Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 122 . Ngidam Lagi


__ADS_3

Menyusahkan tapi menyenangkan, mau tahu itu apa? Itu adalah ngidamnya Ara . Susah tapi, pak Reno selalu menuruti dan melakukannya dengan senang hati.


Ngomong-ngomong soal pengantin baru, Marvel dan Risa sedang melakukan bulan madu atau honeymoon. Walaupun belum tiba libur semester tapi Risa terpaksa mengambil cuti atas permintaan sang suami dan orang tuanya.


Sebenarnya pak Reno dan Ara ingin pergi juga, tapi ada kendala. Dengan pekerjaan pak Reno di kantornya, yang tidak bisa ditunda.


Bahkan hari ini, dia bangun pagi-pagi sekali, untuk berangkat ke kantornya. Tanpa membangunkan Ara, cuma mengecup kening Ara, dan berlalu pergi setelah memberikan arahan ke mbok Mina, apa-apa yang tidak boleh Ara lakukan.


Sekitar setengah jam, setelah kepergian pak Reno. Ara terbangun dari tidurnya, sambil menggeliat dan meregangkan otot-otot tangannya.


"Orangnya kemana?" gumam Ara bertanya-tanya, saat dia meraba-raba di sampingnya.


Ara membangunkan tubuhnya, dan melihat sekelilingnya mencari keberadaan suaminya. Namun nihil, tidak ada siapa-siapa di dalam kamar itu.


Ara berjalan ke arah kamar mandi, untuk membasuh wajahnya. Setelah selesai, dia berjalan keluar kamar dengan menuruni tangga, pergi menghampiri mbok Mina.


"Sudah bangun, Non?"


"Mas Reno ke mana, Mbok?"


"Tadi den Renoo pamit, mau ke kantornya. Buru-buru gitu Non, sampai enggak makan apa-apa, cuma minum sedikit, lalu langsung pergi," ucap mbok Mina.


"Enggak bilang apa-apa, Mbok?"


"Enggak ada Non, cuma bilang sama Mbok kalau nanti Non Ara bangun, dia nyuruh Mbok buat larang Non kerja yang berat-berat. Itu aja Non, sama nyuruh saya kasih tau Non kalau den Renoo pergi ke kantor," ucap mbok Mina, menerangkan.


"Ya udah, Mbok. Ara kembali ke atas dulu," pamitnya.


"Enggak sarapan aja dulu, Non?"


"Nanti aja Mbok, Ara mau mandi dulu," ucap Ara , cuma diangguki mbok Mina.


Ara kembali naik ke kamarnya, seperti katanya tadi, Reya langsung pergi ke kamar mandi, dan mandi. Sekitar dua puluh menitan, Ara sudah keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.


Selesai memakai baju, juga menyisir rambutnya setelah memakai hairdyer. Saat sedang duduk santai sebentar, pikiran Ara tiba-tiba menerawang ke mana-mana.


"Makan durian enak kali, ya?" gumam Ara kemudian mengambil handphonenya untuk mengechat suaminya, yang entah apa yang diperbuatnya di sana.


Mas Reno


[Nanti kalau pulang, beliin Reya durian.]


Send.


Pesan terkirim, centang dua, bertanda pak Reno sedang online atau data selulernya aktif.


Ara menyimpan hpnya kembali, dan membaringkan kepalanya sambil menunggu balasan dari pak Reno. Sekitar delapan detik kemudian, notif masuk di hp Reya.


[Durian? Nggak, kamu enggak boleh makan durian dulu!]


Ara yang membaca balasan suaminya, lantas merengut. Memang salah? Dia cuma mau makan sedikit, enggak apa-apa juga.


Baru ingin membalas, panggilan telepon dari pak Reno masuk.


"Cuma sedikit, Mas! Cuma mau makan sedikit, masa enggak boleh?!" tanya Reya ngegas, setelah mengangkat telepon.


"Assalamualaikum," salam pak Reno dari sebrang telepon, dengan sedikit kekehannya.


"Waalaikumsalam," jawab Ars, dengan judesnya.


"Enggak usah ya, makan yang lain aja?"


"Enggak-enggak, Ara mau makan durian!"


"No, untuk saat ini kamu enggak boleh!"


"Cuma sedikit, Mas."


"Enggak."


"Sedikit aja."


"Tetap enggak."


"Sedikit aja loh, Mas. Ini yang mau juga, babynya. Sedikit aja, yah?"


"Enggak bisa, Sayang. Yang lain aja, yah? Semangka, mau?"


"Durian!" rengek Ara.


"Kalau enggak mau beliin, ya udah enggak usah. Aku mau ke rumah abang , dan jangan nyusulin!" ucap Ara, dan langsung mematikan teleponnya.


Jangan pikir Ara cuma main-main, itu serius. Reya benar-benar akan pergi ke rumah bundanya.


Di sisi lain, di kantor pak Reno. Dirinya sudah bertambah pusing. Masalah kantornya belum selesai, karena masalah pada pegawainya yang korupsi. Ditambah, dengan Ara yang ngambek.


Sudah berkali-kali dia menghubungi Ara. tapi ponsel Ara selalu tidak aktif. Sunggu memusingkan.


"Indra, saya mau balik dulu."


"Pulang, Bos? Waduh, enggak bisa gitu Pak. Masalah ini harus dibereskan sekarang juga, enggak bisa ditunda," ucap Indra.


"Sedikit juga enggak, bisa?" tanya pak Reno, dibalas gelengan Indra.


"Ini masalah penting sepenting pentingnya, Pak. Bahkan tadi saya baru terima telepon dari pak Bima, beliau bilang kalau sampai masalahnya atau uang hasil korupsinya enggak di beresin secepatnya. Dia bakal cabut sahamnya dari kantor kita," kata Indra.


"Sampai segitunya?"


"Masalahnya, uang itu enggak sedikit Bos. Jadi wajar kalau mereka-mereka ngebet gitu," ucap Indra, pak Reno menganggukan kepala sambil, menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Ada masalah lain kah, Pak?"


"Istri saya, lagi marah. Kemauannya tidak saya turuti," ucapnya.


"Apa memang?"


"Dia mau makan durian, tapi saya tidak bolehin. Masalahnya dia lagi hamil loh, Indra. Saya takut kalau dia sama bayinya, kenapa-napa nantinya."


"Makan durian? Tapi setau saya, durian enggak apa-apa dikomsumsi ibu hamil, Pak," ucap Indra.


"Kamu tau dari, mana?"


"Tante saya, sama yang pernah saya baca di artikel-artikel. Cuma ya balik ke diri orang masing-masing, percaya atau tidak. Jangan sampai karena ngikutin saran saya, malah terjadi apa-apa."


"Saya keluar ngangkat telepon dulu Pak," pamit Indra, setelah Indra keluar, pak Reno menghubungi mbok Mina, dikarenakan ponsel Ara belum aktif-aktif.


"Assalamualaikum Mbok."


"Waalaikumsalam Dek, mau nyari Non Ara?" tebak mbok Mina.


"Iya Mbok, Ara di mana?"


"Itu Den, Non Arapergi. Katanya ke rumah bundanya," ucap mbok Mina.


"Beneran pergi, Mbok? Terus yang antar siapa?"


"Di supirin pak Doni, Den."


"Ya udah Mbok, saya matiin."


"Iya, Den."


Panggilan diakhiri, pak Reno kembali menghembuskan nafas berat. Menunggu beberapa saat, kemudian menelpon nomor mertuanya, untuk menanyakan keberadaan Reya.


"Assalamualaikum, nek," salamnya, saat telponnya sudah terhubung.


"Waalaikumsalam, Ren."


"Ara sudah sampai di situ, nek?"


"Sudah, ini ada di samping nenek sekarang. Ngambek dia," ucap nenek mya Ara,


"Itu nek , Ara mau makan durian katanya. Tapi Vano enggak bolehin, makanya ngambek sampai kabur dari rumah," ucap pak Reno, membuat Ara yang mendengarnya langsung mendengus.


"Lagian cuma makan durian, masa enggak boleh?!" ucap Ara, kesal. Yang terdengar nyaring di telepon.


"Hust, enggak boleh begitu sama suami Sayang. Itu juga untuk keselamatan kamu sama bayinya," ucap nenek nya Ara menegur.


"Betul kata nenek ,Ara . Mas bukannya enggak bolehin, tapi--"


"Terserah, Mas!" potong Ara , dan langsung pergi meninggalkan nenek yang tercengang dengan sikap sang anak.


"Iya, kamu selesaikan dulu. Biar nenek yang urus Ara , bagaimanapun suasana hati nya enggak baik. Ya sudah nenek tutup telponnya, kamu lanjutin aja."


"Ya sudah, makasih nek . Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


***


"Ara pergi makan dulu yuk, Nak. Kamu bilang tadi belum makan apa-apa, 'kan?" tanya nenek sambil mengelus rambut putrinya.


"Ara enggak laper, nenek ."


"Jangan gitu dong, Sayang. Ingatkan, ada anak di dalam perut kamu? Kasihan, kalau nanti dia juga lapar," ucap bunda.


"Mas Reno enggak pulang?" tanya Reya, mengalihkan sedikit.


"Belum pulang, kantornya bermasalah. Kamu pergi makan dulu, yuk."


"Mentingin kantornya, dari pada Ara " gumam Ara, tapi masih didengat jelas nenek nya. .


"Enggak gitu, Nak. Tadi nenek di kasih tau mama mertuamu, kalau ada yang korupsi di kantor suamimu. Jadi dia harus diselesain dulu," ujar nenek nya Ara.


"Ada yang korupsi? Terus, kenapa enggak bilang dari tadi?" tanya Ara , entah apa yang dia pikirkan.


"Bunda juga baru tau, tadi suamimu bilang cuma masalah kantor, enggak bilang kalau masalahnya begitu. Ya udah yuk, kamu pergi makan dulu," ajak nenek.


"Tapi Ara memang kepingin makan durian, nenek," rengek Ara lagi.


"Ya sudah, tunggu suamimu pulang. Nanti Bunda yang nyuruh pergi beli," pasrah bunda Hilma, daripada Ara tidak makan sama sekali?


"Serius? Enggak bohong, 'kan?"


"Enggak, ayo pergi makan. Nanti cicit nenek nangis lagi, karena lapar," guraunya, mengangguk.


***


Detik, menit, dan jam berlalu, waktu sudah menuju senja. Belum ada tanda-tanda, akan datangnya pak Reno. Sedari tadi Ara selalu tampak galau.


Sedikit-sedikit ....


"Nenek , Mau makan duriannya sekarang."


Atau.


"Mas Reno , kenapa belum datang?"


Atau.

__ADS_1


"Pesan Ara enggak pernah dibalas, atau dibaca. nenek ."


"Ara telepon juga enggak pernah di angkat, padahal aktif!"


Nenek cuma bisa membalasnya dengan kata ini, "mungkin masalahnya belum selesai, masih sibuk, jadinya enggak pernah diangkat, karena dikasih mode hening.


Entah kenapa juga, keinginan Ara ingin makan durian tidak pernah musnah. Selalu teguh dengan prinsip, walau sudah beberapa kali disodorkan dengan makanan lain.


Tiba saatnya tepat pukul 17:11, suara deru mobil terdengar dari luar. Ara yang memang sudah hafal dengan suara mobil itu, cuma diam dan diam. Cuma nenek yang pergi membukakan pintu. Sedangkan Ara tetap berdiam diri, mungkin sudah kesal dengan suaminya itu.


Ada yang bertanya-tanya? Di mana abang Hendra ? Jawabannya, abang Hendra juga belum pulang dari kantornya.


Walau ngambek, Ara masih sempat mencuri-curi pandang ke arah pak Reno, yang terlihat sedang berjalan ke arahnya. Dasi yang sudah dilonggarkan, jasnya sudah dia lepas, dan rambut yang sedikit tidak rapi.


"Ara ," panggil pak Reno, sambil menduduk 'kan dirinya di sofa.


"Bunda masuk duluan yah," pamit nenek Ara, yang mungkin mengerti akan adanya adegan keluarga, antara anak dan menantunya.


"Marah? Hey, Mas minta maaf. Tadi ada masalah kantor, benar-benar enggak bisa ditunda," ucap pak Reno, sambil mengelus rambut Ara lembut.


"Oke, sebagai gantinya, Mas turutin apa'pun mau kamu," rayu pak Reno.


"Makan, durian?" tanya Ars , engkat bicara.


Pak Reno tersenyum kikuk, lalu menggelengkan kepala, bertanda 'tidak boleh.' Ara kembali merengut masam, dengan memalingkan wajahnya.


"Makan yang lain aja, ya?"


"Ya udah, yang lain aja," ucap Ara , pak Reno tersenyum, dan mengangguk.


"Sup semangka," ucap Ara , pak Reno yang tadinya tersenyum beralih melongo.


"Sup semangka?" tanyanya seakan tak percaya, dengan pendengarannya.


Namun Ara mengangguk, tandanya dia tidak salah dengar. Ya Tuhan, sepertinya anaknya sengaja mengerjainya.


Oh hey, dirinya baru pulang dari kantor. Lelah? Pasti, tapi kenapa anaknya sungguh tidak bisa mengerti nya? Harusnya saat ini, dia sudah bermanja-manja dengan sang istri, tapi apa mau dikata.


"Kalau enggak mau beliin sup semangka, ya udah temenin Ara pergi beli hamster lagi!" ucap Ara, dengan sangat gembiranya saat menyebut hamster.


"Ha? A-apa tadi kamu, bilang?" tanya pak Reno, masih dengan wajah cengonya.


"His, kalau enggak mau beliin sup semangka, ya udah temenin Ara pergi beli hamster. Jelas, 'kan?" Pak Reno mengangguk, sambil menghempaskan kepalanya, berbaring ke samping sofa.


"Mas, capek?" tanya Ara, seakan tak melihat kondisi suaminya saat ini.


"Banget, masalah di kantor Mas menumpuk. Belum lagi kasus korupai pegawai Mas. Mas lelah lahir batin," ucap pak Reno, terdengar ... agak seperti mendrama di akhir kalimatnya.


"Jadi, enggak bisa pergi?" tanya Ara lagi. Pak Reno tidak menjawab, tapi langsung membangunkan kepalanya dan lantas memeluk Ara, membenamkan wajahnya di leher Reya.


"Tunggu Mas istirahat sepuluh menit, baru kita pergi," gumam pak Reno, tetap memeluk Ara.


"Ya udah, Mas istirahata aja," ucap Ara dengan membelai rambut suaminya.


"Besok jadwal check up, 'kan?"


"Iya, kenapa emang nanya gitu?"


"Enggak apa-apa, cuma Mas penasaran. Jangan-jangan, anak kita ada dua," ucap pak Reno, sekenanya.


"Sok tau!"


"Buka gitu, abisnya Mas kadang heran. Kamu sebentar-sebentar bar-bar atau selalu mendesak, tapi sebentar-sebentarnya kalem-kalem aja. Ya Mas penasaran, besok kita USG, ya? Biar ngobatin rasa penasarannya Mas," ujar pak Reno, panjang.


"Bukannya saat pertama, kita udah USG? Dokternya juga enggak bilang apa-apa," balas Ara.


"Ya siapa taukan, kalau dulu belum kelihatan karena masih kecil. Atau dokternya enggak terlalu merhatiin," belanya.


"Ya-ya, terserah Mas. Emm, udah sepuluh menit. Ayo pergi," ucap Ara semangat 55.


"Nah-nah, kembali bar-barkan. Nanti dulu Sayang, masa sepuluh menitnya cepet banget selesainya," gerutunya.


"Mana saya tau, jamnya yang terlalu cepat."


"Nanti ya, kamu enggak kasihan sama Mas? Mas baru pulang loh ini, masa udah mau pergi lagi?"


Nih-nih, bukan apa-apa. Bukan masalah ke sup semangkanya, tapi ... hamster nya.


"Bilang aja kalau Mas ... takut, 'kan sama itu, hamster nya? Kan?"


"Mas enggak usah jawab, 'kan? Kamu sudah tau jawabannya," jawab pak Reno, dengan menutup wajahnya dengan bantal.


"Tapi itu banyak bulu-bulu loh, Ara. Enggak baik sama --"


"Mas!" rengek Ara , sambil menarik tangan pak Reno.


"Iya-iya, Mas pergi ganti baju dulu. Kamar Marvell enggak kekunci, 'kan? Mas mau pinjam bajunya, soalnya baju Mas enggak ada di sini," tanya pak Reno, dibalas anggukan Ara.


***


"Ra, Mas enggak usah masuk, ya? Mas tunggu kamu di sini aja," ucapnya, dengan wajah memelas.


"Kalau di dalam Ara kenapa-napa, gimana? Kalau sampai Ara kep--"


"Oke-oke, oke! Mas ikut masuk," putusnya.


Ara menepuk bahu pak Reno, dengan seulas senyum manisnya. Tapi itu tak berarti apa-apa bagi pak Reno, yang di pikirannya sekarang cuma ..., bagaimana kalau sampai ada yang lepas, terus memanjati tubuhnya? Atau lain sebagainya.


"Ayo!" seru Ara, begitu semangatnya. Sedangkan orang yang diajaknya, cuma memasang wajah cam anak kecil, yang tak dituruti kemauannya.

__ADS_1


Sorry for typo. 🙏


__ADS_2