Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 47.Kisah Masa lalu Ara 5


__ADS_3

“Kenapa Ara mukul Reno? Sakit tau,” ucap Reno sambil mengusap kepalanya yang kupukul.


Aku hanya cengengesan, sebenarnya aku 'tak bermaksud memukul kepalanya sekeras itu. Hanya refleks.


“Sini palanya, Ara obatin,” ucapku.


“Kagak Mao!”


Reno mengerucutkan bibirnya sambil terus mengusap kepalanya. Ngambek ceritanya.


“Ya udah, Ara pergi dulu.”


Aku melangkah bermaksud untuk pergi ke kelas. Tapi ... kenapa rasanya aku berjalan disini-sini saja. Kutolehkan kepala kearah belakang, benar dugaan ku pasti Reno yang nahan. Kerah bajuku dijepit oleh jarinya yang putih itu.


“Kenapa sih Renren, Ara mau ke kelas,” ucapku sedikit kesal karena kerah bajuku belum dilepas.


“Ara lupa?”


“Lupa apa?” tanyaku balik.


Reno berdecak, “Kita kan pengen nikah,” ucapnya.


Kupikir Reno bakalan lupa tentang itu setelah kupukul kepalanya dengan helm. Bukannya aku 'tak pengen nikah dengan Reno. Tapi, setelah kupikir-pikir 'tak baik nikah ketika masih sekolah, apalagi belum punya pekerjaan, lagi pula aku belum sanggup menjadi ibu rumah tangga. Mengurus diri sendiri saja sudah repot apalagi ditambah mengurus orang lain.


Begitu pula dengan Reno. Pasti ini hanya efek cemburunya yang berlebihan, biasanya ketika aku bawa nikah dia pasti bilang 'ntar aja pas kita lulus sekolah ya'.


Aku juga ingat kata Nene kalo nikah pasti suami minta yang aneh-aneh. Aku tak kuasa menahan sudut bibir ini terangkat membayangkan betapa bahagianya jika aku sudah menikah dengan Reno.


“Ngapain senyum-senyum?”


Aku tersentak seolah tertarik kembali kedunia nyata saat suara Reno terdengar. Padahal lagi asik-asiknya berhalu. Karena kata Salsa lebih baik menghalu dulu sebelum impian itu menjadi kenyataan.


“Emang kenapa?” tanyaku.


Matanya menyipit, “Senyum Ara terlalu manis, nanti mereka suka sama Ara ” ujarnya sembari mengalihkan pandangan ke arah lapangan basket.


“Mereka 'kan nggak liat!” ketus ku.


Yang benar aja mereka bisa liat, orang lapangan basket dengan parkiran aja jauh.


“Ya udah, kita ke KUA sekarang,” ucapnya.


“Tapi ki--”


“KEPADA SELURUH KELAS DUA BELAS DIHARAPKAN SEGERA BERKUMPUL DI LAPANGAN!”


“SEKALI LAGI KEPADA SELURUH KELAS DUA BELAS DIHARAPKAN SEGERA BERKUMPUL DI LAPANGAN!”


Aku bersyukur di dalam hati, untung ada pak botak sebagai penyelamat dari kecemburuan Reno. Aku do'akan semoga rambut pak botak cepat tumbuh dan subur kembali.


“Kuy,” ucapku sambil menggandeng tangan Reno menuju kelapangan.


Aku tertawa dalam hati melihat wajahnya yang cemberut. Sungguh menggemaskan.


Sesampainya dilapangan kami menuju barisan masing-masing. Sudah terlihat di depan sana berdiri pak botak dan kepala sekolah.


“Anak-anak, kalian sudah tau bukan, bahwa setiap tahunnya kelas dua belas akan mengadakan jalan-jalan sesudah ujian akhir sekolah dilaksanakan,” ucap kepala sekolah.


“Maka dari itu berhubung ujian akhir sekolah akan segera dilaksanakan, bapak mengonfirmasikan kepada kalian bagi siswa yang ingin ikut silahkan mendaftar pada anggota OSIS yang bertugas mengenai hal ini, sekian saja dari bapak, apa pak Burhan ingin menambahkan?”


Pak botak mengangguk, “Acara ini tidak dipaksakan, bagi yang ingin ikut silahkan mendaftar dan bagi yang tidak ikut tidak apa-apa hanya saja bayar denda hehe,”


“Huu!” Sorak semua siswa.


“Sudah-sudah, pak burhan hanya becanda!” tegas kepala sekolah. “Apa ada yang bertanya?”


Hening.


“Baik, kalau begitu semuanya silahkan bubar!”


Segera aku melangkah kekelas karena memang waktu istirahat tinggal sebentar. Aku mengerutkan kening, kenapa orang-orang menatapku aneh bahkan ada yang tertawa. Apa yang mereka tertawa kan?


Grep!


Deg!


Aku terkejut saat merasakan seseorang memelukku dari belakang. Aku memberontak mencoba melepaskan pelukan orang ini.


“Ssstt, ini Reno.”


Reno?


“Ngapain meluk Ara ? 'kan malu,” ucapku.


“Tembus,” ucapnya.


Aku bingung, apaan yang tembus?


“Udah, ikutin Reno aja!”


“Lepas dulu!”


“Nggak bisa!”


“Kenapa nggak bisa?”


“Kamu lagi kedatangan,” bisikan nya. .


Aku baru paham dan mengangguk. Aku berjalan dengan Reno yang masih memeluk dari belakang. Aku sungguh malu, berarti dari tadi orang menertawakan ku karena ini.


“Ngapain ketoilet?” tanyaku saat sampai didepan pintu toilet.


Reno menggaruk tengkuknya, “Yah, dicuci,” ujarnya seraya memalingkan mukanya yang terlihat memerah.


Seketika aku teringat dengan ucapan anak-anak yang waktu dipasar malam 'kalau muka pacar kakak memerah, itu tandanya dia minta dicium'. Kugelengkan kepala untuk menghilangkan ingatan memalukan itu.


“Kalau dicuci entar Ara mau pakai apa?” tanyaku. “Pulang aja ya,” rengek ku.


Aku sungguh 'tak nyaman. Pengen cepat-cepat pulang terus mandi.


“Ya udah, Reno izin ke guru dulu,” ucapnya.


Aku mengangguk. Dan segera berjalan menuju parkiran, untungnya jalan menuju parkiran'tak terlalu ramai.


Lama menunggu membuatku mengantuk, mana perut sakit lagi. Aku berjongkok untuk menghilangkan rasa sakit.


“Ara ?”


Aku mendongak saat mendengar suara.


“Zain?”


“Ngapain disini?” tanya Zain.


“Ara nungguin Renren, mau pulang,” ucapku.


“Ngapain pulang? 'kan belum waktunya,”


Aku bingung ingin menjawab apa.


“Owh, gue tau pasti itu ya,” ucapnya sambil terkekeh.


Aku memberengut saat melihat wajahnya yang menyebalkan.


“Nih!” ucapnya sambil menyodorkan hodienya.


“Untuk apa?”


“Buat nutupin itu, jadi nggak perlu pulang, lagian tinggal satu pelajaran, ingat! Bentar lagi kita bakal ujian lho, lo mau nggak lulus karena nilai lo kurang?”


Benar juga katanya, lagian tinggal satu pelajaran. Kuambil hodie Zain dan memakaikan kepinggang.


“Makasih,” ucapku.


“Sama-sama, jangan lupa ntar dicuci! Balikin ke gue!” ucapnya sambil berlari kecil menuju kelapangan basket.


Aku heran, kenapa mereka bilang sang ketua basket itu dingin, padahal 'tak dingin sama sekali.


“Ara, eh ini hodie Zain 'kan?” tanya Reno saat setelah sampai diparkiran.


Aku mengangguk.

__ADS_1


“Kenapa ada di Ara ?”


“Tadi Zain yang minjamin,”


Reno mengerutkan keningnya dan mengalihkan pandangan kearah lapangan basket.


“Ya udah, Ara jadi pulang?”


“Nggak Renren, lagi pula tinggal satu pelajaran,”


Reno mengangguk tapi pandangannya 'tak lepas dari lapangan basket.


“Ya udah, Ara duluan ke kelas aja, Reno masih ada urusan,”


Aku mengangguk dan segera berjalan menuju ke kelas. Saat sampai dikelas aku langsung duduk karena memang jam istirahat akan segera berakhir.


Salsa datang dengan senyum lebar yang selalu terpancar dari wajahnya.


“Mau permen nggak?” tanyanya.


Mataku berbinar melihat lolipop yang dipegang Salsa . Aku sangat menyukai lolipop karena itu sangat manis.


“Mau!” ujarku.


Salsa terkekeh, “Ada syaratnya,” ucapnya.


Aku mengerucutkan bibir sebal. Aku sangat ingin makan lolipop, apalagi yang gratis.


“Apa syaratnya?” ketus ku.


Mata Salsa menatap ke arah hodie Zain.


“Ini hodie Zain 'kan?” tanyanya.


Aku mengangguk. Dari mana anak ini tau?


“Kalo gitu lo punya nomor Wa Zain nggak?”


“Nggak,”


Mana aku punya. Tapi, kalo Reno pasti punya secara itu sahabatnya.


“Kalo gitu nggak ada Lollipop,” ucapnya hendak memasukkan Lollipop ke tasnya.


Sagera kutahan tangannya, “Reno punya, ntar Ara minta,” ucapku sambil berusaha merebut Lollipop itu.


Salsa berdiri dan mengangkat Lollipop nya tinggi-tinggi. Aku mengerucutkan bibir karena aku lebih pendek dari Salsa jadi aku 'tak bisa mengambil Lollipop nya. Yah, gagal makan Lollipop gratis.


Ia terkekeh, “Kalo lo mau Lollipop nya lo harus janji,” ucapnya.


“Janji apa?”


“Lo harus dapetin nomor Zain dan kasih ke gue,” ucapnya.


Aku mengangguk, itu mah gampang tinggal minta ke Reno terus kasih ke Salsa.


“Nih,” ucapnya seraya menyondorkan lolipop ditangannya.


Segera kuambil dan kumakan. Lolipop memang enak!


Salsa terkekeh, aku 'tak peduli apa tanggapannya tentangku. Yang terpenting lolipop kesayanganku.


*******"


Grep!


“Kau milikku!”


“Ara milik Reno!”


“Bukan Zain!”


Aku masih terdiam mendengarkan kata-katanya. Rasanya kesadaran ku masih berceceran sehabis kejadian tadi, kupikir Reno akan macam-macam. Tapi tidak, ia terisak, tengkukku basah, tangannya bergetar memeluk tubuh ini. Benar, Reno bukan bajingan.


“Reno cemburu, cemburu liat Ara dekat cowok lain apalagi dicium. Gak boleh! Gak ada yang boleh cium Ara selain Reno! Gak ada yang boleh! Hati Reno sakit liat Ara jalan sama Zain, Sasa itu pacar Reno. jadi, nggak boleh jalan sama Zain! Reno nggak mau kehilangan Ara . Reno sayang Ara .” perlahan suaranya memelan dan menghilang.


Aku tersenyum dalam tangisku mendengar ucapannya. Kubalikkan tubuh untuk menghadapnya. Matanya tertutup, ia tertidur. Tapi air matanya tetap mengalir, aku merasa bersalah. Yah, disini akulah yang bersalah, ia 'tak bersalah. Reno hanya mencoba mempertahankan cintanya. Sedangkan aku, akulah penyebab ia cemburu. Akulah orang yang membuatnya menghajar sahabatnya sendiri.


Kuhapus air matanya yang masih mengalir. Aku sedih melihatnya sedih. Lebih sedih lagi karena selalu akulah yang membuat dia menangis.


Kutatap kembali wajah polosnya saat tertidur. Deru nafasnya terasa hangat saat menerpa wajah. Kukecup keningnya singkat dan segera beranjak dari ranjang dengan hati-hati agar ia 'tak terbangun. Kutatap jam yang sudah menunjukkan pukul 19.24. Kunaikkan selimut sampai di dadanya. Reno menggeliat dan membalik memunggungi sambil memeluk guling di sampingnya.


Sudut bibirku terangkat melihat posisi tidurnya 'tak pernah berubah dari kecil hingga sekarang. Selalu memeluk guling, itu kebiasaan tidurnya. Ku edarkan pandangan keseluruh ruangan. Ini bukan rumah Reno juga bukan rumahku.


Sepertinya ini apartemen. Ku langkahkan kaki untuk mencari kamar mandi, aku ingin mandi. Pandanganku terjatuh pada pintu putih disudut kamar ini. Kubuka pintu itu ternyata benar ini kamar mandi.


Segera aku masuk kedalam kamar mandi. Kuguyur tubuhku dengan air. Segar. Sehabis mandi aku bingung, mau pakai apa aku. Bajuku sudah basah, 'tak mungkin ku kenakan lagi. Pandanganku terjatuh pada kimono yang tergantung itu. Kuambil dan segera kupakai.


Aku melangkah keluar dari kamar mandi. Reno kelihatan masih tidur. Segera kucari tempat lemari disini. Akhirnya aku menemukannya. Kubuka lemari yang lumayan besar ini. Aku mengernyit bingung, ada pakaian wanita dan laki-laki di dalam lemari ini. Kubuka rak kecil di dalam lemari. Aku tersenyum melihat benda yang kucari. Segera kuambil apa yang aku perlukan dan kembali masuk ke kamar mandi untuk memakai baju.


Aku tersenyum, semua yang kuambil tadi pas di tubuhku. Piyama bergambar hello Kitty. Segera aku melangkah keluar kamar mandi. Sekarang yang menjadi pertanyaanku adalah apartemen siapa ini. Sepertinya baru ditinggali terlihat dari semua barang yang kupakai. Tapi, kenapa Reno membawaku kesini? Apa ini miliknya, lalu baju perempuan itu milik siapa.


Kulangkahkan kaki menuju cermin dan segera duduk dibangku yang tersedia. Ku usap kembali rambutku yang basah dengan handuk.


Aku terkejut saat merasakan tangan seseorang yang memelukku dari belakang. Deru nafasnya terasa di telingaku.


“Jangan tinggalin Reno,” lirihnya.


Ku balikkan tubuh menghadap Reno dan menangkup wajahnya.


“Ara nggak akan ninggalin Renren, karena Ara sayang Renren, kapan Renren bangun?”


Ia diam dan langsung memeluk tubuhku.


“Sini,” ucapnya seraya menarik tanganku kepinggir ranjang.


Reno menyuruhku duduk ditepi ranjang dan membelakanginya. Kuturuti saja, kurasakan tangan Reno yang mengusap rambutku dengan handuk.


“Renren,” panggilku.


Ia berdehem.


“Ini apartemen siapa?”


“Apartemen kita.”


“Kita?”


“Ya, kita.”


“Untuk?”


“Untuk malam pertama.”


Kupukul lengannya saat ia terkekeh. Sial, pipiku panas. Ia membalikkan tubuhku menghadapnya.


“Ciee, yang pipinya blussing,” ledeknya.


Kupasang wajah cemberut padahal ingin tersenyum. Aku baru sadar kalau Reno belum pakai baju. Kupalingkan mukaku agar 'tak menatap sesuatu yang membuat iman hilang seketika.


“Ara marah?” tanyanya.


Aku hanya diam 'tak menjawab pertanyaannya. Ngapain aku marah?


Aku terkejut saat ia mendekapku dan membenamkan wajah ini pada dadanya yang polos. Jatung ku! Tak bisa! Kudorong tubuhnya hingga pelukan ini terlepas.


“ Ara marah sama Reno?” wajahnya terlihat bersedih.


“Bukan,” jawabku.


“Kalau bukan, kenapa pelukannya dilepas?”


“Kenapa Renren lepas baju?”


Kutanya balik ia tanpa menjawab pertanyaannya.


Ia menggaruk tengkuknya, “Gerah,” ucapnya.


“Ada AC,” jawabku.


“Nggak usah dipikirin!” Dia menarikku keranjang dan memeluk tubuh ini. “Tidur!” lanjutnya.

__ADS_1


Segera aku duduk, “Mana boleh!”


Ia ikutan duduk, “Kenapa?”


“Kata bunda, sebelum nikah nggak boleh tidur seranjang.”


Ia tersenyum dan mengacak pelan rambutku kemudian bangkit berlalu menuju sofa dengan membawa guling. Dia berjalan ke arah lemari dan mengambil selimut, diletakkannya selimut itu di sofa dan berjalan lagi ke arahku.


“Udah, tidur!” ucapnya sembari mengacak-acak pelan rambutku.


Aku mengangguk dan segera berbaring kembali dengan ia yang berjalan menuju sofa. Kutarik selimut hingga kepangkal leher. Terlihat ia berbaring disofa dengan memeluk guling.


“Good night,” lirihku sebelum memejamkan mata.


Pagi harinya


Samar-samar kudengar suara yang memanggil namaku. Aku mengerjab saat cahaya masuk keindra penglihatan. Mataku menangkap jam yang menunjukkan pukul 8.20.


“Waaaa! Telat!”


Aku langsung berdiri dan segera berlari ke kamar mandi. Ku guyur tubuh dengan air. Saat hendak keluar aku baru teringat dengan sesuatu. Ini bukan kamarku! Ku tepuk jidat, bukannya ini apartemen Reno. Ku alihkan pandangan keseluruh sudut kamar mandi. Tidak kutemukan handuk atau apapun, aku baru ingat kimono yang kupakai semalam didepan cermin. Goblok.


“Renren!”


Hening.


“Renren!”


Hening lagi.


“Reno!”


“Yuhu!”


“Ayang beb!”


Kudengar tawa di luar kamar mandi.


“Ish, Renren jangan becanda! Dingin! Ambilin Ara handuk!”


“Hahaha, siap bu bos.”


Lama menunggu.


“Nih, buka pintunya!”


Kubuka pintu sedikit. Terlihat tangan Reno yang memegang handuk. Segera kugapai tapi Reno 'tak melepaskan handuknya. Aku tarik dia juga menarik.


“Renren!” sentak ku.


“Iya,” ucapnya santai.


“Lepas!”


“Kalo nggak mau?”


“Kalo nggak lepas Ara ngambek!”


“Ngambek aja.”


“Huwa ... Renren jahat, Ara aduin ke abang Ara !”


“Eh, cup cup cup iya Reno lepasin.”


Senjata terakhir berhasil. Abang Hendra makasih.


Sebelum keluar kuintip terlebih dahulu apakah Reno ada dikamar atau tidak. Kosong, berarti dia 'tak dikamar. Kulangkahkan kaki keluar kamar mandi dan mendekati lemari. Kuambil sweater putih dan celana jeans pendek dan segera memakainya, 'tak lupa mengunci pintu dahulu.


Ku langkahkan kaki menuju ke arah sumber suara, Reno terlihat sedang santai nonton tv.


“Jadi, kita nggak sekolah?” tanyaku saat sudah duduk disampingnya.


“Libur, tanggal merah.”


“Kita nggak pulang?”


“Nggak.”


“Ntar abang Ara nyariin.”


“Reno udah bilang sama abang Ara ”


“Ntar mama Reno nyariin.”


“Mama bentar lagi kesini.”


“ Ara laper,” renggekku karena sedari tadi tatapannya terus fokus ke tv.


“Yuk, masak,” ucapnya sambil berdiri kemudian berjalan.


Aku berdiri, tersenyum sambil berlari-lari kecil.


Bruk!


“Aws,” ringisku saat ibu jari kaki kepentok meja yang sedikit runcing.


Sakit.


Reno menoleh kebelakang dan langsung berjongkok.


“Ya ampun, Ara kenapa?!” ucapnya sambil menggoncang bahuku.


Pusing.


“Renren! Kaki Ara yang sakit!”


“Eh, iya lupa hehe,”


Pengen kutonjok mukanya yang bilang lupa. Tapi sayang, nggak jadi deh. Aku terkejut saat ia menggendongku, tapi 'tak berselang lama karena rasa itu tergantikan oleh kebahagian. Perhatiannya masih sama.


“Tunggu disini, Reno ambil obat dulu,” ucapnya sambil mendudukkanku ditepi ranjang.


Reno pergi ke arah lemari, mungkin obatnya ada disana. Kuperhatikan jempolku yang sedikit terluka dan berdarah.


Reno datang dan membawa kotak p3k, ia berjongkok dibawah.


“Ah ... pelan-pelan Renren,” ucapku ketika ia memencet lukanya.


“Ini juga pelan,” ucapnya.


“Sakit sstt.”


“Sabar, ntar juga sakitnya ilang.”


“Jangan ditekan, ntar darahnya keluar! Sakit!”


“Ngga papa, ntar juga enakan habis keluar semuanya.”


Masa sih kalau darahnya keluar sakitnya hilang. Jangan-jangan Reno cuma mengada-ada doang. Dipencet terus lagi. Sakit.


“Udah Renren, Ara nggak kuat sstt.”


“Dikit lagi.”


“Udah!”


“Bentar Ara , nanggung.”


Brak!


“KALIAN LAGI NGAPAIN?!”


Kulihat Tante Dewj berdiri diambang pintu dengan dada naik turun sehabis menendang pintu.


“Mama,” ucap kami serentak.


“Eh, mama pikir kalian lagi buat aanak. "


👋🙋Haii readers,


Semoga suka dengan cerita nya,

__ADS_1


Author up ada yang episode panjang ada yang pendek.


Tinggalkan jejak like dan koment bawelnya.


__ADS_2