
Waktu berlalu begitu cepat, saat ini sudah masuk bulannya Risa melahirkan. Kenzo dan Kiano sudah memasuki empat bulan. Biarpun baru empat bulan, tapi banyak sekali tingkah laku mereka yang membuat orang-orang yang melihatnya gemas.
Sekarang ini Ara berencana pergi mengunjungi suaminya yang sedang berada di kampus, sekalian melihat-lihat suasana kampus yang sudah lumayan lama dia tinggalkan. Dan ngomong-ngomong soal kampus, Ar akan kembali kuliah minimal setelah anak-anaknya memasuki umur 6 atau 7 bulan. Dan itu juga atas desakan mertuanya.
Sebelumnya dia sudah mengabari Tania untuk menjemputnya di parkiran. Dan yah, Ara datang tanpa memberi tahukan pak Reno tapi, dari awal memang Ara sudah mengiming-imingi ingin ke kampus.
"Halo Ra, lo udah sampai? Sorry banget, tadi tiba-tiba ada kelas " tanya Tania di sambungan telepon.
"Sudah. Enggak apa-apa, tapi buruan, ya! Jangan sampai gue dikeroyokin orang-orang di sini," candanya.
"Supir lo udah pulang?"
"Belum, ini masih di dalam mobil. Gimana ceritanya gue keluar kalau ada dua anak yang masih belum jalan yang gue bawa," ucap Ara
"Ye, salah lo juga yang enggak ngasih tau pak Reno kalau lo datang. Nyusahin diri sendiri juga, 'kan? Ini gue udah sampai di parkiran, mobil lo sebelah mana?" tanya Tania, sambil celingak-celinguk.
"Di pinggir kanan kalau dari depan gerbang, mobil warna hitam," ucap Ara.
"Ketemu, gue kesana." Setelah itu, Tania mematikan sambungan teleponnya, dan sedikit berlari ke arah mobil Ara
"Stoilernya cuma satu yang gue bawa. Enggak apa-apakan kalau misalnya lo gendong aja?" tanya Ara .
"Asal lo popokin, enggak ngecingin gue nanti. Tapi, pak Reno enggak bakal marah, 'kan? Masalahnya lo bawa anaknya tanpa memberi tahukan ke dia?" tanya Tania juga, sambil mengambil Kenzo dan menggendongnya. Dan Kiano sudah dinaikkan ke stoiler.
"Enggak ... tau juga sih," ucap Ara menyengir.
"Dasar! Telepon cepetan lah, gue enggak mau kena omelannya nanti karena ikut ngebantuin lo. Iyakan, Ganteng?"
"Oke-oke, tapi jalan buruan gih. Nanti gue kabarin," ucap Ara.
"Enggak-enggak, kabarin sekarang!"
Dengan malas, Ara mengeluarkan ponselnya, memencet nomor pak Reno. Cuma tiga detik, pak Reno sudah mengangkatnya.
"Assalamualaikum. Aku di kampus sama Rafa juga Rafi. Kalau mau jemput ke sini, kalau enggak juga enggak apa-apa," ucap Reya.
"Ha?!" Itu bukan bentakan, tapi pertanyaan. Karena ucapan Ara yang begitu cepat, membuatnya agak tidak mendengarnya dengan jelas.
"Aku lagi di kampus, kenzo dan Kiano aku bawa. Kalau Mas mau jemput ke sini, ke parkiran. Kalau enggak juga enggak apa-apa. Aku cuma mau ngasih tau," ulang Ara dengan melambatkan perkataannya.
"Kamu ngapain ke kampus? Kamu sama siapa di situ?" tanya pak Reno.
"Tania. Udah ya, aku matiin. Assalam—"
"Bentar," potongnya.
"Kenapa?"
"Mas ngajar, baru aja masuk. Kamu langsung ke ruangan Mas aja, ya? Mas enggak bisa jemput," ucap pak Reno.
"Oh, yaudah. Tapi Mas enggak marah, 'kan?" tanya Ara lagi, sambil melirik Tania yang cuma sibuk mengajak Kenzo maupun Kiano mengobrol.
"Mau marah sebenarnya, tapi Mas tau kalau kamu suntuk di rumah terus," ucap pak Reno, yang langsung di iya'kan Ara.
"Aku matiin, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalah. Langsung ke ruangan Mas, kalau mau jalan-jalan ajak Tania atau tunggu Mas."
__ADS_1
Telepon sudah di putus.
"Ayo," ucap Ara , mulai mendorong stoiler yang ditumpangi Kiano .
"Pak Reno enggak marah?" tanya Tania.
"Mau marahpun percuma, gue enggak dengerin. Masalahnya udah sampai di kampus juga, enggak mungkin putar balik ke rumah lagi," ucap Ara , diangguk-angguki Tania.
"Ya-ya, cuma lo yang bisa ngendaliin pak Reno. Dan asal lo tau, pak Reno makin hari makin kejam," kata Tania, diikuti ketawa kecilnya.
"Lo enggak pernah cerita?"
"Gimana mau cerita, setiap ngumpul selalu ada pak Reno. Mau ngechat, boro-boro lo lihat. Pernah dia ngehukum mahasisiwi baru, karena enggak ngerjain tugas yang dikasi pak Reno, 'kan. Apalagi, dia pake acara ngegombalin pak Reno. Perempuan itu sampai malu karena itu tersebar. Dan ya, para jiwa-jiwa penggosip kampus pada ngumpul. Mereka nerka-nerka kalau pak Reno lagi ada masalah dengan rumah tangganya, dan dilampiaskan ke mahasiswanya. Apalagi seperti yang tadi gue bilang, pak Reno makin hari makin kejam," ucap Tania, panjang lebar.
"Dia enggak pernah cerita."
"Mungkin aja bagi pak Reno itu enggak penting buat lo tahu. Dan gue kasih tau juga, angkatan kali ini banyak yang centil-centil," ujar Tania, tapi raut mukanya tiba-tiba berubah murung.
"Gue tebak, pasti banyak yang centilin pak Gino, 'kan?" tebak Ara, sambil menahan tawanya.
"Right. Setiap gue lihat mereka natap pak Gino seperti monyet lihat pisang, di saat itu juga gue mau lemparin mereka buku yang gue bawa," ucap Tania.
"Lemparin aja langsung, sih. Biar—"
"Araa!" Teriakan itu yang membuat Ara atau yang memotong ucapan Ara.
Mereka berdua beralih ke sumber suara itu, Ara tersenyum sebagai balasan. Orang-orang yang berteriak itu datang, yang tak lain mereka Mita dan Gita. Gita si kacamata bulat, ingat, 'kan?
Seperti biasa, pertemuan selalu diawali pelukan atau cupika-cupiki.
"Ini Kenzo sama Kiano, ya?" tanya Gita, karena memang dia belum pernah melihat secara langsung keduanya.
"Iya. Mirip gue, 'kan?" tanya Ara bercanda, dan dibalas gelengan langsung Gita.
"Enggak sih, miripan pak Reno. Kamu enggak ada miripnya," jawab Gita, disambut gelak tawa Tania dan Mita.
"Gitu aja terus, sekali-kali kek ada orang yang bilang mirip gue. Di posisi ini gue ngerasa bukan Emaknya," ujar Ara, dengan wajah cemberutnya.
"Mau gimana lagi, Beb. Emang real, seratus persen kalau mereka mirip pak Reno. Lo cuma nyumbangin darah," ledek Mita.
"Temen lo yang duanya mana?" tanya Tania. Sekarang mereka melanjutkan langkah setelah tadi berhenti karena kedatangan Mita dan Gita.
"Nadia sama Reni? Mereka masih ada kelas," jawan Mita.
"Nah, lo Git? Tumbenan keluar jalan sama, Mita? Biasanya aja nongkrong di perpus?" tanya Ara.
"Tadi kita ada urusan ke ruangan Dosen," ucap Gita, "Eh aku pergi ya, udah ditungguin."
"Ditungguin siapa, nih? Cowok kelas seblah?" goda Tania, dan mendapat gelengan cepat Gita.
"Ya udah, kapan-kapan kita ketemu lagi," ucap Ara, setelah itu Gita pergi.
Sepanjang jalan menuju ruangan pak Reno, pandangan yang didapat masih sama. Tapi tidak ada satupun yang berani mendekat, cuma melihat dari jarak yang tidak terlalu dekat maupun jauh. Itu semua berkat kedatangan si empat laki-laki yang selalu siap menjadi bodyguard Ara tanpa disuruh.
Mungkin jika tidak ada mereka berempat, mungkin Ara sudah dikelilingi. Ya, harusnya Ara berterima kasih kepada Zaki, Galih, Thiar, dan Bara. Tapi ini, malah dia tertawakan. Bukan apa-apa, wajah mereka yang dijadikan datar dan dingin, itu sangat menggelitik perut mereka. Percaya saja, tampang itu tidak cocok sama sekali untuk keempatnya.
"Kayaknya cocok deh gue bersikap dingin, mereka enggak ada yang berani deket-deket," celetuk Galih.
__ADS_1
"Gue setuju, mulai sekarang kita latihan buat jadi dingin. Biar bisa ngeduplikatin sikapnya pak Reno. Siapa tau aura kegantengannya bisa pindah ke kita, 'kan? Biar perempuan-perempuan pada nyantol," tambah Bara.
"Ceh, kalian berdua ajalah yang berubah dingin. Tapi ya, kalian enggak dingin aja perempuan pada kabur, apalagi kalau udah dingin? Gimana jadinya, tuh?" ledek Zaki
"He e, mau miripin gimanapun dengan sikapnya pak Reno, enggak bakal pindah juga kegatengannya ke kalian. Palingam cuma sisi jeleknya aja yang pindah," ledek Thiar juga, yang mengundang tawa ... kedua anak yang sedang mereka kawal.
"Haha, mereka berdua aja ngetawain kalian berdua. Tanda enggak cocoknya kalian berubah dingin," ucap Tania, mencium gemas pipi gembul Kenzo.
"Sunggu tersolimi kali kita, Bar. Enggak ada yang dukung. Bahkan dua bocil aja enggak ngedukung kita. Mau pindah planet ajalah gue," dramatis Galih, tapi anehnya Bara selalu meng-iya 'kan segala ucapan Galih. Mungkin mereka memang ditakdirkan senasib, sependapat, dan sekeyakinan.
Setelah beberapa menit berjalan juga menaiki lift, tak jarang juga mereka berpapasang dengan beberapa Dosen. Mereka telah tiba di depan ruangan pak Reno. Ruangannya terkunci, untungnya Ara memiliki duplikat kunci ruangan itu. Pak Reno sendiri yang memberikan.
"Kita ngantar sampai sini aja, ya. Mau pergi ngisi perut kita," ucap Zaki.
"Oke, makasih udah jadi bodyguard dadakan kita," ucap Reya.
"Santai ajalah itu. Ada yang mau dititipin atau dibeliin, gak?" tanya Galih.
"Enggak ada."
"Owh, ya udah kita pergi. Babay anak ganteng." Bara hendak menciumi pipi Kenzo tapi langsung dicegah Tania dan Mita.
"Jangan asal nyium, kulit bayi sensitif. Tau-tau lo punya banyak kuman, terus pindah ke dia," ucap Mita seenaknya.
"Betul, Bar. Lo 'kan banyak kumannya, jangan sampai nularin ke anaknya pak Reno. Bisa kena imbas lo nanti," sahut Zaki, dengan wajah tanpa dosanya.
"Hina aja gue terus, ada saatnya gue jadi pangeran. Pangeran berkuda hijau, dan kalian semua pada ngemis minta dicium. Heh, jangan harap!" ucap Bara dengan tampang songong.
"Hih, najis banget gue minta nyium lo, Bar!" sentak Zaki dan Thiar bersamaan, sambil bergidik ngeri. Sedangkan Galih diam, tampak berpikir.
"Perasaan pangeran berkuda putih, Bar? Bukan Hijau, mana ada kuda warna hijau?" koreksi Galih, kembali mereka tertawa dengan pembicaraan nonfaedah itu.
"Udah sana kalian pergi, bisa-bisa pusing kepala gue gegara kalian," usir Tania, dan disambut kata oke dengan jari mereka.
Sehabis keempatnya pergi, Mita membuka ruangan pak Reno, tentunya dengan perasaan kepo. Pasalnya selama dia menginjakkan kaki di kampus ini dari awal hingga sekarang, belum pernah dia melihat isi di dalam situ.
Pintu terbuka, Ara melangkah masuk sambil mendorong stoiler Kiano. Dia melirik sekeliling, tidak ada yang berubah sama sekali di ruangan itu. Mungkin cuma posisi sofa yang berubah.
"Ini ... enggak apa-apa gue, masuk?" tanya Mita.
"Emang kenapa, sih? Ini bukan ruangannya pak Presiden loh, ngapain takut?"
"His, lo enggak ngerti. Mungkin selain lo, Tania, sama Risa. Enggak ada mahasiswa yang boleh masuk," ucap Mita.
"Baiklah, selain gue, Tania, dan Risa. Lo yang pertama diizinin, masuk," balas Ara
"Enggak deh, gue enggak mau kalau sampai nilai atau bahkan hidup gue kenapa-napa."
"Kalau nilai sama hidup lo kenapa-napa, laporin aja ke gue. Gue yang urus."
"Makasih, tapi sebelumnya gue emang mau pamit. Nadia sama Reni udah manggil. Gue pergi dulu, kapan-kapan kita ketemu lagi. Bay," pamit Mita, dan tanpa menunggu jawaban, dia langsung pergi. Menyisakan Tania dan Ara yang saling pandang, dengan pikiran yang sama.
'Sekejam itu 'kah pak Reno? Sampai-sampai orqng-orang sangat takut?'
To be continued.
Sorry for typo. 🙏
__ADS_1