
Sesampainya di dekat orang-orang, pak Reno memilih duduk di dekat pak Gino, agar Ara tidak terlalu canggung berbicara dengan teman-temannya. Tapi di luar dugaannya, Ara malah bergeser duduk di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya pak Reno, Ara cuma menggeleng dengan menoel pipi anak dari temannya, yang masih berada dalam pangkuan suaminya.
"Imut banget, sih. Pipinya tembem banget," ucap Ara , pak Reno cuma tersenyum kecil sekilas, dan juga kembali memainkan anak temannya.
"Fiks, dah cocok jadi orang tau," celetuk Farhan.
"Udah jadi calon, tungguin aja sampai jadi orang tua beneran,"sambungK Marvel , dan di Aamiinkan yang lain.
***
Satu bulan kemudian.
Di mana hari ini, tepat hari pernikahan Marvel dan Dina, juga hari pak Reno dan Ar mengadakan resepsi pernikahan mereka. Mereka mengadakannya di hotel.
Risa dan Ara, dirias di kamar yang sama. Sedari tadi Risa sangat gugup, bahkan tangannya sudah berkeringat karena dia kepalkan terus.
"Santai aja kenapa, Risa. Lo kayak mau terjun ke jurang aja," ucap Ara, santai.
"Lo santai, karena udah ngadain ijab qobul. Lha gue apa kabar? Dan lagi, jangan sampai Keral salah nyebut nama," ucap Risa , cuma dibalas cekikikan Ara .
"Saya kira, kalian berdua menikahnya barengan? Enggak, ya?" tanya sang perias.
"Enggak Mbak, dia udah sah jadi suami istri beberapa bulan yang lalu. Tapi baru sekarang mau ngadain resepsi," jawan Risa.
"Kalau bang Marvell salah sebut, dan namanya tetangga di ujung kompleks, jangan ngamuk ya," ejek Ara.
"Yang janda anak dua, itu?" tanya Risa , Ara cuma terkekeh.
"Amit-amitlah, Ra "
Di sisi lain, Marvel tak ada bedanya dengan Risa . Dia juga sangat gugup, dari tadi duduknya tak tenang. Sebentar-sebentar berdiri lalu duduk lagi, atau mondar-mandir. Bahkan pak Reno dan pak Gino, sudah jengah melihat dan menegurnya.
"Ayolah please Vel , lo duduk terus tarik nafas. In Sya Allah, bakal tenang. Capek gue liat lo mondar-mandir kek mandor lagi ngawasin pekerjanya," oceh pak Gino.
"Lo, lo yang enggak ngerti perasaan gue. Gugup gue Gin, astaga. Nanti lo juga bakal tau rasanya," ucap Marvel , masih mondar-mandir.
"Makanya, duduk sama minum dulu. Biar ngurangin kegugupan lo," suruh pak Reno, Marvel berhenti mondar-mandir dan mengikuti ucapan pak Reno.
"Lo dulu emang segugup gitu, Van?" tanya pak Gino, pak Reno cuma tersenyum dan mengangguk.
"Iya, persis seperti Marvel."
"Gugupnya di bagian mananya?"
"Enggak tau, yang jelas gugup aja gitu. Enggak bisa dijelaskan," kata pak Reno.
"Nah-nah, gugup yang tak bisa dijelaskan. Nanti lo juga bakal ngalamin," celetuk Keral.
"Lo hafalin ijab qobul ajalah, jangan sampai salah sebut. Bukannya nyebut nama bapaknya Risa , tapi malah nyebut namanya bapak gua lagi," ucap pak Gino, terdengar meledek.
"Sialan!" Pak Gino tertawa, sedangkan pak Reno cuma menggelengkan kepalanya.
***
Kalimat 'sah', sudah terucap. Sekarang Marvel dan Risa sudah resmi menjadi sepasang suami istri, yang sah. Risa serta Ara keluar dari kamar, di mana Ara dan Risa mengenakan gaun yang berwarna sama, cuma bentuknya yang berbeda. Pak Reno yang sedari tadi memang duduk di belakang Marvel , ikut berdiri saat Marvel berdiri juga.
"Bismillah Ker, lihatin jalan ya, jangan sampai kesandung gara-gara liatin mukanya istri lo mulu," celetuk pak Gino, membuat orang di sekitarnya tertawa. Terkecuali Marvel , ingin sekali dia membanting temannya sekarang.
"Silahkan pengantin pria memasangkan cincin ke penganti wanita, dan sebaliknya," ucap sang MC.
"Cincinnya enggak hilang, 'kan?" bisik pak Reno, meledek. Marvel cuma memandang pak Reno sekilas, andaikan ini bukan hari pernikahannya, sudah dipastikan dia akan mengeluarkan bacotannya.
Marvel dan Risa mulai bertukar memasang cincin, sedangkan pak Reno dan Ara ? Mereka cuma diam, memperhatikan Marvel dan Risa. Ralat, cuma Ara yang memperhatikan, pak Revo sedari tadi cuma memperhatikan Ara. Oh jangan lupakan, tangan mereka saling berpegangan, seperti tak ingin dilepaskan.
"Kalau sudah selesai, bisa naik ke atas pelaminan," lanjut sang MC.
Marvel , Risa , serta pak Reno dan Ara berjalan ke arah situ. Sedikit menaiki tangga, yang terdiri dari empat buah anak tangga. Bisa dilihat kalau pak Reno sangat berhati-hati menuntun Ara naik, untungnya gaun yang Ara kenakan tidak terlalu menjuntai.
__ADS_1
"Bisa? Hati-hati," ucap pak Reno.
"Bisa kita lihat kalau kedua pengantin pria, sangat berhati-hati membantu pasangan mereka menaiki tangga. Apalagi yang bagian di sana, dilihat sangat berhati-hati," ucap MC, pak Reno yang tau itu dirinya, cuma tersenyum kecil.
"Ini dia, keempat raja dan ratu kita hari ini. Dua raja, dan dua ratu. Cantik dan tampan."
"Ini ada sedikit kata sambutan dari tuan rumah, untuk para tamu. Silahkan Pak." Ucapan sang MC, mengalihkan semua pandangan mata, ke arah MC itu. Berdiri di sana, ayah Anwar.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, terima kasih kepada semua tamu undangan Bapak dan Ibu semuanya. Hari ini adalah hari yang bahagia sekaligus sedih, bagi kami sekeluarga. Di mana, hari ini kedua anak kami telah menikah. Telah memiliki pendampingnya masing-masing. Adapula saya naik ke panggung ini untuk, memberi tahukan ke para tamu semuanya ...." Abang Hendra menjeda kalimatnya, kemudian melanjutkan, "Mungkin ada yang bingung dengan situasi sekarang, karena ada dua pengantin di sini. Tapi cuma satu yang melakukan ijab qobul atau semacamnya, sedangkan yang satunya cuma tinggal diam dan naik ke atas pelaminan."
"Yah, mungkin sebagian sudah ada yang tau kalau ... sebelumnya, mereka ..., adik perempuan saya atau anak bungsu dari keluarga kami , memang telah sah menikah dengan pria di sampingnya itu. Sekitar empat bulan yang lalu mereka menikahnya. Itu dilakukan secara tertutup, cuma keluarga, tetangga, dan teman-teman kantor yang datang. Itu atas permintaan anak saya, karena belum mau kalau pernikahannya diketahui publik, juga dia masih kuliah."
"Cuma itu yang mau saya sampaikan, setidaknya menjawab rasa penasaran kalian. Dan sekali lagi terima kasih, karena telah menghadiri pernikahan anak kami. Juga saya minta doanya, semoga pernikahan mereka langgeng tanpa permasalahan yang berat. Dan juga doakan, anak tengah mengandung, semoga selamat ya sampai hari lahirnya. Sampai di sini saja, saya rasa ini bukan sedikit kata sambutan, tapi seperti pidato," ucap abang Hendra , mengundang sedikit tawa tamu. Setelah itu, abang Hendra turun dari panggung, kembali menjamu para tamu.
"Terima kasih untuk tuan rumah, iya ini memang bukan sedikit kata sambutan, tapi seperti pidato," ucap MC.
"Saya juga bingung, kenapa cuma satu pria yang melangsungkan ijab qobul? Ternyata yang satu, memang sudah menikah. Kenapa tidak mengundang saya juga, dulu?" tanya MC lagi, cuma dibalas sunggingan senyum dari pak Reno juga Ara
"Baiklah, nanti lagi kita mengobrolnya. Kita persilahkan para tamu, untuk naik menyalimi ke dua raja dan kedua ratu kita hari ini."
Seperti kata MC, para tamu satu persatu naik dan menyalimu ke empatnya. Dan kalian tau, semua kelas yang pernah diajar pak Reno atau bisa dibilang, hampir semua mahasisiwi perempuan, turut hadir. Dengan alasan, karena ini pernikahan sang dosgan atau dosen ganteng se kampus, jadi wajib bagi mereka untuk datang. Tapi paling number one, makan-makan gratis, sekalian berfoto dengan background yang indah. Kalau bisa, berfoto dengan sang dosen untuk diunggah di medsos.
"Semua tamu sudah memberikan ucapan selamat, apa boleh kalau kita mengobrol dengan pengantin?" tanya MC, cuma diangguki Marvel dan pak Reno.
Sedikit pemberitahuan posisi duduk pengantin yaitu, satu sofa atau bangku panjang mereka tempati berempat. Pak Reno dan Marvel masing-masing berada di samping pasangan mereka, Risa dan Ara duduk di tengah mereka.
"Micnya sudah ada, baiklah kita mulai bertanya-tanya. Oke kita mulai, kapan kalian pertama kali bertemu? Yang sebelah sini dulu," tunjuknya ke arah Marvel.
"Di rumah, waktu dia main ke rumah dengan adik saya, yang ini."
"Oh, kalian adik-kakak, 'kan?"
"Iya."
"Pengantin selanjutnya? Tempat pertama kali bertemu?"
"Mengenai kakinya," ucap Ara memotong perkataan pak Reno.
"Sepertinya seru, bisa dilanjutkan? Ada adegan marah-maraha, atau apa?" tanya MC lagi.
"Enggak ada, diamah orangnya kaku. Dia cuma melirik sekilas, dan langsung pergi dengan jalan sedikit meringis. Lewat aja gitu, enggak mau nolongin," ucap Ara , pak Reno cuma mengulum senyumannya.
"Wow, jahat berarti."
"Kejam emang!" seru para mahasiswa laki-laki yang tak lain, Galih, Bara, Zaki, dan Thiar. Langsung mendapat tatapan menyayat dari pak Reno.
"Mukanya seneng banget kalau nyeritain suami," bisik pak Reno, tentunya cuma mereka berdua yang dengar.
"Hehe, emang."
"Oke kita lanjut, apa ini cinta pertama? Jawabnya seperti tadi."
"Kalau saya, bisa dibilang iya," ucap Marvel .
"Maksudnya gini, udah punya mantan, tapi belum pernah ngerasain jatuh cinta. Belum pernah merakasan perasaan seperti ini, dengan semua mantan."
"Semua mantan? Mantannya ada berapa banyak?"
"Lupa, lebih sepuluh mungkin," jawab Marvel sambil menutup wajahnya.
"Lebih sepuluh yah, masih mending. Kalau saya lebih dua puluh," ucap sang MC, kembali mengundang tawa orang-orang. Perempuannya?"
"Emm, iya," jawab Risa . Kembali mempotek 'kan hati Zaki, yang cuma bisa tersenyum kecut.
"Pengantin di sebelahnya lagi? Laki-lakinya dulu."
Pak Reno terdiam sesaat, menatap Ara begitu dalam. Sehingga membuat hati para Reno lovers, diporak-porandakan seketika.
"Sepertinya bukan, Mungkin ... biar bukan dia yang pertama, tapi dia yang akan menjadi yang terakhir," ucap pak Reno dengan senyuman, senyuman yang mengartikan kata-katanya. Dan kalian tahu? Lagi-lagi kata-kata apalagi senyuman pak Reno, membuat para jiwa-jiwa Reno lovers dipotekan sekaligus dilayangkan.
__ADS_1
"Jadi seperti lagu ..., kau bukan cinta pertamaku namun, aku berharap. Mulai hari ini, saat ini, engkau cintanya aku." Lagi-lagi itu mengundang tawa orang-orang.
"Perempuannya lagi?"
Ara melirik pak Reqno sekilas, kemudian menggeleng sebagai jawaban.
"Bukan juga?"
"Iya."
"Insaf jadinya, ya?"
"Baik, sebenarnya saya masih mau tanya-tanya. Tapi sepertinya kita istirahat dulu, pengantinnya kelihatan lelah. Oke, selamat menikmati makanannya."
"Kamu lapar? Mau, makan?" tanya pak Reno.
"Emang bisa?"
"Bisa, masa enggak boleh makan. Istri sama anak Mas, kelaparan dong nanti," ucap pak Reno.
"Kamu tunggu, Mas pergi ambil dulu."
Saat pak Reno berlalu pergi mengambil makanan, saat itu juga ke empat laki-laki, Thiar, Zaki, Galih, serta Bara menyerbu, menghampiri pengantinnya.
"Selamat, semoga selalu samawa. Dan jangan lupa, anak yang imut dam tampan kek gue," ucap Galih, langsung mendapat toyoran gratis dari Bara.
"Terima kasih," balas Keral dan Dina.
"Selamat juga dari gue, semoga selalu samawa," ucap Bara.
"Selamat juga, semoga cepat dikasih anak yang cantik atau ganteng," ucap Thiar.
"Selamat, Marvel dan Risa. Semoga selalu bahagia," ucap Zaki, dengan senyuman yang ... entah.
"Ya, terima kasih."
Kemudian mereka melangkah ke arah Ara Galih merentangkan tangannya, seperti ingin memeluk Ara, tapi langsung ditepis kasar Thiar dan Bara.
"Mau ngapain?"
"Mau meluk lah, sebagai tanda perpisahan," balas Galih.
"Nyenye, mau diretakin tulang lo sama lakinya, ha?" tanya Bara, dengan kembali menoyor kepala Galih.
"Lo pikir, gue mau kemana? Perpisahan apaan?"
"Nah, lo kagak ngerti. Dulu kita belum tau kalau lo Istrinya pak dosen, jadi terserah kita mau main, mau pegang tangan, rangkulin bahu. Sekarang? Jangan harap kita bisa lakuin gitu lagi, mandangin lo aja kita udah seperti di ...." Galih menghentikan ucapannya, sambil mempraktekan gaya cekikan dilehernya. Membuat yang lain tertawa.
"Gue mau peluk, mumpung pak Reno enggak ada," ucap Galih, kembali merentangkan tangannya.
"Khem, mau ngapain?!" Intonasi suara yang terbilang cukup nyaring di telinga, membuat Galih cengengesan sambil menggaruk kepalanya.
"Mau peluk, Pak," jawab Galih.
"Berani?" tanya pak Reno dengan merangkul pinggang Ara , begitu posesif. Mau tanya ke mana makanan yang dibawanya? Tentu saja diberikan ke Bara, untuk sementara.
"Hehe, enggak Pak. Tapi kalau dibolehin, saya berani," jawab Galih. Thiarz, Zaki, dan Bara cuma bisa menghela nafas. Entah apa yang merasuki temannya yang satu itu.
"Udah ah Galih, jangan buat gua malu dah. Ayo pergi," ucap Zaki, dan langsung menyeret Galih turun setelah mengucapkan selamat.
"Jangan diambil hati sama omongan Galih, Pak. Murid Bapak emang gitu modelnya, jadi enggak usah dimasukin ke hati," kata Bara.
"Kalian juga masih mau tinggal di sini?"
"Enggak Pak, ya udah kita pergi. Selamat untuk pernikahan juga babynya, semoga sehat selalu," ucap Bara dan langsung berlari turun, setelah mengembalikan makanan ke tangan pak Reno. Sisa Thiar, yang cuma bisa menggelengkan kepala.
"Mewakili teman saya, saya minta maaf Pak. Dan selamat atas pernikahan dan kehamilan Ara, semoga selalu sehat dan langgeng," ucap Thiar, dan melangkah pergi. Sampai di bawah, dia berpapasangan dengan Tania. Cuma melempar senyuman, dan pergi menyusul teman sengkleknya.
Sorry for typo. 🙏
__ADS_1