
Setelah menunggu beberapa menit, pak Reno datang dengan wajah datar khasnya di saat beberapa mahasiswa berada di dekat ruangannya. Tapi begitu melihat pak Reno datang, mereka menjauh dari situ.
"Kalian kembali ke kelas masing-masing, atau ke mana saja, asal jangan di sini!" desisnya begitu dingin, yang membuat mereka semua langsung kicep.
"Emang kelihatan sih, Tan. Kalau dia emang lebih kejam," bisik Ara terkekeh.
"Iya, 'kan? Mereka semua itu enggak ada yang berani natap wajah pak Reno dari jarak dekat, dari jarak jauh aja mereka beraninya," balas Tania, juga terkekeh.
"Eh, gue permisi ya. Gue enggak mau ganggu. Kalian happy fun day, oke? Saya duluan, Pak," pamit Tania, diangguki mereka berdua.
Setelah Tania pergi, pak Reno masuk. Wajah yang tadinya datar-datar saja tanpa ekspresi, sekarang berubah menjadi senyum yang menghiasi wajahnya, ketika melihat wajah anaknya ... dan istrinya.
Ara menyalimi tangan pak Reno, yang dibalas kecupan di keningnya. Lalu pak Reno menghampiri kiano yang masih setia terduduk di stroller, lalu mengambil dan menggendongnya. Tadi sudah dikeluarkan sama Ara, tapi cuma sebentar.
"Capek ya, duduk terus? Bunda enggak ngambil Kiano ya?" tanyanya, dan Kiano cuma bergumam menggapi.
"Kenapa mau datang enggak bilang-bilang?" tanya pak Reno ke Ara.
"Mendadak juga. Tadi sibuk ngurusin mereka. Jadi ya ... lupa ngabarin," jawab Ara dengan cengirannya.
"Mas udah enggak ada jam ngajar, mau jalan-jalan sekitar sini?" tanya pak Reno lagi.
"Enggak capek? Istirahat aja dulu. Pulang nanti pasti enggak bakal istirahat, langsung ngambil labtop," ucap Ara.
"Mau gimana lagi? Itu udah jalannya. Kalau enggak kerja, gimana kehidupan kita terpenuhi?" Ara cuma menghela nafas, tidak ada gunanya menasehati suaminya itu kalau tentang pekerjaan. Gila kerja. Tidak akan mempang menasehati orang yang, gila kerja.
"Mas berhenti ngajar aja kalau gitu, biar enggak terlalu capek," usul Ara, tapi pak Reno menggeleng. Kembali Ara menghela nafas. Perasaan, bukan dia yang kerja tapi dia yang merasakan lelahnya.
"Nunggu kamu lulus," ucap pak Reno.
'Nunggu kamu lulus.' Kata-kata itu yang selalu diucapkannya, dengan maksud yang ... entah apa?
"Nungguin aku lulus masih lama. Enggak tau beberapa tahun aku kuliahnya. Apalagi masih ada tiga bulan baru aku masuk kuliah lagi," kata Ara "Aku kasih waktu buat Mas mikirin dan milih. Mas berhenti ngajar dalam waktu sebulan ini, atau Mas tetap ngajar sesuai keinginan tapi ... Kenzo sama Kiano enggak usah punya adik lagi."
"Ha?" Pak Reno memandang Ara dengan wajah cengonya, yang sangat jarang dia tampakkan. Sedangkan yang dipandang, cuma memasang wajah tanpa ekspresi.
"Pilih yang mana?"
"Itu pilihan? Atau ancaman?" tanya pak Reno balik, yang mungkin sangat tak percaya dengan pilihan itu.
"Anggap saja begitu," balas Ara, pura-pura menyibukkan dirinya dengan Rafa.
"Pilihan yang tidak rasional," ucap pak Reno, juga pura-pura ikut menyibukkan dirinya dengan Kiano. Tapi percaya saja, pikiran dan hatinya saling bergelud untuk memilih itu. Pikirannya berkata, 'Percuma saja memilih mengajar, karena jangka waktunya cuma sebulan.' Dan hatinya, 'kalau berhenti mengajar, yang mengawasi istrinya nanti siapa? Jangan sampai istrinya dekat-dekat dengan laki-laki lain di kampus tanpa sepengetahuannya.'
Anggap saja hatinya bekerja sama dengan sisi posesif kecemburuannya. Namun, kembali lagi dengan pikirannya yang berkata, 'Tapi kalau istrinya benar-benar tidak mau memiliki anak lagi jika, keinginannya mengajar terus berlanjut. Bagaimana?'
Namun tiba-tiba ada keajaiban, mendadak hati dan pikirannya bekerja sama dengan perkataan, 'Tapi cuma karena memilih mengajar selama sebulan, dirinya sudah tidak bisa memiliki anak. Dan lagi, dalam jangka sebulan juga tak bisa mengawasi istrinya. Karena sebelum istrinya masuk kuliah, dia sudah keluar. Lagi pula, mana mungkin istrinya ingin dekat-dekat dan bermain-main dengan laki-laki lain jika dia telah menikah dan memiliki anak yang sangat lucu, menggemaskan, dan sangat tampan seperti dirinya.'
Akhir katanya sangat kepedean ya, Pak?
__ADS_1
"Pilih yang mana?" tanya ulang Ara, setelak keheningan beberapa saat. Oh, tidak hening. Karena selama mereka berdua diam, Kenzo dan Kiano berbicara tepatnya bergumam yang tak jelas.
"Ya udah ..." ucap pak Reno yang menggantung.
"Apa? Ya udah enggak usah ada adik lagi?"
"Bukanlah, ngada-ngada kamu," ralat pak Reno cepat. Pikiran dan hatinya sudah bergulat, bergelud, serta berkutat. Yakali dia harus memilih itu.
Ara berdehem, menatap pak Reno dengan wajah serius. "Jadi ...?" tanyanya.
"Ya itu, Mas pilih pilihan yang pertama. Akan berhenti mengajar setelah sebulan," putus pak Reno, tanpa menatap balik Ara . Rasa-rasanya masih berat baginya untuk berhenti mengajar, bukan cuma karena ingin mengawasi Ara, tapi dia sudah terlanjur nyaman mengajar dan membagi ilmu pengetahuan kepada anak-anak itu.
Ara berdiri, setelah mendudukkan Kenzo di stroller juga menenangkannya. Dan menghampiri pak Reno yang posisinya masih menggendong Kiano, memeluknya dari belakang.
"Bukannya aku mau maksain kehendak, tapi ini untuk kebaikan kita semua. Mas mau percaya atau enggak, kadang aku merasa sakit saat melihat kamu kelelahan ketika pulang kerja," ujar Ara menyandarkan kepalanya di belakang pak Reno.
"Kadang juga aku ngerasa enggak guna, yang kerjanya cuma bisa ngeluarin uang. Tapi kamu yang kerja terus sampai-sampai kelelahan, pulangnya lagi masih Mas sempetin main sama anak-anak," lanjutnya. Pak Reno menggeleng, menepuk-nepuk tangan Ara yang berada di perutnya, untuk melepasnya.
Setelah Ara melepasnya, pak Reno berbalik menghadap Ara dengan senyuman kecilnya.
"Lebih enggak tegaan Mas kalau misalkan kamu yang kerja," candanya. "Itu semua sudah menjadi kewajiban Mas, sebagai seorang suami. Dan kamu tidak perlu merasa bersalah atau merasa enggak berguna. Perjuangan kamu mengandung, bagaimana tersiksanya kamu saat mengandung mereka, melahirkan mereka, bangun di malam hari, membesarkan dan mengurus mereka. Itu semua tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan yang Mas lakukan. Pekerjaan dan perjuangan kamu itu lebih mulia, lebih membut lelah daripada pekerjaan Mas," lanjut pak Reno.
Tapi di tengah-tengah keadaan yang akan mulai romantis itu, Kenzo tiba-tiba menangis yang langsung mengakhiri adegan itu. Mungkin dia iri? Karena tidak diajak juga, padahal Kiano ada di gendongan pak Reno, sedangkan dirinya cuma duduk di stroller seorang diri.
***
Saat ini waktunya Tania dan pak Gino menghabiskan waktu bersama, setelah tugas mengajar dan belajar yang mereka lalui sangat menguras tenaga maupun pikiran.
Tidak ada yang spesial, karena cuma sekedar berjalan-jalan, dengan bonus makan bakso bakar di pinggir jalan. Memang terdengar sangat tak bermodal, tapi percaya saja itu sudah sangat cukup. Ada yang pernah mengatakan, 'jika bersama orang tersayang, apapun itu, di manapun tempatnya tak akan masalah.'
"Nanti malam, keluar jalan. Mau?" tanya pak Gino.
Tania terdiam nampak berpikir, masalahnya ada pada orang tuanya. Biarpun pak Gino telah resmi menjadi tunangannya, tapi orang tuanya, tepatnya papanya itu sangat protektiv dengan dirinya. Setiap Tania minta izin keluar malam dengan pak Gino, pasti akan ada sesi di mana Tania diintrogasi dulu sebelum diizinkan.
Diintrogasi dengan berbagai pertanyaan contohnya, mau keluar untuk, apa? Tidak ada yang penting, 'kan? Tidak usah keluar, kalian baru beberapa hari ini keluar, masa sekarang mau keluar lagi? Kalau dia ngajak keluar, suruh langsung minta izin ke Papah!
Ya, langsung minta izin ke dirinya. Karena setiap pak Gino satang ke rumah, papa Tania selalu tidak ada di rumah. Inti dari perkataan papanya yaitu ... saat pak Gino mempunyai inisiatif untuk mengajak Tania keluar, dia harus langsung menemuai dirinya lebih dulu sebelum berbicara ke Tania langsung.
Tapi begitu, Tania tidak pernah mengatakan hal itu ke pak Gino. Jadinya pak Gino tidak tau apa-apa. Dan juga, pak Gino itu masuk ke dalam kriteria lelaki yang tak peka.
"Kenapa, diam? Sibuk?" tanyanya, saat Tania masih setia membisu.
"Emm, iya eh enggak. Tapi papa ngelarang keluar," jawab Tania.
"Ngelarang?"
"Iya. Mungkin karena kita terlalu sering keluar, jadinya papa mungkin khawatir kalau ada apa-apa."
"Tapi selama kita keluar 'kan, enggak pernah terjadi apa-apa? Saya juga enggak pernah sentuh-sentuh kamu. Atau papa kamu itu mau kalau kita cepat-cepat nikah, ya? Biar kita keluarnya bisa bebas?" terka pak Gino seenak dengkulnya.
__ADS_1
"Enak, aja! Enggak gitu juga kali konsepnya," ujar Tania, dengan wajah kesalnya.
"Jadi gimana?"
Tania mencebikkan bibirnya, menatap pak Gino sambil tersenyum. "Bapak langsung pergi izin sekarang ini juga ke papah, kalau mau keluar malam ini. Kalau papah izinin ya bagus, kalau enggak ya ... enggak ada keluar malam," ucap Tania, kembali memakan bakso bakarnya.
"Papah kamu ada di rumah, emang?" tanya pak Gino, setelah terdiam beberapa saat.
"Katanya sih gitu, hari ini katanya papah pulang cepat," jawab Tania.
"Ya sudah, nanti saya minta izin ke Om langsung. Ngomong-ngomong, kapan kamu ada waktu senggang?"
"Kalau minggu ini kayaknya ... full, enggak ada senggang-senggangnya sama sekali. Kalau minggu depan, mungkin ada," ucap Tania. "Kenapa memangnya?" tanya Tania juga.
"Itu, emm ... ah, nanti saya kasih tau. Mau nambah baksonya?"
"Enggak usah, udah kenyang. Tapi saya kepoan loh, Pak. Bapak nanya waktu senggang saya. Ada yang penting?"
"Hmm. Penting tidak penting. Nanti kamu juga tau," kata pak Gino, biarpun masih kepo, Tania memilih diam. Lama terdiam, tiba-tiba ponsel milik pak Gino bergetar, panggilan telepon masuk dari Marvel.
"Siapa?"
"Marvel," jawabnya, "Kenapa? Tumben nelpon, Gue?"
"Lo di mana? Tadi gue hubungin Reno tapi enggak aktif. Lo bisa ke rumah?" tanya Marvel di seberang telepon, dengan nada suara yang panik.
"Ada, apa?" tanya balik pak Gino, sambil mengespeaker dan menajamkan pendengarannya, karena mendengar suara-suara yang ....
"Risa kayaknya mau melahirkan. nenek lagi di kantor abang Hendra, lagi perjalanan balik sih. Orang di rumah cuma pak satpam. Tolong langsung ke sini, ya? Bantuin gue. Bareng Tania juga. Gue matiin, Risa—"
"Langsung bawa ke rumah sakit, Kak!" potong Tania, yang sedari tadi menguping.
"Iya, langsung bawa ke rumah sakit,Vel."
"Memang mau gue bawa ke rumah sakit," sahut Marvel.
"Lha, terus kenapa nyuruh kita ke rumah lo, Bambang?!" sentak pak Gino.
"Ah, tau lah. Terserah kalian mau ke rumah atau ke rumah sakit, gue pusing campur panik sekarang!" balas Marvel, dan telepon langaung terputus.
"Ini .... Ck, maksud dia apa, sih?" tanya pak Gino bingung.
"Terserahlah, Bapak udah bayar, 'kan? Kita langsung ke rumahnya dulu. Buruan!"
"Definisi orang yang kemakan karma. Dulu dia yang mau bejek-bejek Reno karena persis orang pikun. Sekarang giliran dia yang persis seperti itu."
To be continued.
Sorry for typo. 🙏
__ADS_1