
Takdir tidak ada yang tau, dan begitu juga takdir pendamping atau pasangan hidup seseorang. Kapan dan siapa, kapan waktu itu dan siapa orang itu.
Yah, tidak pernah diduga sebelumnya. Begitu juga dengan ketiga sahabat itu, mulai Ara, dia tidak pernah tau hidupnya akan seperti ini. Menikah dan bahkan sekarang telah mengandung anak dari orang, yang notabenya dosennya sendiri. Risa ..., tidak pernah dia sangka juga sebelumnya akan mempercayakan hatinya, menjadi milik seorang pria yang kalem di luar tapi tidak ada kalem-kalemnya sama sekali, di dalamnya.
Terakhir ... Tania, tidak di sangka dosen yang selama ini dia jengkeli atau dia bencinya, menyatakan perasaannya, bahkan lewat perantarq yang agak ... aneh namun unik.
Dengan secarik kertas yang bertulisan ....
'Tidak ada yang gratis di dunia ini, semua harus dibayar. Kalung itu harganya mahal, loh. Sepertinya itu setengah gaji saya, sebagai dosen selama 3 bulan, jika di hitung-hitung.
Saya langsung ke intinya, mungkin bagi kamu ini aneh atau tidak romantis. Intinya ... jika besok saya melihat kamu make kalung itu, artinya ... kamu mau jadi kekasih saya. Dan jika tidak ya berarti, kami tidak mau.
Saya ini orangnya kaku jika berurusan dengan cinta atau wanita, jadi mohon pengertiannya kalau saya nyatainnya seperti ini.
Intinya, saya nembak kamu. Ingin kamu jadi pacar saya!
Besok disaat kita bertemu di manapun itu, seperti yang saya tulis tadi. Jika kamu pakai berarti, kamu mau. Dan sebaliknya. Tidak mungkin, kan? kalau sampai kamu lupa pakai?
Cuma itu, sampai jumpa besok.
From your lecturer
Gino Praditya
Di tempat Ara
"Mas, enggak ada jadwal ngajar hari ini?" tanya Ara , di tengah-tengah mengambilkan makanan ke piring suaminya.
"Enggak ada, jadi ... di kampus kamu harus jaga diri baik-baik."
"Iya, ada Risa sama Tania juga yang bakal jagain," ucap Ara.
"Ngertikan kalau Mas enggak bakal, tenang kalau bukan Mas yang langsung jagain kamu, Ara"
"Ara bisa jaga diri, ada Dina sama Tania, Thiar, Zaki, Galih, sama Bara juga. Mereka pasti jagain, Ara ."
"Ck, justru Mas lebih enggak tenang kalau ada laki-laki," ucap pak Reno agak, judes.
"Bilang aja Mas itu, posesif!"
"Posesif, tandanya cinta," ucap pak Reno dengan mengedipkan matanya sebelah, Ara sendiri terkekeh.
"Tepatnya, cemburu," kata Ara
"Posesif bagian dari cemburu, kan?" tanya pak Reno, Ara cuma mengangkat kedua bahunya.
Selesai sarapan, pak Reno mengantar Ara ke kampus. Tidak akan dia biarkan, sang istri berangkat tanpa dirinya.
"Araa ," panggil pak Reno, Ara cuma melirik dan mengangkat kedua alisnya, bertanya.
"Bukan apa-apa," balas pak Reno, sambil berdehem.
Beberapa detik kemudian, pak Reno kembali memanggilnya.
"Ara , Mas mau bilang kalau ...." Pak Reno menggantung ucapannya.
"Mau bilang, apa? Kenapa, ragu gitu?" tanya Ara.
"Lupakan, pulang kampus baru Mas cerita."
Sampai di kampus, tepatnya di parkiran, pak Reno keluar berniat membuka 'kan pintu mobil Ara. Walau sudah dilarang, bukan apa-apa, masih banyak orang-orang di parkiran itu. Tapi apalah mau dikata, pak Reno itu sangat keras kepala.
"Apa, Ara bilang! Enggak usah dibukain, semua pada liatin kita kan!" ucap Ara kesal, seraya turun dari mobil.
"Mata punya mereka, biarin ajalah mereka mau ngapain," balas pak Reno enteng. Begitulah, semuanya dia tanggapi santai.
"Mas, kalau dibilangain enteng banget balasnya!"
"Enggak usah banyak ngomong," ucap pak Reno, sambil menjatuhkan telunjuknya ke hidung Ara.
"Ayo jalan," ajaknya.
"Jalan? Mas, kenapa ikutan?"
"Kenapa? Mas cuma mau mastiin kalau, istri Mas selamat sampai di kelasnya," bala pak Reno santai, dan masih dengan santainya menggandeng tangan Ara sambil berjalan meninggal 'kan parkiran. Menghiraukan tatapan para mahasiswa/i, yang melihat sikapnya.
"Ara , bukan anak kecil!"
"Memang kamu bukan anak kecil, tapi di dalam perut kamu ada anak ... kita," ucap pak Reno, dengan senyuman kecilnya.
"Terserah, Bapak Reno!" ucap Ara kesal, benar-benar kesal.
"Bumilnya jangan marah-marah mulu, ah. Enggak baik," ucap pak Reno tanpa rasa bersalahnya, itu semakin membuat Ara kesal demi apapun. Bayangkan saja, suaminya berbicara tanpa filter, bumilnya tidak dia sensor-sensor sama sekali. Ara itu malu Pak, ditambah banyak yang dengar mungkin.
"Ara itu malu, Mas. Enggak ngerti banget, sih!" ucap Ara sedikit mengecilkan suaranya.
"Ngapain, malu?"
Emang minta dibejek-bejek kali, enggak peka amat sama perasaan istri.
Alhasil Ara cuma bisa mendengus, dengan terus berjalan. Oh jangan lupakan, tangan pak Reno masih setia menggandeng tangan Ara.
Sesampainya di depan kelas ....
Jeng-jereng ....
Hampir semua penghuni kelas itu berada di dekat pintu, di depan pintu, atau hanya memunculkan kepalanya di sela-sela badan orang-orang.
"Kalian ngapain di situ?" tanya pak Reno, menunjuk satu persatu wajah para jiwa-jiwa kepo itu. Sontak, separuhnya langsung berlari kembali ke tempat masing-masing. Dan separuhnya seperti, Galih, Bara, Zaki, Thiar, Tania, dan Risa masih beridiri di tempat.
"Halo, Pak," sapa Bara, dengan melambaikan tangannya.
"Ngapain lo lambaiin tangan, segala? Mau diamuk?" tegur Galih, menurunkan tangan Bara.
"Eh, anu Pak. Kita cuma mau jemput Ara," ucap Galih.
__ADS_1
"Nah, iya Pak. Mau jemput Ra," sambung Zaki. Pak Reno cuma menatap mereka tanpa ekspresi.
Ara yang menyadari situasi yang tak bersahabat dengan, perasaan sang suami. Sedikit menyenggol lengan pak Reno, dan berbisik, "Mas enggak usah natap mereka gitu, udah pulang. Ara udah sampai."
"Saya titip Ara" ucap singkat pak Reno, membuat Ara berdecak.
"Emang, Ara barang? Pake dititipin segala," kesal Ara, menatap nyalang pak Reno. Sedangkan yang ditatap cuma tersenyum sekilas, cuma sekilas.
"Kita bakal jagain, Bapak santai aja," ucap ke empat laki-laki itu.
Pak Reno menatap ke empatnya satu persatu. "Saya, minta tolongnya bukan sama kalian, tapi mereka," ucap pak Reno, dengan mununjuk Tania dan Risa. .
"O--oh gitu, tapi kita juga bakal jagain Pak," ucap Bara.
"Benar, Pak. Kita bakal jagain," sambung Thiar.
Pak Reno tidak menyahuti lagi, cuma menghadap Ara kembali.
"Mas pergi, ingat pesan Mas. Jangan bandel!" Ara ingin menyahuti, tapi langsung urung saat pak Reno langsung menaikan jari telunjuknya di dekat bibir Ara, dan menggeleng. Bertanda, tidak mau dibantah.
"Iya," balas Ara singkat. Dan meraih tangan pak Reno, dan menyaliminya. Mendapat sorakan 'uwwow' dari ke empat laki-laki itu.
Tak membuang waktu, pak Reno dengan cepat mengecup kening Ara singkat. Dan langsung berjalan pergi, setelah mengelus perut Ara sekilas. Entah, dia malu atau memang ada urusan mendadak.
Sedangkan Ara harus menanggung malu sendiri, di depan para teman sekelasnya karena, ulah suaminya.
"Aku juga mau dong Pak, dicium," celetuk Dinda, dengan memandang nanar punggung sang dosen.
"Duh, badan gue otw lemes dengan adegan di depan mata, barusan," tambah Nada.
"Ara, lo jahat! Harusnya gue yang digituin barusan," ucap drama Vivi, mendapat sorakan sepenghuni kelas.
"Ara, gue mau nyium jidat lo juga deh. Kan ada bekas ciumannya bapak dosen," ucap Mita, juga mendapat sorakan.
"Najis lo, Mit!" senggah Galih, menatap jijik Mita.
"Lo laki, jadi kagak tau betapa berharganya itu," bela Mita.
"Tetap aja jorok."
"Udah diem, enggak bakal menang lo lawan perempuan," kata Zaki, dengan gelengan kepalanya.
"Mau? Nyium bibirnya aja tuh, di situ banyโโ, sakit Ara!" pekik Tania, saat Reya menaboknya dengan buku tebal. Di kepala, lagi.
"Makanya! Kalau ngomong disaring, dulu!"
"Dah-dah, kenapa malah pada nongkrong di sini, sih! Entar pak Reno tiba-tiba balik, terus liat bininya masih tetap beridiri. Bisa-bisa diretakin tulang kalian," celetuk Thiar.
"Lo juga, mau gue tabok Thiar?!"
"Iya juga, sih. Ayo Ara, masuk. Entar kita lihat batu melayang lagi, kalau sampai pak Reno balik dan masih lihat lo berdiri," tambah Galih.
"Galih!"
"Eitz, bumil enggak boleh marah-marah," tambah Bara. Arabersiap melempar mereka bertiga, tapi langsung dicegah Risa.
"Yang lo bilang plankton ini, semua orang ganteng woy!" teriak Galih.
"Najis!" seru para wanita.
***
Seperti biasa, setelah kelas selesai, ketiga sahabat itu langsung meluncur ke kantin. Oh jangan lupakan, Thair, Bara, Galih, dan Zaki, juga mengikuti mereka bagai, bodyguard.
"Gue mau nanya, pak Reno kalau di rumah sana lo kek gimana, Ra?" tanya Galih, sambil mendudukan dirinya. Sedangkan Bara dan Zaki, pergi memesan makanan.
"Gimana, apanya?"
"Ya sikapnya, apa tetap dingin, kejam, atau sebaliknya?"
"Penting, kah?"
"Tinggal jawab aja, Neng! Lo hamil, masih aja ngeselin!" ucap Galih merengut.
"Hubungannya, dengan hamil apa coba?" sela Tania.
"Iya, kagak ada hubungannya kali," tambah Risa.
"Ish, enggak asik kalin."
"Eh, gue baru lihat Tania make kalung deh," celetuk Ara, dengan memegang kalung di leher Tania.
"Iya, baru ngeh juga gue. Dalam rangka apa nih, pake kalung Tan?" tanya Risa.
"Apaan sih, jan pada lebay deh. Emang salah kalau gue make, kalung?"
"Enggak aneh, tapi heran aja," ucap Ara.
Thiar sendiri cuma tersenyum miris, semiris nasibnya. Sudah dia tebak kenapa dan siapa, yang memberikan kalung itu. Demi apapun, dia masih ingin diberi kesempatan, untuk menjalin hubungan dengan Tania. Tapi apa mau dikata, Tania bukan jodohnya, Tania bukan untuknya. Hanya satu yang dia pegang ..., asal Tania bahagia, kenapa dia harus menghalanginya? Kenapa, dia harus jadi pengacau?
"Makanan datang," ucap Bara, dengan menyimpan nampan yang berisi empat mangkuk bakso, di meja. Sedangkan Zaki juga, membawa nampan yang berisikan air minum. Dan dua piring pesanan Ara dibawa oleh pelayan kantin itu.
"Beberapa hari yang lalu, gue heran, Ara kenapa makannya banyak banget. Ternyata, lagi hamil anaknya pak Reno," goda Bara, dengan menaik turunkan alisnya.
"Cie, hamil anaknya pak Reno," goda Zaki juga.
"Gue heran, kenapa pada bilang anaknya pak Reno? Ini juga anak gue, kale!" ucap Ara ngegas.
"Yakali, kalau enggak ada pak Reno, gimana mau jadi?" celetuk Thiar, mendapat lemparan tisu dari Risa.
"Otak kalian napa pada gitu, sih?"
"Otak mereka bertiga doang, gue mah kagak," ucap Galih.
"Ceh, padahal otak lo yang paling ngeres!" ejak Bara, cuma dibalas decakan Galih.
__ADS_1
"Nanti, anaknya kek gimana kira-kira? Bakal ngikutin bapaknya yang super jutek, atau ngikutin mamanya yang super ngeselin?" tanya Zaki, yang tak beralih ke topik lain.
"Enak aja, siapa juga yang ngeselin?"
"Kalau gue, kira-kira bakal ngikutin bapaknya," ucap Galih.
"Nah, gue setuju sama Galih. Bakal ngikutin Bapaknya gue jamin," ucap Thiar.
"Kalau gue, bakal ngikutin emaknya. Kan Ara yang ngandungin," ucap Zaki.
"Tapi, pak Reno yang buat!" seru Thiar, Bara, dan Galih.
"Dah sinting beneran gue rasa kalian berempat, masalah gini aja kalian pake acara diskusuin," ucap Tania sambil menggelengkan kepalanya.
"Jarang-jarangkan, kita gosipin pak Reno? Apalagi di depan bininya," kata Bara, mendapat acungan jempol Thiar, Zaki, dan Galih.
"Kagak ada adab namanya, gosipin suami di depan istrinya," ucap Risa
"Enggak apa-apa 'kan, Rs?" tanya Galih.
"Tauk," jawab singkat Ara.
"Ngomong-ngomong, jangan bilang ke suami lo, yak? Entar nilai kita dibablasin lagi," ucap Thiar.
"Bodo, siapa suruh bicarain suami gue. Di depan gue pula," ucap Ara, sambil melahap makanannya.
"Ye, jangan gitu dong. Sebagai teman harusnya saling tolong menolong," kata Zaki.
"Idih, lagian siapa suruh bicarain. Emm, masih untung sih kalau cuma nilai kalian yang dibablasin, gimana kalau yang dibablasin itu kalian? Tubuh, kalian?" tanya Ara, dengan menatap serius ke empatnya.
Thiar dan Bara, yang sudah membayangkan yang tidak-tidak, langsung bergidik ngeri. Saat membayangkan wajah pak Reno, saat marah. Lalu kembali fokus ke makanannya.
"Emang suami lo, psikopat? Yakali nyawa kita juga ikutan, dibablasin," ucap Zaki, diangguki Galih.
"Segalak-galaknya pak Reno atau, suami Ars Enggak bakal tega ngebunuh mahasiswa cakep kek, kita. Apa lagi dah jagain istrinya, ibu dari anak-anak ku eh ralat, ibu anak-anaknya," ucap Galih, mendapat toyoran dari Thiar.
"Dih, kalian baperan. Mana ada manusia setampan dan sebaik pak Reno, mau ngebunuh orang. Kagak masuk di logika," ucap Tania.
"Kenapa pada bahas pak Reno, coba? Laris amat suami gue," celetuk Ara mendapat kekehan hambar dari semuanya.
***
Sore telah tiba, para anak mudah eh, empat anak muda dan dua orang calon orang tua, berencana berkumpul di rumah nenek Ara. Sekedar bertamu biasa.
Di waktu yang hampir sama, tiga mobil memasuki pekarangan rumah. Tiga mobil yang berisi, mobil pak Reno dan Ara, Tania dan Risa. yang terakhir mobil pak Gino.
Harus kalian tau, jika pak Gino dan Tania bertemu di sini, berarti ini baru pertama kalinya mereka ketemu, hari ini. Setelah kemarin malam.
"Udah pada, dateng?" tanya Marvel atau sekedar sapaan, dan berjalan menghampiri Risa.
"Ayo masuk, nenek sama abang-abang udah nungguin kalian di dalam," ucap Marvel , dan menggandeng tangan Risa, mengikutinya masuk.
Ah, jangan lupa. Pandangan pak Gino sejak keluar dari mobilnya, langsung tertuju ke arah Tania. Tepatnya ke leher Tania, sebuah senyum merekah saat melihat kalung yang melingkar indah di leher Tania. Kalung yang menjadi isyarat, akan hubungan mereka.
Di dalam rumah, semuanya duduk sambil mengobrol. Masing-masing di dekat pasangannya, Ara dan pak Reno, Marvel dan Risa , dan ... Tania dan pak Gino yang, masih sangat canggung.
"Kamu mau makan, apa?" tanya pak Reno, ke Ars yang sedang fokus dengan handphone sang suami.
"Nastar itu," ucap Ara menunjuk sekilas ke arah tempat kue nastar lalu kembali fokus ke ponsel suaminya.
"Nih, mulutnya buka. Mas suapin," ucap pak Reno, Ara cuma menurut, tanpa melepas pandangannya dari ponsel pak Reno.
"Lagi liatin apa, sih?"
"Iya, liatin apa, Dek? Perasaan dari tadi cuma liatin hp mulu," tambah Marvel.
"Enggak, cuma lihat-lihat profil orang yang ngikutin akun instagramnya, Mas," ucap Ara tanpa beralih dari layar hp. Pak Reno mencondongkan kepalanya ke arah hpnya, memang Ara cuma melihat-lihat akun profil yang menjadi followersnya.
"Enggak ada kerjaan lain kamu, Dek. Pengikut, sebajibun gitu kamu telusurin semua? Lemes tu mata nantinya," ucap Marvel.
"Diem aja sih, berisik banget," ucap Ara.
"Oke, Abang diem. Dibilangin juga."
"Eh, kalian berdua? Kenapa, diam-diaman? Biasanya ada aja yang diberantemin, udah insaf sekarang?" tanya Marvel , meledek.
"Justru bagus kalau enggak ribut, enggak ada lagi yang buat sakit telinga. Dan baiknya ..., biasanya kalau abis ribut, terus diam-diaman, tandanya ... udah tumbuh benih-benih cinta," ucap Ara, sok tahu.
"Sotoy lo, Dek. Tapi kalau benar, bagus. Tandanya, enggak bakal ada yang jomblo lagi," ucap Marvel.
"Gue, mau bicara penting!" celetuk Risa, dengan seriusnya. Jadinya semua orang menatap ke arahnya.
"Mau ngomong apa, By?"
"Pa--papa mau aku ...." Risa menggantung ucapannya, itu semakin membuat semuanya penasaran, terutama Keral.
"Kenapa?"
"Papah mau aku ... nikah sek--" Perkataan Rida langsung terpotong, oleh Keral.
"Nikah? Sama siapa?!"
"Bang, tenang dulu. Jangan dipotong," ucap Ara.
"Lanjutin, Ris" ucap Tania.
"Papah mau Kakak lamar atau nikahin, aku! Kalau tidak ... papah bakal jodohin aku," ucap Risa lancar, dengan satu tarikan nafas.
Krik ... krik.
Hening, semua saling pandang. Kemudian, Marvel langsung berdiri dan berlari entah ke mana. Yang jelas beberapa detik kemudian, terdengar ....
"Nek , bang,Marvel mau nikah!" teriak Marvel yang begitu menggema, seisi rumah.
"Kita ke rumah Risa , Marvel mau ngelamar atau perlu langsung halalin!"
__ADS_1
Sorry for typo. ๐