Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 107. Kamu Siap


__ADS_3

Sepulangnya dari restorant tadi, mereka singgah di mall. Kebetulan jalan pulang mereka, melewati mall, dan ada baju yang ingin Ara beli.


Pertama-tama Ara ke toko pakaian pria, sebagai istri yang baik, jadi Ara juga akan membelikan baju atau celana untuk suaminya. Yah walaupun ... ujung-ujungnya pake uang suami juga.


"Cocok gak?"


"Cocok."


"Kalau ini, bagus?"


"Bagus."


"Ini suka?"


"Hmm." Kalau kalian tanya, apa yang paling di malas atau di benci Reno, jawabannya ... di ajak berbelanja baju. Kecuali berbelanja yang lain, dia ayo-ayo aja.


"Ra, katanya tadi mau belanja baju perempuan. Kenapa lari ke sini coba," ucap Reno kesal.


"Oke-oke, kita ke sana," ucap Ara yang menangkap guratan tidak mood dari pak Reno.


"Biar Mas yang bawa," kata Reno, mengambil belanjaan dari tangan Ara.


"Kesan—."


"Mau lari lagi?!" Ara cengengesan, memang kakinya tidak bisa di ajak kompromi.


"Lupa," ucap Ara dengan cengirannya.


"Ck, kayaknya memang kamu harus di hukum nanti!" ucap Reno datar.


"Katanya cuma bercanda doang."


"Itu tadi, tapi kalau Mas pikir-pikir ... kamu enggak bakal jera kalau enggak di kasih hukuman," ucapnya dengan menyeringai.


"Bahas gituan nanti ajadeh, Ara mau belanja dulu," ucap Ara sedikit mengalihkan pembicaraan, dan benar-benar melanjutkan shoppingnya yang tertunda.


Selesai berbelanja, mereka benar-benar pulang ke rumah. Reno langsung ke ruang kerjanya, sedangkan Ara ke kamar membereskan belanjaannya, sekaligus mandi.


***


Di tempat lain, Tania berjalan sendiri, dengan handset di kedua telinganya. Mau mengajak kedua temannya, semua sibuk dengan pasangannya. Mau berduan dengan pasangannya juga, tapi sayang ... dia tidak mempunyai itu.


Nasib Jones, mungkin itu yang di rapalkan terus di mulutnya. Dengan sesekali menghela nafas kasar. Dia terus berjalan, hingga ada orang yang menarik tangannya. Bukan tanpa sebab dia di tarik, tapi ada motor yang melaju begitu kencang di pinggir. Bisa saja Tania disambar, kalau tidak cepat ditarik orang itu.


Tania menghela nafas, jantungnya berdetak sangat kencang, bagaikan asteroid yang menghantam bumi. Belum selesai jantungnya menjadi normal, sekarang bertambah saat menyadari keberadaannya yang berada di pelukan orang yang menariknya. Lebih tepatnya Tania yang memeluknya.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" Suara berat itu seakan menyadarkan Tania, untuk melepas pelukannya. Bukan cuma karna itu, tapi bau parfum dan suaranya sangat Tania kenali.


Tania mendongak, menatap wajah itu. Benar dugaannya, orang yang menariknya emm tepatnya, yang menolongnya adalah sosok yang dia benci. Dengan cepat Tania melepas pelukannya, memberi jarak dirinya.


"Saya tanya, kamu tidak apa-apa?"


"Eng-enggak apa-apa Pak, ma-makasih," ucap Tania gugup.


"Kamu itu kalau jalan jangan melamun, begini kan jadinya. Coba saja kalau tadi tidak ada yang nolongin, mungkin kamu sudah kena sambar," omelnya, Tania memandang malas, andaikan tadi dia tidak di tolong. Sudah di pastikan dia akan menyumpel mulut orang di dekatnya. Heran juga, di kampus dia sangat irit bicara, sekarang dia mengomel bagaikan ibunya di rumah.


"Bisa gak jangan ngomel dulu, Pak? Saya masih kaget, jangan di marahin dulu," ucap Tania. Gantian pak Gino yang memandang jengah mahasiswinya itu, demi apa'pun tidak ada mahasiswa/i yang berani berbicara seperti itu dengan dirinya, selain Tania, Risa apa lagi Ara.Ketiga mahasiswinya itu sangat ceplas-ceplos, jika berbicara dengan dirinya di luar kampus.


"Ada yang sakit?"


"Enggak ada."


"Lamunin apa sih? Sampai-sampai ada yang mau nabrak, enggak sadar. Biarpun sendiri, enggak ada pasangan, tapi jangan seperti ini juga. Namanya membahayakan nyawa," sindir pak Gino, yang menyinggung status jones Tania.


"Dih, sok tau Bapak. Kan ada yang nyatain cinta sama saya, jadi saya mikirin ... saya terima atau tidak? Soalnya saya memang udah lama suka dia juga, jadi—."


"Emang sopan berbicara masalah seperti itu dengan dosen?!" ucap pak Gino dingin, dan berjalan meninggalkan Tania.


"Bapak mau kemana?" Tania menyusul pak Gino, dengan berlari mensejajarkan langkah kakinya.


"Kenapa ngikutin saya?"


Tania diam, kenapa juga dia mengikuti orang itu. Tapi dia cuma mengikuti langkah kakinya, kemana akan dia berjalan. "Bukan ngikutin, saya memang mau lewat sini," alasannya.


Tania melihat penjual cilok, dan langsung berlari ke arah situ, tanpa berpamitan ke pak Gino. Tidak sopan bukan?pengaruh cilok, memang membuatnya melupakan pak Gino.


"Ciloknya dua—."


"Tiga Mang," potong pak Gino, yang mengikuti arah Tania berlari.


"Berapa Mas, Mbak?"


"Dua—."


"Tiga Mang, saya satu dia dua. Jadi tiga," potong pak Gino lagi.


"Oke, di tunggu."

__ADS_1


"Bapak ngikutin saya?"


"Siapa? Saya? Tidak, cuma mau makan juga," elak pak Gino.


"Oh." Mereka sama-sama terdiam, sampai si tukang cilok memberikan pesanan mereka.


"Berapa semuanya Mang?"


"Satu 12, semuanya tiga, jadi 36."


"Ini Mang." Pak Gino memberikan selembar uang 50.000 ribuan.


"In—."


"Biar saya yang bayar, kembaliannya ambil aja Mang," ucap pak Gino, berjalan meninggalkan Tania lagi.


"Lho Pak, ini gimana?" Tania kembali mengejar pak Gino.


"Kenapa ngikutin saya lagi?"


"Masalah kita belum selesai, Bapak kenapa bayarin saya coba. Kan saya bisa bayar sendiri. Ini uangnya," ucap Tania menyerahkan uang 20 dan 5 ribu.


"Tidak usah," tolaknya.


"Saya enggak enak Pak."


"Masalah uang kamu tidak enak, giliran judes sama ketus dengan saya, kamu santai-santai saja," sindir pak Gino. Tania menggigit bibir bawahnya, memang sih, dia agak kurang ajar.


"Oke, mulai sekarang saya enggak bakal begitu. Dan maaf. Ini uangnya Pak, saya enggak enak beneran," ucap Tania masih terus menyodorkan uangnya.


"Tidak usah Tania, saya ikhlas."


"Oh, ya udah. Ngomong-ngomong Bapak mau kemana?"


"Pulang," jawab pak Gino singkat padat dan jelas.


"Arah rumah Bapak ke sana? Samaan dong, bareng aja ya-ya?"


"Terserah."


Tania kembali memasang handsetnya, sambil memakan ciloknya. Begitu juga pak Gino. Tidak ada yang berbicara, cuma sibuk dengan ciloknya masing-masing.


Sementara di Rumah Ara dan Reno


Malam telah tiba, dimana orang-orang telah kemali ke rumah masing-masing usai melakukan aktivitas yang melelehkan di siang hari. Di rumah Ara dan pak Reno, semua orang sibuk dengan aktivitasnya. Ara yang sibuk dengan tugas-tugas kampusnya, di kamar. Sedangkan Reno masih berada di ruang kerjanya, sibuk dengan laptop dan kertas-kertas yang entah berisi apa-apa.


Ara mencoba satu-persatu baju yang di belinya, hingga matanya tertuju dengan baju yang sangat kurang bahan. Ara mengambil dan memandangnya ngeri, perasaan dia tidak membeli itu tadi. Ingatannya tertuju saat di mall tadi, di mana Reno pergi meninggalkannya sebentar. Dan kembali dengan satu tentengan di tangannya. Tapi saat Ara tanya, Reno langsung bilang kalau itu pakaian yang di belinya.


"Jadi ini yang dia beli, tadi?" Ara meneliti baju itu lagi, benar-benar membuat bulu-bulu Ara meremang. Ara berdehem, muncul pikiran untuk mencobanya. Cuma mencoba, bukan macam-macam.


Selesai memakainya, Ara memandang pantulan dirinya di cermin. Benar-benar membuatnya merinding. Saat mau menggantinya, pintu sudah lebih dulu terbuka, dan Reno sudah berjalan masuk. Astaga, Ara melupakan itu, dia lupa mengunci pintu sebelum memakai baju sangat-sangat kurang bahan itu.


"Ara , kamu lihat map warna mer—." Tamatlah riwayat Ara sekarang, baru dia mau mengambil handuk, Reno sudah lebih dulu melihatnya, dengan ke adaannya yang sangat mengenaskan.


"Kam-kamu—."


"Ma-maaf Mas, tadi c-cuma iseng doang. Ta-tapi Ara lupa kun—."


"Kamu siap?" Suara serak itu ..., alamak, tamatlah Ara sekarang.


"Mas Ren —."


"Maaf, kalau kamu belum siap. Mas enggak maksa," ucap Reno membalik 'kan badannya, kembali berjalan ke arah pintu. Tapi sial sangat sial, Ara menarik tangannya hingga memeluk tubuh Reno.


Cobaan apa ini? Reno sunggu sangat tersiksa sekarang.


"Ara yang minta maaf, tidak pernah memberikan itu. Kadang Ara ingin, tapi cuma takut. Takut kalau setelah kita melakukan itu ... Mas pergi ninggalin Ara ," lirihnya.


Reno melepas pelukan Ara, mengangkat dagunya dan menatap mata itu dalam. "Mas bukan laki-laki bereng*ek Ra, Mas paham dengan ketakutan kamu. Kamu taukan, kalau Mas sayang sama kamu, kalau Mas cinta sama kamu. Kamu kehidupan Mas, Mas akan selalu ada di dekat kamu," ucap Reno, mengecup singkat bi*ir Reya.


"I love you," bisik Reno.


"I love you too."


"Kamu siap?" Ara mengangguk mantap. Dan setelah itu ... terjadi 'lah yang seperti itu.


Itu? Itu apaan?


Ngerti, kan?


Tau kok, kalau kalian ngerti. Jangan sok polos!


Haha.


Di tempat Risa dan Marvel


Di tempat lain, Marvel dan Risa sedang jalan-jalan di pasar malam. Sekalian semakin mendekatkan diri, atau saling mengenal sifat masing-masing.

__ADS_1


"Harusnya tadi kita ngajak yang lain ke sini," ucap Risa sambil melirik-lirik semua wahana, dan permainan.


"Percuma, mereka enggak bakal ikut. Reno pasti sibuk sama pekerjaannya, mana mau di izinin Ara keluar malam-malam tanpa dia. Gino sama Tania pasti sama, semua pada sibuk," ujar Marvel.


"Pak Reno cuek-cuek posesif ya, diam-diam cemburu. Kalau Kakak kayak gitu juga, gak?"


"Enggak, kalau Kakak ... perhatian, sisi posesifnya di lihatin langsung. Kalau cemburu, ya langsung bilang kalau Kakak cemburu," ucap Marveldengan senyuma yang menghiasi wajahnya.


"Gitu?"


"Iya, buat apa di sembunyiin? Kalau Reno bukannya pendiam, tapi gengsi doang," ucapnya lagi.


"Kamu tunggu di sini, Kakak mau pergi beli air minum dulu."


"Ice cream ya," pinta Risa.


"Malam-malam makan ice cream?"


"Enggak boleh, ya?"


"Bo-boleh, tunggu di sini. Jangan kemana-mana!"


"Iya." Marvel Berjalan ke arah penjual ice cream,Risa sendiri tinggal duduk menunggu Marvel datang.


"Ris,Risa Ngapain ke sini?"


Risa mendongak, menatap siapa yang bertanya. Itu Zaki.


"Emm, jalan-jalan. Lo sendiri?"


"Nemenin dia," tunjuk Zaki ke anak kecil yang sedang memegang mobil-mobilan.


"Anak lo?"


"Enak aja kalau ngomong, dia ponakan gue. Lo sendiri ke sininya sama siapa? Ara sama Tania?"


"Bukan, gue sama—."


"Ice creamnya." Suara Marvel memotong ucapannya.


"Thanks Kak."


"Dia siapa?" Pertanyaan yang sama, dengan waktu yang bersamaan, dan dua orang berbeda.


"Oh, ini Zaki teman kampus sama teman sekelas juga. Dan Zaki, ini kak Marvel " ucap Dina, memperkenalkan mereka.


"Zaki," ucap Zaki, menyodorkan tangannya.


"Marvel ," balas Marvell, menyambut uluran tangan Zaki.


"Keral siapa kamu, Risa ?"


"Emm ...."


"Saya pacarnya Risa ," ucap Marvell, sambil merangkul pinggang Dina.


"Pacar? Betul Ris ?" Risa mengangguk.


Zaki mengangguk dengan tersenyum, senyum yang jelas sangat miris. "Ow, s-semoga langgeng. Aku tunggu undangannya," ucap Zaki dengan senyum yang tak pernah pudar.


"Iya, tunggu saja. Dalam waktu dekat ini bakal__, awwh." Marvel meringis, saat kakinya di injak Dina.


"Ya udah aku duluan Ris , Marvel " Zaki berjalan menjauh, dengan tangan menggandeng tangan keponakannya. Sedangkan Risa memandang kasihan dengan Zaki, dia tau kalau Zaki benar-benar mencintainya. Tapi perasaannya tidak bisa dia paksakan.


"Lihatnya enggak udah seperti itu kali, kayak enggak rela banget di tinggalin," ucap Marvel sambil memakan ice creamnya.


"Bukan gitu, Kak. Cuma enggak tega lihatnya."


"Terus? Mau di susulin, lalu di peluk terus bilang aku mau jadi pacar kamu," ucap Marvel dengan melahap rakus ice creamnya.


"Dih, cemburu ceritanya nih?"


"Iya, siapa juga yang enggak cemburu kalau lihat pacarnya sendiri, melihat laki-laki lain begitu dalam," oceh Marvel.


"Benar ya, Kakak kalau cemburu enggak sembunyi-sembunyi," ucap Risa tertawa.


"Kan emang udah bilang tadi, buat apa juga gengsian bilang cemburu."


"Iya-iya, jadi enggak marah dong. Kan aku enggak ada rasa selain rasa sebagai teman, dengan Zaki."


"Enggak marah, cuma cemburu!"


"Iya cemburu, kita pulang yuk. Nanti papah ngamuk lagi."


"Hmm, ayo."


Sorry for typo. 🙏

__ADS_1


__ADS_2