Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 127.Ayah Bunda


__ADS_3

Bosan, gabut, dan lain sebagainya. Semua itu yang Ara rasakan sekarang, biasanya disaat-saat seperti ini ada suaminya yang akan mengalihkan kegabutannya.


Ngomong-ngomong soal suaminya, Ara belum dapat kabar hari ini, kemarin saja cuma sekali mereka saling memberi kabar, itupun hanya untuk mengatakan kalau pak Reno sudah sampai. Pesannya Ara belum dibalas-balas.


Duduk lalu berdiri lalu duduk lagi, atau mengganti siaran televisi terus, hanya berhenti jika mendapatkan film kartun, itupun hanya yang menarik baginya. Yang lainnya di skip saja.


Vanesha sudah pulang ke rumah orang tuanya, sedangkan Tania masih ada di kampus. Mama Dewi, sedang membuat kue, entah kue apa.


Drrtt ... drttt.


Ponsel Ara bergetar, dengan senyum sumringahnya, Ara meraihnya. Seketika senyumnya berganti dengan wajah cemberut, manakala di layar itu tertulis nama Risa dan bukan nama suaminya. Dengan masih memasang wajah cemberut, Reya mengangkatnya.


"Gimana kabar kamu, sehat?"


"Assalamualaikum dulu kali, Ris "


"Haha, Assalamualaikum. Sehat?"


"Waalaikumsalah. Sehat kok, kamu sendiri? Udah lama kita enggak ketemu," balas Ara


Memang, baik Marvel dan pak Reno menyuruh mereka menggunakan 'aku-kamu' saja, dan jangan memakai 'gue-elo.' Tapi kadang mereka masih memakai kata 'gue-lo', di saat suami mereka tidak ada di sekitar.


"Aku sehat juga. Iyasih, kalau diingat-ingat emang udah lama kita enggak ketemu lagi. Terakhir mungkin ... seminggu yang lalu. Eh, pak Reno gimana?"


"Entah, belum ada kabar. Aku mau telepon, tapi takutnya ganggu, kalau dia lagi masih sibuk," ucap Ara , diiringi helaan nafas berat.


"Yee, ni anak. Telepon aja kali, kalau dia enggak angkat, mungkin emang sibuk. Tapikan lo belum telepon-telepon, siapa tau pak Reno lagi istirahat, makanya belum ngasih lo kabar," ucap Risa, agak panjang. Namun, cuma terdengar kekehan dari Ara.


"Kamu kenapa? Kata-kata gue ada yang salah?" tanya Risa. Tapi dia pikir ulang, tidak ada yang salah.


"Iya," jawab singkat Ara


"Apanya?"


"Bahasanya kecampur, Mak. Haha. Lo-aku, kamu-gue, haha."


"Belum lancar aku, Mak. Jangan diketawain napa, sih!"


"Haha, ya udah gu eh, aku matiin. Mau nelepon suamiku dulu, Assalamualaikum."


"Iya, Waalaikumsalam. Ngomong-ngomong lo eh, kamu juga belum lancar. Tadi hampir keceplosan ngomong gue," ucap Risa, dan kembali mereka tertawa.


Setelah teleponnya dengan Risa terputus, Ara beralih mencari kontak suaminya. Setelah mendapatnya, Ara langsung menghubungi pak Reno.


"Ni orang emang sibuk atau lagi istirahat sih, hpnya aktif tapi enggak diangkat-angkat," gerutu Ara .


"Aku hitung sampai tiga, kalau enggak diangkat, jangan harap aku bakal angkat teleponnya nan —"


"Halo, Sayang." Perkataan Ara terpotong atau terhenti, manakala suara pak Reno sudah terdengar. Suara yang agak kedengaran lelah.


Ara diam, tak menjawab.


"Halo."


Tetap diam.


"Sayang, kamu di sana, 'kan?"


Tetap diam.


"Sayang, halo?"


Masih diam.


"Sayang, jangan buat Mas khawatir!"


"Ar —"


"Masih ingat ternyata, kirain udah lupa," ucap Ara ketus. Mendengar ucapan Ara barusan, pak Reno cuma bisa menghembuskan nafas. Memang dia salah tidak menghubungi atau hanya sekedar membalas pesan Ara. Karena dari sampainya dia kemarin, setelah memesan hotel, hanya beristirahat sebentar dan memberi Reya kabar. Setelah itu, dirinya dan Indra langsung siap-siap bertemu client.


Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya cepat-cepat, biar bisa juga cepat pulang. Makanya, dia tidak banyak waktu biarpun hanya sekedar menyempatkan dirinya untuk membalas pesan Ara


"Maaf, pekerjaan Mas banyak. Mas enggak sempat balas pesan atau nelpon kamu."


"Nggak bohong, 'kan?"


"Ya Allah, Ara Sayang. Dari kemarin Mas sampai, memang udah langsung menemui client. Kalau kamu enggak percaya, kamu bisa nanya ke Indra. Tapi —"


"Ya udah mana, aku mau ngomong sama Indra," potong Ara.


"Ya itu, tapi Indra lagi tidur, dia kecapean," ucap pak Reno, dengan kekehannya saat mendengar dengusan Ara.


"Mas di mana sekarang?"


"Di hotel, ini Mas juga baru bangun tidur."


"Udah ya, kamu jangan banyak pikir. Mas di sini baik-baik aja. Sikembar gimana? Mereka enggak nakal, 'kan?" tanya pak Reno, mengalihkan pembicaraan agar Ara tidak berpikir yang macam-macam tentangnya lagi.


"Enggak kok, cuma sesekali mereka nendang-nendangnya," jawab Reya, sambil mengelus perutnya.


"Kamu sama siapa di situ?"


"Cuma sama Mama, Vanesha tadi udah pulang ke rumah orang tuanya. Papa belum pulang. Mas– akhh."


"Kamu kenapa? Baik-baik ajak?" tanya pak Reno, panik.


"Enggak, ini adeknya nendang lagi. Kayaknya tau kalau ayahnya lagi nelepon, mungkin mereka kangen."


"Kangen kayak Bundanya, ya?" godanya, Ara cuma terkekeh.


"Akhh." Lagi, Ara meringis, tendangan kali ini cukup kuat dari biasanya.


"Hey, adek berdua jangan nakal dong, yah? Kasihan tau Bundanya kesakitan," bujuk pak Reno ke pada calon anaknya, yang entah didengarkan atau tidak. Tapi jangan lupakan kalau pak Reno, memakai suara yang sangat dia imutkan.

__ADS_1


"Gimana, udah tenang?"


"Udah. Emang kangen beneran mereka sama ayahnya, nih."


"Haha, sabar dong Bunda. Pekerjaan Ayah belum beres, nanti kalau udah beres baru Ayah pulang," goda pak Reno, jahil.


"Ish, dedeknya ya, bukan bundanya!"


"Bundanya emang enggak, nih?"


"Enggak. Emm kangen sih, tapi cuma sedikit," ujar Ara membuat pak Reno tertawa gemas.


"Jadi kita manggil ayah bunda, sekarang ya?"


"Enggak-enggak, terlalu lebay," tolak Ara Memang, dia bayangkan saja sudah membuatnya geli sendiri.


"Haha. Sudah dulu ya, Mas matiin. Indra sudah bangun, Mas mau siap-siap pergi kerja lagi. Hati-hati di sana. Kalau pekerjaannya cepat selesai, Insya Allah Mas juga pulangnya cepat," pamit pak Reno.


"Iya, Mas juga hati-hati, jangan jelatan!"


"Siap Bunda, Ayah enggak bakal jelatan kok. Bunda tenang aja."


"Geli Mas, geli!" Cuma terdengar tawa pak Reno, hingga telepon terputus.


*****


Satu minggu kemudian ....


Hari ini pak Reno dan Indra sudah pulang, tepatnya mereka berdua sudah tiba di Indonesia kembali. Ya, tidak ada yang tau jika mereka pulangnya hari ini, di mana ini juga masih jam lima, sudah dipastikan belum ada yang bangun dari tidurnya.


Mereka pulang menaiki taxi. Setelah tiba di rumah Indra, dan Indra sudah turun, lalu lanjut ke rumah orang tuanya.


"Masuk ke dalam, Mas?" tanya si supir taxi.


"Iya, Pak. Rumah saya juga agak jauh," jawab pak Reno. Dan si supir langsung kembali menancap gas, saat pintu gerbang kompleks dibuka.


"Rumah yang mana, Mas?"


"Yang pagar hitam. Terus sedikit Pak, nanti saya suruh berhenti kalau sudah sampai."


Sepuluh detik kemudian ....


"Nah, di sini Pak."


"Terima kasih, Pak."


Selesai membayar tarif taxi, pak Reno membawa kopernya yang sudah dikeluarkan si supir taxi dari bagasi. Sampai di gerbang rumah, pak Reno memencet bell, karena pagar masih tergembok.


"Sebentar!"


"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini. Loh, Den Reno? Sudah pulang?"


"Iya, Pak."


"Ayo masuk, Den."


"Astaghfirullah, maaf Den. Faktor usia ini, gampang lupa," balasnya, ikut terkekeh.


"Ayo masuk, Den."


"Orang-orang belum ada yang bangun?" tanya pak Reno.


"Belum ada kayaknya, Den."


"Ya sudah, saya masuk duluan ya Pak."


"Iya, silahkan Den."


Dengan langkah kaki yang tidak dibuat terlalu bersuara, pak Reno melangkah menuju kamarnya, untunglah pintunya tidak dikunci Ara.


Setelah membuka pintu, pandangannya langsung tertuju kepada sosok yang sudah seminggu ini dia rindukan. Cuma menyimpan kopernya di dekat pintu, pak Reno langsung menuju Ara yang masih tertidur dengan posisi terlentang. Memang terlentang adalah posisi Ara saat usia kandungannya sudah membesar, karena sangat sulit baginya berbaring miring kanan maupun kiri.


"Mas sudah pulang Sayang, Baby," ucapnya, dan menciumi kening Ara, serta mengelus perut Ara.


Ara agak menggeliat, secepatnya pak Reno menarik dirinya agak menjauh, agar tidak mengganggu tidur Ara. Setelah memastikan Ara masih tidur, pak Reno pergi mengambil handuk di lemari, kemudian memasuki kamar mandi. Cuma sekedar membersihkan diri, bukan mandi atau keramas.


Selesai membersihkan diri, dan keluar kamar mandi, pak Reno berjalan ke arah kopernya, mengambil pakaian dalamnya, juga baju kaos dan celana selutut. Selesai memakai seluruh pakaiannya, pak Reno dengan perlahan naik ke atas kasur.


Kepala Ara dia angkat perlahan, berganti satu tangannya yang dia jadikan bantal untuk Ara, dan satunya lagi memeluk tubuh Ara.


***


Matahari telah terbit, sangat terik, hingga cahayanya menembus masuk jendela, menembus ke dalam kamar sepasang manusia yang tampaknya tidak terusik sama sekali dengan cahaya itu.


Hingga salah satu dari mereka terbangun, mengerjapkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang menerpa wajahnya. Tapi ada sesuatu yang menganjal, yang dirinya rasakan. Sebuah tangan yang menjadi bantalannya juga, sebuah jari tangan yang berada di atas perutnya.


"Mama?" gumamnya bertanya-tanya namun, tangan itu sama sekali tidak seperti tangan mertuanya, tepatnya itu seperti tangan laki-laki.


"Papa? Mana mungkin!" bantahnya. Dengan perlahan, dia menolehkan kepalanya sedikit, hingga matanya terbelalak saat melihat wajah sang pemilik tangan.


"Astaga, kayaknya Bunda kelewat rindu sama ayahmu, Nak. Sampai-sampai berhalusinasi begini," gumam Ara, berusaha menghilangkan pak Reno yang dikiranya cuma halusinasinya saja. Sedangkan pak Reno, yang memang sudah terbangun karena gerakan Ara yang mengusik tidurnya. Cuma menahan kekehannya.


"Kenapa enggak hilang-hilang, sih? Astaghfirullah!" Pekikan tertahan Ara, karena tiba-tiba saja sebuah benda yang agak basah, mengenai pipinya.


"Cie ... ternyata bundanya memang rindu banget nih sama Ayah, Nak. Cuma gengsi saja bilang langsung," ucap pak Reno, dengan suara agak kecil hampir seperti gumaman.


"I-ini beneran, Mas?" tanya Ara masih dengan tampang cengonya, diikuti matanya yang berkedip-kedip.


"Lalu siapa? Enggak mungkin Aldi," ucap pak Reno enteng, dan langsung mendapat geplakan di jidatnya.


"Aldi siapa?! Ini juga pulang enggak bilang-bilang! Masih untung tadi enggak aku gigit itu tangan Mas," cerocos Ara, menatap nyalang pak Reno.


"Dih, masa enggak kenal sama Aldi?"

__ADS_1


"Udah deh, enggak usah ngungkit, ujung-ujungnya Mas juga yang bakal kayak cacing kepanasan," sindir Ara, dan cuma dibalas deheman sok cool pak Reno.


"Mas belum jawab!"


"Apa?"


"Kenapa pulang enggak ngasih kabar?"


"Sengaja, mau ngasih surprise," ujar pak Reno, dengan cengiran tanpa dosanya.


"Surprisenya Mas, mau bikin orang jantungan. Untung aku mikirnya cuma halusinasi, kalau bukan, mungkin aku udah teriak sampai ngabangunin semua orang," oceh Ara, dan lagi cuma dibalas kekehan pak Reno.


"Kemarin Kan kamu dari check up, kabar mereka gimana?" tanya pak Reno, diiringi ciuman singkat di kening Ara.


"Baik, mereka berdua sehat. Dokter Tifani nanya, aku mau lahiran normal atau sesar?"


"Kamu jawab apa?"


"Ya aku langsung jawab, mau lahiran normal," ucap Ara, membuat pak Reno terdiam. Sepintas ingatannya tertuju pada kisah tantenya, saudara dari mamanya. Di mana saat itu tantenya memutuskan melahirkan normal, yang posisinya juga mengandung anak kembar dua. Namun takdir tak dapat dihindari, anaknya cuma satu yang selamat, dikarenakan yang satunya lagi terlambat dikelurkan, dan keracunan air ketuban. Dan takdir kembali bermain, tantenya tak sadarkan diri, dan koma selama beberapa minggu, karena terjadinya pendarahan setelah kedua anaknya telah dikeluarkan.


Dirinya, takut jika itu terjadi ke pada ..., ah sudahlah.


"Mas, kok diam?" tegur Ara, pak Reno kembali sadar dan menggeleng.


"Enggak mau kalau, Ara lahiran normal?" tanya Ara lagi.


"Enggak, bukan begitu. Mas cuma deg-degan mikirin nanti kalau kamu sudah mau melahirkan," elaknya.


Ara mengaut-mangut, sedikit mendekatkan kepalanya ke dada pak Reno. "Emang kedengeran sih, kalau jantung Mas lagi maraton," ujar Ara terkekeh.


"Aku mau bangun."


"Nanti dulu, Mas masih kangen meluk kamu kayak gini," ucap pak Reno.


"Nanti ada yang masuk, Mas."


"Emang kenapa? Enggak ada yang salah juga."


"Kan enggak ada yang tau kalau Mas sudah pulang, entar orang mikir macem-macem lagi," ujar Ara


"Muka Mas enggak berubah, jadi eng —"


"Ara, kamu sudah bangun, Sayang?" Perkataan pak Reno terpotong oleh suara mama Dewi, yang terdengar dari luar.


"Sudah, Ma." Bukan, bukan Ara yang menjawab, melainkan pak Reno yang menjawabnya.


"Lho, kenapa seperti suara laki-laki," gumam mama Dewi, di luar sana.


"Ara, Mama masuk ya?"


"Masuk aja, Ma." Kembali, pak Reno lagi yang menjawab, membuat Ara tak tahan untuk menggeplaknya.


"Ara kam —, astaga, kamu siapa?!" pekik mama Dewi, pekikan yang sangat melengking di telinga.


Ara sendiri berdecak, dengan kelakuan suaminya yang menyembunyikan kepalanya di balik selimut.


"Saya nanya lagi, kamu siapa? Kalau tidak keluar dari selimut itu, saya siram kamu pake minyak tanah!" ancamnya. Ara sendiri meringis, melihat wajah mertuanya yang seperti ingin menelan orang.


"Saya hitung sampai tiga, kalau tidak melepasnya, saya timpuk kamu!" ancam mama Dewi, lagi.


"Sat —"


"Iya-iya, enggak usah nimpuk juga kali," potong pak Reno, membuka selimut yang menutupi wajahnya. Mulut mama Dewi sontak menganga, sedangkan pak Reno cuma menyengir kuda saja.


"Masih mau nimpuk?" Wajah mama Dewi yang tadinya terlihat terkejut campur terharu, berubah menjadi garang seperti kucing garong.


"Dasar anak nakal! Sini kamu!"


"Lho-lho, ampun Ma. Just kidding Mom," ujar pak Reno, dengan wajah dibuat imut.


"Just kidding kek, just mangga kek, just strowberry kek, Mama enggak perduli! Sini kamu!"


Lalu terjadilah aksi kejar-kejaran di pagi hari ini, bahkan sendal swallow milik mama Dewi yang dipakainya tadi, sekarang sudah menjadi senjatanya menimpuk pak Reno.


Terus berlari.


Terus ditimpuk.


Terus mengomel.


Hingga ....


"Akhh!" Suara ringisan Ara menghentikan aksi mereka.


"Mana yang sakit, Sayang?"


"Mana yang sakit, Nak?"


Pak Reno dan mama Dewi bertanya secara bersamaan, juga mendekat secara bersamaan.


"Owh, mereka berdua cuma nendang lagi. Larinya enggak diterusin? Ara enggak apa-apa," ucap Ara , dengan wajah tanpa dosanya. Sedangkan pak Reno cuma menelan ludahnya, kemudian melirik mamanya yang sedang menatapnya dengan senyum misterius.


"Ah, udah Ma. Reno enggak kuat olahraga pagi tanpa pemanasan," ujar pak Reno, memelas.


"Kecuali olahraga yang itu, kamu enggak perlu pemanasan, langsung cuss," ucap mama Dewi, yang terdengar ambigu.


"Apaansih, Ma? Olahraga apa?" tanya pak Reno yang kebingungan, sedangkan Ara cuma menyimak.


"Ya olahraga itu, ranj*ng." Frontal, sangat frontal. Langsung membuat pak Reno terbatuk-batuk, sedangkan Ara malu sendiri dengan ucapan frontal mertuanya.


"Mama udah tua juga, masih mikir yang enggak-enggak," ringis pak Reno, malu-malu meong.


"Emang benar, 'kan? Iya gak, Ara ?" goda mama Dewi , dan langsung meluncur keluar kamar, sebelum anaknya mengamuk.

__ADS_1


Sorry for typo. 🙏


__ADS_2