
Empat hari di rawat di rumah sakit, Ara sudah di perbolehkan pulang. Seperti hari kemarin, Ara masih akan tinggal di rumah orang tuanya. selama beberapa hari kedepan. Itu juga atas permintaan Reno, yang mungkin merasa ... Ara masih ingin tinggal dengan orangtuanya, dan juga Reno belum terlalu yakin bisa menjaga Ara . Yang dimana pekerjaannya sangat banyak, mulai dari pekerjaan kampus sampai kantor.
"Ra, bangun hey."
"Araa ," desis Reno di dekat telinga Ara.
"Eungh." Ara melenguh, tapi bukannya bangun, Ara malah memperbaiki posisi tidurnya.
Reno tersenyum, menarik selimut Ara turun. Lalu menumpu tangannya, dengan badan Ara di tengah. "Ara ...." Reno menepuk pipi Ara dengan satu tangannya.
Ara merespon, dengan sedikit membuka matanya. Terlihatlah wajah suaminya yang sedang tersenyum ke arahnya. Ara langsung memalingkan wajahnya, menutupnya dengan bantal. Reno terkekeh.
"Morning."
"Morning," balas Ara dengan suara seraknya, tanpa melepas bantal yang menutupi wajahnya.
"Pergi cuci muka, terus kita turun makan," ucap Reno menyingkirkan bantal di wajah Ara.
"Hmm." Ara bangun di bantu Reno, bagaimana'pun kepala Ara masih belum terlalu pulih.
Sampai keluar kamar mandi, Reno masih setia menuntunnya. "Mas, mau ke kantor?" tanya Ara yang baru sadar dengan gaya pakaian suaminya, yang sudah lengkap dengan jas kerjanya.
"Iya."
"Ngomong-ngomong, kapan Ara bisa masuk kuliah lagi?"
"Tunggu dua minggu lagi, jadwal cuti kamu masih lama. Tapi Mas akan minta sama pak Sutanto untuk mencabutnya."
"Masa dua minggu? kelamaan kali," ujar Ara
"Kamu kan baru selesai operasi Ra, untuk menghindari kejadian yang tidak-tidak," ucap Reno, menuntun Ara sampai meja makan. Yang sudah berkumpul semua orang.
"Selamat pagi semua," sapa Ara
"Pagi sayang."
"Pagi Dek."
"Duduk sini, Nak."
"Iya nek."
"Mau makan apa?" tanya Reno.
"Biar nenek aja yang ambilin, kamu makan aja Nak. Nanti telat," ucap nenek nya Ara. .
"Enggak ada telatnya kali dia nek , orang dia bosnya," celetuk Marvel, kemudian melanjutkan makannya.
"Enggak apa-apa nek . Jadi, mau makan apa?"
"Itu aja deh," ucap Ara menunjuk ayam pedas manis.
"Enggak kepedesan?" Ara menggeleng, Reno mengangguk mengambil ayam itu.
Selesai makan, Reno sudah mau berangkat. "Kalau mau di beliin apa-apa, telepon Mas," ucap Reno menciumi kening Ara.
"Iya, hati-hati," ucap Ara menyalimi tangan Reno.
"Mas berangkat." Reno mendekatkan kepalanya, dengan hitungan detik ... bi*irnya sudah menyentuh bi*ir Ara. Tapi itu cuma sekilas.
"Satu ciuman sebelum pergi," ucap Reno santai, dan langsung berjalan ke arah mobilnya. Sebelum Ara mengamuk.
Sementara Marvel
Di sisi lain, Marvel tengah mengantar Risa untuk ke kampus.
"Nanti Kakak jemput, Kakak antar pulang," ucap Marvel setelah sampai di perkiran.
"Tapi kalau sibuk, enggak usah Kak. Aku bisa naik taxi," kata Risa tak enak hati.
"Enggak apa-apa."
"Ya udah, aku keluar," ucap Risa , tapi sebelum membuka pintu, Marvel lebih dulu menahan tangannya.
"Ada yang mau Kakak omongin sebentar, enggak bakal telat kan?" tanya Marvel , Risa melihat jam tangannya sebentar dan menggeleng.
Marvell berdehem, memutar duduknya sedikit berhadapan dengan Risa . "Mungkin ini buru-buru, atau enggak seperti yang kamu mau. Kakak cinta sama kamu, dan mungkin kamu tau itu. Sejak kamu masih SMA, dan sering datang ke rumah dengan Ara . Kakak udah ngerasain hal aneh, bisa di definisikan menjadi 'debaran jantung yang tak menentu.' Lama kelamaan itu semakin menjadi. Dan baru-baru ini Kakak baru sadar, itu di namakan dengan ... cinta. Kakak cinta sama kamu," ucap Marvell panjang lebar. Siapa'pun akan terkejut, tak terkecuali. Tidak ada yang menyangka sebelumnya, kalau Marvell ternyata sudah memendam rasa selama beberapa tahun ini. Risa masih terdiam menunggu Marvell melanjutkan ucapannya.
"Kamu pasti sudah menebak, kemana arah pembicaraan kita. Khem ..., kamu mau jadi pacar Kakak? Kalau enggak mau ... enggak apa-apa," ucap Marvell di sertai nada tergagap.
"Pacaran?"
"Kenapa? Atau mau langsung nikah? Kakak siap, kita kembali ke rumah kamu dan akan melamar kamu dulu. Setelah itu, kita menikah."
"Jangan ngawur, ish."
"Jadi gimana, mau?" Risa menunduk, dan mengangguk kecil.
__ADS_1
"Bicara Ris . Mau gak?"
"Mau," ucap Risa.
"Benar?"
"Hmm."
"Seriusan?"
"Kakak mau aku nolak? Ngeselin banget, udah bilang mau masih aja di tanya!"
Marvell terkekeh. "Terima kasih, Kakak janji akan belajar jadi yang terbaik buat kamu. Dan kalau nanti Kakak buat salah, kasi tau saja secara langsung. Jangan pake kode-kodean, Kakak itu orangnya enggak peka Risa ," ucapnya.
"Jadi sekarang kita pacaran?"
"Iya."
"Ya udah, Risa keluar."
"Semangat belajarnya sayang." Pipi Risa memerah, dan langsung membuka pintu mobil.
"Dua bulan lagi, kita menikah!" ucap Marvell agak teriak, Risa yang tadi bersiap pergi, langsung membalik 'kan badannya lagi. "Apa?"
"Dua bulan lagi, Kakak bakal datang lamar kamu," ucap Marvell dan menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi setelah memberikan senyuman manisnya. Risa sendiri tinggal berdiri bagai patung, hingga kedatangan Tania membuatnya keluar dari dunia hayalan.
"Napa lo melamun gitu? Kesamber sindel bolong?" Risa menatap malas ke arah Tania, dan berjalan deluan.
"Tungguin gue nyet!"
"Berisik lo Tan!"
"Santai sister, gue tadi di telepon Ara Katanya dua minggu lagi, baru dia masuk kampus," ucap Tania mensejajarkan langkahnya denga Dina.
"Udah tau," jawab singkat Risa.
"Dari mana? Ah iya gue lupa, kan lo dekat dengan abangnya. Emm gimana, hubungan kalian sekarang? Ada kemajuan gak?" tanya Tania mulai kepo.
Risa menghentikan langkahnya, memandang Tania. "Gue di tembak Tan!" ucap Risa heboh, tak mempedulikan orang di lift yang mungkin kaget dengan suaranya.
"Tembak? Mana yang luka?!"
"Sinting lo Tan!"
"Hehe, jadi gimana? Lo terima?" Risa mengangguk, Tania memekik kesenengan. "Demi apa? Lo enggak jomblo lagi dong!"
"Lo sih Tan, ngapain coba teriak lebay gitu," ucap Dina.
"Kelepasan. Jadi kalian pacaran? Nasib gue gimana? Enggak ada teman lagi dong," ujar Tania dengan nada sendu di buat-buat.
"Lo mau? Ada Thiar sama pak Gino tuh, tinggal pilih aja," goda Dina.
"Pak Gino?! Yakali, enggak mau dan enggak bakal!"
"Jangan gitu loh Tan, entar beneran jadian kalian. Gue orang pertama yang ngetawain lo."
"Hehe, enggak bakal terjadi!"
"Ya udah, sama Thiar aja. Dia suka merhatiin lo diam-diam tau."
"Kalau itu, perlu di pertimbangin," ucap Tania dengan gaya songongnya.
Ting ....
Lift terbukan, mereka melangkah keluar kemudian menuju kelas. Sesampainya di kelas, mereka berdua langsung di hadang Galih, Bara, Thiar, dan Zaki.
"Kenapa dah kalian?"
"Ke adaan Ara gimana? Rencananya kapan dia masuk kampus lagi?" tanya Galih mewakili semuanya.
"Cuma mau nanya itu? Baru pake hadang-hadang jalan kita segala lagi," ucap Tania, dan menarik Risa untuk duduk.
"Kan penasaran bego!" sahut Bara.
"Dua minggu lagi kira-kira, baru di izinin ke kampus lagi," ucap Risa.
"Baguslah. Kita itu kasihan dengan kalian berdua, biasanya kemana-mana selalu bertiga, ini tinggal berdua," ucap Zaki.
"Enggak butuh!" ucap Tania dan Risa barengan.
"Yee, jangan gitu lah. Sukur-sukur kita masih peduli," kata Thiar.
Lalu nyenyenye, mereka terus mengoceh yang tidak ada manfaatnya. Bahkan menurut Risa dan Tania, hanya membuat sakit kuping.
Di rumah Ara
Di rumah, Ara tidak tau mau berbuat apa. Begini dan begitu, selalu di larang. Bahkan sudah ada beberapa pesan yang masuk dari suaminya, yang melarangnya melakukan apa'pun, yang hanya dia baca tanpa niat membalasnya.
__ADS_1
"Bang, jalan-jalan keluar yok," rengek Ara
"Enggak bisa Dek. Tenang aja sih di rumah."
"Itung-itung sebagai pajak jadian Abang dengan Risa kan," ucap Ara.
"Dari mana kamu tau?" Marvell kaget, karna belum memberi tau Ara tentang itu.
"Tau lah, di antara kita bertiga, enggak ada yang bisa nyimpan rahasia penting kayak gini," ucap Ara dengan tatapan kesalnya.
"Enggak percaya Abang kalau Risa yang bilang, pasti Tania kan?"
"Sama aja, Tania dapat dari Risa, Awas aja kalian berdua, jadian enggak bilang-bilang."
"Maaf Dek."
"Jadi ... Abang Ara udah enggak jomblo ngenes lagi," ledek Ara
"Ekhem ... ingat kata Ara.. Abang kalau punya masalah, jangan langsung marah atau emosi. Bicarain dulu, jangan sampai udah terjadi baru menyesal. Risa walaupun di luar kelihatan sangat bahagia, kuat. Tapi aslinya, Risa banyak menyimpam masalah keluarga, hatinya tidak tegar seperti diluar," ucap Ara dengan pandangan lurus, seperti menerawang.
"Tenang aja, Abang bakal bahagian Risa."
"Rencana bakal di nikahin, kapan?" tanya Ara dengan senyuman tanpa dosanya. Marvell menatap Ara malas, abis melow jadi komedi.
Sorenya
Jam dua sore, Reno pulang. Memang dia sengaja pulang cepat, untuk bertemu dengan sang istri. Reno membuka pintu kamar pelan, di lihatnya Ara yang sedang duduk dengan tangan yang memegang cemilan, sambil menonton di labtopnya.
"Serius banget nontonya, sampai tidak sadar kalau suami sudah pulang," ucap Reno di dekat telinga Ara, lengkap dengan tangan yang sudah melingkar di leher Ara dari belakang.
Ara mengelus dada kaget, untung dia tidak memekik atau menampar sang pelaku. Kalau tidak cepat dia sadar kalau itu suaminya.
"Mas! Bikin kaget aja," ucap Ara , menutup labtopnya dan meminum airnya.
"Lho, kamu yang enggak sadar. Mas tadi waktu buka pintu, sedikit bersuara," ucap Reno, melepas tangannya. Menyimpan tas kantornya, dan melepas jas, kemejanya, juga celana kantornya. Tersisa baju kaos putih polos, dengan celana selutut nya.
"Kapan kita pulang ke rumah?" tanya Ara sambil menyimpan baju suaminya di keranjang.
"Nanti Mas lihat, masalahnya kalau kita pulang, nanti enggak ada yang jagain kamu," ucap Reno memeluk Ara dari belakang.
"Kan ada mbok Mina."
"Iya, tapi Mas enggak tenang kalau cuma ada mbok Mina."
"Ya udah, Ara ikut kata Mas ajalah."
"Good."
"Emm, Mas."
"Kenapa?"
"Tentang ..., enggak jadi deh," ucapnya dan melepas tangan Reno dari pinggangnya.
"Kenapa?" Reno mengangkat dagu Ara , menatap wajahnya. Ara menggeleng, menurunkan tangan Reno.
"Jujur!"
"Bukan apa-apa."
"Bilang apa?" Kalian tau kan, kalau Reno kalau sudah penasaran, dia tidak akan berhenti hingga dia mendapat jawabannya. Bahkan kini, Ara sudah rapatkan ke tembok. Dengan kedua tangannya yang berada di samping kiri-kanan Ara.
"Enggak ada," ucap Ara, dengan menunduk 'kan kepalanya.
"Enggak ada, hmm?" tanya Reno lagi, dengan sinisnya.
"Iy-iya enggak ada."
Entah setan dari mana, bi*ir itu bersentuhan lagi. Bahkan di sertai ******n lembut, tapi sangat terasa ada nafsu di dalamnya. Entah terbawa suasana atau juga mendapat dorongan dari setan, Ara sedikit-sedikit membalasnya.
Mungkin di namakan terbawa suasana, sampai-sampai mereka tidak sadar sama sekali kalau telah berganti tempat. Sekarang mereka tengah ada di atas kasur. Bahkan salah satu tangan Reno bergerak nakal, menelusuri badan Ara.
Cium*n itu turun ke leher, meninggalkan bekas ki*smark di sana. Suara yang kata Ara, 'lac*nat' itu keluar begitu saja. Ya mereka sadar, tapi kata 'terbawa suasana' itu sangat berpengaruh di situ.
Di tengah-tengah nafsu yang besar, Reno menghentikan aksinya. Tidak seharusnya dia lakukan hal itu sekarang, mengingat Ara baru operasi. Reno bangun, dengan mangatur nafasnya. Ara sendiri membelakangi Reno karna ... malu yang sangat.
"Mas mau kemana?" tanya Ara tanpa menoleh.
"Mandi air dingin," ucap Reno dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Ara masih mencerna baik-baik ucapan pak Reno barusan, 'mandi air dingin.' Pikiran Ara seketika traveling kemana-mana. Begitu juga pikiran para pembaca.
Haha.
Sorry for typo. 🙏
Maaf untuk kata-kata yang sangat kurang pantas di beberapa bagian, mohon jangan salah dalam menyikapinya.
__ADS_1