
Setelah pesawat yang dinaiki pak Reno, lepas landas atau take off. Semua orang bergerak pulang, Ara ikut di mobil mama Dewi Dan papa Nando , dan mungkin langsung ke rumah mertuanya. Sedangkan pak Gino dan Tania, pamit entah mau pergi ke mana.
Mobil mereka sudah memasuki area rumah, papa Nando lebih dulu menyetir mobilnya ke dekat pintu rumah. Setelah Ara dan mama Dewi turun, baru dia membawanya ke garasi.
"Vanesha ada di dalam, kamu sudah ketemukan sama dia?" tanya mama Dewi menuntun Ara berjalan masuk ke dalam rumah.
"Sudah, kemarin Ma."
"Dia cerita, katanya dia buat kamu cemburu, ya? Maklumi saja, memang dia begitu orangnya. Sama saudar-saudara yang lain juga dia kayak gitu. Sampai-sampai, pernah ada yang putus gara-gara kelakuannya," ucap mama Dewi panjang lebar, agar menantunya tidak salah paham.
"Hayo, gosipin aku, yah?" Tiba-tiba entah dari mana, Vanesha langsung muncul, menyelutuk, mengagetkan mereka berdua.
"Astaghfirullah, Nes! Kamu ngagetin aja," ucap mama Dewi, agak menyentak, sambil mengelua dada. Sedangkan yang ditegur, cuma menyengir.
"Ajak sama temanin kakak iparmu ngobrol di kamarnya Reno atau ke belakang rumah. Mama mau pergi bikin kue," pinta mama Dewi, diberikan hormat sekilas oleh Vanesha.
"Siap, Ma. Ayo Kakak Ipar, kita pergi di kamar dulu, baru ke belakang rumah ngobrol." Dengan sedikit membantu Ara berjalan, menaiki tangga menuju kamar pak Reno di rumah ini. Koper yang berisi beberapa lembar pakaian Ara, di tinggalkan di bawah, biar pembantu atau siapa-siapalah yang bawa nanti masuk.
"Kakak Ipar —"
"Panggil Ara saja, enggak usah kakak ipar," ucap Ara memotong ucapan Vanesha.
"Oh, oke."
"Mau, nanya apa tadi?"
"Kamu sudah lulus kuliah?" tanya Vanesha, dibalas gelengan Ara.
"Benar? Sekarang udah semester berapa?"
"Enam."
"Reno solimi banget sama istri, padahal kalau semester ini, kita udah di sibuk 'kan sama PPL, PKL. Ini malah sibuk sama urusan rumah, sama perut. Ini aku enggak mau nikah muda, ribet!" ujar Vanesha, agak heboh.
"Hust, enggak boleh gitu. Ini semua udah jalannya. Lagian anak yang sedang aku kandung, ini rezeki. Dan lagi, di luaran sana banyak yang mau anak, tapi belum diberikan kepercayaan memiliki anak. Jadi sekarang, aku bersyukur bisa merasakan hamil, dan akan memiliki anak dalam waktu dekat ini. Mudah-mudahan, aku diberikan umur yang panjang, biar bisa merasakan menjadi ibu, membesarkan seoarang anak. Darah daging aku dan mas Reno," kata Ara panjang lebar.
"Subhanallah, enggak salah mama sama papa jodohin kalian. Beruntung banget Reno dapatin istri seperti kamu. Baik dan berdedikasi," puji Vanesha, dengan mengacungkan dua jempolnya.
"Haha, justru aku yang beruntung bisa memiliki mas Reno. Dia laki-laki terhebat yang pernah aku kenal, setelah ayah ,abang Hendra dan abang Marvel" kata Ara , sambil tersenyum membayangkan suaminya.
"Wish, bisa naik sepuluh senti lehernya Reno kalau dengar," celetuk Vanesha, kemudian mereka berdua tertawa.
***
"Kamu mau pesan makanan, apa?" tanya pak Gino.
"Apa aja deh, samain aja kayak Bapak," ucap Tania.
Pak Gino mengangguk, dan memanggil pelayang, lalu memesan makanan. Setelah pelayan pergi, pak Gino menatap Tania serius.
"Sampai kapan kamu manggil saya Bapak? Ini di luar kampus loh Tania." Bukan apa-apa sih, dia tidak nyaman saja dengan sebutan itu. Apalagi dipanggil sama pacarnya sendiri.
Tania yang mendapatkan pertanyaan, yang mungkin sudah melebihi seratus kali di tanyakan pak Gino. Cuma menampak 'kan cengirannya.
"Saya, enggak nyaman kamu manggil saya Bapak. Berasa kayak apa ya ...?"
"Ambil nyaman aja, Pak. Anggak saja, ini sebagai panggilan pribadi dari saya," ucap Tania, dengan kikikannya.
"Kalau gitu, saya manggil kamu ... Ibu? Bisa 'kan, Ibu?" goda pak Gino, sambil terkekeh dengan wajah kesal Tania.
"Beda konsep lagi itu, Pak."
"Lho, anggak juga ini panggilan khusus dari saya."
"No ... No, saya bilang itu beda konsep, beda naskah, Pak."
"Kasi sekonsep sama senaskah saja," ucap pak Gino, tetap kekeh.
"Ayo makan dulu nih, makannya udah datang," ucap Tania, mengalihkan pembicaraan. Kata Ara, pak Gino dan pak Reno itu sama, sama-sama enggak mau ngalah soal berdebat.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit kemudian, Tania pamit ke toilet, dan diangguki pak Gino.
Setelah selesai, Tania kembali. Tapi sebelum dia sampai, ada sesuatu yang ditangkap mata Tania. Tempat yang tadi dia duduki, sekarang sudah ditempati seorang perempuan.
"Siapa, tuh?"
"Dih, pake ketawa-ketawa segala!"
"Senyum-senyum malu lagi!"
"Pegangan tangan lagi!"
"Cih, baru beberapa menit gue tinggal, udah berani-beraninya deketin perempuan."
Berbagai ocehen, dumelan, gerutuan, yang diucapkan Tania. Bahkan tak mempedulikan pelayan ataupun pengunjung restorant, yang menatapnya aneh dan bingung.
"Cemburu bilang, Mbak."
"Astaga! Buset, lo udah mirip beneran sama mahkluk halus, Thiar!"
"Ck. Kalau cemburu, sono samperin, jangan cuma tinggal ngomel enggak jelas di sini. Enggak malu sama orang yang liatin lo?"
Seakan tersadar dengan kebodohannya, Tania cuma menyengir malu. Apalagi tatapan orang-orang melihatnya seperti melihat ... orang gila.
"Siapa yang cemburu?"
"Ya elo, lah."
"Dih, enggak."
"Terus ...?"
"Enggak apa-apa."
"Enggak mau nyamperin?"
"Tunggu dulu, gue masih mau ngintai mereka dulu."
"Enggak bakal, di sini ada ase kok."
"Deh, gue gemes tau! Dibilangin juga, entar —"
"Iya-iya, enggak usah ngebacot. Gue mau grebek mereka, lo mau ikut?"
"Ayolah, itung-itung nonton film yang siaran langsung," ucap Thiar sekenanya, dan tas limited edition milik Tania langsung melayang ke kepalanya.
"Sakit, woy! Gue curiga, jangan-jangan lo suka KDRT ya sama pak Gino? Pantes aja dia deket —" Dan belum sempat Thiar selesai bicara, kembali tas Tania menggeplak kepalanya.
Selesai perdebatan adu mulut yang enggak ada faedahnya sama sekali, Tania dan Thiar mulai berjalan ke arah meja yang di tempati pak Gino dan perempuan tak dikenal itu duduk.
"Ngobrolnya asik banget sih," sindir Tania, sambil bersedekap dada, memandang pak Gino tajam.
"Eh, kamu sudah kembali. Kok lama? Ini ...."
Perkataan pak Gino terhenti, saat pandangannya tertuju ke orang yang di samping Tania. Yang dengan santainya melambaikan tangan ke arahnya.
"Kamu ngapain sama, dia?"
"Kenapa? Oh, tadi Thiar ngajak saya nonton. Sekalian saya mau pamit, tapi kayaknya saya ganggu. Ya sudah saya pergi dulu, lanjutin!" ucap Tania dingin, dan menarik tangan Thiar keluat restoran. Sedangkan Thiar yang dijadikan kambing hitam, cuma bisa melotot dan menghembuskan nafas. Mudah-mudahan, dia tidak dipotong-potong, dan dijadikan sate sama pak Gino nanti.
"Tania tunggu!" ucap pak Gino, agak teriak, dan sedikit mengalihkan mata para pengunjung restoran.
"Tan ... Tan. Gue enggak mau nyari masalah sama pak Gino. Entar nilai gue dijadiin, E. Lebih baik lo selesaiin baik-baik, siapa tau itu cuma saudaranya," oceh Thiar, yang tak diidahkan Tania sama sekali.
"Tania, lo dengar gue gak, sih?!" kesal Thiar, sunggu dia tidak mau kalau terjadi apa-apa sama nilainya.
"Lo lebih mentingin nilai, dari pada perasaan teman lo?" tanya Tania, melepas tarikan tanganny di Thiar.
"Iya, nilai itu masa depan gue. Kalau lo udah masa lalu. Eh, canda," ucap Thiar, sambil cengengesan.
__ADS_1
"Gue ngerti kok, tadi gue emosi doang. Lo pergi —"
"Tania saya mau bicara!" Entah sejak kapan, tiba-tiba saja pak Gino sudah ada di dekat Tania dan menggenggam tangan Tania erat.
"Saya mau pergi —"
"Enggak! Thiar kamu bisa batalin, 'kan?!"
"Iya, Pak. Nan —"
"Saya udah janji, Pak. Harus saya tepatin!"
"Kamu, lebih mentingin nonton sama dia? Dari pada dengerin penjelasan saya?"
"Tapi —"
"Udah, Tania. Lo lebih baik selesain, dengerin penjelasan pak Gino. Gue pergi dulu. Dan soal nonton, itu cuma alibi Tania Pak. Saya enggak pernah ada janji atau apa sama Tania," ucap Thiar, dan berlalu pergi meninggalkan kedua pasangan yang tersulut cemburu itu.
"Ikut saya, ya?" Nada bicara pak Gino sudah melembut.
"Saya mau pulang!"
"Baik, kita pulang. Tapi setelah kamu dengerin penjelasan saya dulu."
"Jelasin di mobil," ujar Tania dingin.
Di mobil ....
"Ketemu di mana sama, Thiar?"
"Enggak usah ngalihin. Jelasin masalah perempuan tadi," ucap Tania, masih dingin.
"Oke. Dia mantan saya," ucap pak Gino singkat. Dia sengaja menyingkatnya dulu, menunggu respon Tania, tapi setelah beberapa detik, Tania tak berespon sama sekali. Pak Gino beralih menatap Tania, yang memang tadi dia cuma menatap ke depan saja.
"Kenapa —, Lho, hey? Kamu nangis? Ya, Tuhan Tania, saya enggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Jangan nangis gini dong." Saat dia ingin membalik 'kan kepala Tania menghadap ke arahnya, tapi tangannya langsung ditepis Tania.
"Bapak kok tega sama saya?" tanya Tania, dengan suara serak khas orang menangis.
"Bukan gitu. Yang kamu lihat tadi, enggak sama seperti yang kamu pikir 'kan, Tania."
"Apa? Bapak megang tangan dia, ketawa sama dia, senyum-senyum sama dia. Terus saya tanya, perempuan mana yang enggak cemburu kalau lihat pasangannya begitu?!"
"Ya, saya ngerti. Makanya kamu tenang dulu, baru saya jelasin," ucap pak Gino, masih mencoba menenangkan Tania, yang sepertinya dilanda cemburu berat. Dan ....
Pak Gino suka itu.
Pak Gino senang, kalau Tania cemburu.
"Dia Lisa mantan saya, dan kita putus dengan baik-baik, atas keputusan bersama. Jadi kamu jangan mengiran kalau saya masih cinta sama dia. Itu salah besar. Saya maupun dia, sudah tidak ada perasaan apa-apa selain teman."
"Terus kenapa harus megang tangan, segala?"
"Cuma sekilas, cuma memegang dengan maksud menguatkan."
"Maksudnya?"
"Tadi cuma kebetulan bertemu di restoran ini, dan dia datang bawa undangan pernikahannya. Dia dijodohkan, katanya dia belum siap mental maupun fisik. Jadi saya menyentuh tangannya, sebagai penguat dari teman. Dan kenapa saya ketawa-ketawa, karena saya ceritain tentang pernikahan Ara sama Reno , juga dilandasi perjodohan, tentang kebucinan Reno, tentunya sampai mereka mendapatkan kebahagiaan seperti sekarang. Biar dia enggak negatif thingking sama perjodohan ini. Dan soal saya senyum-senyum itu, karena ...." Pak Gino menggantung ucapannya, menatap Tania dalam.
"Karena?" tanya Tania pinisirin.
"*Karena saya meneceritakan tentang kamu, kelucuan dan kebahagiaannya saya, saat bersama kamu," ucap pak Gino, menggenggam tangan Tania, mengikis jarak, hingga terjadi ... ciu*an*.
Bahkan sepertinya, mereka tidak sadar dengan posisi mereka yang masih berada di area parkir restoran.
Sorry for typo. 🙏
Holla, maaf dah buat kalian nunggu setahun, eh eh sehari ding
Ekhem. Ngomong-ngomong, pak Gino udah aktif ya ;v
__ADS_1
Sadarlah pak Gino dan Tania, kalian belum sah, belum halal.