Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 92. Anis Yang Menggesalkan


__ADS_3

"Maafin Mas, sayang."


Apa ini furgoso! Barusan manggil 'adek' sekarang manggil 'sayang'. Jangan sampai gue luluh kembali, jangan sampai. Ra, lo masih ngambek. Jangan luluh, plis.


Author pov.


"Enggak usah, rayu-rayu!" sentak Ara , dengan membelakangi Reno.


"Kita pulang ya," ajak Reno . Tanpa menjawab, Ara langsung melongos ke kamar mandi mencuci mukanya.


Sampai di kamar mandi, di depan cermin. Ara memegang bibirnya, demi apapun. Walau marah, tetap saja jantungnya tak bisa di ajak kompromi.


"Serius bibir gue udah ada yang cicipin? Cicipin, kek makanan aja. Ahh, pokoknya lo harus jual mahal. Enggak boleh luluh!" monolog Ara kemudian mencuci wajahnya.


Ara keluar dengan wajah yang sudah segar, dengan tampang datarnya. Kemudian mengambil tas, dan ponselnya. Lalu keluar kamar, di susul Reno yang mengekor di belakangnya.


"Lo ikut sama gue dulu, minjem bentar ya Pak," ucap Tania, di balas cuma dengan anggukan kecil dari pak Reno


Tania membawa Ara kembali masuk ke dalam kamar. "Lo kenapa bohong, ha?!"


"Apa? Siapa yang bohong, emang benar kalau gue lagi __."


"Enggak usah ngeles! Walaupun lo enggak cerita, dengar nada suara pak Reno di telepon tadi, udah buat gue langsung ngerti dengan nangi-nangis lo tadi. Pak Reno beneran selingkuh?" tanya Tania dengan menyerocos.


"Belum tau juga, dia masih cinta atau ... ah udah lah, gue mau balik. Thanks tumpangan kasurnya," ucap Ara dan melongos ke luar kamar, meninggalkan Tania yang sedang mencak-mencak.


"Sudah?"


"Hmm."


"Tante, Ara pamit pulang ya. Maaf Tant, sampai ke tiduran."


"Enggak apa-apa. Tante pikir mau nginap, udah malem juga ini."


"Hehe, tidak usah Tant. Ya udah, Ara pamit. Salam buat om," ucap Ara tante Tiara cuma mengangguk.


"Ara tunggu! Gue belum selesa bicara!" teriak menggema Tania.


"Tapi sorry, gue udah mau balik. Nanti aja bicaranya, ya? Dadah," ucap Ara dengan melakukan kiss bye. Sedangkan Tania berdecak.


"Kita pulang dulu Tant, Assalamualaikum," salam Reno.


"Waalaikumsalam," jawab tante Tiara dan Tania.


Ara berdiri depan mobil Reno


"Masuk."


"Ara bawa mobil!" ucap Ara ketus.


"Sudah malam Ra, tidak baik kamu menyetir malam-malam. Apa lagi kamu baru bangun tidur, ikut sama saya ya? Mobilnya biar kamu ambil besok."


Tak menjawab apa-apa, Ara masuk ke dalam mobil yang sudah di buka 'kan pintu oleh Reno.


Dalam perjalanan pulang, Ara tetap diam. Walau sudah berapa kali Reno mengajaknya bicara, yang di pikirkan Ara sekarang, 'Kalau memang gue salah paham, bisa tidak kalau dia jelasin apa maksudnya enggak larang malah biarin Anis bergelayut kek ulat bulu di lengannya?'.


"Araaa __."


"Saya lagi malas ngomong, jangan ngajak saya bicara dulu!" ucap Ara memotong perkataan Reno , dengan nada ketusnya. Terdengar helaan nafas dari Reno.


"Tadi, kenapa bisa kamu dengan Faris?"


"Bukan urusan, Mas!"


"Jelas ini urusan saya! Kamu ketemu sama laki-laki itu, tanpa memberi tau saya."


"Oh, terus maksud Mas yang ketemu sama perempuan itu, apa? Tanpa memberi tau saya juga kan? Katanya ada masalah dengan kantor, ternyata ...." Ara menggantung ucapannya, dengan geleng-geleng kepala.


"Mas bilang kamu, salah paham!"


"Salah paham? Bisa jelasin dimana, letak kesalah pahaman itu?!" tanya Ara dengan nada mengintimidasi, yang siap menguliti siapa saja.


"Kenapa diam? Emang benar kan, kalau Mas memang bukan ke kantor melain kan ketemu dengan__."


"Itu yang kamu salah pahami! Mas memang ke kantor, Dek. Tapi __."


"Tapi ketemuan dengan, Anis! Benar kan?!"


"Terserah kamu, saja. Mau percaya atau tidak," ucap Reno tanpa sadar, juga tanpa sadar jika perkataannya barusan semakin membuat hati Ara sakit.


Lebih sakit dari di timpa bantal guling eh, lebih sakit dari di timpa ribuan batu-bata.


****sadis****...


Ara memalingkan wajahnya dengan menggigit bibirnya, agar tidak terdengar atau keluar dari mulutnya saura isakan. Bagaimana pun, dia tidak mau terlihat rapuh hanya karna masalah ini.


Sampai di rumah, Ara turun dari mobil dengan ke adaan diam duaribu bahasa. Hingga masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum!" seru Ara dengan suara sedikit bergetar.


"Waalaikumsalam. Non, dari mana? Mbok telpon enggak aktif hpnya, den Vano juga sudah nelpon Non berapa kali. Tapi enggak aktif," oceh mbok Mina.


Ara tersenyum kecil. "Ponsel Ara tadi mati Mbok, Ara abis dari rumahnya Tania. Ara naik dulu ya Mbok," pamit Ara , mbok Mina meng 'iyakan'.


"Ara di mana, Mbok?" Sayup-sayup Ara mendengar itu, tapi tak di hiraukan cuma melangkah hingga ke kamar. Meletak 'kan tas dan ponselnya, lalu mengambil handuk dan ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Ara memandangi wajahnya. Matanya yang kelihatan sembab, juga pipi yang lengket karna air mata.


"Apa gue cemburu? Kalau iya, bisa jadi cemburu gue salah tempat. Cemburu dengan orang yang jelas-jelas, memang mereka saling mencintai," gumam Ara dengan suara puraunya.

__ADS_1


Karna tidak mau larut dalam kesedihan yang mendalam, sedalam luka yang kau goreskan di hatiku ... eak. Ara memilih mandi cepat, dari pada memikirkan hal-hal yang membuat sesak dada.


Sekitar lima belas menit, Ara keluar kamar mandi lengkap dengan piyama tidur bemotif mickey mouse. Dengan rambut yang di sanggulnya. Berjalan ke arah meja rias, menyisir rambutnya juga sedikit memoles bedak tipis di wajahnya. Dan sedikit body lotion juga parfum.


" Araa __."


"Entar Ara siapin, bajunya. Mas bersih-bersih, dulu," potong Ara , dan bejalan ke arah lemari. Menyiapkan baju tidur untuk suaminya. Semarah marahnya, sekesal-kesalnya dia dengan suaminya, tetap di melakukan kebiasaan yang selalu dia lakukan sebulan terakhir ini.


"Saya mau bicara!" Reno menggenggam tangan Ara , tapi cepat Ara lepas.


"Pergi bersih-bersih __."


"Iya, emang Mas ke kantor. Tapi di kantor, Anis datang. Dia ngajak makan sebentar, juga sekalian membicarakan sesuatu. Mas nolak, tapi dia gangguin Mas terus. Dan akhirnya Mas pasrah, Mas ikut ke mana dia pergi. Benar Dek, Mas enggak ada maksud apa-apa makan dengan Anis tadi.


Anis nanya, kamu siapanya Mas. Dan Mas enggak jawab apa-apa, Mas takut kalau dia bakal ngelakuin hal macam-macam. Kalau tau kamu istri Mas. Kamu percaya kan? Mas enggak ada perasaan apa-apa lagi, sama dia Dek," ucap Reno dengan nada lembut.


"Soal ini?" Ara menunjuk 'kan foto dimana saat Anis, bergelayut di lengan Reno . Sedangkan yang di tanya cuma diam, kemudian menggeleng.


"Mas __."


"Kenapa? Ke enakan ya? Kangen di gituin, dengan dia?" Ara tersenyum getir, dan langsung melengkah pergi. Tapi sebelum itu, tangannya sudah di tarik oleh Reno. Hingga, lagi tubuh Ara terpental ke pelukannya.


"Jangan salah paham dulu, Dek."


"Apa? Dari tadi cuma itu? Jangan salah paham ... sampai kapanpun Ara akan terus salah paham, jika tidak ada penjelasan!" ucap Ara dengan sedikit tekanan, dan melerai pelukannya. Lalu perlahan melangkahkan kakinya ke arah kasur, dan membaringkan dirinya juga menyelimuti badannya sampai ke leher. Perlahan matanya tertutup, dan ke alam mimpinya.


Setelah itu, Ara tidak tau lagi apa yang terjadi. Karna sudah berpindah ke alam bawah sadarnya.


Keesokan harinya


"Lo napa sih, dari pagi enggak ada semangat hidupnya," ucap Tania ke Ara.


"Hmm, enggak apa-apa. Lagi enggak mood aja," balas Ara santai.


"Dengar lo ada masalah sama Reno , kalian bertengkar?" tanya Risa , yang memang sudah tau dari Tania. Mana tenang mulut Tania, kalau tidak cerita.


"Hmm."


"Ck. Ketularan pak Reno keyaknya nih, apa-apa jawabnya 'hmm' doang!"


"Iyak, kebanyakan nongkrong bareng pak Reno sih," tambah Tania.


Ara cuma bisa berdecak, menanggapi kecerewetan kedua temannya. Dia kembali melahap makanannya, dengan santai. Hingga datang si perusak suasana atau si perusak hubungan.


"As, sial. Hampir mati keselek gue," gumam Ara dengan menatap tajam si pelaku, yang beridiri dengan bersedekap dada memandang Ara . Tanpa rasa bersalahnya, karena sudah menggeprak meja, membuat Ara dan Tania kaget, dan hampir tersedak juga keselek minuman dan makanan mereka.


"Mau apa lagi sih, dia? Ngapain coba jauh-jauh ke sini, cuma buat geprak meja!" omel Tania dengan ikutan menatap nyalang si pelaku.


"Mau cari-cari perhatian, kali," ucap Risa dengan menatap penampilan Anis dari sepatu hingga rambutnya. Yang memang sekarang mereka, telah jadi bahan penglihatan dari penghuni kantin.


"Telepon pak Reno gih, Ra . Dari pada dia bikin rusuh di sini," ucap Tania.


"Kalau di telepon, bukan lagi buat rusuh. Tapi buat perang namanya," sambar Risa.


"Hadeh, gini Tania. Kalau pak Reno ke sini, entar dia jadi bingung. Kalau di belain si Anis, entar si onoh makin ngerajuk setahun. Kalau dia belain Ara, otomatis se isi kampus bakal heboh, Ara bakal jadi bulan-bulanan orang kampus. Kalau enggak belain siapa-siapa, tapi pasti tetap si Anis itu bakal ngulah. Cam kek manja-manja sama pak Reno tapi itu kalau mau buat di malu __."


"Saya sudah bilangkan sama kamu, jangan dekat-deket dengan Reno lagi! Saya minta, kamu jauhin dia!" tanya Anis dengan gaya, mak-mak yang ngelabrak pelakor.


Terdengar bisik-bisik dari para penghuni kantin, Tania dan Risa memaki dalam hati. Anis enggak punya malu atau apa? Se enaknya dia datang, marah-marah, tentang cowok pula. Tania memberi syarat untuk diam, mereka menurut saja. Toh, mereka ingin menikmati yang akan terjadi, tanpa ada bisik-bisik yang mengalihkan telinga dan pandangan.


Dasar!


Ara diam dengan menatap Anis tanpa berkedip sedikit pun, disertai wajah tanpa senyumnya. "Ada perlu apa, Mbak ke sini?" tanya Ara santai, dengan mengikuti gaya Anis, yaitu bersedekap dada. Tapi bedanya, Ara cuma duduk dengan satu kaki yang di naik 'kan ke paha.


Gaya-gaya badgirl Ara , kumat.


"Saya ke sini untuk memperingati kamu, jangan dekat-dekat dengan Reno lagi! Dia itu tunangan saya!"


Ara memijit pelipisnya, mau orang di hadapannya apasih? Kemarin-kemarin dia bilang, miliknya, pacarnya. Sekarang tunangannya, sungguh pusing kepala Ara.


"Oh ya? Tunangan? Hmm, baguslah. Semoga langgeng. Ya saya harap, Mbak tidak lagi meninggalkan dia saat ... dia sudah berharap penuh dengan Mbak," ujar Ara santai, masih dengan gaya tadi.


"Maksud kamu apa?! Jelas saya tidak akan meninggalkan tunangan saya, yang jelas-jelas sangat mencintai saya!" ucap ngegas Anis. Jujur saja, ada perasaan nyeri yang tiba-tiba muncul di hati Ara. Saat Anis mengatakan 'sangat mencintai saya'. Ya, Ara sadar, sangat sadar ... pak Reno memang sangat mencintai mantan pacarnya itu.


Itulah, dia tidak ingin terlalu berharap di cintai oleh suaminya sendiri.


"Hmm, yasudah. Tidak ada lagi kan? Saya mau lanjut makan," ucap Ara dan kembali membalik 'kan badannya ke arah makanannya.


Anis melongo, bahkan separuh dari orang-orang kantin pun melongo. Tidak menyangka, kalau Ara mempunyai sikap setenang itu.


Anis yang teraulut emosi, lantas menyambar air putih milik orang di sebelahnya. Dan hendak menumpahkannya ke Ara tapi sebelum itu terjadi. Ara jauh lebih dulu menepis gelas itu, jadinya air tertumpah ke rok juga sepatu berhak entah berapa 'cm', yang di pakai Anis.


"Aaaa! Basah gue! Dasar kurang aja!" geram Anis, dan ingin melayangkan tamparan. Tapi lagi-lagi itu belum terjadi, Ara lebih dulu memelintir lengan Anis, persis seperti saat Marvel memelintir lengan Aldi.


"Mbak, bisa tidak jangan main tangan? Cuma pecundang yang beraninya main, tangan!" cibir Ara , sedangkan Anis memberontak kesakitan.


Di sisi lain, di dekat kantin. Berdiri dua dosen yang sedari tadi melihat adegan itu, tapi tidak bereaksi sama sekali. Yang satu sedang memandang khawatir, sedangakan yang satunya masih dengan gaya coolnya, disertai senyum yang tertahan.


"Kesana buru Ren ! Bisa mati dia, kalau enggak ada yang lerai. Itu juga dua temannya, cuma liatin doang," ocehnya, tak di hiraukan oleh temannya.


"Palingan cuma patah tangan, terlalu lebay kalau sampai mati," ucap pak Reno acuh.


"Dasar pasangan sadis! Asal lo tau, Ara bisa buat orang koma seketika, kalau dia mau!"


"Ya baguslah, hitung-hitung tidak ada pengganggu untuk sementara."


"Ya Allah, mimpi apa gue bisa berteman dengan model kek lo, ah!"


"Lha, malah di tinggal." Kemudia pak Gino menyusul, pak Reno yang berjalan ke arah kerumunan itu.

__ADS_1


"Khem." Dengan bersamaan, si dosen devil and killer berdehem. Hanya sekali deheman, para penghuni kantin diam seketika.


Ara belum melepas pelintirannya dari tangan Anis, sedangkan pak Gino menghampiri Reya.


"Lepas Ra, mati nanti," ucap pak Gino, yang sengaja mengecilkan suaranya. Yang di yakini, cuma dirinya dan Ara yang dengar. Di karenakan suara Anis yang melengking di penjuru kantin, dengan menyebut nama 'Reno' untuk, menolongnya.


Namun apa yang mau di kata, yang di mintai tolong cuma berdiri dengan tangan di masuk 'kan saku juga wajah datar menyertainya selalu.


"Ren , tolongin aku!"


"Ck. Lebay deh, Mbak. Cuma di giniin doang, belum di ...." Tania menggantung ucapannya, dengan gerakan tangan isyarat mencekik leher.


"Entar di kira, psikopat baru tau rasa!" ucap Risa dengan mempelototi Tania, sepertinya di antara mereka bertiga. Cuma Risa saja, yang waras.


"Tunangannya udah datang, tuh. Lain kali, kalau mau ngelakuin sesuatu mikir, dulu. Jangan sampai seperti ini, akhirnya!" ucap santai Ara , tapi tajam. Dengan melepas pelintiran tangannya, lalu melapnya dengan tisu. Se akan, dia baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.


"Ren, bantuin. Kenapa cuma di liatin, sakit Ren!" rengek Anis.


"Tuhkan apa gue bilang, pasti bakal kek gini," ucap Risa dengan memandang geli ke arah Anis.


Anis berjalan ke arah pak Reno , tapi pak Reno sendiri langsung menghindar ke belakang, pak Gino.


Bisik-bisik di kantin semakin famous, semakin panas. Bahkan semakin membuat panas kuping Ara


'Itu benar tunangannya pak Reno?'


'Masa Ara jadi pelakor.'


'Bisa jadi, secara Ara sering banget keluar masuk ruangan pak Reno. Siapa tau, asdos iyu cuma alasan. Biar mereka bisa berdua-duaan.'


'Tapi masa pak Reno gitu, paling Ara kali yang ngegoda pak Reno.'


'Iya, gue enggak yakin kalau pak Reno bisa jatuh cinta dengan mahasiswinya sendiri.'


Bla-bla ... bla.


Brak!


Ara memukul meja dengan tangan mengepal, dan mata yang menatap tajam ke segala muka-muka yang telah mencibirnya. Terutama wajah Nirma, jelas terlihat kalau wajahnya yang kelihatan pucat saat, Ara menatapnya tajam dari pada yang lain.


"Bicara apa kalian?! Coba ngomong sekali lagi! Siapa yang pelakor? Siapa penggoda?! Kalian punya mulut itu di jaga, kalian sudah sekolah setinggi ini ... tapi punya mulut seperti tidak pernah di sekolahkan!" gertak Ara dengan emosi yang menggebu-gebu.


"Kayaknya Ara , ketukaran mulut pedes lo Ren," ucap pak Gino.


"Kenapa pada diam?! Takut? Jangan sia-siakan pendidikan kalian, uang orang tua kalian buat menyekolahkan kalian! Hanya karna mempunyai mulut, yang seperti tidak pernah di ajar! Tidak pernah di sekolahkan! Dan buat Mbak ... saya sama sekali tidak pernah merebut apa 'pun, tidak pernah mendekati apa 'pun milik Mbak!"


"Karungin sekalian, biar enggak di lirik apa lagi di ambil sama orang!" lanjut Ara , membuat pak Reno mendengus. Memangnya dia apa? Pake di karungin.


"Maaf sudah buat keributan. Dan maaf, sudah buat kalain ketakutan," ucap Ara di sertai senyuman manis tapi menakutkan.


"Lagi buat Mbak, ingat pesan saya kan tadi? Kalau enggak mau tunangan Mbak di rebut, harus dikarungin," ucap Ara dengan menunjuk sebentar ke arah pak Reno.


"Dia pikir saya apa, pake di karungin?" gumam pak Reno, sedangkan pak Gino mengulam senyumnya menahan, tawa.


"Bapak benar tunangannya, dia?" tanya sengaja Tania, pak Reno menggeleng mentah-mentah.


"Bukan!" tekan pak Reno. Risa serta Tania tak kuasa menahan tawanya, meski cuma ketawa kecil, itu mampu membuat Anis malu bukan kepalang.


"Kamu tega, Ren ! Aku bela-belain dari Australi ke Indo, cuma ketemu dengan kamu. Tapi, kayak gini sikap kamu? Aku enggak nyangka, secepat ini kamu berubah!" jerit Anis. Huh, rasanya ingin sekali Ara membungkam mulut wanita itu. Tapi untung, tangannya sudah di genggam erat oleh Tania dan Risa.


"Gimana Ren ?" tanya pak Gino sedikit berbisik.


"Panggil satpam, dari pada dia buat hal aneh di sini," bisik balik pak Reno.


Pak Gino mengangguk, dan menyuruh salah satu mahasiswa untuk memanggil satpam.


"Ren , kita bisa bicara baik-baik!"


"Anis, em Mbak! Lebih baik Mbak pulang, jangan buat keributan di sini!" tegas pak Gino.


"Kamu juga apa-apaan Gin! Kenapa kalian berubah secepat ini?!"


"Mbak, ini di kampus! Mohon pengertiannya, untuk tidak membahas hal pribadi di sini!" ucap pak Gino lagi.


"Lebih baik Mbak keluar, ya? Dari pada di seret, satpam biar keluar?!"


"Akh! Tunggu aja pembalasan gue! Gue nggak bakal buat hidup kalian bahagia! Terutama kamu," tunjuknya ke arah Ara . Lagi-lagi Ara cuma memberikan, senyuman manisnya.


"Ayo, Mbak kita keluar!" ucap satpam yang baru tiba, di situ.


"Enggak usah pegang-pegang!" ketus Anis, dan berjalan pergi.


Setelah kepergian Anis, ketiga sekawan itu lantas langsung meminum minumannya hingga tandas. Dengan di sertai helaan nafas lega, untungnya Ara tidak melakukan sesuatu yang merugikan.


"Ekhm. Saya harap, kejadian tadi tidak kalian sebar ke fakultas lain. Mohon kerja samanya, dan ya ... soal cibiran kalian tentang Ara tadi. Saya juga mohon, untuk menghilangkan prasangka itu, karna saya tahu betul, bagaimana sikap pak Reno dan juga Ara. Kebetulan, Ara ini adik teman saya. Jadi saya harap, itu kalian hilangkan!" ucap pak Gino tegas.


"Paham tidak?!"


"Paham Pak!"


"Baik terima kasih. Untuk kalian bertiga, ke ruangan saya," ucap pak Gino, menunjuk ke arah Ara , Tania dan Risa.


"Maaf Pak. Karena sudah menyakiti tangan tunangan, Bapak," ucap Ara dengan senyuman tanpa dosanya. Demi apa 'pun, ingin sekali pak Reno memeluk istrinya sekarang. Kalau tidak dia ingat ini sedang banyak orang, juga Ara masih dalam ke adaan marah.


"Saya sudah bilang kalau, dia bukan tunangan saya!" ucap pak Reno agak ketus campur datar, di balas cuma dengan senyuman kecil Ara.


"Ayo," ajak pak Gino, pak Reno mengangguk.


Selepas kepergian kedua dosen itu, mereka baru bisa bernafas teratur. Juga perasaan senang, karena sang dosen ganteng ternyata belum bertunangan. Berarti masih ada kesempatan, untuk mendapatkan hatinya.

__ADS_1


Dalam mimpi.


Sorry for typo. 🙏


__ADS_2