
Ara sudah dirawat hampir seminggu di rumah sakit, dan hari ini, rencananya Ara akan dipulangkan. Ya walau pak Reno maupun mama Dewi masih mau kalau, Ara dirawat kurang lebih dua hari lagi. Tapi Ara sudah bersi keras ingin pulang hari ini juga.
"Semua barang-barang udah beres, Mas?" tanya Ara, saat memberi ASI untuk, Kiano Dan Kenzo dia sedang diajak berjalan-jalan oleh neneknya.
"Sudah, sudah ada di mobil semuanya," jawab pak Reno, sambil memejamkan matanya. Yaps, hampir seminggu anaknya lahir, sudah hampir seminggu juga tidurnya yang tak nyenyak. Setiap tidurnya ingin mencapai mimpi, selalu saja ada gangguan, selalu saja ada yang mengganggu.
"Kamu, ikut mobil ayah sama bunda aja ya nanti. Mas enggak bisa nyetir sekarang, bisa-bisa kecelakaan," ucap pak Revano.
"Terus Mas ikut sama siapa?"
"Gino."
"Emangnya dia mau datang?"
"Maulah, siapa yang bisa nolak permintaan Mas, hmm?" tanya pak Reno, sombong sesombong sombongnya.
"Mas sih bukan meminta, tapi memerintah!" cibir Ara, Reno tersenyum.
"Reno, Gino sudah datang. Jadi, mau pulang sekarang?" tanya nenek Ara, saat masuk ke dalam kamar rawat Ara. Mama Dewi dan papa Nando sudah pulang, dan mungkin mereka cuma menunggu di rumah pak Reno, begitu juga Marvel dan Risa juga, Tania.
"Emm, tunggu Kiano selesai nyusu, nek . Kenzo mana?"
"Lagi sama abangmu . Kalau sudah selesai, panggil nenek , ya?"
"Iya, nek ." Setelah itu, nenek Ara kembali keluar kamar. Mungkin ingin kembali pergi menghampiri cicitnya ... Kenzo
***
Kini semuanya telah tiba di rumah pak Reno, Kenzo yang digendong nenek Ara , sedangkan Kiano digendong abang Hendra. Dan pak Reno, yang membantu Ara untuk jalan.
"Barang-barang Ara sama anak kamu, udah dipindahin ke kamar lantai bawah, Ren ?" tanya nenek Ara. Karena kata dokter Tifani, setelah pasca operasi sesar, tidak boleh menaiki tangga, ataupun mengangkat yang berat-berat. Karena itu akan mempengaruhi luka jahitan di perut.
"Sudah nek , beres," jawab pak Reno.
Di depan pintu, sudah ada mama Dewi yang menunggu. Setelah orang mendekat, dia langsung pergi menghampiri mereka dan mengambil Kiano dari gendongan, abang Hendra.
"Langsung bawa Ara ke kamar aja, Ren. Istirahat. Sekalian kamu juga pergi istirahat. Biar kita yang ngurus Kenzo sama Kiano. Mereka juga udah kenyang, nih," ujar nenek Ara, pak Reno cuma mengangguk. Dan berlalu pergi ke kamar bersama Ara di lantai bawah, yang sudah dia bereskan.
"Kamu istirahat ya, mumpung mereka enggak rewel, mumpung ada yang jagain juga," ujar pak Reno.
"Mas, enggak mau istirahat juga?"
"Hem. Mas pergi minum dulu, haus. Kamu istirahat duluan," ucap pak Reno, lalu keluar kamar setelah mendudukkan Ara di kasur.
Sepeninggalnya pak Reno, Ara mengedarkan pandangannya keseluruh pojok kamar. Di sampingnya sekarang, tak jauh, ada dua ranjang bayi yang bersampingan. Karena kekepoannya, Ara berdiri perlahan dan berjalan ke arah ranjang bayi itu.
Ara tersenyum geli, melihat masing-masing rajang tertulis nama pemilik rajang itu. Rajang pertama tertulis, Kenzo. Sedangkan ranjang kedua tertulis, Kiano. Jika Ara perhatikan lagi, nama anaknya memang benar-benar hampir sangat kembar.
"Kenapa enggak istirahat?" Pak Reno tiba-tiba muncul di belakang Ara. Bukan tiba-tiba sebenarnya, kalian saja yang tidak sadar kalau pak Reno sudah membuka pintu lalu berjalan ke arah Ara.
"Mau lihat-lihat ini."
"Bagus, gak?" tanya pak Reno.
"Bagus. Kan bunda sama mama yang milihin."
"Salah, bukan mereka. Ya memang mereka yang beli, tapi Mas yang milih," ucap pak Reno, sambil menaikan kedua alisnya. Ara berdecak, menyesal dia memujinya. Kalau saja dia tau dari awal kalau suaminya yang memilih. Bukan apa-apa, soal anak dan nama anak mereka saja. Pak Reno setiap ada waktu, akan selalu membanggakan dirinya karena telah memberi nama yang bagus, serta membuat anak yang tampan seperti dirinya, kata pak Reno begitu.
Contohnya begini ....
"Mereka tampannya, ya?"
"Pastinya, emang kamu pikir yang buat siapa? Yang buat aja tampan, masa jadinya jelek. Enggak baguslah." Dan disaat itu juga, Ara ingin sekali menampol tampang songong suaminya.
Atau seperti ini juga ....
"Namanya bagus."
"Jelaslah, lihat yang ngasih dulu, dong. Enggak mungkin Mas ngasih nama ... Dadang sama Dudung, atau Juned sama Jamet. Apalagi, Aldi."
__ADS_1
Disitu Ara cuma bisa menatap malas suaminya. Atau lebih memilih berbicara dengan anaknya, dari pada pak Reno. Yang cuma bisa membuatnya darah tinggi.
*****
Malam telah tiba, orang-orang telah pulang. Tersisa mama Dewi yang memang ingin menginap, malam ini. Alasannya, biar bisa membantu Ara jika masih kesusahan mengurus anak. Papa Nando?Dia juga sudah pulang.
"Anak Bunda ganteng banget, sih. Mirip banget sama ayah, nih. Tapi masa enggak ada mirip-miripnya sama Bunda," celoteh Ara sambil mengelus-elus kedua pipi anaknya. Yang sekarang dia tidurkan di ranjangnya dulu, mungkin setelah keduanya tidur baru, memindahkannya ke ranjang bayi.
Tak lama, pak Reno memasuki kamar. Setelah selesai mengambil laptop dan beberapa berkas-berkas kantornya, dan juga beberapa map, yang mungkin berisi tugas-tugas mahasiswanya.
"Anak Ayah belum, tidur? Mau ngajak begadang lagi, ya?" Pak Reno ikut bergabung, naik ke atas kasur. Juga ikut mengajak berbincang-bincang kedua anaknya.
"Hem, kalau Mas perhatiin. Memang kamu enggak ada miripnya deh sama mereka," celetuk pak Reno, menatap kedua anaknya dan Ara secara bergantian.
"Siapa tau kalau udah besar, mirip sama aku," ucap Ara , tak mau kalah.
"Tapi kalau enggak mirip-mirip?" tanya pak Reno, dengan muka yang minta digeplak.
"Kalau enggak mirip, ya ...."
"Buat lagi? Oke, kita buat lag—awwh." Pak Reno seketika mengaduh sakit, saat Ara memukul belakangnya cukup kencang.
"Udah punya anak, Ara Masa masih suka KDRT, sama Mas?" Pak Reno membuat mimik wajahnya menjadi ... entahlah. Yang jelas Ara makin ingin memukulnya.
"Sampai punya cucupun, kalau Mas ngeselin, ya tetap akan ada KDRT," balas Ara
"Oya? Enggak kasihan? Enggak takut? Mas juga manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran. Nanti kalau enggak tahan, bisa-bisa Mas koid sebelum mereka punya istri," ucap pak Reno dramatis. Ara sendiri cuma menampakkan wajah geli, dan satu sudut bibir yang terangkat. Yang membentuk senyum jijiy.
"Ish, mukanya santaiin aja kali. Mas juga enggak ngerti kenapa bisa sedrama ini?" Kembali Ara cuma menampakkan wajah geli. Dan tanpa mereka sadari, kedua anaknya sudah tertidur. Mungkin mereka menganggap ocehan orang tuanya sebagai, nyanyian pengantar tidur? Syukur sih, keduanya tidak terlalu rewel. Tidak seperti anak lainnya.
***
Pukul 00:08, Pak Reno terbangun, saat suara tangisan bayi mengusik tidurnya. Dia menyalakan lampu, yang saklarnya berada di dekat kepala ranjang. Jadi tidak perlu susah-susah jalan jauh-jauh untuk menyalakan lampu.
Pak Reno membangunkan dirinya, berjalan ke arah tempat anaknya berada.
"Ssst, anak Ayah kenapa nangis?" Pak Reno memeriksa pantat Kiano, begitu juga Kenzo. Karena kata Ara ataupun nenek mertuanya dan mamanya. Ada dua kemungkinan bayi terbangun dan menangis jika di malam hari, antara lain ... dia sedang buang air kecil atau besar, atau juga haus.
Pak Reno berdiri sambil sesekali menggaruk kepalanya bingung. Pasalnya, dia tidak atau belum terbiasa melakukan hal itu. Dia cuma memperhatikan. Itupun kalau dia melakukannya, belum selesai sudah digantikan Ara atau mamanya.
Mau minta tolong mamanya, takut mengganggu tidur. Mau membangunkan Ara ... dia tidak tega. Tapi dia juga tidak tega melihat anaknya menangis kejer gitu.
Menarik nafas dan menghembuskannya, pak Reno mendekati Ara.
"Sayang," panggilnya, menepuk-nepuk lengan Ara.
"Ara, bangun dulu ya." Ara melenguh, dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu tersadar saat mendengar jelas suara tangisan Kenzo dan Kiano yang saling bertautan. Hampir saja dia spontan terbangun, kalau tidak ditahan pak Reno.
Setelah kesadarannya full, Ara berdiri dan berjalan ke arah ranjang anaknya.
"Kiano pipis, Kenzo mungkin dia haus," ucap pak Reno, pergi mengambil tisu basah, meletakkannya di meja kecil. Lalu mengangkat Kenzo, menggendongnya.
"Stt ... stt. Diam ya, tunggu Bunda gantiin celana adek Kiano. Baru Kenzo minum," ucapnya, namun Kenzo masih menangis.
"Dia enggak mau diam, Ra. Kiano udah kamu gantiin celananya, gak?"
"Bentar dulu, aku baru mau pakein. Kalau gitu, Mas yang pakein aja. Kianojuga udah diam tuh, biar Kenzo aku susui dulu," tawar Ara.
"Tapi Mas enggak ... tau, maksudnya enggak berani makein," ucap pak Reno dengan cengirannya.
"Dari pada Kenzoenggak mau diam, udah sini. Biar aku tunjukin."
"Kan kamu mau gendongin, Kenzo. Man—"
"Udah selesai, Mas kebanyakan bicara. Lain kali harus belajar, biar enggak kelimpungan lagi. Mungkin hari ini masih ada mama yang bantu kalau kita kesulitan, tapi kalau besok-besok mama udah kembali. Gimana?" cerocos Ars. Tak menjawab, pak Reno cuma mengangguk, dan menyerahkan Kenzo ke Ara
"Itu, celananya Kiano Mas simpan di keranjang cucian, ya?" tanya pak Reno.
"Hmm."
__ADS_1
"Besok Mas mau pergi ngajar, lagi."
"Terus?"
"Ya, yang bantu kamu jagain mereka, siapa? Mama mungkin harus pulang. Nenek .... Mas yang enggak enak minta tolong terus. Mbok Mina, pasti juga sibuk ngurus rumah. Enggak mungkin kalau Mas juga minta tolong sama Risa, dia udah hamil agak besar. Tania, mungkin mau pergi ke kampus. Kalau—"
"Kalau, apa? Aku enggak mau ya, nyewa baby sitter," potong Ara, yang sudah tau kemana jalan pembicaraan suaminya.
"Tapi kamu kesusahan, Ra."
"Tau dari mana? Enggak tuh. Malahan senang. Ada rasa bahagia tersendiri kalau kita bisa melahirkan, dan membesarkan anak sendiri, tanpa bantuan orang lain. Apalagi kata baby sitter itu. Ya tapi aku kayak belum puas, karena enggak lahiran normal. Padahal aku mau ngerasain gimana rasanya berjuang melahirkan secara normal, tanpa ada kata sesar. Aku seperti merasa ... bersalah. Jadi tolong, jangan ngungkit-ngungkit masalah perawat atau baby sitter lagi, selagi aku masih bisa ngurusin mereka," jelas Ara panjang lebar.
Pak Reno menghembuskan nafas kasar, ingin sebenarnya dia menampol mulutnya sendiri yang keceplosan, atau hampir keceplosan. Tapi walau cuma hampir, tetap saja Ara sudah menebak itu.
Pak Reno mengangguk dan mengangkat jari tengah dan telunjuknya, berkata, "Maaf, tadi keceplosan. Serius, enggak bakal ngungkit masalah baby sitter lagi."
"Kenzo sudah tidur, Kiano bawa ke sini Mas," suruh Ara . Pak Reno menurut, mengambil Kiano dan memberikannya ke Ara. Kenzo sudah ditidurkan ranjang mereka, di samping Ara.
Pak Reno duduk di depan Ara, melirik Ara yang sama sekali tak melihat ke arahnya.
"Kamu marah?" Pertanyaan itu lolos dari mulut pak Reno.
Ara mendongakkan kepalanya menatap suaminya dengan kedua alis terangkat, bertanya ... 'kenapa?'
"Kamu marah karena Mas ngungkit masalah baby sitter, itu?" tanya pak Reno lagi, dan dibalas gelengan oleh Ara.
"Terus, kenapa?"
"Kenapa, apanya?" tanya balik Ara.
"Terus kenapa kamu enggak ngajak Mas bicara atau lirik Mas biar sekali?" Kembali Ara mengangkat alisnya disertai kerutan dahinya, tapi sedetik kemudian Ara terenyum geli.
"Situ kenapa jadi sensi, sih? Emang kalau aku enggak ngajak Mas ngobrol, atau enggak lirik Mas sama sekali, itu artinya marah? Enggaklah."
"Ta—"
"Hust, diam! Kiano mau tidur," desis Ara.
"Mereka tidur di sini?" tanya pak Reno, menunjuk-nunjuk ranjang mereka.
"Hmm, enggak masalah, 'kan?"
"Enggak," ucapnya, "Tapi enggak bisa meluk kamu," gumam pak Reno.
"Ngomong apa, Mas?"
"Ah, enggak. Enggak ada."
Suasana kembali hening, Kenzo dan Kiano telah teetidur. Ara juga ikut menidurkan dirinya di samping Kiano.
"Dia anak kamu, Ren. Jangan cemburu," nasehat pak Reno ke dirinya sendiri, sambil mengelus dadanya.
"Mas."
"Kenapa?"
"Ambilin gulingnya mereka, di situ."
"Berapa?"
"Tiga."
"Nih."
Satu guling di samping Kenzo, dan satunya di tengah-tengah antara Kenzo dan Kiano. Satunya lagi di samping Kiano.
"Mas, enggak tidur lagi?" tanya Ara, karena pak Reno cuma tinggal duduk di pinggir ranjang.
"Ini mau," jawab pak Reno, dan langsung membaringkan kepalanya juga ... badannya di dekat Kenzo.
__ADS_1
To be continued.
Sorry for typo. 🙏