
Satu Bulan Kemudian
Hampir sebulan sudah lamanya, tapi belum mengingat apa-apa. Bisa saja melakukan operasi ke ahlinya, tapi dokter bilang 'jangan,' kalau saja Ara tidak mengalami keluhan yang parah. Dan satu lagi, setiap tiga hari sekali ... Ara ada jadwal terapi dengan dokter Seno. Ya, sesuai usulan dokter Seno juga.
"Berangkat sekarang?" tanya Reno, hari ini memang jadwal terapi Ara . Tadi juga sudah menghubungi dokter Seno, katanya tidak sibuk. Jadinya mereka akan pergi sekarang.
"Ayo," ucap Ara semangat. Reno tersenyum lembut, mudah-mudahan dengan terapi ini, Ara perlahan bisa mengingatnya.
Di dalam mobil, Reno seperti orang ling-lung. Dengan merogoh satu persatu kantong celanya. "Kunci mobil Mas ketinggalan, di meja kayaknya," ucap Reno dengan menggaruk tengkuknya.
"Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana. Mas mau pergi ambil dulu," ucap Reno, lalu melepas seatbeltnya dan turun dari mobil.
Reya sendiri cuma duduk menopang dagu, menunggu Reno kembali. Matanya melirik-lirik ke sana ke sini, di sisi mobil. Tanpa sengaja matanya melihat dompet Reno yang terjatuh di bawah kursi kemudi, tepatnya di dekat rem. Mungkin tidak sengaja di senggol, saat mau turun tadi.
Dengan melonggarkan sabuk pengamannya, Ara mencondongkan badannya mengambil dompet itu. Setelah mengambilnya, Ara ingin menyimpanya. Tapi tidak jadi, tiba-tiba muncul pikiran akan membukanya. Mungkin melihat seberapa banyak uangnya, biar nanti bisa dia minta.
Ara perlahan membukanya, dan ya ... yang pertama terpampang uang beberapa lembar seratus, lima puluh, dan dua puluh. Hanya itu, tidak ada uang 20.000, 10.000, 5.000, 2.000, 1.000, apa lagi uang koin 500 rupiah. Kemudian dia beralih melihat KTPnya, menulusuri hingga matanya menangkap tulisan 'Sudah menikah (Kawin).' Mata Ara membelalak, apa betul orang itu telah menikah? Ara memeriksa lagi, dan matanta langsung tertuju pada sebuah foto. Tidak menunggu lama, Ara langsung mengambilnya keluar. Jantung Ara serasa di setrum, darahnya serasa berdesir. Lagi Ara menelitinya, iya ... itu benar. Foto pernikahan Reno dengan ... dirinya.
Apa yang sudah dia lupakan, kenapa dia sama sekali tidak mengingat pernikahannya sendiri. Ara menutup dompet Reno, dan menyimpannya kembali. Kemudian merogoh tas yang berisi dompet berwarna merah miliknya, dengan gerakan cepat serta menahan sakit di kepalanya, Ara menarik KTPnya keluar. Dan yaps ... di KTPnya juga tertulis yang sama, status perkawinannya. Ara menyimpam asal dompet dan KTPnya di dalam tas. Dengan memegangi kepalanya yang lagi-lagi pusing, tapi kali ini ... bayangan itu sudah lebih jelas dari sebelumnya.
Hingga pintu mobil terbuka, Reno sudah kembali. Ara menyandarkan kepalanya, dengan menahan pusing yang kian menjadi. Bahkan sudah merasakan mual, ada yang mau keluar dari tenggorokannya.
"Ada permen gak?" tanya Ara tanpa membangunkan kepalanya. Sekarang dia sudah tau, orang yang di sampingnya adalah suaminya sendiri. Pantas saja sikap orang rumah, tidak ambil pusing saat tau mereka sekamar.
Reno menoleh ke Ara bingung, tapi tetap mengambil permen yang ada di mobilnya. "Ini. Kamu pusing?" tanya Reno sambil menyerahkan permen yang di minta ARa.
"Sedikit," jawab Ara tanpa menoleh. Sedikit saja dia mengangkat kepalanya, sudah dia yakini pasti akan muntah.
Reno memiringkan duduknya, menghadap Ara. "Kenapa? Mual sama pusing?" Ara mengangguk lirih.
"Jadi enggak usah pergi? Nanti aja, kamu istirahat__."
"Kita pergi aja Mas, Ara enggak apa-apa kok," potong Reya tanpa berbalik.
"Benar?"
"Iya, ayo jalan ah."
"Siap princess," ucap Reno terkekeh, Ara cuma mengelam senyumnya.
Reno menjalankan mobil, membela jalanan padat jakarta. Hingga lima belas menit perjalanan, mereka sudah sampai di rumah sakit. Reno membuka'kan pintu mobil untuk Ara . "Kuat jalannya? Mau Mas gendong?" tanya Reno sedikit menggoda. "Papah aja lah, enggak usah cari kesempatan dalam kesempitan!" ucap Ara ketus, Reno terkikik. Dan membantu Ara turun, lalu menutup pintu.
"Bisa?"
"Ara punya kaki kali, Mas. Pasti bisa," ucap Ara.
"Mas gendong aja lah, enggak tega lihat kamu." Ara menggeleng, Reno cuma pasrah, tidak mau memaksanya lagi.
__ADS_1
Mereka telah tiba di ruangan dokter Seno, menunggu sampau dokter Seno kembali dari urusannya. Sedangkan Ara, terus menyandarkan kepalanya di dada Reno. Tidak apa-apa jugakan? Dia juga suaminya, ya walaupun belum dia ingat. Tapi KTP mereka berdua, dan foto pernikahan itu, sudah menjadi bukti kuat akan hal ini.
"Gula-gulanya ada lagi?" Entah sudah ke berapa kali Ara meminta. "Masih pusing emang? Mikirin apa sih?" Ara menggeleng pelan, tidak niat menjawab. Mungkin marah, karna tidak di beri tau dari awal, kalau ternyata dia sudah menikah. Walau dia akui, saat mengetahui fakta itu ... heran dan kaget bercampur.
"Sudah ya, sudah banyak yang kamu makan Ra."
"Lagi, atau Ara muntah di sini!"
"Muntah aja," ucap Reno cuek.
"Lagi Mas, pusing banget ini!" rengek Ara, dengan memeluk pinggang Reno erat. "Sudah Ra," ucap Reno, dengan menahan nafasnya.
"Lagi! Atau kita pulang aja, deh!"
"Ya udah, ayo," ucap Reno melepas tangan Ara, dan berdiri. Ara menatap suaminya geram. Dan ikut berdiri, walau kesusahan. "Ayo," ucap Ra berjalan dengan memegang kepalanya.
"Bercanda doang Ra, ngambekan banget sih," ucap Reno menarik Ara kembali duduk. "Ini." Reno menyerahkan sebungkus gula-gula, yang mungkin isinya tinggal beberapa. "Sebungkus penuh loh tadi Ra, tinggal segini karna kamu sudah banyak makannya," ucap Reno dengan gelengan kepala.
"Gini kek dari tadi," gumam Ara.
Tidak berselang lama, dokter Seno telah kembali ke ruangannya. Tidak menunggu lama, Ra mulai terapi. Dengan beberapa pertanyaan, tentunya dengan hati-hati. Sampai dokter Seno tiba-tiba memperlihatkan foto pernikahan, yang persis Ara lihat di dompet Reno tadi.
"Kamu bisa ingat?" Ara menggeleng. Dan menatap Reno, meminta penjelasan. Walau sudah dia tau , tapi masih mau mendengar kejelasannya.
"Kenapa enggak bilang dari awal?" tanya Reno.
"Ara sudah tau tadi, waktu Mas pergi ambil kunci mobil. Reya sudah tau, kalau kita sudah menikah. Dari KTP Mas sama KTP Ara ," ucap Ara. . Perasaan Reno bercampur, antara senang atau apa.
"Saya akan menghubungi dokter kenalan saya, dia dokter saraf terbaik dalam menangani penyakit lupa ingatan. Baik itu dari penyakit lupa ingatan karna stroke, kejang, kecuali lansia, atau pikun," ucap dokter Seno terkekeh.
"Saya akan mengirim berkas-berkas hasil CT scan tentang sakit Ara , dan kalau dia mengatakan akan di tindak lanjuti. Seperti operasi, akan saya hubungi kalian untuk penyetujuan," jelas dokter Seno.
"Operasi memang tidak mengambil resiko besar, Dok? Apa lagi, ini untuk kedua kalianya," tanya Reno, dengan nada cemas.
"Resiko paling besarnya, adalah operasi yang gagal. Atau mengakibatkan cedera pada pembuluh darah, dan akan ada kemungkinan amnesia permanen. Dan resiko paling kecil, mengakibatkan gangguan ingatan sesekali. Seperti ... setelah mengingat, sebentar-sebentar akan lupa lagi. Atau bisa di kategorikan menjadi 'pikun'."
"Ini cuma prediksi saya, nanti saya akan menanyakan langsung. Jika sudah di tentukan, akan saya beri tau. Tapi ini akan di lakukan, kalau keluarga menyetujui," ucap dokter Seno.
Dirumahnya
Setelah pulang dari rumah sakit, juga telah memberi tau semua yang di katakan dokter Seno tadi, semua berdiskusi. Tapi Reno cuma sebentar, karena ingin menyusul Ara di kamar. Yang mungkin ... lagi marah dengannya, karena dia mengetahuinya sendiri, bukan dari keluarganya.
Reno membuka pelan pintu kamar, terlihat Ara yang duduk di kasur sambil melamun, tanpa tau ada orang yang masuk. Reno duduk di sebelah Ra, menyentuh pipi Ara pelan. "Tidak baik melamun," ucap pak Reno, beralih jongkok di depan Ara.
"Lamunin apa?" tanyanya dengan memegang tangan Ra.
"Kenapa semua tidak bilang dari awal?" Pertanyaan yang sama, seperti di ruangan dokter Seno tadi.
__ADS_1
Reno berdiri, duduk kembali di kasur. "Kamu mengertikan, kalau saat itu kamu masih sangat kebingungan. Sama sekali tidak ingat apa-apa. Dan kami, tidak mau membuat kamu syok, karena kenyataan ini. Bukannya nyembunyiin, tapi kita semua takut kalau sampai ... terjadi sesuatu dengan kamu, karna hal itu," ucap Reno lembut, agar ARa tidak marah atau salah paham.
"Kita sudah berapa bulan, menikah?"
"Dua bulan."
"Album foto waktu itu ...."
"Itu foto pernikahan kita."
"Boleh, Ara lihat?" Reno mengangguk. "Kamu tunggu di sini." Selang dua menit, Reno kembali dengan album foto di tangannya.
"Lihat aja, tapi jangan banyak mikir. Dan ... seandainya kamu benar-benar akan di operasi, kamu mau?" tanya Reno agak ragu.
Tapi Ara mengangguk mantap. "Kalau semua setuju, dan itu yang terbaik buat Ara ya ... kenapa tidak? Ara juga udah cukup tersiksa enggak ingat siapa-siapa," ucap Ara . Reno menarik Ara ke dalam pelukannya. Ini semua karenanya, Ara harus mengalami penyakit ini.
"Mas cuma takut, kalau sampai operasinya gagal dan kamu__."
"Berdoa, kita enggak boleh pesimis, jangan berpikiran negatif. Mudah-mudahan operasinya berjalan lancar, dan Ara bisa ingat semuanya," ucap Ara membalas pelukan sang suami.
"Lepas ah, kapan Ara lihatnya kalau pelukan mulu," ucap Ara dengan melepas pelukannya.
"Sini, biar Mas sebutin muka orang-orang."
"Ini saat ijab qobul, dan ini saat kamu baru turun dari kamar. Dan ini ... saat kamu cium tangan Mas, dan ini saat Mas cium kening kamu seperti in__."
"Enggak usah nyari kesempatan deh Mas, lanjutin aja sih!" ucap Ara ketus, saat Reno mau nyosor menyium keningnya.
"Praktekin Ra."
"Enggak usah, lanjutin aja sih."
"Ini foto beberapa dosen yang datang saat pernikahan kita, yang di pingggir ini pak Darwis, sampingnya pak Damar, yang ini pak Sandi, samping kamu ini pak Wandi, dan ini pak Sutanto, dan ini Gino."
"Kalau ini, mama sama papa. Mertua kamu. Yang ini tante Widia sama suaminya, dan yang di tengah itu anaknya tante Widia."
"Ini foto keluarga kita, yang dekat Mas itu Marvel, sampingnya Marvell abang -abang kamu ada nenek sama kakek . Di samping kamu, ada mama sama papa."
"Ini kenapa enggak ada semacam foto resepsi, tamu juga cuma sedikit?"
"Belum di adain resepsi, sayang. Pernikahan kita juga tertutup, tepatnya orang di kampus hanya Risa , Tania, sama beberapa dosen yang datang di pernikahan kita yang tau. Teman-teman kamu yang pernah datang itu, semua tidak ada yang tau," ucap Reno panjang lebar.
"Dan ini, beberapa foto rekan kerja papa, ayah, sama Mas. Kalau ini ... teman-teman mama sama abang kamu mungkin, atau istri mereka. Dan ini ...." Reno memberhentikan ucapannya, saat kepala Ara ambruk ke bahunya. Saat melihat, ternyata Reya telah tertidur. Reno meletak'kan album itu di meja, dan perlahan membangunkan kepala Ara dari bahu nya, dan merebahkan badan dan kepala Ara ke kasur.
"Kecapean ya? Ya kamu benar Ra, Mas tidak seharusnya berfikir negatif. Memang kamu perempuan kuat dan baik, Mas enggak salah di jodohin dengan kamu," gumam Reno, membelai lembut rambut dan wajah Ara.
Seperti sebelum-sebelumnya, saat seperti ini. Reno akan ikutan tertidur. Tertidur dengan posisi memeluk Ara.
__ADS_1
Hmm, sepertinya guling tidak lagi di butuhkan.
Sorry for typo. 🙏