kelasnya.
__ADS_1
Rika tersenyum, saat melihat orang-orang yang sedang mengobrol dengan temannya. ia jadi ter'ingat dengan Yoga dan kebiasaanya saat di kampus, namun ia harus bisa menerimanya, ini juga kemauannya sendiri.
Dan untuk anak nya Rika, kini Vanya tinggal dengan om nya Rika, Darma.