
Kejadian di mana Marvel , meminta untuk pergi melamar Risa , itu bukan cuma omongan belaka. Marvel benar-benar membuktikannya, malam ini juga, Marvel beserta nenek dan Abang-abang nya seperti Hendra,Rizal, Karfel dan Refan.Tania, Ara , pak Gino, dan pak Reno pergi ke rumah Risa . Pastinya setelah membawa beberapa benda, keperluan mereka nantinya.
Walaupun ini sangat mendadak, tapi Marvel dengan mantap ingin melamar Risa.
Dirumah Risa
Sesampainya di depan pintu rumah Risa, Marvel menarik nafasnya dalam, agar tidak gugup di depan calon mertuanya.
Risa sudah pulang duluan tadi untuk, siap-siap. Dan sekalian memberi tahukan orang tuanya.
"Santai aja kali, enggak usah gerah gitu. Perasaan, dulu gue enggak segitunya saat pergi ngelamar, Ara ," ucap pak Reno, sedikit meledek.
"Yaiyalah, lo kagak. Kan kalian dijodohin, lha gua? Pergi ngelamar, tanpa ada kata perjodohan," oceh Marvel, dengan mengipas wajahnya menggunakan tangannya.
Pak Reno merangkul pundak Marvel , dan berkata, "Bawa santai aja, jangan sampai lo salah bicara, karena grogi."
"Enak tinggal ngomong, bukan lo juga yang mau bicara," ucap Marvel agak ... sewot.
"Udah dah, ngapa pada tinggal ngegosip, bae? Orang di dalam udah nunggu, woy!" sela pak Gino.Abang Hendra memencet bell rumah, kembali Marvel menarik nafas untuk membuang grogi atau nervousnya.
"Tarik nafas dalam-dalam, dan keluarkan. Tapi jangan sampai buang angin, Bang," ucap Ara meledek.
"Au ah, ledekin aja gue terus. Dan, lo Gin, suatu saat lo bakal ngerasain apa yang gue rasain sekarang," ucap Marvel , cuma diacungi jempol pak Gino.
Pintu terbuka ....
"Sudah, datang? Ayo masuk," ajak papa Risa, Dan mereka semua masuk, lalu semuanya berkumpul di ruang tamu.
"Mungkin semua sudah tau, maksud kedatangan kami kemari?" tanya Abang Hendra diangguki kedua orang tua Risa.
"Ngomong Vel " bisik pak Reno.
"Begini Om, kedatangan saya dan keluarga ke sini, dengan niat ingin melamar anak Om. Ingin melamar Risaa," ucap Marvel lancar.
"Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu, ini?" tanya Kherul atau papa Risa.
"Yakin, Om!"
"Risa sendiri? Sudah, siap?" Risa tampak terdiam sejenak, kemudian mengangguk.
Marvel menarik nafasnya sebentar, kemudian bergeser duduk di dekat Risa. Mengeluarkan kota kecil, yang berisikan cincin. Dengan sedikit grogi, Marvel meraih tangan kiri Risa dan memasangkannya cincin di jari, manis Risa Dan sebaliknya.
"Karena semuanya sudah beres, bagaimana kalau kita langsung kepembicaraan tanggal pernikahan?" tanya Kherul.
"Langsung, nentuin?" tanya Risa, cuma dibalas senyuman papanya.
"Baik, saya setuju. Lebih cepat lebih baik," ucap abang Hendra.
"Bagaimana kalau ... bulan depan?"
"Bulan depan?!" tanya Risa dan Marvel bersamaa.
"Kenapa? kalian berdua, keberatan?" tanya balik Kherul.
"Enggak, Om. Terserah kalian semua, gimana baiknya," jawab Marvel..
"Jadi, bagaimana?"
"Kita semua ikut saja," balas nenek dan abang Hendra.
"Baik, pernikahannya kita selenggarakan bulan depan," putus papa Kherul.
"Kalau boleh, bagaimana kalau kalian berdua, juga ikut melakukan resepsi?" tunjuk nenek , ke pak Reno dan Ara.
"Enggak apa-apa 'kan, Pak?" tanya nenek ke Kherul.
"Oh iya, kalian dulu belum ngadain resepsi, kan? Tidak apa-apa, mungkin lebih bagus."
"Bagaimana? Kalian berdua, setuju?"
"Ya, Reno ikut--ikut aja. Ara bagaimana?" tanya pak Reno ke Ara , dengan mengangkat satu alisnya.
"Ya sama, Ara ikut saja."
"Om dengar dari, Risa kalau kamu hamil, ya?"
"Oh iya, sudah berapa bulan?" tanya mama Risa juga.
"Alhamdulillah, sudah masuk minggu kelima," ucap Ara.
Mau tau apa yang sedari tadi di kerja, Tania dan pak Gino? Mereka sedari tadi cuma diam-diaman, sesekali saling melirik.
Di rumah Ara
Pagi-pagi sekali, Ara sudah siap dengan pakain rapinya. Sedangkan pak Reno masih terlelepan, di alam mimpinya. Bayangkan saja, ini baru jam setengah enam. Jam di mana pak Reno, memang masih nyenyak-nyenyaknya tidur di saat hari libur.
Tapi sepertinya hari ini dia tidak bisa tidur santai lagi, karena Ara sudah menarik-narik tangannya, menyuruhnya bangun.
"Mas, bangun!"
"Mas masih ngantuk, Sayang," gumam pak Reno, dengan suara serak dan beratnya.
"Mas bangun, ih! Temenin, Ara ketemu sama teman-teman Ara !" rengek Ara, terus menarik tangan pak Reno.
"Ini masih pagi, Sayang. Terus, teman apa yang mau kamu temuin?"
"Teman lama, Ara. Ayo cepat, Mas!"
"Ya Allah, Ara. Mereka pasti masih pada tidur, sebentar aja, ya?"
"Mereka enggak kebo, kayak Mas! Emang kita udah janjian ketemu jam delapan," ucap Ara.
"Jam, delapan? Ini masih setengah enam, Sayang."
"Maksud Ara Mas bangun sekarang! Terus pergi mandi, siap-siap. Temenin Ara jalan-jalan, sambil nunggu jam delapan!"
"Emang teman lama, siapa?"
"Teman SMA Ara Mas. Semalam kita udah janjian ketemu."
"Jadi itu yang semalam kamu kerja, sampai-sampai tidurnya kemalaman? Astaga Ara."
"Ish, ini penting tauk!"
"Ada berapa orang, sih?"
"Semua teman sekelas Ara waktu, SMA. Itupun enggak semuanya, karena enggak tau nomor telepon atau akun sosmednya. Cepet ah, Mas! Kalau enggak mau, yaudah, biar Ara , Risa sama Tania aja yang pergi. Mas enggak usah temenin! Tinggal aja tidur sampai, malam!" ucap Ara ketus, dan benar-benar pergi meninggalkan pak Reno yang sedang mengusap wajahnya, kasar.
Ah, pak Reno membuat kesalaban lagi. Ara sudah marah, sudah ngambek. Dia harus mengeluarkan jurus apalagi, buat ngebujuknya?
"Oke, Mas temenin. Tungguin Mas, jangan kemana-mana. Mas, mandi dulu!" teriak pak Reno, berbangun dari tempat tidur dengan perasaan berat. Seperti ada magnet dan besi, di tubuhnya dan di kasur itu.
Selesai mandi dan memakai pakaiannya, pak Reno pergi menghampiri Ara yang mungkin sedang marah kepadanya.
Sampai di lantai bawah, dilihatnya Ara sedang duduk di sofa, dengan wajah cemberutnya. Pak Reno berjalan menghampirinya, dan langsung duduk di sebelah Ara.
"Kita sarapan dulu, yah? Baru kita pergi," ucapnya, namun tidak ada respon sama sekali.
"Ara, kamu marah?" Belum juga ada respon.
"Maaf, ya. Mas, enggak ada maksud buat kamu marah. Maafin, yah? Ayo kita sarapan dulu, baru pergi," ujar pak Reno, saat dia ingin memegang tangan Ara , Ara angsung beridiri dan berjalan ke arah meja makan.
Pak Reno menarik nafasnya, sabar. Ingat, ini salahnya! Harusnya dia menuruti, tanpa harus membantah dulu. Lihat sekarang, Ara menatapnya saja, sudah tak mau.
"Sayang, jangan marah dong. Sekarangkan, Mas sudah siap perginya," ucap pak Reno, seperti ... merengek.
"Sayang."
"By."
"Beby."
"Honey."
"Jangan marah-marah, dong. Kasihan babynya nanti, entar sedih kalau lihat bund‐" Perkataan pak Reno langsung terhenti, saat satu buah roti yang sudah di oles selai, masuk ke dalam mulutnya. Pelakunya? Sudah pasti sang istri sendiri.
"Makan!" ucap Ara , ketus. Dengan muka ditekuknya, pak Reno mengunyah roti itu.
"Kamu masih, marah?" tanya pak Reno. Ara menghentikan makannya, menatap pak Reno sejenak.tanpa ekspresi, kemudian kembali makan tanpa berniat membalas ucapan suaminya.
"Ara, Mas beneran minta maaf. Jangan marah dong, tadi Mas beneran masih ngantuk, sumpah. Mas, sama sekali enggak ada niatan, enggak mau nganterin kamu," ucap pak Reno.
"Ngomongnya udah? Kita kapan perginya kalau, Mas belum makan-makan?" tanya Ara. Pak Reno cuma tersenyum, kikuk.
__ADS_1
Di Restoran
Sekarang sudah tepat pukul 8:00, di mana jam Ara dan teman-teman semasa, SMAnya berkumpul. Sekedar informasi, tempat mereka ingin bertemu adalah restorant, di mana restoran ini sudah mereka booking. Bayangkan, seberapa besar biaya yang mereka bayar?
"Mereka jadi datang, gak?" tanya pak Reno, sambil memasuk 'kan makanan ke mulutnya.
"Jadilah, masa udah ngebooking restoran, terus enggak jadi datang. Ya rugi lah, Mas."
"Nah benar banget, rugi Ren ," sahut Marvel
"Siapa tau."
Sekitar lima menitan, tiga atau empat orang memasuki pintu. Ara, Tania, Dan Risa beridiri, dan pergi menghampiri mereka. Menghiraukan para pasangan mereka, yang saling memasang muka masamnya.
"Kita dilupain," ucap pak Gino, memasuk 'kan makanan ke mulutnya dengan kasar, begitu juga Marvel dan pak Revano. Dengan tatapan kesal, disertai mulut yang tak hentinya mengunyah.
"Awas aja kalua sampai mereka meluk, teman cowoknya juga!" ucap Marvel.
"Kalau beneran, langsung tarik aja mereka pergi," sambung pak Reno.
Sedangkan ketiga sahabat itu, sibuk pelukan atau cupika-cupiki. Tidak lama, satu rombolan yang berisikan perempuan dan laki-laki, juga masuk ke dalam restoran.
"Hello everybody!" seru seorang laki-laki yang berperawakan tinggi, putih, dengan rambut yang ala-ala oppa korea.
"Pada masih kenal, kan?" tanyanya.
"Arka , cowok playboy se 'sekolah!" seru semuanya. Yah, siapa yang tak kenal dia? Ataupun, siapa yang bisa melupakannya? Hanya orang pikun atau amnesia, yang melupakannya.
"Pada masih tau nama target incaran gue, waktu dulu juga, gak?"
"Sasa?"
"Bentar gue pikirin. Emm, gue dah lupa."
"Ratu?"
"Ovi?"
"Sera?"
"Tiva?"
Semua terus menyebutkan, sedangkan ketiga laki-laki yang cuma memerhatikan mereka. Tanpa niat ingin bergabung, yang jelas mata mereka tak luput dari pasangan masing-masing. Cuma hati mereka saja, yang tak pernah diam, selalu mengomel.
"Risa ?"
Byurr.
Mendengar nama Risa , sontak membuat Marvel menyemburkan air yang sudah masuk ke dalam mulutnya tadi.
"Jorok lo vel, untung gue kagak kena!" omel pak Gino, cuma diacuhkan Marvel.
"Benar-benar, gue lihat Risa berubah. Jadi makin cantik aja," ucap Arka, menggombal, itu membuat Marvel mencebik.
"Eh, temannya juga, kan?"
"Betul, namanya enggak pernah gue lupain. Karena apa? Nama mereka selalu gue sebut, di sepertiga malam," ucap Arka, membuat tawa mereka semua menyembur.
"Tahan Ren, jangan mengacau. Mereka cuma bercanda," ucap Marvel , padahal dia sendiri sudah berdiri dari duduknya, seperti bersiap menghampiri mereka.
Pak Gino serta pak Reno menatap Marvel datar. "Lo juga kenapa berdiri?" tanya pak Gino.
"Capek duduk," balas Marvel
...
"Ara dan Tania, kalian pasti enggak bisa lupain gue juga, kan?"
"Sotoy!"
"Serius. Enggak mau tau, kenapa?" tanya Arka.
"Kenapa?"
"Karena raganya, ada padaku," ucap Arka lagi, dengan kedipan mata buayanya.
"Gue pikir lo udah insaf, Ga. Ternyata belum," ucap salah satu dari mereka.
"Masih mau lanjutin perjuangan lo gak, Ga?"
"Apa, tuh?" tanya Arka.
"Ya dapatin semua mantan gebetan lo, buat jadi pacar?"
"Zafran, gue pikir lo juga dah berubah. Ternyata masih," ucap Jaka, sedangkan yang dipanggil Zafran cuma terkekeh. Zafran, orang yang selalu memberikan Arka tantangan, untuk menjadikan perempuan yang ditargetkannya menjadi pacar Arka.
"Tergantung, siapa tau mereka udah punya suami atau pacar? Bahkan anak. Kagak maulah entar gue kena jotos laki mereka, lagi," ucap Arka sambil bergidik ngeri.
"Pengalaman pribadi ya, Ga," ledek Fatir.
"Semacamnya. Jadi, gimana para ladies? Udah punya pasangan, gak?" tanya Arka , sambil merangkul Risa dan Ara.
"Dih-dih, nyari kesempatan dalam kesempitan lo, ka !" seru mereka.
"Udah," ucap Risa. .
"Lo Ars ? Mantan gebetan terindah, tercuek, tercantik, dan tersemuanya. Gimana? Udah punya, juga?" tanya Arka lagi, masih dengan posisi yang sama. Merangkul Ara
Sudah cukup, perasaan sabar Marvel dan Reno, sudah habis. Berbeda dengan pak Gino, karena Tania cuma di dekat para perempuan, jadi dia cuma santai.
"Tenang Ren , jangan kesana," ucap Marvel.
"Lo juga mau, kemana?!" tanya balik pak Reno dan pak Gino, saat Marvel.melangkahkan kakinya.
"Mau ... duduk!" ucap Marvel ketus dan kesal.
Sedangkan di sana, Tania yang sedang mengobrol, langsung menelan ludahnya kasar. Saat salah satu temannya, menanyakan ketiga laki-laki yang sedang duduk di dekat pojok.
"Mampus," gumam Tania.
"Kenapa, Tan? Mereka siapa?" tanya Meli.
"Kenapa dari tadi mereka liatin ke kita, semua?" tambah Linda.
"Ara , Risa , kelar hidup kalian dah," ucap Tania, semakin membuat orang di dekatnya bertambah bingung.
"Mereka siapa, sih?"
"Pacarnya Ara sama Risa ?"
"Lebih," balas Tania, meringis saat tak sengaja berpapasangan mata dengan Marvel dan pak Reno. Perasaan bukan dia yang berulah, tapi serasa dirimya yang terkena getahnya.
"Lebih?"
"Yang di make kaos merah itu, tunangannya Risa " ucap Tania, menunjuk Marvel .
"Serius?"
"Hooh."
"Ganteng banget," ucap Fara.
"Tunangan orang, oy!"
"Terus yang duanya?"
"Yang make baju baju kaos hitam itu ..., suaminya Ara ," ucap Tania, masih dengan pandangan meringisnya.
"Suami? Ara udah nikah?" tanya mereka, cuma dibalas anggukan Tania.
"Wah parah lo Ara , lo nikah enggak ngundang-ngundang!" pekik Meli, cukup keras. Sehingga membuat Semuanya menatap ke arah Meli dan Ara bergantian.
"Siapa yang nikah?" tanya semuanya.
"Ara terus Risa juga udah punya tunangan. Kita enggak ada di kasih tau, parah-parah," ucap Meli menggebu-gebu.
"Seriusan?!"
"Tau dari, mana?"
"Tania yang bilang."
"Benar Beb?" tanya Arka , Ara dan Risa cuma terdiam mematung, apalagi saat mereka menatap ke arah pak Reno maupun Marvel . Marvel dan pak Reno, menatap mereka seakan ingin melempar mereka berdua sekarang.
__ADS_1
"Mati kalian," cibir Tania.
"Mati-mati pala lo! Kenapa enggak bilang dari tadi, sih?!" kesal Ara. .
"Mana ingat gue, itupun gue baru nyadar," bela Tania.
"Gimana Ara ? Keknya hidup kita berakhir di sini, mana sekarang gue baru berstatus tunangan. Kalau lo masih ada harapan hidup, udah jadi istri, udah ngandung anaknya pula," oceh Risa tanpa rem.
"Ara hamil?" tanya Arka cuma diangguki sekilas Risa.
"Pantesan," ucap singkat Arka.
"Apa?"
"Pantesan makin cantik, kan aura orang hamil itu beda, makin cantik," ucap Arka, entah gombalan atau apa.
"Diam, ka " perintah Risa.
"Kenapa? Gue jujur."
"Diem-diem, ka Jangan nambah perkara!" tambah Tania. Demi apa, ketiganya semakin gugup dan berkeringat. Suasana mendadak panas bagi ketiganya, saat ketiga laki-laki yang mereka bicarakan berjalan ke arah mereka. Makin panas, bahkan seperti tak ada ase di restoran ini.
"Cogan, astagah! Yang make baju hitam dong. Tatapannya itu loh, tajam tapi memikat."
"Suami Ara itu."
"Yang make baju merah, demagenya eiii!"
"Tunangan gue!" sentak Risa.
"Yang di belakang mereka, dong. Yang make --"
"Pacar, gue!" potong Tania.
"Mengobrolnya serius banget, ya? Sampai lupa sama suami sendiri? Hmm," bisik pak Reno tepat di dekat telinga Ara, membuat sang empu merinding tambah takut. Entah bagaimana, dia sudah langsung berada di belakang Ara.
Marvel ? Dia berdiri di samping Risa dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya, dengan mata menatap Dina datar.
Sedangkan pak Gino, memilih duduk di samping pacarnya. Menunggu pertunjukan, suami dan istri, juga adegan sepasang tunangan itu.
Ara langsung berdiri, dan menghadap pak Reno sambil cengengesan. Dengan perlahan, Ara meraih tangan pak Reno dan membawanya menjauh dari kerumunan teman-temannya.
"Lupa, sama suami?"
"Maaf, Mas."
"Terus ke enakan dirangkul-rangkul gitu sama, cowo? Mas, kamu anggap apa?" tanya pak Reno pelan, tapi menusuk.
"Ars enggak maksud, gitu."
"Mas cemburu, Ara . Kamu tau 'kan, kalau Mas orangnya cemburuan? Posesif? Tapi kenapa kamu biarin dia rangkul, kamu? Atau karena kamu merasa aman, karna kamu di tengah-tengah teman kamu?" tanya pak Reno berurutan, dengan mengangkat dagu Ara. .
Ara menggeleng, melepas tangan pak Reno dari dagunya.
"Bukan begitu, Mas. Ara ...." Ars memberhentikan ucapannya, kemudian menunduk dengan mata berkaca-kaca.
"Ara , Mas tau kamu sama dia cuma main-main, cuma bercanda. Tapi biar begitu, hati enggak bisa dibohongi. Mas kesal, Ra," ucap pak Reno lembut.
"Maaf," lirih Ara , masih menunduk.
"Mas tanya, suami mana yang tidak cemburu? Yang tidak marah, jika melihat istrinya dirangkul mesra sama orang lain?"
"Mas enggak larang kamu dekat dengan laki-laki, tapi jangan lewat batas. Mas --" Perkataannya terhenti, saat Ara langsung memeluk tubuhnya, sambil menangis.
"Mas, minta maaf kalau kata-kata Mas buat kamu, sedih," ucap pak Reno, melepas pelukan Ara , dan menghapus air mata Ara.
"Ara minta maaf, Ara emang salah. Terserah Mas sekarang, mau ngapain ArA apa aja," lirih Ara , dengan sesugukan.
Marah dan nyali pak Reno, seketika menciut saat mendengar suara sesugukan Ara. Dia langsung sedikit membungkuk kan badannya, menatap wajah Ara yang memang sudah berlinang air mata.
Pak Reno meremas rambutnya sekilas, apa dia membuat Ara menangis lagi? Apa kata-katanya sangat, kasar? Atau mungkim terlalu, kejam? Dengan gerakan cepat, pak Reno langsung mmembawa Ara ke dalam pelukannya.
Kalau kalian tanya lagi, apa yang ditakuti atau kelemahan pak Reno? Mungkin jawabannya ... hewan hamster, tapi itu untuk nomor dua, yang paling pertama adalah,air mata Ara Kemarahannya akan menghilang, saat melihat Ara menangis. Apalagi menangis, karenanya.
"Ara tadi--"
"Stt, kamu enggak salah. Enggak apa-apa, kamu jangan nangis," ucap pak Reno, memotong perkataan Ara.
"Udah nangisnya, Mas minta maaf udah buat kamu nangis. Jangan nangis lagi, kasihan babynya Sayang. Nanti ikut sedih," rayu pak Reno, menghapus air mata Ara.
"Sini, Mas temenin cuci muka, terus kembali ke sana sama mereka," ajak pak Reno, ketoilet.
Selesai membersihkan wajahnya, mereka berjalan kembali ke arah kerumunan orang-orang di situ. Tapi saat ingin mendekat, Ara mencekal tangan pak Reno.
"Mas, enggak apa-apa kalau Ara balik ke sana?" tanya Ara hati-hati.
"Maksudnya gimana?"
"Mas enggak marah, kan?"
"Enggak, asal istri sama babynya Mas senang," ucap pak Reno, membuat Ara menundukan kepalanya lagi.
"Lho, kenapa? Mas, salah bicara lagi?" Ara menggeleng, dirinya yang terlalu sensitif, mengakibatkan dia gampang sedih.
"Maaf, Ara jadi sensitif gini. Jadi kekanak-kanakan," ucap Ara
"Siapa bilang, kamu kekanak-kanakan? Enggak ada Sayang, kalaupun ada, itu semua karena babynya. Kamu enggak salah. Kita ke sana yuk, mereka udah nunggu pasti," kata pak Reno, Ara cuma mengangguk.
Sekitar tiga langkah lagi, mereka sampainya ....
"Parah Ren , masa Farhan nikah, enggak ngundang. Malahan udah punya anak," celetuk Marvel . Pak Reno menghentikan langkahnya, memperhatikan anak yang di gendongan orang yang disebut, Farhan itu. Mungkin berumur satu tahun.
"Wah-wah, serasa enggak nyangka kalau kita bakal ketemu di sini," ucap Farhan.
"Hay bro, udah lama enggak ketemu. Gue dengar-dengar, lo udah nikah?" tanya Farhan, cuma diangguki pak Reno.
"Anak, kamu?"
"Ini istri, lo?"
Farhan dan pak Reno, bertanya bersamaan. Kemudian terkekeh.
"Iya, mau gendong? Belum gue lupa sih, sama kebiasaan lo kalau ketemu sama anak kecil, bawaannya mau gendongin mulu." Pak Reno cuma tersenyum sekilas, kemudian mengambil anak ... Farhan, anak dari teman sekampusnya dulu.
"Gimana? Anak gue ganteng, kan? Iyalah, bawaannya bapaknya," ucap Farhan, dengan menepuk dadanya.
"Narsis. Ibunya ma--"
"Ara , ya ampun! Akhirnya kita ketemu, lagi! Gue kangen tau sama kalian bertiga, kalian menghilang bagai ketelen bumi! Tau-taunya saat dapat kabar, lo udah nikah, Risa udah punya tunangan," cerocos seorang perempuan, sambil memeluk Ara. .
"Maaf, pelukannya bisa dilonggarin sedikit? Soalnya itu sesak," pinta pak Reno. Seakan tersadar, perempuan itu melepasnya dan menyengir.
"Tau nih, udah punya anak, masih aja seperti anak-anak," cibir Farhan, cuma dibalas delikan kesal.
"Tunggu, udah punya anak?" tanya Ara, cuma dibalas cengiran lagi.
"Itu anak gue," ucapnya, melirik anak yang digendongan pak Reno.
"Lo juga yang parah, udah punya anak enggak ngasih kabar!"
"Hey-hey, gimana mau kabarin kalau enggak punya nomor kontak lo. Dan lagi nyari di sosmed, kagak sempet. Anak gue rewel banget," ocehnya.
"Denger-denger, lo udah hamil?" tanya ... Dewi, cuma diangguki Ara.
"Berapa bulan?"
"Masih satu."
"Lo, masih kuliah?"
"Iya."
"Semester berapa?"
"Lo kenapa kayak wartawan, coba? Enggak ada perubahannya," ucap Ara.
"Pada betah, berdiri? Kesini duduk," panggil Marvel
"Iya, kenapa kita berdiri. kita kesana duduk."
Sesampainya di dekat orang-orang, pak Reno memilih duduk di dekat pak Gino, agar Ara tidak terlalu canggung berbicara dengan teman-temannya. Tapi di luar dugaannya, Ara. malah bergeser duduk di sebelahnya.
Sorry for typo. 🙏
__ADS_1