
Warning⚠️
Banyak kata-kata kasar di dalamnya, dan unsur kekerasan, harap bijak dalam membaca ....
Terima kasih.
🐥🐥🐥🐥🐥🐥
"Akh, sial! B*r*ngs*k itu pasti, akhhh!" Marvel menjambak rambutnya sendiri. Sedangkan Reno mengepalkan tangannya, dengan rahang mengeras.
Risa dan Tania mengusap wajahnya gusar, sumpah demi apa 'pun. Kalau memang pelakunya benar-benar Aldi, mereka tidak akan mengampuninya.
"Emm ... CCTV cafe ini, ada?" tanya pak Gino, walaupun dia juga sama paniknya. Tapi, tetap mencoba berpikir, dari pada cuma tinggal marah merutuki si penculik.
"Ada, kalau mau lihat. Silahkan naik, saya mau tanya sama pemilik cafe ini. Bagaimana pun, dia di bawa di cafe kita," ucap Erwin.
"Ya udah, makasi Mas," ucap pak Gino. Lalu mereka sama-sama naik ke lantai dua, mengecek layar monitor cctv.
"Jam berapa kira-kira?" tanya pak Gino, yang sudah bersiap mengacak monitor.
"Jam sebelas kurang tiga menit, coba," ucap Keral dengan menutup kedua matanya.
"Gimana?" Pak Gino menggeleng, mereka mendesah berat. "Sepertinya memang dia sudah merencanakan dari jauh hari, buktinya ... rekaman cctvnya sudah di hapus," ujar pak Gino bangkit dari duduknya.
"Akhh, sialan!" Ingin sekali Marvel menendang sesuatu di dekatnya.
"Bagaimanam Mas?" tanya Erwin yang baru tiba.
"Tidak ada apa-apa, rekamannya di hapus," ucap pak Gino.
Wajah Erwin terlihat terkejut, kaget mungkin. Karena, bagaimana bisa? Siapa yang menghapusnya? Atau ada yang sekongkol dengan ini semua? Ah entah lah, Erwin juga ikut pusing. Tidak mungkin kan, kalau sang penculik itu yang naik dan menghapusnya. Secara, dari tadi dia tidak lihat siapa-siapa yang naik.
"Ciri-ciri pencurinya seperti apa?" tanya Tania angkat bicara.
"Foto Aldi, coba Din."
"Udah pasti si bajingan itu yang nyuri, siapa lagi!"
"Yang ini Mas?" Erwin terlihat meneliti beberapa detik, dan mengangguk. "Benar, dia orangnya," ucap Erwin.
"Sial-sial!" Marvel terlihat sangat emosi dengan terus menjambak rambutnya.
"Gimana? Kita kasi tau orang rumah?" tanya pak Gino.
"Gimana Ren ?" tanya balik Marvel ke Reno.
"Kasi tau saja, biar bisa di bantu cari. Tadi juga sudah saya suruh orang kantor, buat melacak keberadaan mereka," ucap Reno dengan satu tangan yang mengepal, dan yang satu sibuk di ponselnya berkabar-kabar dengan orang-orang suruhannya.
"Akh, siap-siap kena omelan maut kita," ucap Marvel langsung mendapat pukulan dari Dina. "Adek lagi di culik, masih sempatnya ngurusin omelan," kata pak Gino dengan menatap datar Marvel.
"Menyairkan suasana ... nahkan, apa gue bilang. Baru di kabarin, lewat sini udah di omelin. Mereka minta ketemuan di kantor lo Ren ," ucap Marvel dan mereka lantas berterima kasih kepada Erwin, lalu mulai turun meninggalkan cafe menuju ke kantor Reno.
"Pelan-pelan nyetirnya Ren, masih mau hidup gue! Gue tau lo kwatir, tapi jang kek gini," omel Marvel , padahal di antara mereka, cuma dia yang heboh. Mungkin mencoba menenangkan dirinya, agar bisa memukul si pelaku dengan halus dan lancar. Paan dah ....
"Berisik Vel " semprot pak Gino.
Cuma menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit mereka sudah sampai, bayangkan saja. Padahal normalnya, dari cafe ke kantornya menempuh waktu 'dua puluh tiga menit', bagaimana ceritanya Marvel tidak heboh, kalau kecepatannya di atas rata-rata. Bahkan banyak pengemudi lainnya yang menyumpah-sarapahi mereka.
Mereka memasuki kantor dengan langkah cepat, dengan wajah yang sama. Datar dan khawatir.
"Bapak Hendra Zaufal, sudah menunggu di dalam Pak," ucap asisten pak Reno.
Tanpa menjawab apa 'pun, Reno langsung membuka pintu dan masuk, di ikuti yang lainnya, lalu menutup pintu rapat. Bisa di lihat wajah khawatir dari kedua paruh baya dan abang Hendra itu, dan wajah yang bersiap marah.
" Istri kamu kenapa bisa Bang, bagaimana bisa di di culik?!" mama Dewi mengguncang tubuh anaknya.
"Ren , bagaimana bisa Ara di culik ? Kamu di mana, sampai-sampai istri sendiri di culik kamu tidak lihat, ha?!" Bentak mama Dewi dengan menatap tajam anaknya.
Marvel melirik ke arah Reno yang tidak bergiming sama sekali, dia tahu. Kalau temannya pasti sedang sangat kwatir, juga menyalahkan dirinya sendiri.
"Gini Bund, Ma. Tadi Ars izin ke toilet, tapi sampai beberapa menit nggak balik-balik. Lalu kita pergi nyusul, sampai di sana Ara udah enggak ada. Dan kata salah satu pelayan di situ, Ara di bawa sama seorang laki-laki dalam ke adaan pingsan," jelas pak Gino.
"Ya Allah, terus siapa yang bawa? Ciri-cirinya?" tanya papa Nando.
"Bukannya menuduh, tapi kata pelayan di sana. Laki-lakinya, itu ...." Pak Gino menggantung ucapannya, dan beralih menatap Reno dan Marvel bergantian.
"Siapa?" tanya Hendra
"Mantannya Ara bang ... Aldi," ucap Marvel.
"Aldi? Aldi —."
"Iya bang " ucap Marvel
"Bu -bukannya dia sudah lama tidak ada kabar? Terus, kenapa bisa dia datang lagi?!" tanya abang Hendra dengan nada tinggi.
" Cari Adik mu . Yah. abang takut, jangan sampai dia mengapa-apakan Ara. Yah. Jangan sampai dia, ngelakuin seperti yang di lakuin sama perempuan itu dulu, Yah!" abang Hendra menangis dan segera melap air mata nya sedangkan Reno dan Marvel sama-sama mengepalkan tangannya.
"Cari menantu Mama Ren , cari istrimu Ren ! Jangan tinggal diam begitu!" bentak mama Dewi lagi.
Ponsel Reno berbunyi, masuk telepon dari orang suruhannya yang melacak keberadaan Ar.
"Bagaimana?!" Reno me speker ponselnya, agar orang-orang bisa mendengarnya.
"Kami tidak bisa melacak ponselnya Pak, karna sepertinya di matikan," ucap seseorang di balik telepon.
Orang-orang mengusap wajah kasar. "Terus?!"
"Begini, kami mengambil rekaman cctv dari toko sebelah, ada mobil yang keluar dari cafe itu dengan plat (sensor). Dan kami melacaknya, itu berada di gedung tua yang tidak terpakai dekat hutan."
"Hutan mana?!"
"Hutan bagian Timur."
"Baik, kamu hubungi polisi. Saya akan kesana sekarang."
"Baik Pak." Sambungan telepon di putuskan, ada sedikit kelegaan di hati mereka. Tapi masih was-was, apa yang akan di perbuat Aldi pada Ara nanti.
"Mau telepon siapa?" tanya abang Hendra ke Reno.
"Pak Wijaya," ucap singkat Reno. Orang-orang bingung, ada hubungan apa pak Wijaya dengan ini? Tapi sedetik kemudian, mama Dewi paham.
"Kamu kenal sama dia, Ren ?" tanya mama Dewi.
Reno mengangguk, "Dia salah satu pemegam saham di kantor ini, mah.
"Halo."
"Iya, ada masalah apa menelpon saya nih."
"Anak Bapak, namanya Aldi Dinandra kan?" tanya Reno to the point. Jangan lupa, sekarang dia sudah berjalan keluar dari ruangan tadi. Di ikuti oleh, pak Gino, Marvel , papa Nando , dan Hendra. Sedangkan para perempuan, di suruh menunggu di situ saja.
"Lho, Bapak kenal? Iya dia anak saya, ada masalah apa?"
"Kalau Bapak berkenang, mohon pergi ke alamat yang saya kirimkan nanti."
"Tunggu-tunggu, ada apa sebenarnya Pak?"
"Nanti Bapak akan tahu, yang jelas ini masalah penting yang bersangkutan dengan anak Bapak."
"Baik, saya kesana." Panggilan di putuskan, Reno menyetir mobil, yang didalam ada pak Gino. Sedangkan di mobil yang satu, Marvel yang menyetir dengan abang Hendra di sampingnya, juga papa Nando di jok belakang.
Di tempat lain ....
"Andaikan lo mau nerima gue, ini mungkin nggak bakal terjadi," ucapnya.
"Kamu cantik, gue nyesal udah pernah ngelakuin itu dulu. Andaikan malam itu gue nggak mabuk, mungkin ini nggak bakal terjadi di hubungan kita. Mungkin saat ini, kita masih sama-sama."
__ADS_1
"Ha ha, tapi itu semua tinggal 'mungkin'. Pasti sakit banget ya, waktu itu. Maaf, jika memang lo masih mau ngasih gue kesempatan ... kita bakal mulai dari awal. Gue janji nggak bakal ngelakuin hal, bejat kayak gitu," ucapnya lagi. Jangan kira dia berbicara dengan seseorang, ya memang dia berbicara dengan seseorang. Tapi, orang yang di ajak masih dalam ke adaan tak sadarkan diri.
"Emm." Sedikit mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang menerpa matanya.
"Udah bangun?"
"Al -Aldi? Gue dimana? Kenapa gue bisa ada di sini, ha?!"
"Tenang Ra , lo aman. Lo baik-baik aja sama gue."
"Baik-baik aja?! Cih, malahan gue mual lihat muka lo itu!"
"Gue tau, pasti lo terkekangkan sama orang rumah. Gue bawa lo kesini, agar kita bisa sama-sama."
"Maksud lo apa brengsek?! Lepasin gue!"
"Gue masih cinta sama lo Ara Asal lo tau, gue ngelakuin ini ... juga karna lo! Andai lo mau nerima gue kembali, ini nggak bakal gue lakuin!"
"Cinta? Nerima lo kembali?! Cih, sampai kapan pun, gue nggak bakal nerima lo kembali! Camkan itu!"
"Keras kepala lo, ha?! Gue udah baik-baik dari tadi, tapi lo ngelunjak!" Aldi mencengkram dagu Ara dengan keras.
"Ngomong lagi! Ayo ngomong! Gue nggak bakal ngelepasin lo gitu aja, gue nggak bakal biarin lo hidup bahagia. Dan lagi ... lo di bayar berapa sama laki-laki itu? Sampai-sampai mau tidur dengan dia?! Apa orang tua lo, udah enggak mampu biayain hidup lo, sampai-sampai mau aja tidur dengan laki-laki itu? Jawab Ara ?!" Aldi melepas cengkraman nya kasar.
"Maksud lo apa b*j*ng*n! Siapa yang tidur dengan dia? Gue bukan jal*ng! Kenapa lo nggak ngerti-ngerti ha, dia suami sah gue 'Di!"
"Emang gue percaya? Lo pikir gue percaya kalau dia suami lo?! Itu pasti cuma alibi lo, biar kebusukan lo ketutup! Udah berapa kali kalian main?! Gimana rasanya, enak? Mau nyoba sama gue juga? Biar gue bayar lebih dari dia."
"Cih, bangs*t! Br*ngs*k lo Aldi! Gue bukan perempuan murahan! Gue masih punya harga diri! Gue udah bilang, dia suami gue! Suami gue Di!"
"Ck, ck. Lo emang di bayar berapa sayang. Sampai-sampai mau nutupin itu?! Gue sanggup bayar lebih dari dia! Jadi gimana? Mau main sama gue?" Aldi menyeringai, dengan diri yang sudah di liputi oleh nafsunya.
"Gue bukan perempuan murahan, b*jing*n! Jangan lakuin itu Aldi, gue mohon." Ara menitikan air mata, berharap saat ini juga datang orang menolongnya.
"Kenapa? Bukannya lo sering ngelakuin dengan laki-laki itu?! Gue bisa ngasih lebih, kenikmat —."
"Stop bereng*ek, gue nggak bakal ngelakuin itu! Jangan Di!"
"Lo tinggal nikmati aja, gue bakal pelan-pelan," ucapnya menyeringai.
"Jangan Gila, Aldi! Gue nggak mau! Gue masih waras, gue nggak mau Di. Enggak!"
"Ck. Berisik, diam aja sih!"
"Jangan b*j*ng*n!" Ara terus memberontak, tapi tangan dan kakinya terikat. Tidak-tidak, Ara bukan perempuan lemah yang hanya bisa pasrah dengan ke adaan.
Aldi sudah membuka kancing kemejanya, sedangkan Ara terus berusaha melepas ikatan di tangannya, walau mustahil. Aldi semakin menggila, dengan diliputi nafsu dia menyantuh baju Ara . Tapi dengan cepat, di tepis oleh Ara dengan tangannya yang alhasil telah terbuka. Entah bagaimana caranya, yang jelas tangan Ara sudah bebas.
"Tangan ...."
"Lo ngikatnya kurang kencang! Cih, gue nggak nyangka. Lo ternyata laki-laki paling b*r*ng*ek, yang pernah gue kenal!"
"Gue jadi gini karna lo!"
"Karena gue? Ck, asal lo tahu! Gue nyesel pernah kenal, apa lagi pernah menjalin kasih dengan laki-laki macam lo! Yang b*r*ng*ek, b*j*ng*n, laki-laki be*at ma —."
Plak!
"Diem!"
Ara tersenyum miring, "Tempreman kayak lo! Yang bisanya cuma main tangan sama perempuan, nggak masuk dalam kategori pendamping hidup gue!"
"Diam gue bilang!"
"Why? Lo —."
Plak!
Lengkap sudah, pipi kanan dan kiri Ara bekas tamparan dari Aldi.
"Gue bilang diam! Diam!" Lagi Aldi mencengkram dagu Ara , dangan satu tangan mencekik lehernya.
"L -epa -sin g gue b*ng s*t!"
"Hanya tinggal milih, lo mau hidup bareng gue atau mati sekarang?! Kalau gue nggak bisa milikin lo, maka orang lainpun nggak bisa 'sayang!"
"S akit Di, le -pasin gu -e," lirih Ara
"Sakit? Lebih sakit gue Ara ! Bahkan gue udah gila sekarang!"
"S akit, le p asin g -ue."
"L e p a -sin, Di." Mata Arasudah sayu, dengan nafas yang terputus-putus.
"Al di, l ep-as," Ara menutup matanya, nafasnya sudah tidak beraturan. Hingga ....
Brak!
"Lepas B*j*ngan!" Aldi yang terkejut, langsung melepas tangannya dari dagu dan leher Ara. Ara langsung jatuh berbaring, dengan batuk juga nafas yang tersengal-sengal.
"Br*ngs*k!"
Reno langsung menarik dan membenturkan tubuh juga kepala Aldi, di tembok dengan keras. Dirinya sudah di liputi amarah, bahkan matanya sudah memerah.
"S*t*n, *nj*ng lo b*j*ng*n!" Marvellangsung meninju perut Aldi, hingga Aldi langsung terjatuh terkulai ke lantai.
Buk!
"Ini untuk tamparan pipi kanan!"
Buk!
"Ini untik pipi Kiri! Dan ini untuk ...."
Duk!
"Cekikan Anda!" Reno membenturkan tubuh Aldi lagi, dengan mencekik leher Aldi juga.
"Sakit? Itu jauh lebi sakit, dari yang Ara rasakan!" Reno terus meninju silih berganti dengan Marvel . Sedangkan Hendra menghampiri Ara , yang sedang terbatuk-batuk, di ikuti papa Nando.
"Sudah Ren, MarvelMarvel !" tegur Zainal.
"Sudah? Ini belum seberapa Pa! Ara hampir mati, gara-gara kegilaan dia!" ucap Reno terus meninju wajah Aldi. Aldi tak bisa berkutik atau menyerang balik, kejadian ini sangat tiba-tiba. Tubuhnya sudah lemas, dua atau tiga tinjuan lagi, mungkin dia sudah akan menigoy di tempat.
Astaga, jahat banget authornya ....
"Sudah Ren , nanti dia yang mati kalau kalian pukul terus!" tambah Hendra . Dengan berat hati, Reno dan Marvel menyudahi aksi pukulannya.
"Kalau saja tidak ada yang ngehalangi, lo udah k-o-i-t sekarang!" ucap Marvel dengan sinisnya.
Sedangkan pak Wijaya , yang sedari tadi menonton. Jujur saja, hatinya sakit melihat anaknya sudah babak belur. Orang tua mana, yang tega melihat anaknya di siksa. Tapi di sisi lain, hatinya berkata 'Dia pantas mendapat kan itu'. Ya memang Aldi pantas mendapatkan itu.
"Gin, lo tangani dia deh. Takutnya, kalau gue yang nanganin, gue nggak bisa nahan diri," ucap Marvel , pak Gino mangut-mangut saja.
"Ara , Dek kamu baik-baik aja kan?" Marvel menghampiri Ara , yang sekarang ada di pelukan abang Hendra.
"Baik-baik apanya, hampir mati gue Bang!" Marvel dan Reno meringis, dalam ke adaan gini Reya masih aja galak.
"Gue nanya baik-baik Dek, jangan ngegas lah," ucap Marvel sambil mengusap rambut adiknya.
"Aldi!" Pak Wijaya menghampiri anaknya, dengan tatapan tajam.
"Pa -Papah, ke -napa bisa a -ada di sini?" Aldi berbicara dengan terputus-putus.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"Al di, c -cuma ngalakuin apa yang seharusnya Al -Aldi lakuin Pah," ucap Aldi enteng.
__ADS_1
Plak!
Satu tamparan mengenai wajah Aldi yang sudah babak belur. "Kenapa Papah tampar Aldi?"
"Masih tanya kenapa? Kamu udah berbuat di luar batas Aldi! Papah malu, Di! Papah malu!" ucap pak Wijaya murka.
"Lho Pah, Aldi cuma ngelakuin apa yang harus Aldi lakui -in!"
Plak!
"Apa katamu?! Ngelakuin yang harus kamu lakukan, gitu?! Asal kamu tahu Aldi! Yang kamu lakukan ini, sama halnya dengan menghancurkan diri kamu sendiri! Menghancurkan Papah! Membuat Papah malu Aldi!" geram pak Wijaya.
"Sudah Pak, bawa Aldi ke rumah sakit. Untuk mengobati lukanya, setelah itu, Aldi akan kami bawa ke pihak berwajib," ucap papa Nando menepuk pundak pak Wijaya.
"Maaf, maafkan saya Pak. Yang tidak bisa mendidik dia jadi anak yang baik," ucap pak Wijaya dengan memohon.
Hati Aldi terasa nyerih, melihat orang yang di sayang memohon karena perbuatan dirinya. "Ini sudah terjadi Pak, sudah takdir," tambah abang Hendra.
"Maaf sekali lagi."
"Tidak apa-apa Pak."
"Lihat Aldi, bahkan ayahmu yang tidak bersalah apa-apa, mau bahkan rela mohon-mohon. Nah kamu, ck. Saya berharap, kamu bisa belajar dari sekarang," ucap Reno walaupun marah. Dia masih punya hati nurani yang baik.
Aldi bergeming, merutuki dirinya sendiri yang bodoh dalam bertindak.
Emang bodoh! Baru nyadar?
"Silahkan ikut kami ke rumah sakit Pak, setelah itu dia bisa di bawa ke kantor polisi," ucap pak Gino kepada dua orang polisi yang ikut bersama mereka.
"Baik, kami juga butuh laporan dan bukti. Walaupun kami sudah melihat langsung, tapi kami juga butuh penjelasan langsung dari tersangka dan juga korban," ucap seorang polisi itu.
"Baik Pak."
"Mohon maaf sekali lagi, atas perbuatan anak saya," ucap pak Wijaya.
"Tidak apa-apa Pak, dan saya harap kejadian ini tidak lagi terjadi," kata Reno.
"Saya janji, terima kasih."
Setelah itu, Aldi di bawa ke rumah sakit. Di ikuti mobil polisi di belakangnya, pak Gino juga ikut serta di dalam mobil pak Wijaya.
"Kamu mau ke rumah sakit dulu, atau langsung pulang?" tanya abang Hendra.
"Langsung pulang aja," ucap Ara
"Jangan nempel mulu sama abang Hendra lha Dek, abangmu juga pengen di peluk nih," celetuk Marvel
"Dasar jomblo," cibir Reno , Marvel yang di katai, mendengus kesal.
"Ah benar, itu ada suamimu. Tenangin gih, kayaknya dia masih emosi tuh," goda Hendra
"Lha lha, kan Abang yang minta di peluk. Bukannya Reno ," rajuk Marvel
"Sudah tua, tidak usah merajuk," ucap Hendra mengejek.
"Benar tuh kata abangmu , sudah tua tidak usah ngambek seperti perempuan," tambah papa Nando. .
"Balik yuk, daripada di ejekin mulu gue di sini," ucap Marvel menarik tangan Reno tapi di lepas oleh sang punya tangan.
"Tidak usah tarik!"
"Ya sudah, kita pulang. Nenek mama sama teman kamu pasti sangat kwatir di sana," ujar papa Nando.
"Meluk suamimu sana Dek, jangan ke abang terus," lanjut Hendra.
"Ih, abang nggak kangen apa sama Ara. ?"
"Kangen, tapi ada suamimu tuh."
"Jangan jual mahal makanya Ren lihatkan istrimu. Jadi takut meluk kan istrimu," goda papa Nando.
"Yasudah, kita keluar deluan. Sekalian ngabarin orang, kalau kamu tidak apa-apa," ucap Hendra sengaja meninggalkan mereka berdua.
"Jangan galak-galak Ren " ucap Marvel dan langaung ngacir deluan.
Keadaan jadi hening, hanya di temani suara jangkrik yang bergoyang, eh berbunyi.
"Emm, keluar yuk," ajak Ara tanpa menatap Reno.
¹
²
Grep ....
Tanpa aba-aba, Reno langsung memeluk tubuh Ara Tentu saja Ara terkejut, apa lagi suara jantung keduanya beradu cepat.
"P -Mas."
"Saya takut Ara , saya kwatir sama kamu Ra Saya takut, kalau dia melakukan apa-apa. Ternyata benar, dia ...."
"Aku sudah tidak kenapa-napa, Mas."
Jujur ya, agak geli sih nulis pake 'Mas,' kesannya kek gimana gitu.
Oke, lanjut ....
"Tidak kenapa-napa? Andai saya datang, andai kita semua datang terlambat. Entah apa yang akan terjadi, Ara ! Ini, tamparan ini. Andai Mas tidak kasihan dengan orang tuanya, Mas sudah lempar dia dari atas sini sampai di bawah!" ucap Reno sadis.
"Ih galak banget, sih. Udah nggak apa-apa kok, cuma masih perih aja," ucap Ara dengan sedikit meraba lubam di pipinya.
"Maaf, saya tidak bisa jagain kamu." Reno kembali merengkuh tubuh Reya.
Ara melepas pelukannya, dengan menatap wajah suaminya. Kek di drakor-drakor gitu ....
"Bukan salah Mas, dan bukan salah siapa-siapa. Harusnya Ara berterima kasih, karena sudah datang nyelamatin Ara ," ucap Ara . Reno menggeleng, dan kembali memeluk Reya.
Ke enakan meluk, gini jadinya ....
"Tidak ada kata terima kasih, bahkan kalau terjadi apa-apa dengan kamu. Mas yang salah, Mas nggak bisa jagain istri Mas."
"Kalau gitu, tidak ada kata maaf juga. Karena memang Ara yang teledor, enggak bisa jaga diri. Udah ah, kita pulang sekarang." Reno tersenyum, dan mengangguk.
Tapi bentar, kek lihat ada kepala yang lagi ngintip sama nguping. "Ehem," dehem Reno Ketiga orang yang tadi menguping, lantas berdehem.
"Kalian deluan," ucap Marvel dengan senyum kikuknya.
"Ya, kalian jalan deluan," tambah Hendra.
Reno tidak ambil pusing, dan menuntuk Ara berjalan menuruni anak tangga. Sedangkan di belakanh mereka, kedua paruh baya itu berbisik-bisik tetangga.
"Baguslah, kalau mereka sudah saling menerima. Dan kamu dengar tadi, Arsenal manggil apa? 'Mas', itu artinya sudah ada perkembangan yang kita lewati," ucap dengan senyum sumringahnya.
"Dan juga jangan lupakan, anakmu sudah sedikit demi sedikit meluluhkan es di dalam diri Reno " tambah papa Nando
"Adek siapa dulu gitu."
"Ya, menantumu sepertinya sedikit bucin dengan anakmu," ucap Zainal lagi.
"Baguslah, biar kita cepat dapat cucu," kata Hendra Dan mereka terkekeh berasama. Sedangkan Marvel menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua lelaki di depannya, bahkan merutuki nasibnya yang di mana-mana selalu jadi nyamuk.
Sabar ya bang, belum saatnya kamu bisa uwu-uwuan seperti mereka ....
Sorry for typo. 🙏
Gimana, part kali ini seru gak? Menantang gak? Dan baper gak?🤣🤣🤣
__ADS_1
Waduh, keknya Aldi udah mulai menyesal tuh. Eh, keknya dia juga bakal di penjara. karena sudah melakukan tindak kejahatan, penculikan dan kekerasan.
Wadaw .... Kasihan nasibmu Bang, dimana-mana harus jadi nyamuk. Sama aku aja yang Bang, biar enggak jadi nyamuk. Setidaknya kalau sama aku, kamu jadi ... cicak, bukan nyamuk :v🤧🤣