
Dua hari yang lalu, dokter Seno menelpon. Katanya memang akan di lakukan tindakan operasi, karena melihat catatan medis Ara dan hasil CT scan, itu yang membuat dokter Gavin (Dokter yang pernah diberitahu dokter Seno), akan melakukan tindakan operasi. Dan dari info dokter Seno, mengatakan ... selama hampir sebulan mereka melakukan terapi, tapi belum ada tanda-tanda kembalinya ingatan itu. Jadinya, dokter Gavin mengatakan akan melakukan operasi, jika keluarga pasien setuju.
Sedikit info, walaupun barumur masih di bilang muda. Di usianya yang ke 28 tahun, telah menjadi dokter ahli saraf terbaik. Lulusan fakultas kedokteran dari Amerika. Dokter Gavin telah menikah, saat ini istrinya sedang mengandung anak pertama. Dan ya, siapa'pun tidak akan menolak pesona dokter tampan itu.
Semua keluarga berada di rumah sakit yang sama, ya hari ini mereka datang untung operasi Ara . Sebenarnya Ara akan di rujuk ke luar negeri, Singapure tepatnya. Tapi kata dokter Gavin, alat bedah di sini lengkap, jadinya rujukan itu tidak jadi.
Ara telah di baringkan di brangkar. Doa tidak hentinya mereka semua panjatkan, untuk kelancaran operasi itu. Sampai lupa, istri dokter Gavin juga ikut datang. Setelah semua alat siap, brangkar Ara akan di dorong ke ruang operasi. Tapi, Reno meminta waktu berbicara dengan Ara sebentar.
"Perasaan Ara deh yang mau oprasi, kenapa Mas yang tegang begitu?" tanya Ara, sedikit meledek.
"Kamu enggak tau Ra, Mas ... sangat takut," ucap Reno menggenggam erat tangan Ara
"Tidak ada yang perlu di takutin, Mas. Semua dari Allah, dan akan kembali kepada Allah. Tapi kita sebagai manusia, harus berusaha. Positif thinking Mas," ucap Ara membalas genggaman tangan suami yang tak di ingatnya.
Hihi.
"Mas selalu berdoa, semoga semuanya lancar," ucap Reno, dengan menciumi kening Ara.
"Permisi, kita akan melakukan operasi segera," ucap suster, yang masuk ke dalam ruangan itu. Reno mengangguk, sebelum brangkar Ara di dorong. Reno berbisik, "Mas cinta sama kamu."
Lalu brangkar di dorong hingga ke dalam ruangan operasi, tiga dokter dan dua suster masuk. Lampu di nyalakan, pertanda operasi telah di mulai. Semua orang tak hentinya berdoa, bagaimanapun ... ini yang kedua kalinya Ara masuk ruang operasi.
Sedangkan di dalam, ketiga dokter itu berkutak dengan alat-alat bedah. Dokter Gavin mengerinyitkan dahi, di lihatnya pembuluh darah yang terhimpit. Cedera pada dinding otak. Mungkin itu penyebab utama amnesianya. Tanpa menunggu lama, dokter Gavin langsung mengambil tindakan. (Biasanya kalau operasi di kepala, kepalanya harus di botakin dulu. Tapi ini cuma fiksi semata, jangan di masukin hati).
Diluar suasana semakin tegang, karena sudah hampir dua jaman mereka di dalam. Belum ada tanda-tanda akan selesainya. Reno sedari tadi sudah seperti cacing kepanasan, sebenatar-sebentar berdiri lalu duduk. Atau selalu mengusap rambut dan wajahnya kasar.
"Duduk tenang Ren percayakan semuanya kepada Allah. Lebih baik kamu duduk, berdoa," tegur mama Dewi , yang agak jengah dengan kelakuan sang anak.
"Tapi Ma ... sudah hampir dua jam, belum ada tanda-tanda," ucap Reno dengan menduduk 'kan dirinya dengan memijit pelipisnya.
"Berdoa Ren , semoga semuanya baik-baik saja," tambah papa Nando.
Reno memejamkan matanya, mengendalikan dirinya yang memang sangat kacau. Rambutnya sudah acakan. Tapi rasa khawatirnya perlahan berkurang, saat lampu di matikan. Artinya operasinya telah selesai, ya cuma ... belum tau apa berhasil atau sebaliknya.
Sekitar seminit, pintu terbuka bersamaan dengan brangkar Ara yang di dorong keluar. Semua orang bernafas legah.
"Alhamdulillah, semua berjalan lancar tanpa hambatan," ucap dokter Seno mewakili kedua rekan dokternya. Ucapan hamdalah terucap di setiap mulut orang, nenek nya Ara, abang Hendra langsung memeluk suaminya, begitu juga mama Dewi . Reno menggenggam tangan Ara, sedangkan istri dokter Gavin juga ikut memeluk suaminya.
Marvel mendesah berat, maratapi nasibnya yang jomblo. "Gue meluk siapa, dong?" tanya Marvel dengan wajah kesalnya, orang-orang menghentikan aksi memeluknya beralih menatap Marvel, lalu tertawa. "Peluk dokter Seno aja lah," ucap Marvel, dan benar-benar memeluk dokter Seno, tapi jangan salah paham. Itu pelukan tanda terima kasih, bukan pelukan yang tidak-tidak.
Reno beralih ke dokter Gavin, dengan satu senyuman hangat, dia lantas memeluknya. Di balas pelukan juga. Kebahagiaan yang selama ini belum pernah Reno rasakan, kebahagiaan bercampur haru. Hanya kata terima kasih yang dia lontarkan. Lidahnya keluh, andaikan tidak banyak orang ... sudah dipastikan akan menangis.
Selesai acara peluk-pelukan dengan ketiga dokter itu, mereka setia menunggu di ruangan atau di luar ruangan. Reno dan Marvel berada di dalam, menunggu Reya tersadar. Tadi nenek nya Ara, Abang Hendra, mama Dewi dan papa Nando telah masuk juga. Tapi mereka keluar, mempersilahkan Reno dan Marvel masuk.
Risa dan Tania, serta pak Gino tidak datang. Karena harus berada di kampus, walau sangat besar keinginan Risa dan Tania untuk ikut menemani operasi Ara. Tapi nenek nya Ara melarang, biar mereka seleisakan mata kuliahnya hari ini dulu.
"Kok gue jadi ngeri, kalau misalkan terjadi yang sepergi kita takuti. Enggak bisa gue bayangin, gimana jadinya lo nanti," ucap Marvel l meledek, di balas delikan tajam dan malas Reno.
"Kalau terjadi, mungkin gue bakal nyusul Ara," balas Reno dengan merebahkan kepalanya, menyimpan tangan Ara di atas kepala.
"Ish, kenapa coba gue harus selalu dan selalu terperangkap, dalam suasana seperti ini. Segitu ngenes nyakah hidup hamba Tuhan?" drama Marvel . Reno lalu menatap Marvel malas semalas malasnya.
"Risa kenapa enggak di embet? Gue lihat, kalian makin dekat. Hmm, apa jangan-jangan ... Risa udah punya pacar terus__."
"Enggaklah, yakali!" ucap Marvel dengan nada cukup besar. Reno seketika menatap Marvel tajam. "Sorry, enggak sengaja," ucap Marvell, denga senyuman mengakhiri keberadaannya di ruangan itu. Dia melangkah keluar, daripada harus mendapat amukan.
Reno mendesah berat, jantungnya hampir lompat dari tempatnya karena ucapan Marvel yang tepatnya di bilang ... teriakan. Lalu dia beralih menatap wajah Ara , terlihat sangat damai. Menatapnya lama, hingga tak sadar kalau matanya sudah tertutup rapat.
Reno terbangun saat suara serak, mengusik tidurnya. Reno mengerjapkan matanya, dengan menatap Ara dengan mata menyipit. Detik kemudian, matanya terbukan sempurnah, saat yang sedari tadi di tunggunya bangun juga. "A-air," ucap lirih Ara . Tidak membuang banyak waktu lagi, Reno langsung menuangkan air ke gelas, kemudian membantu Ara untuk minum. "Sudah?" tanya Reno, Ara berdehem sebagai jawabannya.
Astaga, ia lupa. Segera Reno memencet tombol, pemberi tahuan. Bunyi itu terdengar sampai luar, dan orang-orang yang sedang duduk di luar sontak, berdiri. Namun, saat mau melangkah masuk, sudah di dahului dokter Gavin dan dokter Seno. Mereka di suruh menunggu di luar, begitu juga pak Revano.
Setelah kurang lebih lima menit, dokter Seno membuka pintu, mempersilahkan setidaknya tiga orang untuk masuk. Dan ya, yang masuk tentunya nenek abang , dan Reno. Marvel, mama Dewi dan papa Nandol tinggal menunggu antrian saja.
"Kamu ingat tanggal berapa sekarang?" tanya dokter Gavin. Ara tampak berpikir, kemudian mengangguk. "Tanggal 14 Juli," jawab Reya. Dokter Gavin mengangguk, kemudian bertanya lagi, "Kamu ingat, siapa dokter yang menangani kamu saat kecelakaan dulu?"
"Dok-dokter Se_no?" Dokter Gavin tersenyum, dan bertanya lagi, "Nama orang tua kamu ... ingat?"
"Bunda Hilma sama ayah Anwar," jawab Ara agak terbata-bata. Tapi jawaban Ara membuat kelegaan di hati mereka semua.
"Kamu ingat kalau kamu punya kakak?" Ara mengangguk. "Namanya?"
"Marvel, Hendra,Karfel, Rizal, Refan " ucap Ara seperti nada bertanya. Dokter Gavin mengangguk lagi.
"Kalau saya tanya status pelajar, kamu mahasiswi atau siswi?"
"Ma-mahasisiwi."
__ADS_1
"Good, sangat baik," ucap dokter Gavin, dengan senyuman labarnya ke arah dokter Seno, Reno, neneknya Ara dan abang Hendra.
"Dan pertanyaan terakhir, kamu ingat sesuatu tentang ... status pernikahan mu? Status kamu saat ini, kamu ingat sudah menikah atau belum?" Ara terdiam agak lama. Memang dari sekian banyak pertanyaan, pertanyaan ini lah yang sangat di cemaskan orang-orang, apa lagi Reno.
Ara memejamkan mata sejenak, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh wajah orang di ruangan itu. Hingga netranya tertuju ke arah Reno, yang juga menatapnya. Pandangan itu saling terkunci, hingga deheman dokter Gavin menyadarkan mereka.
"Ingat siapa dia?"
Ara terdiam kemudian menjawab, "Iya."
"Siapa?" Perasaan was-was mulai terasa, bahkan Marvel yang tidak sabar menunggu, ikut mengintip di balik pintu.
"D-dosen," jawab Ara singkat, orang-orang saling pandang dengan perasaan ... entah.
"Juga suami Ara," sambung Ara dengan senyuman tanpa dosanya. Reno yang sempat menutup matanya sambil menunduk, langsung mengangkatnya saat mendengar jawab Ara lagi. Senyum tertahan jelas tertampak di wajahnya sekarang, sangat ingin langsung menghampiri ARa dan memeluknya, tapi apa daya ... masih ada dokter di sini. Bersamaan dengan itu juga, pintu ruangan di bukan sedikit kasar, terpampang Risa , Tania, dan Marvel yang hampir nyungsep ke lantai, kalau tidak di tarik pak Gino.
"Maaf Dok, kelepasan bukan," ucap Marvel dengan senyuman canggung plus malu, apalagi ada Risa di situ. Tidak tau saja, segala tingkah laku Marvel sudah sangat Risa hafal di luar kepala.
"Baiklah, sepertinya semua sudah tidak sabar menjenguk. Saya akan memberikan resep obat, dan pasien akan di rawat sampai semua semakin membaik. Resep obatnya Sus."
"Ini resep obatnya, bisa dibeli di apotek atau ke resepsionis memintanya. Baiklah, karna semua baik-baik saja. Saya permisi, istri saya sudah menunggu. Semoga sehat selalu Ara , dan suaminya juga," ucap dokter Gavin. Reno tersenyum kecil, berjalan mendekat ke arah dokter Gavin dan menyaliminya. "Terima kasih Dok," ucap pak Reno.
"Sama-sama, ini semua atas kehendak yang maha kuasa. Semoga selalu sehat kedepannya," ucap dokter Gavin.
"Terima kasih Dok. Dan juga untuk dokter, semoga selalu sehat dan calon anak dan istrinya sehat dan di mudahkan saat melahirkan nanti."
"Terima kasih kembali."
"Dokter Seno, terima kasih atas segalanya."
"Sama-sama Pak, semoga kedepannya selalu bahagia. Dan semoga cepat dapat momongan," goda dokter Seno, Reno tersenyum kikuk.
Setelah kedua dokter itu keluar, semua masuk. Posisi mereka pun berbeda-beda, ada yang duduk di sofa, ada yang berdiri, ada yang duduk di sebelahnya. Contohnya Reno, sedari tadi belum menggeser duduknya menjauh dari brangkar Ara
"Ingat gue kan?" tanya Tania dengan menatap Ara.
"Ingat, namanya Tania. Tingginya 166 senti meter, hobinya ngupil."
"Dasar lo Ra, baru sembuh udah banyak gaya!" ucap Tania kesal, karena aibnya di sebarkan.
"Risa , tingginya 167 senti meter, hobinya__."
"Dah-dah, enggak usah nyebutin hobi. Entar nyebarin aib lagi," potong Risa mendapat gelak tawa dari Tania juga Marvel.
"Emang hobinya Risa apaan, Dek?"
"Emm ...."
"Hitung atau merhatiin jarum detik jam tangannya bergerak, sama ...." Tania menggantung ucapannya.
"Manjat pohon," ucap Ara
"Itu dulu, sekarang enggak lagi," protes Risa.
"Gigit pulpen kalau lagi mikir," tambab Tania.
"Nonton kartun Shiva," lanjut Tania.
"Ye, daripada lo Doraemon," sembur Risa.
"I'm like Jepang," ucap Tania lebay.
"I'm like India," ucap Risa tak mau kalah.
"I'm love oppa Taehyung," celetuk Ara. Tania dan Risa menghentikan aksinya, dan menatap Ara bagai orang cengo.
"Kagak nyambung!" ucap Risa dan Tania bersamaan.
"Kita mau keluar makan, pada mau ikut?" tanya nenek Ara.
"Marvel ikut."
"Risa sana Tania juga ikut."
"Ya udah deh, gue juga ikut," ucap Reno.
"Ren ?" tanya mama Dewi hanya di balas gelengan Reno. Masa iya dia harus meninggalkan Ara sendiri, dan lagi sudah dari tadi dia menunggu orang-orang keluar.
__ADS_1
"Ya sudah kita keluar dulu."
Seperkian detik, ruangan sudah sunyi. Tinggal Reno dan Ara . Apa yang mereka lakukan, hanya tinggal diam, sesekali saling melirik.
"Khem." Satu deheman, dari Reno sepertinya mengawali pembicaraan.
"Mau makan?" Ara cuma menatap malas, kemudian menggeleng.
"Khem, kamu benar ... ingat siapa saya?"
Ara mendengus, kan udah di bilang tadi bambang. "Enggak," jawab Ara kelewatan santai. Reno melototkan matanya, kemudian menatap Ara serius. "Enggak ingat?" Ara mendorong kepala Reno menjauh, dari wajahnya.
"Kan udah di bilang tadi, ingat! Kenapa nanya lagi coba," ucap Ara kesal.
"Siapa tau kamu cuma main-main."
" Ara serius!"
"Kamu ingat semua ... kejadian sampai kamu bisa seperti ini?"
"Ingat semua, enggak ada yang Ra lupain. Terutama kasus pelukan itu!" ucap Ara ketus dengan meta menatap Reno seperti ingin menelannya, hidup-hidup sekarang.
"Salah paham Ra " ucap Reno dengan wajah ... memelasnya.
"Dua kali Ara salah paham, apa itu juga karna__."
"Sst, jangan marah-marah, kepala kamu masih belum sembuh. Biar Mas yang jelasin, pertama Mas minta maaf karna emosi gitu aja. Ya, memang salah Mas. Soal pelukan itu, Anis yang__."
"Maksa? Mas juga enggak bisa apa-apa, gitu kan?!"
"Tenang dulu, jangan motong. Iya, benar kamu bilang. Mas enggak bisa berbuat apa-apa, Mas bodoh karna enggak bisa tegas sama dia. Dia meluk Mas gitu aja, Mas udah berusaha lepasin, tapi dia makin menguatkan tangannya. Dan bilang 'kalau mau dia lepas, Mas harus balas meluk dia'__."
"Mas enggak nolak?!"
"Jangan motong dulu, Mas udah nolak, udah berusaha lepas pelukannya, tapi enggak bisa. Dan karna enggak mau lama-lama dia meluk Mas, ya ... Mas balas. Itu baru sedetik, kamu sudah datang dan ...."
"Memang salah Mas, harusnya Mas lebih dulu menarik dia keluar sebelum itu terjadi," sambung Reno dengan menunduk.
Hati perempuan itu memang gampang luluh, buktinya Ara . Baru melihat Reno menunduk menyesal, dia sudah tidak tega melihat itu. Apa lagi kalau sampai dia melihat Reno menangis, mungkin akan meleleh kek plastik.
"Dan lagi, Mas harap ucapan kamu saat itu ... bukan benar-benar kamu inginkan. Mas harap, itu cuma karna emosi."
"Kalau seandainya itu serius?" pancing Ara, Reno menggeleng, matanya memerah berkaca-kaca. "Enggak, Mas enggak mau," ucap Reno memalingkan wajahnya ke samping, menahan air matanya. Entah ... air matanya ingin jatuh begitu saja.
Ara sendiri yang sempat melihat itu, membelalak. Dan langsung meraih, dan membalik 'kan wajah Reno menghadap ke arahnya. Memang benar, ada bekas air mata di situ. Ara mengulum senyumnya, mau ketawa tidak tega.
"Mas nangis?" tanya Ara dengan tertawa kecil, Reno menggeleng dengan menunduk 'kan kepalanya. Hancur sudah harga dirinya, sebagai laki-laki jarang senyum, malah menangis di depan Ara.
Ara sudah tidak tahan menahan ketawanya, dan berakhir tertawa kencang. Seperti tidak mempedulikan kepalanya yang agak sakit.
"Ara bercanda Mas, baperan ih," ledek Ara dengan mencolek-colek dagu Reno. "Candaan kamu enggak lucu!" ucap Reno ketus, tanpa aba-aba langsung memeluk Ara begitu eratnya.
"Kalau lucu pasti Mas ketawa, bukannya nangis," ucap Ara masih meledek.
"Jangan ledekin Mas, kamu enggak tau seberapa takutnya Mas kalau sampai kamu kenapa-napa. Kalau sampai kamu pergi dari hidup Mas," ucap Reno melepas pelukannya. "Mas sayang sama kamu," ucap Reno dengan menatap Ara.
"Apa? Ara enggak dengar jelas," ucap Ara dengan senyum tertahan.
"Mas sayang sama kamu."
"Sayang doang?"
"Cinta," ujar p Reno dan langsung memeluk Ara lagi, menghindari Ara melihat wajahnya yang mungkin ... memerah.
"Sayang dan cinta juga sama, dosen devil alias suami aku," ucap Ara membalas pelukan itu.
"I love you my wife, stay with me forever," bisik Reno.
"I am also my husband, i'am yours and will always be with you."
End~
Boongan tapi ....
Sorry for typo. 🙏
Baper kagak?🤣
__ADS_1