
“Zain! Adek gue!”
Bang Refan berlari begitu keluar dari mobil.
Hap!
Kutepuk jidat saat melihat bang Refan yang datang langsung peluk-peluk orang.
“Huwa! Adek gue udah gedek ternyata?!”
“Eh? Bang, maksudnya apa?”
“Lo Zain, kan?” tanya bang Zidan.
“Bukan, bang, saya Zafran,” ucap Zafran-adik kelasku. “Permisi, bang, saya mau pulang.” Zafran mengurai pelukan bang Refan , kemudian berlalu memasuki motornya dan hilang sekejap mata, meninggalkan bang Refan yang berdiri dengan kaku.
Memalukan! Bukan abangku pokoknya! Titik!
Siswa-siswa yang masih berada dilingkungan sekolah menatap bang Refan dengan pandangan aneh. Mungkin, pikir mereka bang Refan 'tak waras karena asal peluk orang. Dasar! Abangku itu! Walaupun memang kurang waras sih. Eh?
“Ara , Zain yang mana?” tanya bang Refan.
Kutunjuk dengan dagu kearah lapangan basket dimana Zain, Reno dan teman-temannya berada.
Memang, sekarang sudah pulang sekolah. Kata mereka, mereka pengen main basket dulu pulang sekolah. Jadi, karena bang Refan datang kesekolah buat ketemu Zain. Aku berniat menjemputnya didepan parkiran sekolah. Kebetulan, dijalan tadi bertemu Zafran-adik kelasku, jadi barengan.
“Bang Refan malu-maluin, sembarangan peluk-peluk orang!”
“Gue pikir itu Zain,” ucapnya. “Ya, udah. Ayok!”
“Kemana?”
“Kelapangan basket lah! Kemana lagi?”
Aku hanya ber-oh dan mengikuti langkah bang Refan sekaligus menarik tali tas yang sedikit turun dari bahu.
Aku mengernyit saat melihat jalan bang Refan yang bukan kearah lapangan basket. Apa dia tidak tahu jalan?
“Abang nggak tau jalan, ya? Ini bukan ke arah lapangan!”
Bang Refan menoleh, “Ya kali gue pikun! Gue lapar, pulang kuliah langsung kesini, jadi kantin dulu.” cengir lebar terpampang di wajahnya.
Tadi katanya ke lapangan basket!
“Siapa suruh pulang kuliah langsu—”
“Udah, diem.” tanganku ditarik bang Refan . Ya udahlah pasrah aja. Kasian gembel belum makan.
Akhirnya aku menemani bang Refan makan di kantin. Sekaligus ikut makan, rugi dong kalau nggak makan, mumpung dibayar bang Refan . Padahal kantin udah mau ditutup sama Mina, anak yang punya kantin sekolah, juga anak sekolah disini, satu angkatan denganku, tapi 'tak sekelas.
“Maaf ya, Min, Abang Ara ngerepotin,” ucapku tulus pada gadis berkerudung yang duduk di depanku.
“Ah, i-iya, ngga pa-pa kok.” gadis itu menunduk, entah apa yang dilihatnya dibawah. Apa ada harta Karun?
Bang Refan terus makan tanpa memerhatikan percakapan kami. Kepalanya mangguk-mangguk seraya memasukkan satu sendok nasi goreng terakhir ke dalam mulutnya. Selanjutnya ia menyerahkan piring kosong ke Mina.
“Tambah.”
Aku yang hendak berdiri terhenti mendengarkan ucapan bang Refan . Lantas menoleh padanya yang masih menyondorkan piring pada Mina yang terlihat menunduk.
“Abang! Lapar apa doyan, sih?!” keluar juga pertanyaan yang bergelut di kepalaku sedari tadi. Pasalnya, bang Refan sudah menghabiskan tiga porsi, dan sekarang nambah lagi?!
Bang Refan menampilkan gigi-giginya bagaikan bintang iklan Pepsodent, tapi sayang giginya ada cabai. Ck, cowok cabai!
“Ya udah, Abang disini aja, Ara mau pulang! Nggak usah ketemu Zain juga!”
“Eh, iya-iya,” ucap bang Refan, kemudian menghadap pada Mina, “Semuanya berapa, dek?” tanyanya.
“Ti-tiga puluh, bang.”
Bang Refan menyondorkan uang pas pada Mina, yang diterima gadis itu.
“Lain kali masaknya dirumah Abang aja, dek.”
Mina yang sedari tadi menunduk, mendongak menatap bang Refan . Terlihat raut bingung di wajahnya. Sedang aku hanya menyaksikan interaksi mereka yang terlihat seperti ada uwwu-uwwuannya gitu.
“Maksud, Abang?” tanya Mina.
Bang Refan hanya tersenyum sembari menarik tangan ini menjauhi kantin setelah meninggalkan satu usapan pada kepala Mina. Aku mengerti maksud bang Refan . Terlihat ia yang masih senyum-senyum. Ku senggol lengannya.
“Acieee, ada yang jatuh cinta pandangan pertama, nih?” godaku.
Bang Refan membuang muka. Mungkin malu.
“Namanya Mina lho, bang, cantik, kan, kayak orangnya, Sholehah lagi, pinter masak, jadi kapan nih lamarannya?” tanyaku lagi-lagi menggodanya.
Bang Refan menjepit kepalaku pada ketiaknya. Lantas kami tertawa bersama.
***
“Lo, beneran Zain?” bang Refan mengusap pipi itu.
__ADS_1
“Gue Rendi, bang.”
Aku hanya mampu geleng-geleng kepala melihat kebodohan bang Zidan yang datang-datang langsung mengusap pipi Rendi. Tadi meluk Zafran, sekarang ngusap pipi Rendi, nanti apa lagi?
Bang Refan menurunkan tangannya dari pipi Rendi, beralih menatap ke arah suara bola basket yang beradu dengan lantai. Bang Zidan langsung berlari ke tengah lapangan meninggalkan aku, Reno, dan Rendi dipinggir lapangan. Yah, tinggal kami, sedangkan teman-teman Reno yang lain katanya sudah pulang.
Dari kejauhan aku bisa menatap bang Refan memeluk sosok itu dari belakang, Zain, sesudah kembaranku itu memasukkan bola basket pada ringnya. Terlihat mereka berdua saling berpelukan ditengah lapangan, aku bisa menebak dari kejauhan sini, pasti bang Refan dan Zain menangis. Hanya saja obrolan mereka 'tak terdengar ke tempat kami berdiri.
“Soswit banget sih mereka.”
Aku menoleh pada Rendi yang berujar. Terlihat matanya yang menatap ke arah bang Refan dan Zain, seakan yang dipandangnya adalah sesuatu yang sangat merugikan jiga 'tak dilihat.
“Kenapa lu?” tanya Reno, yang ternyata juga memperhatikan Rendi.
“Seandainya gue punya sodara juga.”
“Lo punya kok,” sahut Reno, mengalihkan pandangannya dari Rendi ke arah lapangan. Dimana bang Refan terlihat sedang menangkup wajah Zain.
“Kita, kan, saudara Lo,” lanjut Reno menepuk-nepuk pundak Rendi.
Aku mengangguk mengiyakan ucapan Reno.
“Oh, iya, gue lupa kita sodara.” tanpa aba-aba Rendi menyandarkan kepalanya pada bahu ini.
“Ck, saudara-saudara, tapi nggak usah nyandar sama Ara !” Reno menyentak Rendi, mengambil celah, kemudian berdiri diposisi Rendi tadi yang memang berada di sebelahku. Aku hanya mengedikkan bahu, kemudian menatap pada bang Refan dan Zain yang berjalan ke arah kami dengan saling merangkul bahu.
“Gimana bang, adik kecilnya?” tanyaku meledek bang Refan , setelah mereka berdua benar-benar sudah di hadapanku.
Bang Refan tersenyum, “Udah gedek ternyata, tapi Alhamdulillah ternyata gue punya adek yang waras juga.”
Maksudnya?
“Emang ayah belum punya istri selain bunda?” tanyaku.
“Ayah nggak pernah menikah sama wanita manapun, gue rasa ayah masih cinta bunda,” jawab Zain.
“Jadi, ibunya Rissa dimana? Kalau ayah nggak nikahin ibunya Rissa, terus-ah Ara bingung.” kuguyar rambut kepala karena merasa gerah.
“Bingung ya bingung, Ra . Nggak usah dikibar rambutnya, Lo keliatan seksi kalo gitu, ntar iman gue goyah,” ujar Rendi yang dihadiahi jitakan oleh Reno.
Aku hanya acuh pada ucapan Rendi. Toh, aku memang seksi and cuantek. Pede!
“Abang juga bingung, satu-satunya cara yaitu kita tanyain langsung sama ayah dan bunda, karena bagaimanapun mereka pasti tau tentang jalang itu.” bang Refan menatap ke arahku dan Zain bergantian.
“Jangan bilang jalang bang, kita nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, dan juga gue rasa nenek punya alasan kenapa dia bawa anaknya ayah dari wanita itu kerumah kalian.”
“Zain udah tau?”
“Abang! Ara pulang bareng siapa?!” tanyaku sedikit berteriak karena bang Refan sudah terlihat jauh.
“Sama Reno aja!”
Aku mengangguk. Kemudian menoleh pada tiga makhluk yang air mukanya terlihat berbeda. Rendi yang cemberut, Reno yang tersenyum, dan Zain yang terlihat sedih. Sedetik kemudian kembaranku itu berlari ke arah bang Refan menghilang. Aku tau ia akan mengejar bang Refan . Mungkin minta maaf karena membuat bang Refan kesal. Sebenarnya aku paham maksud Zain, ia bukan membela ibunya Rissa. Namun, disisi lain aku juga tahu perasaan bang Refan yang sangat membenci wanita itu.
“Ayo pulang.”
Aku menggangguk, merasakan genggaman hangat ditangan seiring dengan kaki yang mulai melangkah.
Aku tersenyum dalam hati menatap pada genggaman tanganku dan Reno yang tersinari matahari sore. Aku berharap Reno 'tak pernah berubah dan tetap perhatian seperti ini. Selamanya.
“Gue ditinggal?!”
Reno berbalik menatap Rendi. Ah, genggaman tangan copot. Aku melotot pada Rendi sambil mengarahkan jari telunjuk pada leher, mangisyaratkan aku ingin membantainya.
“Kenapa Lo, Ra ?” tanya Rendi.
Aku menggeleng mendelik padanya. Segera menarik tangan Reno dan membawanya menjauhi Rendi. Lagian sebel! Enak-enakan romantis digangguin!
“Woy! Ra gue nggak bawa motor, ntar gue pulang sama siapa?”
'Tak ku pedulikan ucapan Rendi dan semakin menarik cepat tangan Reno. Pacarku ini, masa harus dibagi!
“Kasian Rendi, ntar pulang naik apa?” tanya Reno begitu sampai diparkiran.
Keningku mengkerut. Jadi maksudnya Rendi nebeng dia, terus aku jalan kaki? Gitu?!
“Jangan pikirin yang aneh-aneh,” ucap Reno.
Aku membuang muka menatap pada sosok yang baru keluar dari mobil. Aku langsung berlari menghampiri bang Rey dan memeluk sepupuku itu.
“Bang Rey! Belum berangkat ke Australia?”
Kurasakan usapan lembut dikepala.
“Belum, Abang liburnya tiga bulan,” jawabnya. “Ayo pulang bareng abang.”
Aku mengangguk dan segera memasuki mobil sepupuku ini. Selanjutnya mobil berjalan meninggalkan pekarangan sekolah menuju jalan raya.
“Tadi abang kerumah, tapi nggak ada siapa-siapa dirumah.”
Aku mengangguk. Mungkin bunda pergi lagi sama gadis itu.
__ADS_1
“Ngapain disekolah sampai sore? Dan juga sama siapa?”
Aku menepuk jidat. Baru ingat tadi aku bersama Reno diparkiran dan langsung meninggalkannya. Tapi, 'tak apalah, bukankah ia ingin mengantar Rendi? Dari pada aku berjalan lebih baik pulang bareng bang Rey.
“Kenapa?”
“Nggak pa-pa, bang. Tadi ada nyamuk hehe.” kutepuk lagi jidat, ingat saat ini dimobil, mana ada nyamuk.
***
Malam.
Aku membaringkan tubuh di ranjang. Menggeliat sedikit untuk melemaskan otot-otot yang terasa pegal karena sehabis pulang sekolah tadi diajak bang Rey main-main.
Segera menuju alam mimpi dan berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.
Tok! Tok! Tok!
Mataku kembali terbuka saat mendengar ketukan pada pintu kamar. Segera turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu.
Tok! Tok! Tok!
“Iya-iya sebentar!” kubuka kunci pintu dan segera menarik kayu yang berbentuk persegi panjang itu.
Keningku mengkerut melihat bang Refan yang berdiri didepan pintu.
“Ngapain, bang?”
“Gue numpang tidur dikamar Lo, ya.” bang Refan berujar dengan cengir yang membuatku mengeryit padanya.
“Kenapa nggak dikamar abang aja?”
“AC dikamar gue mati.”
Ku hembuskan nafas panjang. Bang Refan memang 'tak bisa tidur jika tidak ada AC. Jadi kasihan melihatnya yang menenteng bantal dan peralatan tidurnya yang lain. Persis seperti orang yang ingin pindahan rumah.
“Ya udah, mas—”
Mataku melotot melihatnya yang langsung masuk dan berbaring di ranjang.
“Nggak sopan!”
Bang Refan lagi-lagi cuma nyengir.
Aku segera berbaring disampingnya. Mengikuti arah pandang bang Refan yang tengah menatap langit-langit kamar.
“Rs , gue suka sama si Mina,” ucapnya dengan senyum-senyum.
“Yakin?”
Bang Refan mengangguk. “Abang yakin dan pengen serius.”
“Abang tau perbandingan keluarga kita sama Mina?”
“Abang nggak liat harta untuk suka orang.” matanya menatapku seakan menyalahkan pertanyaanku barusan.
Maksudku bukan begitu.
“Maksud Ara nggak gitu, bang. Tapi, kayak sekarang aja, Abang nggak bisa tidur tanpa AC, sedangkan Mina dan keluarganya hidup sederhana, nggak kayak abang.”
“Seandainya abang beneran mau serius sama Mina, nikah sama dia umpamanya, mau nggak mau Abang harus bisa hidup sederhana kayak mereka, nggak mungkin, kan, Abang pulang kerumah mertua tapi tidurnya di hotel?”
“Kalo gitu semua kamar di rumah Mina akan Abang pasang AC.”
Aku menggeleng 'tak menyetujui jawaban bang Refan .
“Kalo gitu, Abang sama aja nggak menghargai kehidupan Mina dan keluarganya.”
Setelah mengucapkan itu aku segera menarik selimut dan memejamkan mata karena mata sudah di radang kantuk.
Hening.
“Kalo gitu, Abang tidur dikamar aja.”
Aku kembali membuka mata, menatap bang Refan yang hendak berjalan kearah pintu.
“Tapi kata Abang AC nya mati?”
Ia menoleh saat setelah memegang gagang pintu, “Abang mau jadi menantu di keluarganya Mina, jadi harus usaha.”
Klik! Bunyi pintu tertutup.
Terkekeh sedikit mendengar jawaban bang Refan. Kembali memejamkan mata.
Ujianmu masih banyak, abangku! Mina bukan sosok yang mudah luluh dengan laki-laki.
Semoga sukses!
👋🙋Haii readers,
Semoga suka dengan ceritanya.
__ADS_1
Tinggalkan like dan koment bawelnya.