
Ceklet ....
Gino membuka pintu lalu melihat tamu yang datang, ternyata yang datang adalah
"Silahkan masuk," suruh Gino
"Makasih," balas keduanya
Setelah masuk, Gino mempersilahkan untuk duduk. Beberapa saat keheningan terjadi.
"Dimana Tania?" tanya Aldo
Gino melirik Aldo dengan penuh curiga lagi pula untuk apa mencari istrinya.
"Jangan salah paham," ucap Aldo yang mengerti akan fikiran Gino
" ada hal yang penting ingin di bahas dengan kalian berdua," jelas Aldo pelan.
"O, baiklah ... sebentar ya?!" Gino menuju kamar mereka.
Tania segera meraih lengan Gino.
"Siapa yang datang? apa beneran polisi?" lirih Tania
"Ayo turun, tamu itu berkepentingan dengan kita berdua sayang," Gino mengambil tongkat Acha lalu membantunya untuk berjalan menuju ruang tamu.
"Siapa?" tanya Tania
"Aku, Aldo dengan Rika istriku," kata Aldo
"Ada apa do? ko tumben kesini?" heran Tania
Aldo melihat Rika begitu pun dengn Rika, mereka seperti sedang berdiskusi melalui tatapan mereka. Hanya Gino yang bisa melihat semua itu. Karena, Tania belum bisa melihat bukan?!
"Jadi," Aldo menghela napas.
"Karena aku juga istriku sepakat untuk membantu masalahmu Tania" kata Aldo
"Sepakat apa maksudnya?" heran Tania
"Bicara saja intinya, " suruh Gino
"Sebelum aku benar pergi dari dunia ini, aku ingin memberikan mataku untuk kamu jaga 'Tania apa kamu bersedia menerimanya?" tanya Aldo
"Hah?" Tania terperangah sejenak
"Kamu jangan ngacoh deh," bantah Tania
"Kamu pasti bisa sembuh!"
"Enggak Tania, hidupku tidak akan lama. Aku akan merasa lebih tenang jika, kamu bisa melihat seperti dulu lagi," kata Aldo
"Rika, bilang kalau Aldo lagi bercanda ! dia itu lagi bercanda kan?" tanya Tania pada Rika
Sayup-sayup terdengar suara tangis Rika, ia juga berusaha menahan air matanya yang ingin terus keluar
"Dokter sudah memvonis waktunya hanya bersisa 3 hari, aku tidak tau bagaimana dengan nasibku dengan anakku nanti," lirih Rika
Ia sedang hamil muda . Anak pertama mereka sudah tiada karena kelainan jantung. Bisa dibilang ini calon anak pertama mereka sebagai ganti anak mereka yang suda tiada .
Tania merasa kasihan terhadap nasib Rika, dia juga perempuan sungguh berada diposisi ini pasti sangat menyulitkan.
"Terima lah Tania , setidaknya ada sesuatu yang bisa untuk aku lihat setiap hari," kata Rika
"Baiklah, aku mau ...," Kata Tania
__ADS_1
Lalu Rika memeluknya berucap terimakasih pada Tania .
"Ngomong-ngomong,aku ingin bicara banyak hal denganmu",kata Tania
"Yaudah, kita ngobrol dimana?" tanya Rika
"Di ruang keluarga aja," usul Tania
"Baik,"
Setelah istri mereka pergi, kini tertsisa Gino dengan Aldo.
"Rumah kalian besar sekali ya, impian Tania sudah tercapai saat bersama dengan kamu," kata Aldo
"Hn, o...ya apa kamu benar tulus ingin memberikan matamu itu?" tanya Gino
"Iya aku tulus, karena Tania juga merupakan wanita yang berharga bagiku, tolong jangan cemburu. Aku tidak berniat untu--"
"Santai saja, terimakasih banyak Aldo, walaupun dulunya kita sering bermasalah karena Tania," kata Gino mengingat sebuah msalalu.
"Iya sama sama, tapi sebagai suami dan calon Ayah dari anakku nanti, aku sangat sedih. Tapi aku tidak bisa memperlihatkan nya pada istriku," kata Aldo
"Kalau boleh, setelah kepergian ku nanti, berilah tmepat tinggal untuk istri dan juga anakku, perusahaan ku bangjrut semuanya tersita baik rumah, mobil dan segalanya. Apa lagi selama aku berobat jadi sudah hanyak yang terjual," jelas Aldo
"Aku pasti akan membalas jasamu ini, kamu tenang saja ya?"
"Terimakasih,"
_____________________
Semua orang sedang menunggu dokter untuk membuka perban di mata Tania
"Buka matanya pelan-pelan ya?" intruksi dokter.
Tania mengangguk. Dengan sangat pelan ia membuka matanya lalu memutar atensinya keseluruh penjuru dan berhenti di kedua orang tuanya.
Lalu Gino mendekati Tania lalu melambaikan tangannya.
"Aku bisa melihat kalian, aku bisa !" seru Tania lalu meraih Gino untuk dipeluknya.
"Alhamdulillah akhirnya, " legah semuanya mereka juga menangis haru.
Rika semulanya tersenyum lalu ia mendadak sedih karena ingat bahwa Aldo sudah meninggal kan dia untuk selamanya.
"Rika," panggil Tania
"Iya,"
"Kemari lah," Tania menymabut Rika dengan sebuah pelukan.
Setelah puas dengan rasa haru mereka. Lalu Mama Gino mendekati Tania dengan Rika.
"Mama berterimakasih sekali terhadap keluarga kamu Rika, terutama kamu. Kamu rela membiarkan suamimu berkorban untuk menantuku, betapa besar jasa mereka ini, Tania kamu harus bisa menerima Rika hidup bersama dengan kalian," kata Mama Ravano
"Maksudnya Ma?" tanya Tania
"Mama, papa dan juga Gino sudah membahas hal ini, karena Rika sedang hamil tidak memiliki siapa siapa jadi sebagai balas Budi mereka itu ... mama setuju untuk Rika tinggal bersama dengan kalian, anggap saja saudara perempuanmu tinggal bersama kalian ya ? Tania," jelas Mama
"Oh, baiklah ma," kata Tania.
____________________
Tidak terasa sudah genap satu bulan Rika tinggal bersama dengan Gino juga Tania.
Tania juga senang karena memiliki Rika yang sangat seru menurutnya, dia menghabiskan waktu bersama seperti saudari kandung.
__ADS_1
Tania juga Rika sedang makan siang bersama, lalu Mama mertua Tania datang sambil membawa sesuatu karena Tania tidak tau apa isinya.
"Mama siapa yang anterin ma?" tanya Tania
"Supir mama, oh ya ... Rika kamu apa kabar?" tanya Mama mertua.
Sejenak Tania merasa kaget karena yang ditanya kabar bukan dirinya melainkan Rika, tapi ... ah sudahlah untuk apa dia memikirkan hal yang tidak penting.
"Baik Tante, Tante juga gimana kabarnya?" tanya Rika
"Baik dan semakin baik ketika ngeliat kamu siang ini, Oya ... Tante bawain kamu susu hamil sayang, terus juga baju baru gitu ... Tante sudah berpengalaman sayang, jadi Tante beli ini buat kamu yang lagi hamil," jelas Mama mertua
"Bagus ya ma?" kata Tania ikut menilai apa yang dibeli mertuanya.
"Tentu dong, coba aja kamu hamil pasti mama bakalan sering kesini buat beliin kamu juga," kata Mertuanya
Tania terdiam, hatinya terasa di iris-iris setelah mendengar kata mertuanya ini.
"Ah, lebih baik Tante juga makan sama kita mumpung makanannya masih hangat," kata Rika melerai sedikit percikan masalah diantara mereka.
_
Tania melihat mama mertuanya sedang mengobrol dengan Rika di kamar Rika mereka sangat akrab, mertuanya mengajari Rika banyak hal mengenal kehamilan sesekali juga mengelus perut Rika yang membuncit.
"Andai aja aku bisa hamil, pasti aku juga bakalan bisa ikut bergabung sama pembahasan mereka, sudahlah Tania, kamu jangan bermimpi ...," Ucap Tania
"Sayang?" panggil Gino sembari membalikan tubuh Tania agar berhadapan dengannya
"Kamu udah pulang?" tanya Tania
"Baru aja, kok kamu enggak masuk. Lho ada mama juga disana?" Tanya Gino
"Gino, nak ... kemari, ayo kemari!" suruh mamanya
Dengan ragu Gino masuk lalu di ikuti oleh Tania.
"Coba kamu rasain, baby nya kaya nendang gitu lho nak, coba deh ...!" suruh Mamanya
"Maaf ya Rika," Gino menaruh kelima jarinya di perut Rika
Gino tersenyum gembira sampai ia tidak sadar bahwa ada Tania yang sekuat tenaga menahan air mata, ia begitu sedih dan terluka menyaksikan kegembiraan suaminya.
"Kayanya dia calon pemain bola ya? haha, boleh nanti saya ajarkan main bolanya"
"Kamu seneng kan Gino, nah, andai aja istri kamu dulu bisa menjaga janinnya pasti --" kembali mertuanya mengingat Tania pada masa lalu.
Gino tersadar lalu melepaskan tangannya lalu melirik Tania yang tersenyum padanya.
"Tania pasti bisa hamil kok ma, tapi nanti ... Iyakan sayang?" kata Gino.
"Mungkin setelah mama udah enggak ada kali,"gumam Mama mertua pelan
"Aku mau mandi dulu," pamit Tania sambil pergi.
"Mama jaga ucapan mama itu, mama bikin istri aku sedih," kata Gino
"Memang kenyataannya begitu,"
Gino menyusul Tania ke kamar mereka.
Buru-buru Gino melepaskan kemejanya membuka sepatu juga.
"Sayang, aku ikut mandi ya?" seru Gino sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawbaan, hanya terdengar suara shower begitu derasnya air terjun kebathup.
__ADS_1
Tania didalam sedang menangis pilu, ia sangat menyesal karena Perbuatan nya sendiri ia jadi tidak bisa hamil lagi.