Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 84. Ara Di Culik


__ADS_3

Malam telah berganti pagi, hari ini adalah hari minggu. Hari dimana orang-orang akan berasantai, dan menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta. Sama halnya dengan keluarga 'Fernandez '' dan keluarga 'Zaufal'.


Mereka berencana akan berkumpul keluarga, sekalian piknik di pinggir pantai, di hari minggu ini. Persiapan sudah di atur oleh para orang tua, anak-anaknya hanya tinggal ikut dan berangkat tanpa membawa apa 'pun.


Masih sama dengan kemarin, Ara masih terus diam tanpa berbicara. Sebenarnya dia tidak lagi marah atau apalah, tapi hanya malas berbicara untuk saat ini.


Mereka hanya membawa empat mobil, mobil yang satu di tempati keperluan piknik mereka. Yang di bawa oleh supir. Sedangkan yang satu, memang mobil keluarga yang luas dan mobilnya abang Hendra.


"Senang gak kalian? Jarang-jarang loh kita kumpul keluarga begini," sahut mama Dewi.


"Senang mama !" seru mereka semua, ralat ... hanya Tania, Dina,Marvel ,Hendra dan pak Gino yang menyahut. Ara dan Reno cuma diam.


"Pengantin baru, kenapa cuma diam-diaman. Senang gak kalian, berdua?" tanya mama Dewi, kepada kedua orang itu.


" Ara senang kok," ucap Ara dengan senyuman manisnya.


" Ren ngomong Reb . Lo kek nggak ada mulutnya," celetuk Marvel di balas lirikan malas oleh Reno .


"Ada masalah?" bisik Risa ke Ara


"Nggak ada, cuma lagi malas ngomong aja gue," ucap Ara dengan memejamkan matanya.


"Beneran? Ini bukan masalah kemarin kan?" selidik Risa masih berbisik.


"Bukan Risa , sayang," ujar Ara gemas.


"Ngapain kalian bisik-bisik? Enggak lagi ngomongin kelebihan gue kan?" tanya Marvel pede.


"Pede eui!" sembur Ara dan Risa bersamaan. Marvel cemberut, dengan mengimutkan wajahnya.


"Geli Bang, gue lihatnya," ledek Ara, Marvel hanya mendelik.


"Sst, Tania kenapa?" Ara sedikit berbisik, ke arah Risa.


Risa melirik sekilas ke arah Tania, kemudia mengangkat kedua bahunya tidak tahu. Karena dari tadi, Tania cuma diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Nanti aja kita tanya," ucap Risa.


Semua kembali hening, eh tidak hening juga. Karna ibu-ibu dan bapak-bapak sibuk berbicara masalah pekerjaan dan menggosip.


"Ngantuk?" tanya Reno sedikit kecil.


Ara cuma menggeleng tanpa berucap sepatah-katapun, Reno menghembuskan nafas. Dia berpikir, 'apa Ara masih marah ke padanya?'.


" Ara ," desis Reno , Ara cuma menatapnya sekilas dan kembali menghadap ke depan.


" Ara ." Reno menggenggam tangan Ara membuat sang empu kaget dengan jantung yang berdisko. Tapi Ara tetap berusaha, tidak menunjuk 'kan rasa gugupnya.


"Kamu masih marah?" Ara cuma menggeleng, dengan memandang ke sembarang arah.


" Ara saya lagi ngomong lho, ini." Reno mulai kesal, karna di cueki terus.


Ara menatap Reno dengan wajah cemberut, masa cuma segitu dia sudah kesal. "Kenapa lagi?" tanya Reno bingung, dengan raut wajah Ara.


Ara mendengus. "Masa baru segitu, udah kesal ngebujuknya," ucap Ara dengan bibir yang di majukan. Reno mengulam senyumnya, antara kesal, senang, juga gemas. Kesal karena ternyata Ara cuma pura-pura mendiaminya, senang karena Ara sudah tidak marah, dan gemas karena ternyata gadis itu cuma mau di bujuk, sampai-sampai harus diam-diaman sehari.


"Ceh, ada yang ngambek," ledek Reno , masih mengulam senyumnya. "Enggak tuh," elak Ara dengan menunduk 'kan kepalanya.


"Liatin apa sih dibawa, jelas-jelas disini ada orang ganteng. Mubasir kalau tidak di lihat," ucap Reno.


"Ceh, narsismu ka ," ucap Ara menatap geli ke suaminya.


"Lha, emang ganteng kan? Katarak kali mata kamu, kalau bilang saya tidak ganteng," ucap Reno masih narsis.


"Ganteng sih, ganteng. Tapi, sayang —."


"Kamu," potong Reno dengan muka ngeselin bagi Ara . Pipi Ara memanas, dengan wajah memerah.


"Ehem, ehem. Jomblo diem," celetuk pak Gino dengan berdehem jail.


Seketika kedua orang itu melempar pandangan, ke segala penghuni mobil yang sedang memerhatikan mereka. Kecuali pak Zainal, karena sibuk menyetir, hanya sedikit melirik dari kaca.


Ara menutup wajah dengan telapak tangannya, sambil menyembunyikan kepalanya di samping badan suaminya.


"Khem khem, tenggorokan gue serak Ris. Air mana air," ejek Tania dengan tampang mengesalkan.


"Sejak kapan teman kita jadi narsis, Vel ?" ledek pak Gino sambil menyanggol lengan Reno.


"Enggak tau juga sih gue, perasaan dia nggak pernah senarsis gitu sebelumnya," tambah Marvel.


"Sudah-sudah, jangan ejek terus anak mama Malu kan mereka," sela mama Dewi , padahal dia juga sangat senang kalau ternyata mereka sudah bisa menerima satu sama lain.


"Lo malu Ren ? Sejak kapan lo bisa malu?" Pertanyaan kurang ajar Marvek langsung mendapat getokan dari Ara. "Emang lo Bang, yang enggak punya malu!"


"Di belain ei," ejek Marvel dengan menjulurkan lidah singkat, ke arah Ara.


🐳🐳🐳🐳🐳


Selesai menyiapkan tikar dan beberapa makanan, minuman dan cemilan. Mereka semua tinggal duduk-duduk santai, dengan menikmati pemandangan. Matahari tidak terlalu terik, dan orang-orang juga tidak terlalu banyak. Walaupun ini hari minggu, mungkin separuhnya hanya menghabiskan di rumah bersama.


"Kesana kuy," ajak Tania menarik tangan Ara dan Risa.


"Ya ya, nggak usah narik juga keles!" ketus Risa , Tania menyengir kuda.


"Mau kemana?" tanya Reno.


"Ke situ, dah." Mereka bertiga berlari seperti bocah yang baru ke pantai, dengan rambut yang tergerai dibiarkan tertiup angin.


"Stop-stop, gue capek," ucap Ara dan langsung duduk di pasir sambil berselonjoran.


"Aih, cemen. Baru segini udah capek, kemana Ara yang jago lari kesana-kesini mendribble bola, tanpa ada kata capek," ledek Risa ikutan duduk.


"Haiya, padahal kita udah ngos-ngosan. Tapi dia, nggak," tambah Tania juga ikut duduk.


"Itu beda lagi, kalau itu karna mau dapat juara. Enggak mau tersingkirkan, jadi ya di usahain. Kalau ini nggak ada juara-juraraan, jadi gini-gini aja," ucap Ara dengan cengengesan.


"Ish, dasar. Ngomong-ngomong, gue jadi kangen sama teman-teman SMA kita. Apa kabar ya mereka, apa mungkin mereka juga sudah nikah keklo Ra? Atau bahkan, udah punya anak sebelas?" tanya Tania, di balas dengan ngegas oleh Ara dan Risa.


"Tim sepak bola kali, sebelas!" ucap Risa.


"Mana bisa punya anak sebelas, dalam jangka waktu tiga tahun? Aneh lo, Tan!" tambah Ara .

__ADS_1


"Kembarkan, bisa jadi," ucap Tania asal.


"Ye, ngelahirinnya gimana? Ngurusinnya juga gimana? Bisa k'o, sebelum anaknya gede itu mah," sewot Ara.


"Pake babysitter, kan bisa. Eh, kenapa malah bahas anak coba," ujar Risa dengan menyingkirkan rambutnya yang menerpa wajahnya.


"Kenceng banget anginnya, yang bobot badannya di bawah lima belas kilo, bisa diterbangin angin," ucap Tania lebay.


"Nih makan." Reno datang, dengan satu bungkus cemilan di tangannya. Risa berpindah ke samping Tania, agar Reno bisa duduk di dekat Ara . Karna memang Ara yang duduk di tengah.


"Cuma satu?" tanya Ara . Pak Revano menunjuk ke arah Marvel yang membawa satu kantong cemilan.


"Lha, kita makannya kan disana. Kenapa di bawa kesini cemilannya?" tanya Risa dengan mengambil satu bungkus cemilan yang di berikan Keral.


"Masih banyak di sana, nggak bakal habis juga sampai kita pulang. Gue duduk di sini ya." Risa mengangguk, mempersilahkan Marvel duduk di sampingnya. Jadinya, Tania duduk di tengah-tengah mereka, tanpa pasangan.


Tania senyum kek orang bodoh, melihat dirinya sekarang. "Adeh, gue terhimpit di tengah-tengah orang yang sedang kasmaran," ucap Tania dengan duduk bersilah.


"Ini juga sendiri loh, Tan. Duduk di sini aja gih, dari pada di situ," tunjuk Marvelke arah pak Gino yang sedang menikmati keripik kentang. Tania melirik ke arah pak Gino sebentar, dan menggeleng. "Gue enggak mau terjebak, kisah cinta antara dosen dan mahasiswi " ucap Tania bercanda, di sambut gelak tawa Semuanya, minus dosen mereka.


"Nyinggung Mbak? Entar kemakan omongan sendiri, tau rasa!" ucap Ara di hadiahi pelotototan mata oleh Tania.


"Mudah-mudahan enggak, cukup lo aja yang


... sengsara hidup dengan dosen devil kampus," bisik Tania di telinga Ara . Ara mendelik, dan berikutnya mereka tertawa berdua.


"Ngetawain apa kalian?" tanya Risa.


"Rahasia!" seru Tania dan Ara bersamaan.


"Udah berani main rahasia-rahasia 'an ya, entar gue punya rahasia nggak bakal ngasih tau kalian!" rajuk Risa dengan mencemberutkan wajahnya.


"Coba aja, entar gue kasih tau orang-orang kalau misalkan elo suk — mmp."


"Brisik Tan!" Risa memasukkan makanan ke mulut Tania.


"Ah lo Ris enggak seru!"


"Enak kan, tapi?" tanya Risa tanpa bersalahnya.


"Enak apa 'ap, itu pasti dari dalam mulut lo kan? Ngaku deh," tuding Tania, Risa menjitak kening Tania kesal.


"Se enaknya kalau ngomong, nih anak. Itu bersih, halus dan murni dari dalam bungkusnya," kata Risa kembali mengunyah cemilannya.


"Lihat sana noh, ganteng banget guys. Kek orang arab gitu," tunjuk Ara tiba-tiba.


"Kek orang india gue lihat, ada brewok-brewok eu," ucap Risa yang notabenya memang pecinta film atau drama India, Korea, dan China.


"Kek orang Jepang Korea itu, mah," sahut Tania, yang memang pecinta Jepang, Korea, dan film action barat.


"Mata lo kemana, jelas-jelas nggak ada mirip-miripnya sama orang Jepang," ketus Ara dan Risa.


Ketiga laki-laki di dekat mereka kesal bukan main, ingin sekali mereka berteriak mengatakan 'hey, di samping kalian ada yang lebih ganteng loh!'. Tapi mereka masih punya harga diri, yang di junjung tinggi. Dengan gerakan bersamaan, Reno menangkup dagu Ara untuk menatapnya, dan Marvel membalik 'kan badan Risa menghadap ke arahnya.


"Di sini juga ganteng lho," ucap Reno


"Di sini juga, mirip orang China lho Ris," ucap Marvel.


Reno dan Marvel berucap bersamaan, sedangkan Ara dan Risa sudah menelan ludah gugup, karena wajah mereka yang sangat berdekatan.


"Kalian semua lagi buat tik-tok, kenapa saling tatap-tatap begitu," tegur mama Dewi tiba-tiba, mereka yang tadinya sibuk saling pandang, jadi saling salah tingka.


"Dari mana mama tau, tik-tok?" tanya Tania, yang tidak terlalu salting, tidak seperti yang lainnya.


"Ya ampun anak mama, mama mu ini walaupun kerjanya di rumah. Tapi mama nggak se kudet gitu, siapa yang tidak kenal tik-tok sih," ucap mama Dewi dengan gaya gemesnya.


"Hehe, jadi mama sering nonton tik-tok dong?"


"Nggak sering juga, soalnya baru buka hp. Udah di panggil sama papa mu itu," ucap mama Dewi seketika papa Nando tersedak air minumnya karena di bicarakan. Hehe ....


"Mama kesini, mau manggil kalian makan. Ayo kesana, sudah di siapin makanannya."


"Oke mama ."


"Rambutnya di ikat, biar nggak ganggu," ucap Marvel , sambil mengikat rambut Risa.


"Apa lah daya hamba, yang jomblo ini ya Allah. Bisa kah kau kirimkan, satu laki-laki dari Jepang untuk hambamu ini," ucap Tania dengan menengadahkan tangannya meminta doa.


"Di sana ada cogan Tan, jomblo keknya. Kesana gih, pepet Tan," saran Risa dengan mengejek.


"Nah, ide bagus. Dari pada gue ikutan nimbrung di tengan-tengah kalian," ucap Tania.


Tania bersiap berjalan, sepertinya karena kejombloannya membuat jiwa-jiwa bar-barnya keluar. Biar cowok yang tidak di kenalpun, dia mau dekati.


"Eh, mau kemana?" Pak Gino manarik rambut Tania yang di kuncir, Tania mengaduh kesakitan.


"Mau kesana lah Pak, udah bilang tadi." Tania mencebik, dengan membetulkan kunciran rambutnya.


"Tidak ada, kalau dia bukan laki-laki baik bagaimana? Bisa saja, kamu di apa-apai nanti."


"Jangan suudzon dulu Pak, siapa tau dia laki-laki soleh. Beh, masuk ke dalam kriteria saya itu."


"Soleh? Laki-laki soleh kalau kayak gitu?" tunjuk pak Gino, seketika semua orang melihat ke arah laki-laki tadi. Yang sedang bermesraan dengan, ketiga perempuan yang haus belaian.


Bulu kuduk Tania langsung meremang, mengalahkan angin yang begitu kencang. "Astaghfirullah, mata polos gue ternodai!" pekik Tania langsung menutup matanya. Orang-orang menertawakan Tania, tanpa terkecuali Reno dan pak Gino. Walau Reno cuma kekehan kecil, sedangkan pak Gino tertawa jahat plus remeh.


"Kayak gitu laki-laki soleh?" ledek pak Gino.


"Siapa tau istrinya," keukeh Tania, dengan rasa malunya.


"Ck, ck." Pak Gino cuma berdecak, kemudian duduk lesahan di pasir.


Kita intip ke uwuan Ara sama Reno kuy ....


"Nggak kedinginan?" tanya Reno , Ara menggeleng terus membangun istana pasirnya.


"Aaaa!" Teriak Ara , Risa dan Tania. Saat ombak dengan kencangnya, menghantam bebatuan dengan banyak air yang berhambur ke arah mereka. Di tambah, istana pasir yang mereka bertiga buat runtuh. Seperti habis di bom.


"Aaa, basah. Istananya juga hancur, ombak sialan!" gerutu Ara dengan membejek-bejek pasir di tangannya.


"Ke air yuk," ajak pak Gino, Marvel dan Reno berpikir sejana, kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Ayo," ajak Reno ke Ara . Ara masih dengan wajah di tekuknya, mengangguk lesuh.


"Nggak usah cemberut gitu dong, nanti tambah cantik," goda Reno.


"Ejek aja terus, bilang aja kalau muka saya jelek," ketus Ara .


"Siapa bilang, cantik kok. Ayo naik."


"Di mana?"


"Ke grobak! Cepat ah, naik."


"Saya bisa jalan juga, 'Pak."


"Ini buka penawaran, tapi perintah!"


"Selalu aja gitu," gerutu Ara


Ara naik ke punggung Reno , dengan memeluk lehernya. Sampai ke sedikit jauh dari pinggiran pantai, Reno baru berhenti. Di ikuti yang lainnya.


"Turunin ih ka , malu tau!"


"Nggak bakal tenggelam kan?"


" kaka ngejek saya?!"


"Tidak."


"Ish, turunin!"


"Ka turunin!"


"Kenapa manggil kaka lagi?!"


"Eh maaf, makanya turunin ih. Malu tau," rengek Ara.


"Manggil —."


"Turunin Mas!"


"Susah emang manggil begitu?"


"Bukan susah, belum terlalu terbiasa," ucap Ara.


🐥🐥🐥🐥🐥🐥


Singkat cerita ... mereka sudah pulang dari pantai. Mama Dewi , papa Nando abang Hendra dan Zainal langsung pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan ke enam anak muda itu, singgah ke cafe. Entah apa yang ingin mereka kerjakan.


"Gue pengen pipis," bisik Ara ke arah Tania dan Risa .


"Mau kita anterin?" tawar Risa


"Enggak usah," ucap Ara , dan berdiri.


" Ara mau kemana?" tanya Reno


"Ke 'wc'," ucap Tania dan Risa bersamaan.


Sudah beberapa menit terlewatkan, tapi Ara belum juga kembali. Baik Tania, dan Risa sudah menelpon atau mengechat Ara. Tapi tidak ada balasan.


" Ara kemana sih." Risa dan Tania mulai gusar, sedangkan Reno langsung berlari ke arah kamar mandi di cafe itu. Di ikuti oleh ke limanya.


"Coba kalian periksa," ucap Reno menyuruh Risa dan Tania, tidak mungkin kan kalau harus dia yang masuk ke dalam wc wanita.


"Tidak ada 'ka ," ucap Risa dan Tania setelah selesai memeriksa wc wanita.


"Enggak mungkin kan, kalau dia ke wc laki-laki," ucap Marvell asal.


"Mbak-mbak tunggu," cegah pak Gino ke pada seorang pelayan.


"Ada apa Mas?"


"Tadi lihat gak, perempuan yang berambut di atas pinggang, baju hijau lumut, ke toilet sini?" tanya pak Gino.


Pelayan itu tampak berpikir, "Tidak tahu ya Mas. Karna saya baru kesini, coba tanya sama ... Win, Erwin, sini."


"Kenapa?" tanya pelayan laki-laki itu, yang namanya Erwin.


"Gini Mas. Mas lihat perempuan dengan rambut di atas pinggang warna hitam, baju hijau lumut, dengan jelana jeans hitam di toilet sini?" tanya pak Gino.


"Rambutnya nggak di ikat?"


"Iya Mas."


"Baju hijau, jelana jeans? Tunggu, tadi saya lihat ada perempuan dengan ciri-ciri begitu," ucap Erwin.


"Dia kemana?" tanya pak Revano.


"Tadi, dia pergi dengan laki-laki. Bukan pergi, lebih tepatnya perempuan itu seperti pingsan," jelas Erwin. Mereka semua mengehela nafas berat.


"Mereka kemana?" tanya Marvel


"Saya tidak lihat Mas. Tadi saya tanya, 'dia kenapa?' Laki-laki itu menjawab 'tidak apa-apa, dia cuma kecapean'. Terus saya mau bertanya lagi, tapi laki-laki itu langsung angkat bicara ...." Erwin menggantung ucapannya.


"Dia bilang apa?" desak Reno.


"Dia bilang, 'enggak usah banyak tanya, dia pacar saya'. Setelah itu, dia udah pergi lewat pintu belakang. Saya nggak ngikuti Mas, karna saya pikir emang pacarnya kecapean terus pingsan," jelas Erwin.


"Akh, sial! Berengsek itu pasti, akhhh!" Marvel menjambak rambutnya sendiri. Sedangan Reno mengepalkan tangannya, dengan rahang mengeras.


👋🙋Haii readers,


Part yang panjang.


Sorry for typo. 🙏


Tapi ... sayang 'kamu'. Uhhui, pak Revano mulai aktif ngegombalnya nih ..., belajar sama siapa sih dia? Suka banget, buat jantung Reya bergetar tiba-tiba.


Eh gaswat, Ara di culik tuh pasti.😤


Siapa yang berani nyulik Ara ?😫

__ADS_1


Reno marah banget, keknya😤


Bisa mampus nanti, orang yang nyulik Ara di tangan Reno


__ADS_2