
Ceritanya sangat menguras emosi dan air mata jadi harus berdoa dulu sebelum baca ini cerita.
___________________________
Ceklet.
Deby keluar dari kamar mandi setelah selesai ganti bajunya. Ia memegang kepalanya terasa pusing.
Bruk!
"Deby!" seru Gino lalu menuju anaknya ia menggendong ya.
"Ma, Gino mau bawa Deby ke rumah sakit ma," kata Gino
"Terus Rika nya gimana?" tanya Mama Hani
"Mama aja yang jemput Rika, mama kan bisa bawa mobil, ini Deby pingsan ma, harus cepet di bawa kerumah sakit," kata Gino lalu pergi
Rika heran mengapa mertuanya yang jemput dia bukannya suaminya. Sesuai dengan janji katanya Ravano akan menjemput ia.
"Ma, kok mama? Mas Vanonya mana?" tanya Rika
"Gara-gara anak itu, jadinya Ravano nyuruh mama buat jemput kamu. Katanya kamu mau cek kandungan kamu?!" kata Hani
"Apa Oma? jadi gara-gara Deby Mama nya Vanya enggak di anterin sama Papa? aku jadi kesel sama Deby Oma," kata Vanya
"Jangan kesel sayang, udah lah. Yang penting kita masih bisa pergi sekarang, ayo naik?" suruh Rika pada Vanya
'kalau ketemu nanti bakalan aku cubit,' batin Vanya
Sampailah mereka dirumah sakit.
Dokter memberikan vitamin lanjutan untuk Rika.
"Janin nya sehat ibu, kiloan ibu juga akan semakin bertambah," kata Dokter
"Benar banget dokter,"
"Cucu saya, jenis kelamin nya enggak akan berubah kan dokter?" kata Hani
"Insyaallah tidak ibu, cucu anda laki-laki," kata nya
Hani tersenyum senang ia mendekap Rika.
"Kamu memang menantu andalanku," kata Hani
"Makasih Mama, mama juga mertua yang paling baik buat Rika ," tambah Rika
"Oma, karena aku masih kecil'kan aku enggak bisa jagain Mama, sebentsr lagi mama aku bakalan melahirkan jadi aku pengen tinggal dirumah Papa lagi," kata Vanya
"Oh cucuku sangat pintar, Rika kamu tidak keberatan'kan?" kata Hani
"Rika sih terserah aja," balas Rika
"Kamu memang harus tinggal dirumah suami kamu nak, kamu lagi hamil tua begini kok," lanjut Hani
'Yes! akhirnya bisa serumah sama Deby ... aku bakalan bikin dia enggak akan betah di rumah,' batin Vanya
__________________
"Coba mas, kamu rasain baby kita nendang gitu lho?" kata Rika
Lalu Gino merabanya. Ia tersenyum bangga.
"Nanti kalau dia lahir, akan ku ajak bermain bola kaki, jadi tidak sabar menantikan kelahiran anak kita," kata Gino
Rika memeluk Gino sambil menyenderkan kepalahnya di dadanya. "Aku juga tidak sabar Mas, aku seneng deh bisa bikin kamu sama mama seneng," kata Rika
"Iya,"
"Makanya Gino, ngapain juga kamu sibuk ngurusin Tania itu, dia adalah mantan istri kamu. Mendingan kamu itu konsentrasi asam keluarga kamu, ada Vanya ,Rika dan calon anak kedua kalian, Mama juga bangga banget sama menantu mama yang ini," jelas Hani
"Papa?" lirih Deby dari tangga teratas. Ia masih sangat pusing sebenarnya. Namun ia ingin mengambil air karena kehausan.
"Katanya kamu sakit, kok keluar kamar?" kata Vanya
"Kak Vanya, kenapa Kaka disini?" heran Deby
"Ini itu rumah Papa aku, jadi bebas dong kalau aku ada disini juga, emangnya anak Papa cuma kamu aja?" sewot Vanya
"Eh, coba liat Mama aku sama Papa bahagia banget kan? Papa itu sayangnya sama Mama aku, makanya tuh Mama kamu di usir dari rumah ini," kata Vanya
"Kak Vanya kok bilamgnya gitu, Mama sama Papa cuma bertengkar sebentar nanti juga bakalan baikan, " kata Deby
"Deby ... Deby, jangan berharap kamu itu, Oya satu lagi Oma lebih sayang sama aku dari pada sama kamu, heran kenapa kamu ada disini sih, kenapa enggak ikut mama kamu aja," kata Vanya
"Papa!" teriak Deby lalu turun dari tangga menuju Papanya.
"Ada apa Deby? apa yang kamu butuhkan?" tanya Gino
__ADS_1
"Hiks, Deby mau pulang Pa? anterin Deby pulang, Deby mau ketemu Mama!" seru Deby sambil menangis.
Gino menggendongnya lalu mengusap air matanya juga
"Deby sayang, kamu tidak bisa kembali sama Mama kamu lagi, lagian ini rumah kamu, ada apa memangnya?" kata Vano
"Mama!" seru Vanya lalu mendekat ia juga menangis.
"Kenapa Vanya?" tanya Rika
"Tadi waktu Vanya mau ajakin Deby main, tapi Deby bilang dia enggak mau main sama Vanya Ma. Dia jga bilang kenapa Vanya sama Mama disini, dia enggak suka," kata Vanya penuh kebohongan.
"Deby kamu bilang begitu?" tanya Ravano
"Enggak kok,"
"Halah, pastinya Deby akan mengatakan itu. Mama kan sudah bilang, kamu jangan manjain Deby nanti dia ngelunjak sama kamu," kata Hani
"Deby kamu tidak boleh seperti itu, Vanya adalah Kaka kamu. Minta maaf sama dia sekarang ya?" suruh Gino
"Enggak mau! Deby enggak salah dan kak Vanya bohong!" kata Deby
"Tuh kan Pa, Vanya tau kok kalau Deby enggak suka sama aku, Mama kita pulang aja yuk?" ajak Vanya
"Deby minta maaf sekarang!" bentak Gino
"Tapi--"
"Minta maaf!"
Deby mendekati Vanya lalu mengulurkan tangannya. "Maaf,"
"Iya," balas Vanya lalu mencubit tangan Deby lalu memeluknya.
"Awas aja kamu Deby,"
Lalu Deby kembali ke kamarnya. Ia memeluk boneka yang ada.
"Mama, Deby mau tinggal sama Mama, jemput Deby Ma," tangis Deby
________________
"Aku bener udah enggak tahan lagi Aditya, aku pengen kesana dan ajakin Deby kesini, kenapa sesulit ini Aditya? apa seorang ibu harus tega melihat anaknya semenderita itu di rumah mereka, " kata Tania
"Kamu jangan menyerah Taniasemua ini kita lakukan demi anak kamu juga. Kamu harus tenang, aku akan terus membantu kamu. Kamu pasti bisa menang nanti, kita kumpulkan segalanya supaya peluru yang kita dapatkan sangat banyak dan tidak bisa untuk di hancurkan oleh Mereka," kata Aditya
"Sabar, kamu pasti kuat menghadapi semuanya," kata Aditya
________________________
"mas, sebentar lagi ulang tahun nya Vanya. Aku mau pestanya di rayain di rumah aja ya?" kata Rika
Karena selama ini acara ulang tahun Vanya selalu di rayakan di dalam hotel atau di Vila milik keluarga mereka.
"Terserah kamu saja," kata Ravano
"Aku akanmenemui Deby dulu, dia pasti sangat sedih sekarang, " kata Gino lalu ke kamar anaknya.
Gino membuka pintu kamar anaknya. Lalu terdengarlah isakan tangis Deby menyayat hati Gino. Sebenarnya ia tidak tega melihat anaknya seperti itu.
"Deby, Papa boleh masuk?" tanya Gino
"Kenapa Papa kesini? Papa jangan peduli sama Deby! karena Papa enggak sayang Deby! cuma Mama yang sayang sama Deby!" teriak Deby begitu keras
"Maafin Papa ya nak? tapi, kamu juga tidak boleh berlaku tidak sopan kepada Vanya Kaka mu?" peringat Gino
"Papa enggak percaya sama aku, itu artinya Papa enggak sayang sama aku. Aku mau sama mama sekaramg juga!" pekik Deby
Lalu Gino mendekap Deby mengelus punggungnya. Membiarkan Deby berontak namun tidak di lepas oleh Ravano sedikitpun.
"Papa bisa mengabulkan apa saja yang kamu mau asal bukan meminta kembali pada Mama mu, Papa juga tidak akan melepaskan mu begitu saja nak, kamu masih ingat bukan? kalau Papa bisa memasukkan Mama mu kedalam penjara apakah kamu ingin itu terjadi?" kata Gino hal itu mampu membuat Deby berhenti memberontak.
"Anak yang pintar, Papa sayang kamu," kata Gino
Cup!
Ia mengecup dahi Deby lalu membaringkan tubuh Deby menemaninya agar tidur dengan nyenyak.
_____________________
Acara pesta ulang tahun Vanya Afriani begitu meriahnya. Kini genap sudah umurnya 7 tahun. Lalu kue pertama ia berikan pada Rika yang kedua adalah Gino. Lalu Rika dan Gino bersamaan mencium pipi Vanya. Lalu Kakek dan Nenek nya memotret mereka. Lalu ikut berfoto bersama dengan teman-teman sekolah Vanya juga.
Deby mengintip mereka di balik tembok. Sambil terus menangis dalam diam. Ia melepas pita konsep ulang tahun Vanya di kepalanya.
"Kapan aku bisa kaya kak Vanya, kenapa aku enggak pernah di rayain serame itu? aku juga mau, " lirih Deby lalu meninggalkan taman belakang lalu menuju kamarnya. Ia duduk di sudut ruangan sambil melirik foto Tania yang ada di bawa kolong ranjang.
Lalu Deby meraihnya dan mendekapnya.
"Mama, hiks ... kapan Deby bisa ketemu sama mama, " lirih Deby
__ADS_1
_______________
Tania belajar dengan tekun. Ia ingin segera menyelesaikan pendidikan nya walau itu harus memakan waktu cukup lama.
Ia yakin, ia bisa melakukan nya. Sejenak ia menyingkirkan Deby dari Fikiran nya . Ia percayakan semuanya pada Aditya. Karena pria itu selalu bersedia membantunya sampai hari yang mereka tunggu tiba.
Aditya menjemput Tania dari kampusnya.
"Aku bisa pulang sendiri, atau ada yang ingin kamu katakan padaku?" kata Tania
"Ada, jadi ayo masuk dulu," suruh Aditya sambil membuka pintu mobilnya untuk Tania
_
"Semuanya aku rasa sudah cukup komplit, jadi kita bisa mengajukan semua ini kepengadilan. Bisa di proses ini, " kata Aditya
"Apakah kamu yakin?" tanya Tania
"100% yakin, ini sudaj kuat untuk mengambil hak asuh itu kembali kepadamu Tania kamu akan menang kali ini?!" yakin Aditya dengan reflek ia memegang tangan Tania.
Tania tersenyum bahagia ia menempelkan jemarinya yang lain karena begitu merasa gembira nya atas apa yang sudah ia dengar.
"Terima kasih banyak, kamu sudah banyak membantu aku selama ini," kata Tania
"Iya sama-sama," balas Aditya
Lalu keduanya tersadar maka buru-buru mereka saling melepaskan genggaman tangan.
"Maaf," kata Tania
"Kamu tidak salah, aku yang salah. Maaf ya?" kata Aditya
Suasana menjadi canggung beberapa saat.
Lalu Aditya memberinya sebuah kaleng minuman bersoda.
"Makasih," kata Tania menerimanya.
____________________
"Apa ini?" kata Hani sambil mengambil sebuah surat kiriman dari seorang kurir.
"Apaan itu Ma?" kata Rika
"Mama juga enggak tau, sebentar ya?" kata Hani lalu membaca ternyata itu khusus untuk Gino
"Buat Gino sih ini, mungkin dia memesan sesuatu, kita tunggu dia pulang saja," usul Hani
"Iya Ma," kata Rika
Beberapa jam menunggu akhirnya Gino kembali kerumah.
"Ada kiriman untuk kamu," kata Hani sambil memberikan surat itu.
"Dari siapa?" tanya Gino sembari masuk kedalam rumah.
"Kita tidak tau mas," kata mereka berdua.
Gino menumpaskan tubuhnya pelan di sofa ruang tamu. Lalu membuka perlahans surat itu. "Surat dari pengadilan Ma," kata Gino lalu membaca isinya .Mulainya ia biasa saja membacanya namun saat mencapai inti nya ia cukup kaget.Lalu ia meremas kertas putih bertinta hitam itu.
"Ada apa mas?" tanya Rika
"Dia kembali mengajakku berperang kembali? tidak puas dia," kata Gino dengan rahang mengeras.
"Tania? apa yang wanita itu inginkan?" kata Hani lalu meraih kertas yang sudah cukup usang karena di remas oleh Gino
" Gino , tenang saja. Mau ia ajukan apa saja Deby pasti akan tetap berada di genggaman mu," kata Hani
"Kenapa si Mas masih menahan anaknya Tania, biarkan saja Deby bersama mamanya. Memang nya kenapa si mas?" Kata Rika
"Kamu tidak akan mengerti apapun Rika, jadi lebih baik kamu diam lah," kata Gino
"Aku tau mas, aku sangat tau bagaimana perasaan Tania selama ini, ini keterlaluan mas kenapa kamu tidak melepaskan saja Deby memilih Mamanya. Tania itu mama nya lho," terang Rika
Gino mencengram kuat bahu Rika lalu menatap tajam Rika
"Kamu mau tau alasan nya mengapa aku mempertahankan Deby bersamaku? supaya Tania berlutut kembali padaku ! kamu mengerti itu? Hah!"
Bruk!
Dengan rasa emosi Gino mendorong Rika hingga terjatuh kelantai.
"Akhhh, mas ...!" jerit Rika meraba perut nya yang terasa sakit.
Gino menyadari kesalahannya.
"Rika, maafkan aku. Aku khilaf melakukan nya, "
"Gino kamu sangat keterlaluan sekali, darah!" kaget Hani sambil mendekati Rika yang terlihat kesakitan.
__ADS_1