Gadis Imut Kesayangan Playboy

Gadis Imut Kesayangan Playboy
Eps. 95. Truth Or Dare


__ADS_3

Minggu mungkin hari di mana orang-orang akan bermalas-malasan, ya benar. Minggu adalah hari yang di tunggu-tunggu orang-orang untuk bermalas-malasan, seperti ke enam orang ini.


Rencanya mereka berenam akan berkumpul di rumah Reno dan Ara,Tania dan dan pak Gino sudah datang, sedangkan Marvel di suruh menjemput Risa . Dengan senang hati Marvel lakukan.


Tok


Tok.


Tok.


"Assalamualaikum!" salam Marvel, setelah sampai di depan pintu.


"Waalaikumsalam," jawab orang dari dalam.


Pintu terbuka, terpampang tubuh tegap dan sorot mata tajam memandang Marvel l. Marvel sendiri yang di tatap begitu, menelan selivianya kasar, memang dia sudah biasa di tatap begitu. Tapi dengan orang baru ... tentu tidak biasa.


"Cari siapa?"


"Risa nya, ada Om?" tanya Marvel dengan memandang Kherul.


"Ada perlu apa, mencari anak saya?!"


'Tinggal jawab kali, kalau ada ya 'ada'. Kalau enggak ada ya bilang 'enggak ada', gitu aja ribet,' batin Marvel mendumel.


"Risa di__."


"Sudah datang, Kak?" tanya Risa menyembulkan kepalanya di balik pintu.


"Eh, iya. Boleh kan, saya baya Risa Om?" izin Marvel.


"Mau kemana kamu, memang?" tanya Kherul ke arah Marvel.


"Ke rumah Ara Pah, dan ini kakaknya Ara ."


"Pacar, kamu?"


"Papah ih, bukan!" ucap Risa dengan menunduk malu.


"Masa pacarnya tidak, di akuin," ucap Kherul lagi.


"Bukan pacar, Pah! Udah ah, kita pergi Kak," ucap Risa dan menyalimi Kherul, di ikuti Marvel .


"Kita pergi dulu, Om," pamit Marvel.


"Ya, jagain anak saya. Jangan sampai lecet sedikit 'pun!"


"Siap Om, enggak bakal saya apa-apain sebelum halal. Assalamualaikum," salam Marvell dan berjalan deluan, meninggalkan Dina yang terdiam dengan wajah memerah.


"Buruan Ris !" seru Marvel memanggil, Risa tersadar dan segera menyusul Marvel.


"Pengamannya pake!"


"Ha?" tanya Risa heran, dengan bahasa ambigu Keral.


"Sabuk pengamannya, Risa . Kamu mikir apa, sih?"


"Enggak, enggak mikir apa-apa," jawab Risa dengan memasang seatbelt, sabuk pengaman tepatnya.


Mobil di jalankan, meninggalkan pagar rumah Risa . Dalam perjalanan seperti biasa, hanya kesunyian yang menyelimuti.


"Ekhem-ekhem," dehem Marvel persis orang sakit tenggorokan.


"Mau minum, Kak?" Marvel menggeleng. "Khem, mau singgah makan?" Risa menautkan alis bingung, bukankah di rumah Ara akan makan-makan, juga? Harusnya tidak usah mampir makan 'kan.


Marvel yang menyadari pertanyaan bodohnya sontak, meralatnya. "B_bukan, ma_maksudnya mau singgah beli es krim, gak?" tanya Marvel dengan nada kikuk.


"Enggak usah, Kak," jawab Risa seadanya.


"Hem, oke."


"Emm, Din."


"Kenapa?"


"En_enggak apa-apa," ucap Marvel menggaruk kepalanya, dan berdehem.


"Ris ...."


Risa memalingkan wajah menatap Marvel dengan alis yang terangkat tanda bertanya. "Bisa minta nomor, telpon kamu?" tanya Marvel l tanpa mengalihkan wajahnya dari depan, hanya sekali-kali mencuri pandang ke arah Risa


"Sini, hpnya." Marvel bersorak dalam hati, dengan senang jiwa dan raga ... dia memberikan hpnya.


Risa terlihat mengotak-atik ponsel Marvel , dan kemudian dia menyerahkannya kembali. "Ini Kak."


"Thanks," ucap Marvel tersenyum manis.


πŸ‹πŸ‹πŸ‹πŸ‹


Sampai d rumah


"Assalamualaikum, Marvel yang ganteng sudah datang," salam Marvel di sertai ucapan ke pd-an tingkat akutnya.


"Waalaikumsalam," jawab semuanya.


"Lama banget sih, Bang!"


"Apaan sih, Dek. Abang baru datang, bukannya di sambut senyuman malah ... di kasih yang ketus-ketus," ucap Marvel dan menduduk 'kan dirinya di karpet samping pak Gino.


"Ra gue pengen ke toilet," bisik Tania.


"Pergi aja, enggak bakal ada hantu juga," ucap Ara mendapat toyoran dari Tania.


"Ra, besok ke kampus kan?" tanya Eisar


"Iya, kenapa emang?"


"Sunyi kalau enggak lengkap, kalau enggak ada lo," ucap Risa memanyunkan bibir.


"Tenang aja, besok kita buat heboh lagi. Bosen juga sih, di rumah mulu."


"Siapa yang nyuruh kamu, ke kampus besok?!" tanya Reno menatap tajam, Ara.


"Bosen, di rumah! Enggak ada yang, seru," balas Ara menatap balik Reno.


"Deh-deh, niat gak kita main atau apalah. Kenapa malah mau berantem!" ketus pak Gino, dengan beridiri.


"Mau kemana lo?"


"Minum."


"Kira ngambek," ucap Ara


🐺🐺🐺🐺


Brak, eh bruk.


"Aduh, pantat gue benjol deh," ucap Tania, dengan memegang pantatnya.


"Lebay, mana ada pantat benjol. Yang ada, bisulan," ucap pak Gino.


Ya, mereka saling menubruk. Dengan Tania yang terjatuh, serta pak Gino yang cuma berdiri tegap.


Tania mendongak 'kan kepalanya, menatap yang berbicara. Dengan dengusan, Tania berdiri menatap tajam sang empu.


"Kenapa lihat saya begitu?"

__ADS_1


"Enggak!" ketus Tania, dan melangkahkan kakinya. Tapi ....


"Enggak usah narik-narik, Pak!"


"Bisa tidak, kamu sopan sedikit dengan dosen? Saya dosen kamu lho, Tania!"


"Bapak dosen saya kalau di kampus, tapi di luar ... Bapak tidak lebih dari orang yang umurnya jaauuh di atas saya," ucap Tania tanpa ekspresi.


"Justru itu, sebagai umurnya yang jaauuh di atas kamu, harusnya kamu lebih menghormati saya!" ucap tegas pak Gino.


"Tapi maaf, stok menghormati saya tinggal sedikit. Akan saya gunakan dengan orang yang, jaauuh lebih penting untuk saya hargai!" ucap ketus Tania, dengan berlalu pergi.


"Itu anak ada dendam apa sama gue?" gumam pak Gino bertanya-tanya, kemudian mengenyahkan pikiran yang tidak seharusnya dia pikirkan. Kemudian melanjutkan, niat awalnya ke sini ... yaitu minum.


🐀🐀🐀🐀


"Main truth or dare, kuy!" ajak Marvel


"Oke," ucap Risa.


"Duain."


"Ikut ajalah."


"Ara juga, ikut!"


"Lo? Kutub, gimana?" tanya Marvel sedikit ledekan.


"Enggak ikut," ucap Reno.


"Ayolah, lo enggak asik Ren! Takut rahasia lo, kebongkar?"


"Saya tidak punya rahasia," ucap Reno melirik Marvel l sinis.


"Ya udah ikut, aja Ren," tambah pak Gino. Tetap Reno menggeleng. "Ikut ya?" ucap Ara , menarik-narik tangan Reno. "Kalian aja," ucap Reno menggeleng, tetap keukeh.


"Kenapa? Benar takut, rahasianya kebongkar?" tanya Ara dengan mata berkaca-kaca, boongan.


Reno menggeleng cepat, "Mas enggak punya, rahasia."


"Ya udah ikut, aja," ucap Ara masih dengan mata berkaca-kaca. Reno mengangguk pasrah, disertai senyuman kemenangan dari Ara .


Sepertinya senjata untuk menakluk 'kan pak Reno sekarang, hanya air mata Ara.


"Oke kita mulai, gue dulu yang mutar," ucap Marvel dan mulai memutar botol sirup marjan itu.


Botol berputar, sampai ke hadapan Tania. "Oke Tania, truth or dare Tan?"


"Jangan aneh-aneh, tapi!"


"Enggak."


"Truth aja deh," ucap Tania.


"Hmm, mantan lo berapa?" tanya Marvel , pertanyaan yang tidak di sangka-sangka sebelumnya, oleh Tania.


"Hemm, waktu 'SD' ada tiga. SMP ada 'empat', waktu SMA ada 'dua', jadi semuanya__."


"Tunggu, masa kuliahnya enggak ada?"


"Emang enggak ada, oke semuanya ada ... 'sembilan'," ucap Tania dengan senyuman kikuknya.


"Hapal banget lo, Tan," kata Risa. .


"Hehe, gue catat di buku diary gue," ucap Tania cengengesan.


"Oke lanjut," ucap Tania, dan memutar botol lagi.


"Kak Marvel !" seru Tania, dengan senyuman jahilnya.


"Truth or dare, Kak?"


"Kakak suka sama, Risa kan?" tanya Tania frontal, dengan kedipan mata ke arah Risa.


"Harus dijawab?"


"Harus, dong!" seru Tania dan Ara, bersamaan.


"Hmm." Marvel mengangguk sekali, dengan kecil.


"Cie-cie, gerak cepat Bang entar ada yang nikung sebelum 'pdkt'," ucap Ara dengan melempar Marvell kulit, kacang.


"Tania dukung, Kakak. Juga setuju dengan kata Ara, gerak cepat. Entar ada yang nikung," tambah Tania, tanpa memperdulikan betapa malunya Risa , sekarang.


"Dah-dah, lo lagi Ren . Truth or dare?" tanya Marvel , yang sudah memutar cepat botolnya, dengan mencuri pandang ke arah Risa


"Kapan kamu putar?"


"Ck, lo yang terlalu sibuk merhatiin muka adek gue. Jadi enggak nyadar," ucap Marvell. Ara beserta yang lainnya menatap menggoda atau mengejek Reno, kecuali Ara . Ara memandang dengan pandangan bertanya-tanya. "Dare," jawab singkat Reno, dengan cepat.


"Nahkan, enggak mau jujurkan dengan rahasianya," ucap Marvel memanasi. "Udah gue terima ya, tinggal ngasih tantangannya!" ucap Reno kesal, dengan menatap Ara , tapi Ara cuma memalingkan wajahnya.


"Emm, kalau ... kalau__."


"Buruan Vel, ngegantung mulu," ucap pak Gino.


"Oke-oke, tantangannya ... cium Ara sekarang ... bibirnya," ucap Marvel dengan senyuman yang sangat lebar.


"Ganti!"


"Enggak, tinggal cium aja," ucap Marvel enteng.


"Jangan ngadi-ngadi Bang, ganti__."


Bukan terpotong karna apa, karna dengan cepatnya Reno langsung menciumi bi*irnya di depan semua orang. Risa dan Tania tinggal cengo, tapi kemudian mengalihkan pandangannya.


"Gercep banget," gumam Marvel.


Ara memukul-mukul dada Reno, untungnya Reno menurut. Dengan nafas yang terengah-engah, Ara mendelik ke arah Reno dengan menanggung malu.


"Sangat rakus," bisik pak Gino, seketika langsung mendapat sikutan di perutnya.


Ara sendiri cuma tertunduk, dengan tangan yang mencubit lengan suaminya. "Urusan kita belum, selesai!" bisik Ara tepat di telinga Reno, "saya tunggu, urusannya selesai." Ara berdecak kesal, tidak bisakah sehari saja orang ini, tidak membuatnya kesal?


"Oke lanjut, jangan tinggal bisik-bisikan," sewot Marvel.


Reno memutarnya, dan tapat di depan Risa. "Truth or dare?"


"Truth," jawab Risa tanpa pikir panjang.


"Kamu juga suka dengan, Marvel ?" tanya Reno, langsung di acungi jempol oleh Marvell.


"Enggak eh, belum. Eh itu ...." Risa gelagapan sendiri dengan jawabannya, lalu menatap Marvell yang sedang melihat ke arahnya.


"Belum? Berarti akan," ledek Tania.


"Tunggu kabar baiknya, Vel," ucap pak Gino.


"Sotoy, lo Tata!" ucap Risa malu-malu.


"Oke nih, lanjut."


"Pak Gino!" seru Risa


"Ekhem, truth or dare Pak?"

__ADS_1


"Truth."


"Kenapa pada milih truth, sih. Kan 'dare'nya ngambek, oke ini ..., Bapak punya pacar, atau gebetan sekarang?"


"Tidak ada," jawab singkat pak Gino.


"Oke fiks."


"Fiks apa?" tanya pak Gino.


"Hehe, enggak Pak. Puter aja, nih."


Pak Gino memutarnya sekitar tiga lima kali, tapi terus yang sudah main. Dan akhirnya tinggal menyruh, saja. Toh, emang tinggal Ara yang tidak main.


"Ara !" seru Tania.


"Truth or dare, Re?"


"Truth aja, lah."


"Mantan terindah, yang sulit di lupakan. Siapa?" tanya pak Gino, dengan sengajanya.


"Enggak ada," jawab Ara dengan gelengan.


"Jangan bohong, ya setidaknya yang masih berbakas di hati gitu, Ra," ujar Tania.


"Emang luka, yang berbekas?"


"Enggak usah ngalihin, cepat!"


"Aaaa ...."


"Oke gue tau, Aldi?"


"Enggak usah di perjelas kali, Risa !" ketus Ara dengan memandang tajam ke arah Risa.


"Benar dia? Enggak bisa lupain? Masih sayang? Masih cinta?" tanya Reno berurutan. Ara menggeleng dengan menelan ludah susah paya, sepertinya bom akan meledak sebentar lagi.


Karna melihat akan ada urusan rumah tangga, mereka ber 'empat memilih meninggalakan mereka berdua. Enggak tanggung jawab emang, apa lagi pak Gino ... dia yang sudah buat masalah, dia juga yang kabur.


"Jawab jujur, masih sayangkan sama dia?!"


"Enggak, udah pernah bilang juga," ucap Ara memalingkan wajahnya ke samping.


"Bisa natap ke arah saya, gak? Jangan yang lain!"


"Makanya jangan liatin, Ara kayak gitu ih!"


"Lihat saya!"


"Enggak."


"Kepalanya jangan di gerakin, lihat saya! Kamu masih cinta sama dia?"


"Enggak, udah bilang juga enggak!"


"Makanya lihat, saya!"


"Engg ... aaakh!" Reflek saja, tubuh Ara sudah terbaring terlentang di atas karpet, dengan tubuh Reno di atasnya.


Terjadilah aksi tatap-tatapan seperti di drama-drama, jujur saja ... posisi mereka bisa dibilang sangat in*im, dengan Ara di bawah dan Reno di atas.


Ara menelan selivianya, jangan sampai ada adegan tak senonoh yang akan terjadi. Apa lagi Reno semakin mendekatkan, kepala dan badannya.


"Coba bilang, kamu sudah tidak sayang dengan dia."


"Ara udah bilang, kalau aku udah enggak cinta sama dia!"


"Tatap wajah, saya!"


"Ars enggak sayang sama dia!" ucap Ara tegas, menatap wajah Reno secara dalam, dan rinci.


"Itu baru, good girls," ucap Reno, dengan senyumannya.


"Udah bangun!" ujar Ara mendorong tubuh Reno, tapi bukannya bangun. Reno malah, membaringkan tubuhnya di samping Ara dengan menaik 'kan kepala Ara ke lengannya.


"Orang-orang kemana?" tanya Ara setelah tersadar, ingin bangun tapi di tahan oleh Reno.


"Enggak tau, udah pergi kali," jawab Reno cuek.


"Enggak sopan banget, Mas. Ada tamu malah tinggal, baring gini," ucap Ara.


"Biarin, Mas kan emang mau santai-santai. Berdua-duaan sama kam__. Aa sakit Dek, jahat banget astaga," ucap Reno meringis, saat Ara mencubit perutnya kuat.


"Gaya berdua-duaan!"


"Kan emang gitu, Keral aja yang maksa mau kumpul. Mau dekat dengan Risa katanya, tapi ujung-ujungnya cuma diam-diaman doang," kata Reno.


"Kan masih proses pengenalan, Mas. Masih tahap 'pdkt'," ucap Ara.


"Sekalian 'taaruf', biar tidak menambah dosa. Udah tau dosanya banyak, masih mau nam__. Ya Allah Dek, biru-biru nanti perut Mas kamu cubit," ucap Reno dengan mengusap-usap perutnya yang agak sakit, memang.


"Biarin, abisnya pake ngata-ngatain orang banyak dosa, nambah dosa. Emang situ enggak banyak, dosa?!"


"Sensian banget sih, kalau soal abangnya," ucap Reno dengan menangkup pipi Ara


"Lepas ih, moyong mulut Ara!" ucap Ara melepas tangan Reno, dari pipinya.


"Tetap cantik kok," gombal si kutub.


"Enggak bakal salting!"


"Udah bangun, ish! Enggak malu kalau ada yang, lihat?!"


"Enggak, siapa yang lihat juga?"


"Ya__."


"Kita, ekhem!"


Spontan Ara langsung bangun dan duduk di tempat, Reno sendiri cuma bangun perlahan dari tidurnya. Dan menatap malas ke empat, penguntit itu. Memangnya tidak ada pekerjaan lain, selain mengintip ketenangan hidup mereka.


"Enggak pulang?" tanya Reno, ketus.


"Napa mukanya di tekuk gitu, elah. Ini mau pulang, mau pamit," ucap Marvel.


"Sorry bro, kita ganggu. Ya udah kita balik," kata pak Gino.


"Kita juga balik ya Ra" ucap Risa dengan senyum meledeknya.


"Balik ya Ra, babay. Sampai ketemu besok, kalau di izinin," tambah Tania.


"Yaudah hati-hati," ucap Ara , di balas anggukan keduanya.


πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯


"Lo mau ikut gue atau kak Marvel?" tanya Tania ke Risa


"Lo__."


"Ikut sama aku, Risa Kan tadi kamu pergi sama aku, jadi harus pulang sama aku. Entar di cap, calon menantu enggak baik lagi," ucap Marveltak sepenuhnya bercanda, karena terdapat nada serius di dalam ucapannya.


"Dih, bucin-bucin. Kaku Vel pake 'aku-kamu'. Udah kayak robot," ejek pak Gino dan masuk ke dalam mobilnya.


"Ya udah Risa, gue deluan. Pepet terus Kak, kawal sampai halal!" seru Tania langsung masuk ke dalam mobilnya, sebelum mendapat pukulan atau apalah dari Risa

__ADS_1


"Masuk Risa," ucap Marvell membuka pintu, mobil.


"Ah, iya. Thanks Kak," ucap Risa malu-malu, terus menunduk 'kan kepalanya. Marvell sendiri mengulam senyum senangnya. 'Bismillah, pastii bisa,' batin Marvel menyemangati.


__ADS_2