
Brakk!
Mata Gino membulat sempurna saat melihat tubuh Erina terguling di tanah dan kepalanya mengenai tortoar. Gino segera menghampiri Erina, dan menaruh kepala wanita itu di pahanya.
"Heii, bangun!" ucap Gino, sembari menepuk-nepuk pipi Erina pelan.
Rika dan Yoga pun kaget bukan main, keduanya hanya melihat Gino yang sedari tadi mencoba membangunkan Erina tanpa ada niatan untuk membantu. Gino pun segera menggendong Erina ala bridel stay, yang membuat Rika cemburu bukan main.
"Biar Yoga ajah yang gendong ... jangan kamu!" ucap Rika, yang membuat Gino menoleh, menatapnya.
"Ini lagi keadaan penting ... tapi, kamu masih sempat-sempatnya cemburu?" pertanyaan Gino, membuat Rika terdiam.
Gino pun segera melangkahkan kaki menuju mobilnya, untuk membawa Erina ke rumah sakit. Yoga dan Rika hanya mengikut dan mereka berbeda kendaraan, Gino yang meletakan Erina di mobilnya pun membuat Rika tidak mau semobil dengannya, ia pun ikut mobil Yoga agar hatinya tak panas.
Tak lama, mereka semua pun sampai di rumah sakit. Gino segera mengeluarkan Erina dari mobilnya, dan berlari memasuki rumah sakit tersebut, di ikuti oleh Yoga dan Rika. setelah berteriak, para perawat pun datang dengan brankar, Erina juga sudah diletakan di brankar tersebut.
Kini Gino, Yoga, dan Rika tengah menunggu Erina di depan ruangan IGD. Gino tampak khawatir sekali dengan keadaan Erina, sebab sedari tadi ia menatap pintu ruangan IGD tersebut. Rika yang menatap suaminya pun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. apa sebegitu sayangnya Gino pada Erina?, itu kan masa lalu, pikirnya.
Sudah 30 menit mereka menunggu, namun pintu ruangan IGD tersebut belum juga terbuka. namun, tiba-tiba pintu itu terbuka, yang membuat ketiganya mendongak, lalu Gino pun segera bangkit untuk menanyakan keadaan Erina.
"Bagaimana keadaan Erina Dok?" tanya Gino.
"Alhamdulilah ... dia sudah siuman ... tapi, ia butuh sekali istirahat yang cukup ... karena ia mengalami patah tulang yang cukup parah, itu mengakibatkan pasien tak bisa berjalan ... tapi, tenang itu hanya sementara ko, jika ia mau melakukan terapi ... Insya Allah ia akan cepat sembuh," jelas Dokter tersebut, Gino yang mendengar itu pun langsung memasuki ruangan, tanpa berterima kasih pada dokter tersebut.
"Eh maaf yah Dok," ucap Rika dan diangguki oleh Dokter tersebut, lalu dokter itu pun berlalu pergi, setelah tadi mengizinkan Yoga dan Rika untuk masuk.
Yoga dan Rika yang di persilakan pun langsung masuk dan mendapati Erina yang terbaring di brankar, dan Gino yang sedang duduk di bangku sebelah brankar.
"Yaa, aku gak bisa jalan!" ucap Erina, yang sudah menitikan air matanya, membuat Rika jengah, dasar ratu drama.
"Kamu tenang yah ... kamu itu cuma gak bisa jalan sementara doang ko, kalo kamu mau melakukan terapi ... pasti kamu bakal sembuh dan bisa berjalan lagi," ucap Gino sembari mengusap rambut panjang Erina, yang membuat Rika semakin geram dengan Erina, sekaligus cemburu.
"Tapi, aku mau kamu selalu ada buat aku ... terutama saat aku sedang melakukan terapi," ucap Erina.
"Iyah, nanti aku akan menemani kamu ... kamu tenang ajah, aku janji kita gak akan berpisah lagi kaya dulu," ucap Gino, yang membuat hati Rika seakan retak seketika.
"Kamu janji yah," ucap Erina mengacungkan jari kelingkingnya, Gino pun tersenyum manis, sembari menautkan jari kelingkingnya.
"Yoga anterin gue pulang!" cetus Rika berlalu pergi, karena sudah muak melihat Erina yang memainkan dramanya. Yoga pun menyusul sang sahabat, tetapi Gino tidak sadar jika Rika masuk dan sekarang sudah keluar.
"Rika pulang tuh," ucap Erina yang melihat Rika keluar, dengan tampang kesal.
"Eh iyah ... emangnya tadi dia masuk?" tanya Gino dan diangguki oleh Erina.
"Ya udah ... aku susul deh!" ucap Gino yang ingin mengejar Anjani, namun tangannya langsung di tahan oleh Erina.
__ADS_1
"Tadi dia udah sama Yoga ko ... jadi, kamu temenin aku ajah di sini," pinta Erina dengan wajah yang di buat-buat, membuat Gino tak tega, ia pun mengangguk dan kembali duduk untuk menemani sahabatnya itu.
Erina tersenyum senang, ia bisa gunakan kesempatan ini untuk membuat rumah tangga Gino dan Rika hancur, dan ia mendapatkan Gino dengan cara yang lebih mudah.
Kini Rika tengah melahap semua makanan yang sudah di pesan oleh Yoga. kini keduanya memang berada di restoran, karena Rika ingin meluapkan kekesalannya dengan makanan dan siapa tahu, ia bisa lupa, namun tidak.
"Rika... jangan kaya gitu dong makannya, nanti lo keselek!" ucap Yoga, sembari memberi pesanan Rika lagi, namun Rika menghiraukannya begitu saja.
"Gue cemburu ... jadi, lo gak usah ribet!" cetus Rika, setelah meminum minumannya.
"Yaelah jangan gitu dong ... lagi pula kan mereka berdua sahabat yang udah lama gak ketemu ... jadi, wajar dong kalo Gino berperilaku manis sama Erina," ucapan Yoga, membuat Rika menatapnya tajam.
"Lo sahabat Erina ... apa sahabat gue sih?!" tanya Rika, yang terkesan menakutkan, membuat Yoga menelan salivanya kasar.
"Iyah-iyah ... maaf, gue sahabat lo ko ... jangan natap gue gitu dong!" ucap Yoga nyengir kuda, namun Rika memutar bola matanya malas.
▪▪▪
Tak terasa, sudah satu minggu Gino selalu menemani Erina di setiap sela-sela mengajarnya, bahkan Rika selalu diabaikan oleh pria itu. Gino selalu pergi ke rumah Erina dan selalu menemani wanita itu hingga malam dan saat pulang, Rika sudah terlelap dalam tidur. itu mengakibatkan Rika tidak pernah melihat suaminya di malam hari, maupun pagi hari. Gino selalu memasakan sarapan untuk Erina dan mengantarkannya ke rumah wanita itu.
"Ahkk ... manja banget sih!" batin Rika, saat melihat Erina tengah di suapi oleh suaminya, di taman belakang rumahnya. Gino lah yang membawanya, sebab ini hari minggu.
"Sabar Nii," ucap Yoga, sembari mengusap punggung sahabatnya itu.
"Gaa, gue kurang sabar apa lagi? ... selama satu minggu ini Gino terus mengurusi Erina ... dan seakan melupakan gue ... bahkan sekarang ayah lebih perhatian sama Erina, dari pada gue!" ucap Rika, yang membuat Yoga terdiam, ia juga tak mengerti dengan jalan pikir Gino, mengapa dia bisa melupakan istrinya, karena bertemu dengan sahabat kecilnya itu.
"Hehehe ... iyah-iyah, aku kan laper juga!" ucap Gino tertawa, lalu menyuapkan kembali sahabatnya itu.
"Bercanda mulu!" sindir Rika tiba-tiba, yang membuat keduanya menoleh.
"Eh sayang ... kamu gak ada tugas kampus? ... kalo ada kerjain sana, nanti kamu bisa di hukum loh sama dosen yang ngajar kamu!" ucap Gino , yang membuat Rika dan Yoga melongo.
"Aku emang ada tugas kampus ... makannya aku mau kamu bantu aku ngerjain, ayo!" ajak Rika.
"Eh iyah ... aku juga ada, kamu mau kan bantuin aku?" tanya Erina, yang sengaja menyambar, agar Gino tak menjawab ucapan Rika.
"Iyah ... nanti aku bantuin," ucap Gino sembari menatap sahabatnya itu.
"Setan!" batin Rika.
"Gino, keterlaluan banget sih!" batin Yoga, ia takut jika nanti ada perkelahian, karena melihat wajah Rika yang sudah menampakan wajah kesalnya.
Rika segera mengambil mangkuk yang berada di tangan suaminya, lalu segera membantingnya, membuat kaca-kaca berserakan. Gino membulatkan matanya, lalu ia menatap sang istri.
"Kamu kenapa sih?" tanya Gino, sembari bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Kamu yang kenapa hah?! ... selama satu minggu ini, kamu selalu cuekin aku ... seakan-akan aku udah gak ada, hanya untuk mengurusi ratu drama ini!" kesal Gino sembari menunjuk Erina.
"Maafin aku Rika ... tapi, jangan panggil aku ratu drama ... aku beneran sakit ko!" ucap Erina, yang sudah menitikan air matanya, membuat Rika memutar bola matanya malas.
"Sayang ... jangan kasar gitu dong!" ucap Gino karena melihat Erina yang sudah menunduk, dengan berderai air mata.
"Belain ajah terus ... aku ini istri kamu dan dia cuma sahabat kamu, dan bisa-bisanya kamu belain dia!" kesal Rika, yang sudah menaikan suaranya, membuat Yoga semakin dag dig dug serr.
"Walaupun dia sahabat aku ... tapi, dia berharga buat aku ... jadi, jangan sekali-kali kamu berbicara atau mengatakan jika dia ratu drama!" ucap Gino menatap Erina yang terus menunduk.
Erina sedang berusaha menderaskan lagi air matanya, supaya Gino dan Rika semakin bertengkar, ia juga sedang tersenyum bahagia.
"Terserah kamu ... sekarang aku mau nanya sama kamu yah ... kamu milih aku apa dia?" tanya Rika, sembari menunjuk Erina.
Gino hanya diam, ia tak berani untuk menjawab. Erina pun mendongak, menatap Gino dengan wajah yang di buat-buat, seperti mengisyaratkan untuk memilihnya.
"... Rika jangan gitu, pasti Gino gak bisa milih dong ... kamu jangan egois, kasian Gino nya!" ucapan Erina, semakin membuat Rika geram.
Plak!
"Jangan cari muka di depan suami gue ... ataupun gue!" bentak Rika, setelah menampar kuat pipi wanita itu.
Gino yang melihat itu pun membulatkan matanya. ia langsung menatap tajam sang istri, saat terdengar ringisan sang sahabat.
"Sayang ... kelakuan kamu masih sama ajah kaya dulu yah, gak berubah sama sekali ... bisa-bisanya kamu nampar Erina, dia gak salah apa-apa!" ucap Gino yang sudah meninggikan suaranya, namun itu tidak membuat Rika takut.
"Oh iyah ... dia gak salah apa-apa, justru di sini yang salah itu aku ... aku salah udah membiarkan kamu merawat wanita jalang ini!" ucap Rika, sembari menunjuk Erina lagi.
Plak!
Rika memegang pipinya saat tamparan yang cukup kuat mendarat. rasanya panas, karena ini pertama kali Gino menamparnya. Yoga juga sudah mengepalkan tangannya, siap untuk melayangkan pukulan pada Gino, yang sudah berani menampar sahabat satu-satunya itu.
"Ka-kamu ... nampar aku?" tanya Rika, yang masih tak percaya.
"Kamu udah keterlaluan ... jangan sebut Erina dengan sebutan itu ... aku gak akan rela, sahabat aku ... kamu hina kaya gitu!" ucap Gino dengan penuh penekanan.
"Waw, hebat banget ... persahabatan kalian emang kuat banget ... baiklah, kalo emang kamu gak rela dia aku hina dengan sebutan itu ... pasti kamu rela jika aku pergi dari rumah ini," ucap Rika, dan segera berlari, meninggalkan ketiga orang yang sedang terdiam.
Bugh!
"Tega lo!" ucap Yoga, lalu segera menyusul sang sahabat, setelah mendaratkan satu pukulan pada perut Gino.
Erina tersenyum kemenangan, ternyata rencananya berhasil. baguslah, jika Rika pergi, ia bisa lebih mudah mencuci otak Gino dengan perkataannya nanti.
"Yaa ... maafin aku yah ... gara-gara aku, Rika sama kamu berantem," ucap Erina, menunjukan muka sedihnya.
__ADS_1
"Ah ... itu bukan salah kamu, ayo masuk ke dalam ... soalnya udah mendung tuh!" ucap Gino, lalu mendorong kursi roda milik Erina, sedangkan wanita itu hanya bisa menampakan senyum kemenangannya itu diam-diam.