Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 125.Berangkat


__ADS_3

"Nah iya, dia sepupunya Mas Sayang. Dia keponakannya papa," tambah Reno, mengelus kepala Ara , menampakan senyumnya yang semanis mungkin.


Vanesha memandang sepupunya, atau yang notabenya kakak sepupunya itu, dengan geli.


...


"Ayoloh, istrinya marah tuh Pak," ledek Vanesha, dengan cengirannya.


"Apa?! Kamu yang buat masalah, tapi cuma tinggal beridiri jadi patung!" cetus pak Reno, memandang sengit sang adik sepupunya itu, yang cuma menyengir kerbau.


"Iya deh, gue bantu ngebujukin. Lo kesana ...!" usir Vanesha, mendorong pak Reno menjauh dan memberikan ruang untuk dirinya menghibur istri sepupunya.


"Santai, kali!"


"Udah diem!"


"Emm, kenalian, gue eh, aku Kaila Vanesha. Biasa dipanggil Vanesha, Nesa, atau Anes. Dan aku --"


"Langsung ke intinya bisa, 'kan?!" potong pak Reno, dengan nada datar.


"Ya! Sabar bisa, 'kan?! Ini baru mau ke intinya, tapi situ udah motongin!" balas Vanesha, tak kalah datarnya.


"Aku ini sepupunya Reno, beda tiga tahunlah sama dia. Jadi Kakak Ipar jangan marah atau cemburu sama aku, karena kita cuma sepupuan," jelas Vanesha, dengan menampakan senyum terbaiknya, yang gantian Reno yang jadi ingin muntah dengan senyuman itu.


"Udah sana minggir." Gantian pak Reno yang menarik Vanesha untuk menjauh dari Ara, lalu dia duduk di samping Ara. Membuat Vanesha cuma mampu mengumpat di dalam hatinya.


"Dengar 'kan, dia cuma sepupunya Mas," ucap pak Reno.


"Dia beda tiga tahun sama, Mas. Sekarang umurnya 23 tahun," lanjutnya lagi, namun Ara cuma diam.


"Ya udah ya, aku pulang duluan," pamit Vanesha, yang mungkin tak mau mengganggu.


"Eh tunggu, tau dari mana rumah ini?" tanya pak Reno.


"Ya dari mama dong."


"Oh, ya udah pulang sana!" usir pak Reno, tanpa bersalahnya.


"Cih-cih, mentang-mentang! Ya udah, gue balik! Besok-besok baru gue kenalan sama kakak ipar," ucap Vanesha.


"Tunggu, masih lancar bahasa indonesia? Kirain udah lupa," ledek pak Reno.


"Emm sebenarnya udah enggak sih, tadi sebelum mencet bel, gue udah belajar, biar lancar. Biar lo enggak pangling," ucap Vanesha, segitu sombongnya.


"Ck, ngesel saya nanya gitu tadi," ucap datar pak Reno, "Udah sana pulang!"


"Ck, santai, woles aja kali Bapak! Gue balik, Assalamualaikum!" seru Vanesha ketus.


"Waalaikumsalam, pintunya jangan lupa tutup," ucap pak Reno, dengan menahan tawanya.


"Gue lupa, tutup aja sendiri!" teriak Vanesha. Tapi tidak lama, tersengar bunyi pintu yang ditutup Venesha. Mungkin Vanesha menutupnya begitu kencang karena kesal, hingga suara pintunya terdengar.


"Vanesha emang gitu ...." Pak Reno memberhentikan ucapannya, saat berbalik ke arah Ara tapi sayang, Ara sudah tidak ada di situ.


"Lho, Sayang, kamu pergi ke mana?" Pak Reno mengederkan pandangannya ke segala sudut, dan berhenti di mana Ara berada. Dan pergi menyusul Ara yang hendak naik tangga.


Bisa-bisanya dia tidak merasa Ara pergi dari sampingnya. Hih, ini gara-gara dia berdebat dengan Vanesha.


"Kenapa? Marah?" tanyanya, ingin mengelus pipi Ara , tapi Ara menepisnya.


"Siapa juga yang marah!" ketus Ara


"Lho, Mas 'kan udah bilang kalau dia cuma sepupu. You know Baby, dia cuma sepupu Mas. Jadi jangan marah, ya?"


"Ish, 'kan udah bilang, kalau aku enggak marah," ucap Ara, dengan nada kesal.


"Itu mukanya kayak marah," goda pak Reno, mencolek dagu Ara sekilas.


"Apasih, enggak usah colek-colek! Ara mau naik."


"Mau dibantu, gak?"


"Enggak usah."


"Yakin?"


"Iya."


"Tapi Mas yang enggak yakin. Bisa emang naik tangga sendiri?"

__ADS_1


Ara mendengus, sudah tau tapi masih saja bertanya. Heyyo, dirinya cuma kemakan gengsi, jadinya pura-pura tidak mau dituntun.


"Bisa, tapi enggak jamin bakal selamat sampai di kamar," jawab Ara, langsung mendata delikan tajam dari suaminya.


"Jangan ngomong sembarangan. Ingat, omongan adalah doa," tegur pak Reno.


"Tapi enggak semua omongan, doa kali."


"Iya-ya." Pak Reno memilih mengalah, jika diteruskan, cuma akan membawa dirinya ke luban penderitaan.


"Mas juga yang enggak peka, mana bisa Ara naik tangga sendiri," lanjut Ara mengomel.


"Ya udah sih, Mas juga cuma bercanda. Mana berani Mas biarain kamu naik tangga sendiri."


***


"Kak."


"Hmm, kenapa?"


"Ambilin lipstik di meja itu"


"Buat, apa? Kamu mau kemana?"


"His, ambilin aja!"


"Oke."


4 detik kemudian ....


"Ini."


"Kakak pakai."


"Ha, maksudnya?"


"Kakak pakai di bibir."


"Kakak yang pakai?"


"Iya, sekalian ambilin bedak padat, blush on, eyeshadow, eyeliner, maskara, sama pensil alis," ucap Risa, yang hampir menyebutkan semua jenis make up yang dia punya.


Marvel mengaga, dan mematung di tempat. Apalagi kerjaan istri dan calon anaknya, sekarang? Dulu, dia juga pernah jadi korban ngidam adiknya, persis seperti sekarang ini.


"Mau make-up 'pin kucing," jawab Risa, helaan nafas lega terdengar dari Marvel. Tapi ....


"Make upin Kakak, lah. Yakali kucing!"


Tuhan, apa kesalahan dirinya di masa lalu? Sampai-sampai harus begini nasibnya?


Mukanya yang ganteng, seketika akan berubah menjadi ....


Ondel-ondel!


Untung kalau Risa cuma me-make upinnya saja, dan tidak berbuat macam-macam. Seperti memotretnya, dan mengrimkannya ke Tania dan Ara, atau bisa saja Risa mengunggahnya di akun media sosialnya.


Huhft.


Sabar.


***


Ting.


Notifikasi pesan whastapp masuk, dengan sigap Tania membukanya. Seketika wajahnya yang tadi terlihat penasaran, berganti dengan wajah geli dan tawa ngakaknya, membuat orang di sekitarnya memandang dirinya bingung.


"Kamu kenapa?" tanya pak Gino, mengambil ponsel Tania. Dan menganati objek, yang menjadi bahan tertawaan Tania.


"Hah, ini beneran Marvel?" tanya pak Gino lagi, dengan tawa gelinya.


"Kalian kenapa, sih?" Ara yang sedari tadi diam memakan buah yang dikupaskan pak Reno, angkat bicara.


"Enggak bawa, hp?" tanya Tania, dibalas gelengan Ara . "Ini coba lihat, abang lo menderita lagi gegara ngidamnya Risa," lanjut Tania, menyodorkan handphonenya ke Ara dengan masih tertawa.


"Reno juga pernah didandanin kek gitu dulu," ucap pak Gino, di sela-sela tawanya.


"Iya, aku masih ingat," tambah Tania.


"Rambutnya diikat dua, haha," kata pak Gino.

__ADS_1


"Dilipstikin," kata Tania.


"Terus difoto. Ara mau kirim ke teman-temannya, tapi langsung kehapus," lanjut pak Gino.


"Di situ Ara ngambek seharian," ucap Tania.


"Karena Renoudah enggak mau didandanin lagi," lanjut pak Gino, kemudian mereka berdua tertawa, tak mempedulikan delikan tajam dan sinis yang dilayangkan pak Reno.


"Nanti kalian berdua bakal ngerasain juga. Dulu Keral yang suka ngeledek nah sekarang, jadi boomerang ke dirinya," ucap pak Reno, sinis.


Ya lupa memberitahukan tempat mereka sekarang. Mereka sedang berada di rumah pak Reno dan Ara , tadi Tania mengajak pak Gino untuk ke sini. Katanya suntuk di rumah, mau pergi nemenin Ara.


Sedangkan di lain sisi, Marvel sudah mencemberutkan wajahnya secemberut mungkin. Yang dia khawatirkanpun terjadi, tapi untungnya Risa tidak mengunggahnya ke medsos. Bisa-bisa viral Keral nanti.


***


Hari ini, pak Reno sudah mau berangkat. Mama Dewi , papa Nando , Tania, pak Gino, dan tentunya sang istri ... Ara , semua pergi mengantar pak Reno ke bandara. Semua, terkecuali nenek, ayah , Marvel, abang Hendra Dan Risa. Karena lagi-lagi Risa tidak enak badan, karena mual-mualnya. Dan soal abang Hendra Ada pekerjaannya yang mendesak. Sedangkan nenek , dia juga tinggal mengurus Risa.


Selesai mengurus semua keperluan, pak Reno kembali menghampiri orang-orang yang mengantarnya, untuk pamitan. Oh lupa, Indra juga ikut serta.


"Sudah selesai semua?" tanya papa Nando,saat pak Reno datang.


"Sudah, Pa."


"Ya sudah, hati-hati di sana. Jangan ganjen, Mama selalu mantauin kamu lewat Indra," ucap mama Dewi, sambil memeluk anaknya.


"Iya Mama cantik, Reno juga cuma seminggu di sana. Tapi udah kayak mau tinggal setahun aja. Jagain istri Reno Ma, kalau ada apa-apa langsung telepon," ucap pak Reno. Bagaimanapun, ini pertama kalinya dia meninggalkan Ara jauh, selama Ara hamil.


"Tenang saja, Mama selalu jagain."


"Jagain istri gue," ucap pak Reno, ke pak Gino.


"Santai aja, kita di sini bakal jagain," kata pak Gino.


"Thanks."


"Tania, jagain Ara. Jangan biarin dia ke mana-mana."


"Oke, Pak. Saya enggak bakal biarin Ara keluyuran," ucap Tania, mendapat cubitan kecil dari Ara.


"Mas berangkat dulu, kamu jangan pergi ke mana-mana tanpa salah satu dari mereka. Telepon saja Mas kalau ada yang mau kamu lihat-lihat, atau titipin. Dan enggak usah banyak pikiran, Mas enggak bakal nempel ke perempuan lain. Indra yang bakal mantauin Mas. Iyakan, Ndra?"


Indra, yang memang tidak mendengar apa-apa, dan cuma mendengar saat namanya dipanggil cuma bisa berkata, "Ah, i-iya Pak." Dengan menggaruk kepalanya.


"Jadi nanti kamu tinggal ngehubungin, dia."


"Siapa tau kalau nanti kalian bekerja sama," ucap Ara., langsung mendapat sentilan pak Reno.


"*Enggak usah negatif thinking mulu," ucapnya. Lalu pak Reno melirik ke arah orang yang mengantarnya, dan sekeliling. Merasa aman, tidak ada yang melihat ke arah mereka. Pak Reno langsung mengambil kesempatan, menciumi bi*ir Ara, selama 5 detik*.


"Sebagai obat rindu Mas, di sana," ucap pak Reno, dan sontak mendapat cubitan gemas dari Ara, di lengannya.


"Mas pergi, jaga diri kamu dan dedek bayinya," pamit pak Reno, kembali menciumi kening Ara. Cuma kening loh, bukan yang lain.


"Reno berangkat Pa, jagain Ara."


"Iya, kamu hati-hati di sana."


Lalu, pak Reno dan Indra betul-betul berjalan ke arah pesawat, karena pewatnya sudah akan berangkat.


"Maaf nih, Pak Bos. Bukannya sengaja, tapi tadi saya sempat melihat Bapak ciuman," ucap Indra.


"Oh," balas cuek pak Reno.


"Enggak apa-apakan, Bos? Gaji saya enggak dipotongin, 'kan?" tanya Indra was-was.


"Tergantung."


"Tergangung, apanya?"


"Udah enggak usah cerewat," ucap pak Reno, dan menaiki tangga pesawat, disambut hangat para pramugari yang ada di pintu pesawat.


"Tapi saya penasaran lha, Bos. Jangan motongin gaji saya juga, sayakan mau ngumpulin duit buat nikah, Bos."


"Enggak usah cerewet, siapa juga yang mau motongin."


"Beneran, Bos?"


"Iya. Sudah diam!"

__ADS_1


"Oke."


Sorry for typo. 🙏


__ADS_2