Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 111. Gejala Ngidam Reno


__ADS_3

Reno melangkah masuk ke dalam kantor, saat akan mendekati tempat karyawannya yang telah berdiri rapi, karena melihat kedatangannya, mendadak rasa mual terjadi. Perutnya serasa di aduk-aduk. Dan ada yang mau keluar dari tenggorokannya.


Bau parfum yang di pakai para orang-orang di situ, sangat menusuk ke indra penciumannya, membuatnya pusing dan mual seketika. Pak Reno menutup hidung dan mulutnya dengan satu tangan, dan berjalan cepat meninggalkan mereka. Tak mempedulikan sapaan semuanya.


Saat sampai di ruangannya, pak Reno langsung merebahkan kepalanya yang sangat pusing. Padahal waktu berangkat ke sini, semua baik-baik saja.


"Permisi Pak," sapa Indra, asisten sekaligus sekretaris pak Reno di kantor.


"Ada apa?"


"Ada berkas yang harus Bapak tanda tangani, dan sekalian saya kasih tau, Bapak ada jadwal meeting jam 2 nanti," ucap Indra, berjalan mendekat ke arah pak Revano.


"Bapak baik-baik, aja?"


"Hmm, saya harus tanda tangani yang man—" Perkataan pak Reno terpotong, saat lagi-lagi rasa mual terjadi karena bau parfum Indra. Tapi sekarang sudah mau keluar. Pak Reno langsung berdiri ke toilet di ruangannya, memuntahkan yang memang sedari tadi mau keluar. Indra sendiri tinggal terbengong, dengan ke adaan bosnya.


"Bapak sakit?" Indra perlahan mendekat, tapi langsung dicegah pak Reno.


"Jangan mendekat, bau parfum kamu bikin saya mual. Kalian semua pake parfum apa, sih? Baunya kenapa sangat menyengat." Indra cuma diam tercengang, perasaan dia tidak ganti parfum, kemarin-kemarin bosnya fine-fine saja dengan baunya. Lha sekarang?


"Saya tidak ganti parfum, Pak. Baunya juga oke-oke saja," ucap Indra, sambil menciumi bau parfum di bajunya.


"Tapi kenapa baunya —" Lagi-lagi pak Reno memuntahkan isi perutnya. Indra jadi serba salah, mau mendekat membantu bosnya, malah semakin membuatnya muntah. Tinggal diam juga ... membuatnya entahlah.


"Saya telepon dokter ya, Pak?"


"Tidak usah," ucap pak Reno, kemudian membersihkan mulutnya dan bekas muntahnya di wastafel.


"Udah baikan?"


"Sedikit, kamu keluar deh. Kalau mau lama-lama di sini, kamu ganti parfum sana," usir pak Reno. Indra menelan ludahnya, hey parfumnya itu mahal loh. Se enak hatinya bosnya menyuruh dia ganti parfum. Karena tidak mau mengganti parfumnya yang berharga bajibun, Indra memilih keluar. Nanti sajalah dia mengambil kembali berkas itu, kalau sudah di tanda tangani pak Reno.


Begitu seterunya, setiap ada orang yang masuk, pasti berakhir di omeli dengan bau parfum yang dipakai mereka. Dan yah, Indra lah yang menjadi sasaran pertanyaan yang mereka semua lontarkan.


Indra membukan kembali pintu ruangan bosnya, dan dengan hati-hati melangkah masuk. Jangan lupakan jaraknya, sekitar sepuluh langkah dia berdiri, dari tempat pak Reno.


"Bapak serius tidak mau di teleponkan, dokter?" Melihat penampilan bosnya, yang sudah ambrudal. Dasi yang sudah bukan di tempatnya, dan rambut yang sedikit berantakan.


"Telpon istri saya," ucap pak Reno.


"Tapi saya enggak punya nomorny, Pak," ucap Indra.


"Pake hp saya." Indra berjalan mendekat, baru ingin mengambilnya, pak Reno sudah berdiri lagi kembali ke dalam wc.


"Masih sak—"


"Jangan mendekat saya bilang, telpon saja istri saya!" sentak pak Reno. Tanpa menjawab, Indra langsung masuk ke aplikasi telepon, dan mencari kontak yang tertulis nama ... 'My Wife.'


Tanpa menunggu lagi, Indra langsung menggeser nama kontak Ara.


Di kampus Ara.


Sedangkan Ara yang masih dalan kelas, yang di isi pak Gino, kaget dengan getar dari handphonenya. Dengan kekuatan, Ara izin keluar. Pak Gino awalnya melarang, tapi setelah Ara maju dan memperlihatkan siapa yang menelpon, dengan terpaksa pak Gino mengangguk.


Ara keluar kelas, dan mengangkat telepon itu.


"Assalamualaikum, kenapa Mas?"


"Waalaikumsalam, emm begini Bu ...."


"Ini siapa?"


"Oh, saya Indra Bu. Asistennya pak Reno," ucap Indra, dengan nada agak gugup campur panik.


"Ah iya, saya lupa. Kenapa?"


"Begini ... pak bos kayaknya sakit, dari tadi muntah-muntah," kata Indra.


"Muntah-muntah?"


"Iya Bu. Bisa datang ke sini gak? Soalnya pak bos enggak mau di panggilin dokter, maunya Ibu," ucap Indra. Ara nampak berpikir, bagaimana caranya minta izin dengan si dosen killer?


"Baik, saya ke sana. Saya matiin dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, mau saya jemput Bu?"


"Tidak usah, saya bawa mobil kok. Ya udah ya, saya matiin."


"Iya Bu."


Ara kembali melangkah masuk ke kelas, Risa Tania, dan pak Gino memandangnya dengan tanda tanya. Karena tidak mungkin Reno menelpon di saat jam pelajaran, begini.


"Maaf Pak, saya izin pulang," ucap Ara.


"Ada apa?"


"Keluarga saya ada yang sakit," ucap Ara dengan wajah memohon, agar tidak di introgasi.


"Yang sakit siapa?"


Salahkan bila Ara melempar pak Gino dengan bukunya sekarang? "Keluarga saya, Pak. Maaf Pak, saya izin sekarang. Sudah mendesak," ucap ARA , dan merapikan buku dan mengambil tasnya. Mengabaikan tatapan bertanya dan tatapan aneh, semuanya.


"Lo kenapa emang, Ra ?Siapa yang sakit?" tanya Tania.


"Pak suami," bisik Ara, dan berlalu meninggalkan kelas dan menuju lift.


Sesampainya di parkiran, Ara langsung memasuki mobilnya dan membawanya keluar kampus. Membela jalanan, menuju kantor pak Revano. Walaupun dia belum pernah ke sana, tapi tentunya dia tau jalannya.

__ADS_1


Sesampainya di sana, Ara langsung memarkir 'kan mobilnya, dan melangkah 'kan kakinya untuk pertama kalinya di kantor suaminya.


Ara menuju meja resepsionis, untuk menanyakan ruangan pak Revano.


"Ruangan ma‐pak Vano di mana ya, Mbak?" tanya Ara, yang hampir menyebut 'mas', tapi enggak apa-apa sih.


"Adek siapa?" tanya balik resepsionis itu, yang bernama Nadia. Parahnya dia memanggil Ara 'adek', adek oi.


"Saya is- temannya," ucap Ara, yang lagi-lagi hampir keceplosan.


"Sudah ada janji?"


Dalam hati Ara mengomel, mau ketemu suami sendiri apa perlu buat janji, kah? Tapi pikiran sehat Ara mencoba bersabar, kan salahnya sendiri yang tak pernah mau ikut. Setiap kali di panggil ke sini, begini 'kan jadinya.


"Belum Mbak, tapi saya di suruh ke sini."


Resepsionis itu meneliti penampilan Ara, mulai dari sepatu hingga wajahnya. "Tapi maaf, Dek. Tidak bisa ketemu kalau belum buat janji, dan lagi saya lihat pak Vano sedang kurang sehat," ujar resepsionis itu, masih berusaha sopan.


"Nah, justru itu. Saya kesini mau lihat ke adaannya Mbak, astaga." Aramenarik nafasnya dalam, agar tidak membuat rusuh. Masalahnya dia sudah sangat khawatir dengan suaminya sekarang, ya Tuhan.


"Tapi Dek, tidak bisa kalau belum buat janji."


"Memang bukan janji, Mbak. Tapi saya di suruh langsung sama pak Reno, buat datang kesini!"


"Jangan buat saya marah, Dek! Saya tau, banyak perempuan yang cuma modus seperti ini!"


Demi apa? Ara di kira mau modus? Mau ketemu suami sendiri di kira, modus? Hello, ini Ara bell Sofyani Renanta istri sah dari Reno Bara Fernandez baik di mata hukum maupun agama.


Ingin sekali Ara mengatakan itu dengan langsung sekarang, tapi nanti dikira orang enggak waras, terus di panggil 'kan satpam. Dan di usir, uhh memalukan.


"Maaf Mbak, tapi saya serius. Enggak modus," ucap Ara dengan senyuman yang di buat, setenang mungkin.


Saat itu juga, ada karyawan perempuan yang datang, dengan rok di atas lutut yang sangat menjepit. Baju yang belahan dadanya hampir terlihat, bibir yang menor. Menatap Ara dengan tatapan angkuhnya.


"Kenapa Nad?" tanya perempuan itu ke resepsionis.


"Ini, katanya mau ketemu sama pak bos. Belum ada janji, terus dia bilang ... pak Reno yang menyuruhnya datang," ujar resepsionis itu, dengan menatap Ara dengan tampang mengejek.


"Anak ingusan, ini?"


Demi Tuhan, emosi Ara sudah di ujung tanduk. Tadi dikatai modus, sekarang dikatai anak ingusan.


What the hell?!


"Memang saya di suruh ke sini, sama pak Reno!"


"Jangan ngawaur, Dek! Tidak mungkin pak Reno yang menyuruh kesini, kan Ge?" tanya resepsionis itu, ke perempuan tadi. Yang tidak penting Ara ketahui namanya, yang jelas dia sudah menjulukinya 'Perempuan kurang belaian, atau si menor.'


"Iya, paling dia sama dengan perempuan yang sering datang. Mau di kasih uang berapa, emang? Masih bocah udah mata duitan!" sembur perempuan baju kurang bahan itu.


Tanpa menunggu lama, Ara langsung mengeluarkan hpnya, membuka aplikasi whatsapp, dan memencet 'panggilan vidio.' Sambil menatap mereka berdua tajam. Tanpa menunggu lama, panggilannya sudah terangkat.


Ara membulatkan matanya, penampilan suaminya sunggu sangat berantakan. "Kamu di mana, sayang?" tanya pak Reno dengan suara seraknya. Jangan lupakan, suaranya sudah Ara speaker. "Sudah sampai nih, tapi karyawan Mas melarang Ara naik ke ruangan Mas!" ucap Ara dengan penuh penekanan, dengan menekan kata 'mas' dan 'karyawan'.


"Siapa?" Ara tersenyum kemenangan, mengarahkan kamera belakang hpnya, ke arah kedua karyawan itu yang terdiam mematung.


"Mereka, dan parahnya lagi ... aku di katain moduslah, anak ingusanlah, bocahlah, emang Ara kayak gitu?" Ara mengeluarkan senjata andalannya, yaitu mata yang ingin menangis.


Sedangkan di sana, pak Reno langsung pergi menjemput Ara . Mengabaikan rasa pusing dan mualnya. Reya sendiri? Jangan tanyakan, pastinya dia sedang tersenyum jahat. Itu akibatnya jika melawan seorang Ara.


Tidak perlu menunggu lama, pak Reno sudah datang. Dengan penampilan yang di bilang ... cukup rapi. Dasinya sudah di tempat yang semestinya, kemejanya sudah tertutupi dengan jas, cuma rambutnya yang agak berantakan. Di ikuti Indra di belakangnya.


Bagaimana 'pun, dia harus jaga image di depan para karyawan. Ekhem, tapi sedikit koreksi nih ... sebenarnya Indra yang menyuruh atau mengusulkan untuk merapikan penampilan, kalau pak Reno sih ... langsung tancap saja tanpa mempedulikan. Tapi untungnya Indra memberi tahukan, itu.


"Maaf Pak, saya tidak tau. Saya kira dia berbohong. Maaf sekali lagi Pak," ucap Nadia, si resepsionis. Sedangkan perempuan lipstik menor itu, terdiam kaku.


"Siapa yang kalian kata-katai, tadi?!" Sangat Dingin dan datar, pak Reno bertanya dengan wajah datar.


"Di- dia Pak," tunjuk Nadia ke Ara.


"Kalian tau, siapa dia?!" Mereka berdua kompak menggeleng. Bahkan seluruh karyawanpun diam, tanpa mempedulikan pekerjaan yang menumpuk.


"Kalian semua juga mesti tau, dia ... istri saya!" ucap pak Reno lantang, dan membawa Ara meninggalkan semuanya.


Indra sendiri, tinggal berdiri menatap mereka dengan senyuman mengejek. Entah apa yang dipikirkan laki-laki itu.


"Dengar, kan? Istri! Dia istrinya pak Reno," ucap Indra dengan menekan kata 'istri.'


"Istri sah?" tanya si perempuan berlipstik menor, tadi.


Indra menatap tak percaya, hey dia pikir bosnya laki-laki macam apa? "Istri sah, di mata hukum maupun agama! Kamu pikir istri apa? Sirih?!" Kemudian Indra juga, pergi berlalu meninggalkan semuanya.


Sepeninggalan Indra, semua berkumpul membicarakan topik itu. Ada yang tak percaya, seperti si perempuan menor itu. Ada yang bodo amat, ada yang menangis buaya, dan lain-lain.


Didalam Ruangan Reno


"Kamu enggak di apa-apain, kan?" tanya pak Reno penuh kekhawatiran, menduduk 'kan Ara di atas pangkuannya.


Anggap saja, mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Harusnya Ara yang nanya, Mas baik-baik aja? Indra bilang, Mas muntah-muntah," ucap Ara, menghadapkan wajahnya dengan wajah pak Reno.


"Tadi emang mual banget, muntah-muntah mulu. Soalnya bau parfum mereka, menyengat," ucap Reno, merebahkan kepalanya di pundak Ara.


"Kenapa gitu? Bau parfum Ara gimana?"


"Kamu beda, wangi. Mas suka," ucapnya, sambil menghirup bau parfum yang melekat di baju dan kulit Ara..

__ADS_1


Ara terkekeh, ada-ada saja suaminya itu. Perasaan tidak ada yang salah dengan bau parfum mereka semua, baik-baik saja. Apa indra penciuman suaminya yang bermasalah?


"Mas serius, wangi kamu beda."


"Iya deh, jadi gimana ... Mas mau pulang atau tetap di kantor?"


"Di sini aja, masih banyak pekerjaan Mas yang belum selesai," ucap pak Reno.


"Dasar gila kerja, udah sakit masih maunya kerja," kata Ara


"Mas enggak sakit cuma mual-mual doang," elak Reno, sambil memejamkan mata.


"Sama aja. Tapi kenapa bisa langsung mual? Perasaan dari rumah, Mas baik-baik aja tuh," ucap Ara, dengan memegang pipi dan dahi Reno.


"Enggak tau, pas masuk kantor, bau mereka semua menyengat. Buat Mas mual." Pak Reno melepas tangan Aradari pipinya, dan kembali membenamkan wajahnya di leher Ara. Dan jangan lupa, tangannya sudah kesana-kesini di dalam baju kaos yang di kenakan Ara.


"Tangannya Mas, ih!" Ara memukul-mukul tangan suaminya, menyuruhnya menghentikan tangannya yang audah bergerak nakal.


"Sebentar, sayang," gumam pak Reno.


"Nanti ada yang masuk."


"Pintunya sudah Mas kunci."


"Mas jangan mesum!"


"Sama istri sendiri," ucapnya, masih dengan aksinya. Ara berdecak, suaminya ini sangat-sangat keras kepala disaat-saat seperti ini.


Di Kampus


"Tan, tunggu. Lo mau gak, jalan sama gue nanti?" tanya Thiar, sambil mensejajarkan langkahnya dengan Tania.


"Jam berapa?"


"Pulang kampus."


"Boleh, gue tunggu di parkiran nanti. Gue pergi dulu. Bye."


"Bay, gue tunggu!" Thiar bersorak dalam hati, dan tersenyum.


"Elah, seneng banget kelihatannya. Mau pergi kencan?" celetuk Zaki, yang sudah ada di samping Thiar.


"Semacam gitulah. Doain ya, semoga gue berhasil," ucap Thiar.


"Tapi jangan maksain kehendak, bro. Kalau dia bilang iya, berarti 'iya'. Tapi kalau dia bilang tidak, ya jangan lo paksa," ucap Zaki.


"Tenang, gue selalu ingat kata-kata lo."


Seperti kata Thiar tadi, sekarang mereka berdua sedang ke wahana permainan. Di tengah-tengah ributnya para pengunjung, Thiar menarik nafasnya dalam-dalam.


"Tan."


"Napa?"


"Gue serius, enggak punya maksud mempermainin lo. Gue ... cinta sama lo, udah lama. Tapi gue enggak pernah berani maju, gue takut di tolak, dan berakhir gue jadi kekanak-kanakan. Sekarang gue tau, arti cinta sesungguhnya. Mungkin ini terlalu garing ... gue cinta sama lo, lo mau ngasih gue kepercayaan buat jadi pasangan lo? Jadi pacar lo?"


"Gue masih butuh waktu, Yar."


Tania bukan tipekal perempuan yang tidak peka, dia sangat peka dengan keadaannya dengan Thiar. Dia tau, Thiar menyimpan rasa, lebih dari seorang teman dengannya. Tapi sekarang dia butuh waktu, mempercayakan hatinya dengan Thiar atau ... orang lain.


"Gue tunggu. Dan yang perlu lo tau, Tan. Gue cinta sama lo. Apapun jawaban kamu nanti, gue bakal terima. Jadi ... jangan ragu buat nyampein," ucap Thiar, menepuk pundak Tania, dengan senyuman hangatnya.


"Thanks."


"No problem. Ya udah, mau beli es krim gak?"


"Boleh."


Di kantor Reno


"Mas, Ara kenapa kepengan makan rujak ya?"


"Mau?"


"Iya."


"Ayo kita pergi beli, sekalian kita pulang," ucap Reno membereskan kertas dan map di mejanya, memasuk 'kannya ke dalam tas kantornya. Lalu memasang kembali jasnya.


"Mas udah baikan?"


"Kalau dekat kamu sih, Mas baik-baik aja."


"Idih, gombal!"


"Emm, sedikit gombal sama sedikit jujur," ucap Reno, membuat Aratidak tahan menyentil ginjal, eh jidat suaminya.


Mereka keluar, dan menaiki lift. Sampai di bawah, mereka keluar lift dengan Reno langsung menutup hidungnya. Ara menggelengkan kepala dengan kelakuan suaminya, padahal baunya tidak menyengat seperti katanya.


"Sudah mau pulang, Pak?" tanya seorang manajer keuangan, yang kebetulan sedang berpapasan dengan mereka.


Reno mengangguk, tanpa melapas tangan dari hidungnya. "Masih mual, Pak?" tanyanya, karena tadi dia juga sempat kena omel dengan sang bos.


Reno kembali mengangguk. "Kita deluan ya, Pak," pamit Ara, dan diangguki balik.


Mereka melewati para karyawan, melawati begitu saja. Hanya sesekali Ara memeberikan senyuman, sebagai tanggapan sapaan mereka. Agar terkesan agak sopan.


Sorry for typo. 🙏

__ADS_1


__ADS_2